Setelah berpamitan, Yogi, Ergi dan Prendi menuju motornya. Mereka heran dengan cuaaca saat itu. Mengapa angin bertiup kencang di halaman? Batin Prendi sambil mendongak ke pohon kenanga.
"Kencang banget anginnya." Ergi merapatkan jaketnya.
"Eh, ada teman barunya Bida ya?" seorang wanita yang sudah berumur, sedang memetik daun beluntas di halaman samping Bida.
Bu Sulis yang usil, memandang Prendi.
"Apa kabar bude?" Ergi menyapa Bu Sulis. Yogi hanya menganggukkan kepalanya. Sementara Prendi tampak tidak peduli kepada Bu Sulis yang menurutnya tidak menarik sama sekali karena sudah keriput.
"Itu Prendi, teman kami bude." Yogi menunjuk ke arah Prendi.
"Pren, ini Bude Sulis, tetangganya Bida." Ergi berusaha ramah karena tidak ingin membuat masalah dengan Bu Sulis.
"Memang Bida cantik ya, sampai temannya laki-laki semua. Bida ndak punya teman cewek, karena sukanya main dengan anak cowok. Makanya tubuhnya bongsor, kebanyakan dekat-dekat cowok sih." Bu Sulis mulai menebar racunnya.
Prendi yang tadinya ndak peduli, jadi menoleh dan menatap Bu Sulis. Kok bisa-bisamya Bidadari tinggal di rumah sederhana dan punya tetangga nenek sihir seperti ini.
Bu Sulis kaget melihat ketampanan Prendi. Bu Sulis menyayangkan bahwa Bida masih kecil, padahal Bu Sulis ingin menjodohkan Bida dengan Gatot anaknya yang item manis. Bida selain cantik juga pinter memasak. Bu Sulis membayangkan bahwa hobinya memasak akan semakin asyik jika punya mantu seperti Bida. Namun takdir berkata lain. Beberapa waktu lalu, anaknya Gatot sudah menikah dengan Satina seorang Janda beranak satu dari kampung sebelah. Maka itu Bu Sulis semakin dongkol melihat teman Bida ada yang ganteng.
"Hai bude, salam kenal. Saya Prendi calon suaminya Bida 10 tahun lagi." Prendi bahkan mendekat ke arah Bu Sulis sambil menyodorkan tangannya.
Bu Sulis tergagap menyambut tangan Prendi. Bu Sulis semakin jengkel karena semakin dekat, wajah Prendi semakin terlihat ganteng. Jauh sekali dengan anak kebanggaannya Gatot yang meski item tetep manis.
"Bude, suka sayur beluntas ya?"
"Ya. Memangnya kenapa? Apa urusanmu?" Bu Sulis sewot.
"Ndak papa bude, cuma memberi saran saja. Daun beluntas kan baunya khas aneh gitu. Akan lebih baik jika bude mencampurkannya dengan bunga kenanga. Gizinya kan tambah banyak bude, baunya juga harum. Mmmmh sedap... Coba deh bude, nanti jika enak, saya akan coba juga." Prendi bicara seenaknya sendiri sambil berlalu meninggalkan Bu Sulis.
"Eh, jaga bicaramu ya. Hati- hati jaga pergaulan. Jika macam-macam, aku akan adukan ke pak RT, agar kalian diciduk."
"Ergi dan Yogi malas berhubungan dengan Bu Sulis. Mereka sudah keluar halaman dengan motornya.
Prendi juga mulai jengah. Ia bersiap menaiki motornya. Namun sebelum berlalu, Prendi sengaja memutar motornya dulu mendekati Bu Sulis.
"Bude diciduk itu yang bagaimana? Apakah dinikahkan? Jika itu aku mau, meskipun aku masih kecil jika dinikahkan dengan Bida, aku mau. Pasti menyenangkan bisa berangkat sekolah setiap hari dengan Bida." lalu tanpa menunggu komentar Bu Sulis. Prendi melajukan motornya keluar halaman dengan sengaja memainkan gas motornya karena kesal.
Wowo tampak tajam melotot ke arah Bu Sulis yang masih memetik daun beluntas.
Sekarang Wowo mengguncang pohon kenanga dengan kencang hingga ranting-ranting kering berjatuhan. Wowo sengaja memetik bunga kenanga lalu melemparkannya tepat mengenai wajah dan kepala Bu Sulis. Bu Sulis kaget dengan aerangan yang bertubi-tubi. Tubuhnya merinding. Hempasan bunga kenanga itu terasa seperti sakit karena begitu keras hingga terasa seperti dilempari kerikil.
"Aaow" Bu Sulis melindungi kepalanya. Pak Joko yang baru pulang kerja mengawasi pembangunan kantor kelurahan. Kaget dengan kondisi bu Sulis. Pak Joko menduga pasti penunggu pohon kenanga yang Bida sebut Wowo yang mengganggunya. Pasti ada alasan khusus yang membuat Bu Sulis menerima kemarahan Wowo. Pak Joko dan Bu Joko tidak pernah diganggu bahkan melihat sosok Wowo.
"Aduh! Pak Joko tebang saja pohon kenanga itu. Sepertinya ada penunggunya. Biasanya penunggu pohon adalah Genduruwo. Badannya tinggi besar, matanya merah, badannya berbulu lebat seperti harimau, bertaring dan pemarah. Suaranya Aaaoow Hemmm Heenng ng ng ." Bu Sulis menirukan suara erangan dan menyebutkan ciri-ciri yang memang seperti itulah kondisi Wowo. Padahal jika saja Bu Sulis bisa melihatnya. Ia pasti akan lari dan kencing di celana.
Wowo menghentikan aksinya. Wowo heran dan berpikir, apakah bu Sulis bisa melihat wujudnya.
"Pak Joko tidak takut, jika penghuninya mengganggu Bida? Genderuwo itu bisa berubah wujud menjadi laki-laki ganteng. Nanti Bida bisa digoda lalu ...." Bu Sulis sengaja tidak meneruskan kalimatnya.
Wowo semakin marah mendengar kalimat Bu Sulis. Wowo paham bahasa manusia. Ia hanya tidak pernah bicara dengan Bida karena suaranya sangat mengerikan, Ia sangat menyayangi Bida dan tidak ingin menakutinya. Bu Sulis sudah memfitnahnya.
Wowo mematahkan cabang kayu yang besar hingga terdengar suara "kretek.... bruk." Cabang kayu yang cukup besar jatuh ke halaman.
"Lihat itu pak. kayunya saja sudah lapuk. Bagaimana jika Bida yang sedang melintas di bawah pohon lalu terkena kayu itu."
Bu Sulis semakin memperkeruh suasana.
"Maaf bu, hampir maghrib, saya masuk dulu." Pak Joko masuk rumah dengan tertunduk. Ia mulai terpengaruh perkataan Bu Sulis. Pak Joko sangat mengkhawatirkan putrinya. Pak Bagaimana cara Pak Joko melindungi Bida jika diganggu makhluk halus, bahkan Pak Joko tidak bisa melihat keberadaan makhluk halus.
Bu Sulis tersenyum penuh kemenangan, melihat Pak Joko tertunduk. Ia segera menuju rumahnya sambil menenteng kresek kecil berisi daun beluntas.
Dari atas pohon, Wowo tampak menatap Bu Sulis dengan penuh amarah. Tampaknya Wowo memendam dendam.
Untungnya bibi dan nenek tiba-tiba melesat menghampiri Wowo. Wowo sangat menghargai bibi dan nenek. Bibi dan nenek menatap Wowo, melalui tatapan itu Wowo telah mengisyaratkan bahwa Bu Sulis memang pantas diberi pelajaran.Nenek melesat terbang mendatangi Bu Sulis lalu menghadangnya membuat Bu Sulis kaget merasa ada hempasan angin di wajahnya hingga tersandung dan jatuh terduduk. Lututnya lecet terkena tanaman liar berduri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Agustina Kusuma Dewi
julitnya
2023-11-19
0
나의 햇살
gemes kali gw dengan bu sulis sampai pengen tak cekik
2021-10-01
2
mommy nasty
Pgen bgt nyate bu sulis deh gumuuus w
2021-01-17
1