Acara Selapanan berlangsung lancar. Jumlah tamu undangan lebih banyak dari acara cuplakan kemarin. Saat acara aqiqah ketiha Bida umur 7 hari, Pak Joko hanya mengundang beberapa teman jamaah musholla saja kemudian berkat berisi nasi kotak plus sate gule itu hanya diantarkan ke para tetangga. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Orang tua bu Joko sudah bersiap pulang dengan naik mobil travel yang dipesan Pak Joko.
"Rin..., ibu dan bapak pamit dulu. Jaga Bida baik-baik." Ibunya bu Joko berpamitan sambil membelai Bida cucu kesayangannya.
"Ya bu."
#Bapaknya Bu Joko
"Nak Joko, jika nanti Bida sudah agak besar sudah kuat diajak bepergian jauh, kalian berkunjunglah ke B***********. menginap ya. Titipkan saja sapi-sapimu ke tetangga."
Pak Joko mengnggukkan kepala lalu menyalami ibu dan bapak mertuanya. Bu Joko dan Pak Joko mengantar mereka sampai ke jalan depan rumah. Mobil travel sudah menunggu di depan.
Selama Pak Joko dan Bu Joko di depan. Bu Sulis sibuk membungkus kue dan makanan di dapur untuk dibawa pulang. Malam ini Ia sudah membawa senter agar ketika pulang nanti bisa leluasa jalan sambil melihat sekitar karena Bu Sulis masih penasaran dengan suara derap langkah yang menemaninya tadi malam.
Bu Joko membaringkan Bida di atas Box bayi. Box bayi tersebut hadiah dari Pak Muhit majikannya. Sebenarnya box bayi itu bukan barang baru melainkan milik cucunya Pak Muhit yang sudah tidak terpakai karena cucunya sudah besar. Sebenarnya Pak Joko ingin membeli yang baru tapi sungkan menolak pemberian Pak Muhit.
"Bawa yang banyak mbak Sulis. Di sini tidak ada yang makan. Putranya mbak Sulis kan 5 jadi keluarga besar, cucunya 3 dan tinggal serumah. Pasti rame ya Mbak setiap hari." Bu Joko yang tiba-tiba muncul di dapur mengagetkan Bu Sulis hingga kue lumpur yang dipegangnya hampir jatuh ke lantai.
"Ya."
Jelas saja aku akan bawa banyak. Aku kan sudah capek masak dan buat kue. Aku memang suka membantu Mbak Rini karena orangnya baik dan ndak pelit. apalagi aku selalu diijinkan membungkus sendiri bawaanku. Sayang Bida masih bayi, coba jika seumuran dengan Gatot akan aku jodohkan sekalian. Bida kan anak tunggal meski sebenarnya bu Joko pernah punya anak yang meninggal sejak di dalam kandungan tapi kan hanya Bida anaknya sekarang. Lagi pula sapinya 3 ekor limusin lagi. Sedangkan aku, hanya memelihara seekor itupun bukan milikki pribadi tapi milik besanku. Suamiku dan Pak Joko sama-sama kerja di Pak Muhit hanya saja beda kedudukan. Jika Pak Joko orang kepercayaan yang jadi mandor tukang. Sedangkan suamiku hanya kuli bangunan. Level di bawah Tukang. Tugasnya hanya menyiapkan batu bata dan adukan semen. Pak Joko tidak mengijinkan suamiku ikut memasang dinding karena bukan tukang aslinya. Kata Pak Joko, itu pesan dari Pak Muhit.
"Mbak Sulis kok melamun?"
"Ah ndak kok."
"Aku pamit dulu ya mbak Rini. Terima kasih ya bawaannya." Bu Sulis berdiri sambil menenteng 2 kresek besar berisi makanan. Bu Sulis menyalakan senternya lalu berjalan melalui jalan yang sama dengan yang dilewatinya semalam.
"Krosak krosak krosak" suara langkah kaki melewati rumput yang agak tinggi di pekarangan Pak Joko yang luas.
"Krosak krosak krosak, sreek sreek sreek" Bu Sulis menghentikan langkahnya dan mengarahkan senternya ke segala arah.
aneh sekali, hanya aku yang lewat mengapa suaranya seperti langkah 2 atau 3 orang.
Sekarang Bu Sulis meneruskan langkahnya sambil mengarahkan senternya ke bawah.
""Krosak krosak krosak, sreek sreek sreek" suara tersebut terdengar lagi. Bu Sulis mengamati sekitar sambil memelankan langkahnya. Jelas terlihat melalui sorot lampu senternya. Rumput disekitarnya begerak seperti ada yang menginjaknya. Bu Sulis terus mengamati dengan seksama sambil terus melangkahkan kakinya pelan karena jika ia berhenti, maka suara itupun akan berhenti. Tapi tidak ada apa-apa di sana. Tidak terlihat seekor tikus atau musang.
Dari arah yang tidak terduga, datanglah sekumpulan kelelawar dengan suara mendecit " cit ciit ciit". Kelelawar -kelelawar itu terbang menuju ke arahnya. Bu Sulis kaget setengah mati, rasanya jantungnya mau copot. Lalu menunduk dan memejamkan mata, menghindari serbuan kelelawar tersebut. Namun suasana terasa sunyi, tidak ada suara decitan. Bu Sulis pelan-pelan membuka matanya. Tidak tampak lagi sekumpulan kelelawar yang tadi berusaha menerjangnya. Suasana terasa sepi sunyi, udara terasa dingjn.
Sepasang mata mengawasinya dari atas pohon bambu yang rimbun. Angin berhembus menerpa rumpun bambu di pekarangan hingga menimbulkan suara "Kriyeet kriyeet...." suara itu terdengar jelas namun nadanya lemah dan menyayat. "Kriyeet.... kriyeet....kriyet...." Bu Sulis mengarahkan senternya ke atas rumpun bambu. Tidak ada apa-apa di sana.
Jika begini aku tidak akan cepat sampai, Aku tidak peduli lagi, aku harus segera sampai rumah. Anak-anak pasti menunggu kedatanganku.
Bu Sulis mempercepat langkahnya menuju rumah. Rumah bu Sulis sudah terlihat karenan antara rumah bu Sulis dan bu Joko memang hanya dibatasi pekarangan. Rumah bu Joko hanya berpagar daun beluntas itupun tidak tertutup sepenuhnya masih banyak celah hingga bisa dilalui.
***
Pak Joko tidak bisa tidur, entah mengapa. Padahal ia sudah merasa letih dbahkan menguap beberapa kali. Pak Joko memilih turun dari kasurnya lalu mendekati kasur tempat Bida dan Istrinya yang sedang tidur nyenyak. Memang sejak Bida Lahir, Pak Joko memasukkan kasur lagi ke kamar sehingga ada 2 kasur di ruangan itu. Rumah Pak Joko sangat besar seperti bangunan kuno pada umumnya. Terdapat 4 kamar tidur. Kamar depan berukuran 4 x 3 meter. Kamar tersebut digunakan untuk ruang sholat. Kamar kedua berukuran 4 x 4 meter, digunakan untuk kamar tamu. Kamar ketiga digunakan Pak Joko, istri dan anaknya berukuran 6 x 6 meter.
Sedangkan kamar keempat berukuran 5 x 6 meter namun kosong tanpa dipan karena kasur dan dipannya sudah dipindahkan ke kamar ketiga. Pak Joko tidak mau bergabung di kasur bu Joko karena selain masih masa nifas, Bu Joko juga sering tidur sambil meneteki Bida di kasur. Pak Joko khawatir menyakiti Bida kecil secara tidak sengaja.
Pak Joko duduk di kasur tempat Bidan dan istrinya lalu meringkukkan badannya dengan arah melintang . Berusaha tidur dengan menggunakan porsi kasur sesedikit mungkin. Entahlah mengapa Pak Joko sangat ingin tidur bersama istri dan anaknya.
Tidak lama kemudian, Pak Joko sudah tenggelam dalam mimpinya. Di dalam mimpinya, Pak Joko bertemu dengan kakeknya.
#Kakek
" Joko, mereka hanya ingin menemani dan melindungi Bida. Suatu saat nanti jika Bida bertemu jodohnya, mereka akan meninggalkan Bida"
"Siapa kek? siapa mereka?"
"Kau tidak bisa melihatnya. Bida yang akan melihatnya. Bahkan Bida akan dapat mengendalikannya nanti."
"Kau jangan kuatir, lindungi Bida. Percaya padanya, jangan ada orang yang menyakitinya. Bahagiakan Bida. Karena jika Bida tersakiti, mereka tidak segan turut campur. Yang kau khawatirkan bukan Bida melainkan orang yang menyakiti Bida. Karena mereka tidak mengenal belas kasihan. Mereka bukan manusia seperti kita."
****
Di dalam mimpi Bu Sulis. Bu Sulis sedang berjalan menenteng 2 kresek besar berisi makanan melewati rumput yang meninggi.
Tiba-tiba adalah 2 orang mengikutinya. Seorang nenek tua dan wanita paruh baya berjalan mengikutinya dari belakang. Lalu mendahuluinya. Bahkan langkah mereka sekarang pelan hingga menghalangi Bu Sulis yang ingin bergegas.
Bu Sulis berusaha mendahului mereka sambil berkata, "Permisi" sambil melirik wajah mereka. Bu Sulis tidak pernah bertemu dengan mereka sebelumya.
Siapa mereka? Mengapa lewat sini?
Tapi kedua orang tadi tidak menjawab dan tiba- tiba tepat di depannya lagi.
Bu Sulis pun mencoba menjauh dan mendahuluinya lagi karena langkah mereka sangat pelan, namun tiba-tiba mereka di depan Bu Sulis lagi hingga hampir saja Bu Sulis menabrak punggung mereka.
Lalu Bu Sulis berhenti dan mulai ketakutan, bagaimana mungki 2 orang ini tiba-tiba secepat kilat ada di depannya lagi. Belum sempat berpikir. Kedua orang tersebut menolehkan kepalanya namun tubuhnya masih membelakanginya. Kepalanya berputar 180 ° mata keduanya merah menyala, bibirnya menyeringai menakutkan lalu si nenek tertawa terkekeh suaranya mirip suara drama legenda mak lampir "he he he he hehe...."
Bu Sulis langsung menjerit sekuat tenaga hingga terbangun lalu menyadari bahwa ia barusan bermimpi, mimpi yang sangat terasa nyata dan menakutkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Agustina Kusuma Dewi
jejejejejejejj
hehheheheheeh
jd
hihuiiihihigigigi
2023-11-19
0
Li Na
next
2020-06-15
4