Hari ini ada selamatan cuplak puser Bida.
Bida baru mengalami cuplak puser di hari ke 39, padahal biasanya bayi akan cuplak pusar detelah 7 hari bahkan bisa kurang dari itu. Suasana rumah Pak Joko lebih ramai. Bapak dan Ibunya Bu Joko dari kota Banyuwangi datang.
Bapak dan Ibunya Bu Joko memang dikabari setelah cuplak agar tidak merepotkan. Mengingat Bapak dan Ibunya sudah sangat tua, juga memiliki kebiasaan adat yang agak ribet. Jika Bapak dan Ibunya bu Joko dikabari ketika bu Joko lahiran maka mereka akan segera datang, kemudian datang lagi di acara cuplakan, dan acara selapanan (40 hari kelahiran). Sudah seperti direncanakan Yang kuasa, akhirmya bapak dan ibunya bu Joko bisa datang di acara cuplakan lalu besoknya acara selapanan juga diadakan.
Sedangkan Bapak dan Ibunya Pak Joko sudah meninggal. Rumah yang ditempati Pak Joko dan keluarganya sekarang adalah warisan orang tuanya.
Sama dengan Bida, sebenarnya Pak Joko bukan murni anak tunggal tapi merupakan anak sulung, namun ibunya Pak Joko mengalami keguguran dua kali sehingga Pak Joko menjadi anak tunggal.
Mendiang orang tua Pak Joko dikenal sangat ramah namun lain halnya dengan nenek dan kakek Pak Joko dikenal pendiam. Kakek Pak Joko bernama Joyosono. Beliau adalah seseorang yang dipercaya nasehatnya karena dikenal bijaksana. Namun bagi sebagian orang, kakek Pak Joko ditakuti karena mengira Pak Joyosono seorang dukun. Bagi Pak Joko sendiri kakeknya memang menyimpan misteri tersendiri karena sikap pendiamnya. Kakeknya suka berdiam seorang diri di kamar depan tanpa mau diganggu.
"Rini, kemarilah." kata ibunya bu Joko sambil berdiri di teras mengamati pohon kenanga yang tumbuh tinggi menjulang dan berbunga lebat.
"Ya bu." Bu Joko mendatangi ibunya di teras.
"Lihat pohon itu! mengapa pohon itu belum ditebang? ibu ndak suka, pohon itu terlalu tinggi dan terlihat mengerikan. Wangi bunga itu terlalu tajam, membuat suasana mengerikan di malam hari." sekarang ibunya Bu Joko mengalihkan pandangannya ke putrinya.
Bu Joko tersenyum lalu mengajak ibunya duduk di sebuah bangku halaman rumah. Sekarang mereka duduk tidak jauh dari pohon kenanga.
"Bu, coba rasakan udara disini, tanaman kenanga yang tumbuh lebat itu menghasilkan oksigen yang menyegarkan. Aromanya juga sangat wangi, menambah kesegaran hawanya." Bu Joko memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam.
"Kamu tidak merasa takut saat wanginya menyebar ke seluruh penjuru rumah di malam hari?" Ibunya bu Joko menunggu jawaban putrinya dengan mengernyitkan dahinya.
"Tidak bu, tidak sama sekali. Justru aku suka wanginya. Mungkin ibu hanya tidak terbiasa saja." Bu Joko menyatakannya dengan penuh kesungguhan.
Ibunya bu Joko menghela nafas, memang putrinya bukan tipe penakut.
Sedangkan di atas pohon kenanga, tanpa mereka sadari. Ada sepasang mata tak berhenti menatap lekat ke arah ibunya Bu Joko.
"Mbak Rini, Bida nangis. Sepertinya haus." Tiba-tiba Mbak Sulis muncul dari dalam rumah. Namun segera masuk ke dalam rumah lagi karena ingin melanjutkan memasak. Mbak Sulis meskipun agak menjengkelkan tapi sangat ringan tangan membantu memasak jika ada hajatan. Masakannya juga enak. Sejak pagi, Mbak Sulis sudah membantu di rumah Bu Joko.
"Mari bu, kita masuk." bu Joko membantu ibunya berdiri lalu menggandengnya menuju rumah.
"Hmmm......"Terdengar suara erangan dari atas pohon kenanga. Suara erangan tersebut membuat kaget beberapa burung yang sedang hinggap di dedaunan kenanga hingga terbang kabur.
Sampai di dalam rumah, Bu Joko segera menggendong Bida, bayi mungilnya. Namun Bida masih tetap menangis karena belum mendapatkan keinginannya. Bu Joko belum menetekinya karena sedang memposisikan tubuhnya agar Bida bisa ******* dengan nyaman.
"ooe ooe ooe..." Bida tampak tidak sabar dan terus menangis.
"Mbak Rini, tuh kan cengeng makanya diberi nama yang ndk cocok sih. Bidadari itu selain cantik, lembut dan sabar. Itu Bida, haus saja sudah nangis kepiyer (nangis keras) ndak sabar. Ganti saja namanya ! mumpung masih kecil.". Untungnya suara tangisan Bida sangat keras dan Bu Sulis menghampirinya di kamar. Jika tidak pasti ibunya bu Joko sudah mendengarnya dan akan marah besar. Ibunya Bu Joko memang penyabar namun jangan cari perkara dengan beliau. Jika marah, Bu Joko yakin, Bu Sulis yang selalu ingin dipanggil mbak itu akan segera kabur dari hadapan ibunya.
"Ssst sabar sayang, Bida sabar ya....." Bu Joko mulai meneteki Bida. Bida pun langsung terdiam.
Bu Sulis akan melangkah keluar kamar untuk melanjutkan memasak. Namun tiba-tiba "Ow..." jerit Bu Sulis, kakinya tersandung sesuatu hingga hampir jatuh, untungnya tidak membentur kusen pintu.
"Mbak Rini ndk papa?" tanya Bu Joko sambil terus meneteki Bida.
"Ndak papa kok." Bu Sulis memeriksa lantai tempat ia tersandung. "Aneh batinnya." Ia benar-benar merasa ada yang menghalangi kakinya seperti ada yang menjegalnya.
Sosok perempuan tengah baya berdiri di samping Bu Sulis dengan tatapan tidak suka. Matanya merah menyala. Namun tidak satupun yang melihatnya. Ia kemudian semakin mendekati Bu Sulis dan meniup tengkuknya.
"Hi iii " Bu Sulis bergidik saat merasakan tengkuknya terasa ada yang meniup. Hawa dingin seketika menjalar di tengkuknya hingga ke lengannya. Tubuhnya jadi merinding.
Setelah acara cuplak an yang diselenggarakan setelah isya itupun selesai. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Bapak-bapak yang sudah diundang, sebagian masih mengobrol di ruang tamu. Pak Joko diliputi kebahagiaan, saat para tamu memberi ucapan selamat atas kelahiran Bida.
Bu Sulis yang sudah membantu beres-beres di dapur. Ijin pamit, " Mbak Rini, aku pulang ya, aku bawa beberapa makanan ya, kan acaranya sudah selesai."
"Ya Mbak Sulis, terima kasih bantuannya. Besok bantu lagi ya Mbak. Justru besok, tamu undangan akan lebih banyak karena besok adalah acara selapanan."
"Pasti itu, besok aku akan masak yang enak, dan pulangnya aku akan bawa makanan lebih banyak dari sekarang. Aku pamit ya." Bu Sulis keluar rumah melalui pintu belakang karena akan lebih dekat menuju rumahnya jika lewat pintu belakang. Rumah bu Sulis bahkan terlihat dari pintu belakang Bu Joko.
Bu Sulis berjalan sambil menenteng kresek berisi makanan, ia berjalan dengan riang. Sebenarnya tadi pagi dan siang, Bu Sulis sudah membawakan makanan bagi keluarganya dari rumah Bu Joko tapi tidak sebanyak yang dibawa malam ini.
Semilir angin terasa dingin. Membuat Bu Sulis merinding. Ketika sedang berjalan di atas rerumputan di pekarangan samping rumah Pak Joko, Bu Sulis mendengar derap langkah lain yang bukan suara langkahnya seolah tepat di belakangnya. Bu Sulis berhenti sesaat lalu menoleh ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa bahkan Bu Joko sudah menutup pintu belakang rumahnya.
"Ah mungkin tikus." batin Bu Sulis.
Namun ketika ia mulai melangkahkan kaki, kembali suara itu terdengar bahkan suara langkah tersebut sekarang di depannya tidak di belakangnya lagi. Di bawah cahaya bulan yang terang karena sedang purnama itu, jelas terlihat gerakan rumput yang terlihat bahwa ada seseorang yang sedang melewatinya.
Bu Sulis mulai ketakutan dan mempercepat langkahnya setengah berlari menuju rumahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Tri Soen
Dasar bu Sulis nama nya juga masih bayi mana tau kata sabar dan bayi nangis kok dikaitkan dengan nama yg gak sesuai aneh banget ya pikiran bu Sulis ...
2023-02-22
1
sun-rise🌻
Gendu k4h
2022-11-03
0
Li Na
semangaat
dukung karyaku juga ya
2020-06-15
3