Pulang dari musholla, Pak.Joko masuk ke kamar depan meletakkan pecinya. Ketika Pak Joko masuk ke kamar Istri dan bayi Bidadarinya yang cantik, kamar tersebut kosong. Pak Joko segera keluar memanggil istrinya.
"Bu !" Pak Joko khawatir baru beberapa jam melahirkan, mengapa istrinya sudah keluar kamar.
"Apa Pak? sahut bu Joko." Ternyata bu Joko di dapur sambil mengaduk kopi buat Pak Joko.
"Loh bu, mana Bida? Ibu juga kok sudah bangun, biarkan bapak membuat kopi sendiri.
"Bida ada di kamar pak, aku sudah sehat kok, dukun bayi itu hanya membelai perutku kemudian bayi mungil kita segera keluar, cepat sekali Pak. Tidak seperti yang kubayangkan, ternyata mengejannya saja ndak terlalu susah pak. Bu Bidan sudah memeriksaku, tidak ada sobekan pada jalur lahirku. Aku sehat. Bapak jangan khawatir, lebih baik, bapak temani Bida. Aku mau menggoreng telur. Kita sarapan bersama sebentar lagi."
Teringat Bida, pak Joko tidak menjawab tapi langsung menuju kamar karena tadi Pak Joko tidak melihat Bida dan istrinya. kamar tersebut kosong.
Sampai kamar, Pak Joko heran melihat bayi mungilnya sedang tertidur lelap di atas kasur masih di posisi sama ketika Pak Joko tadi hendak berpamitan sebelum berangkat ke musholla.
"Bida, apakah bapakmu ini sudah rabun, tadi bapak lihat kasur ini kosong." Pak Joko bertanya pada Bida bayi mungilnya yang menurutnya secantik bidadari meski belum pernah mengetahui wajah bidadari. Yang Pak Joko sadari bahwa bayi mungilnya adalah bayi yang tercantik sedunia karena ia adalah anaknya.
Pak Joko tersenyum sendiri, mengingat ia sudah merasa konyol bertanya pada bayi yang lahir beberapa jam lalu. Meskipun bayi mungil ini tidak sedang pulas pun, pastinya juga tidak bisa menjawab. Rasanya sudah tidak sabar, Pak Joko menantikan perkembangan dan pertumbuhan putrinya. Terbayang jika bidadarinya ini memanggil namanya,
"Bapak, ayo kita sarapan." bu Joko muncul di pintu kamar, berkata sambil sedikit berbisik kuatir bidadarinya terganggu dengan suaranya.
"Ya." Pak Joko melangkah ke luar namun tiba-tiba menghentikan langkahnya, karena Pak Joko mendengar suara kasur berderit. Seolah ada seseorang yang naik ke kasur tempat Bida tidur. Sementara Bu Joko sudah berlalu kembali ke dapur. Wangi bunga kenanga memenuhi ruang kamarnya.
"Pak, ayo sarapan." Istrinya kembali muncul di depan pintu kamar sambil menatap bayinya yang ada di kamar.
"Apakah Bida ku gendong saja." kata Pak Joko.
"Jangan Pak, biarkan Bida tidur. Kasihan lan Pak, Bida baru beberapa jam lahir, jangan ganggu tidurnya." Bu Joko mengatakannya masih dengan suara pelan.
Akhirnya Pak Joko mengikuti bu Joko ke dapur. Bu Joko makan dengan porsi lebih dari biassnya. Pak Joko tidak berkomentar karena Bu Joko harus makan banyak agar asinya lancar.
*****
Pagi ini, cuaca cerah. Burung-burung berkicau, aktifitas warga sudah mulai berlangsung. Pak Joko mengeluarkan ketiga ekor sapinya untuk berjemur dan memberinya makan.
Bu Sulis tetangganya yang suka bermulut usil melewati samping rumahnya untuk mengambil daun ketela rambat yang tumbuh di samping belakang rumah Pak Joko. Pohon ketela rambat itu merambat hingga ke pohon Jambu. Lalu matanya terbelalak menatap kuburan ari-ari Bida.
"Eh, Mbak Rini (bu Sulis sudah terbiasa memanggil nama asli bu Joko) sudah lahiran, kapan pak? tadi malam ya? jam berapa? kok saya ndk dikabari? kita kan tetangga berdampingan. Aneh tadi malam, saya nyenyak sekali. Tidak dengar suara bayi menangis."
Pak Joko belum menjawab rentetan pertanyaan bu Sulis tapi bu Sulis sudah melangkah masuk rumah lewat pintu belakang tanpa dipersilahkan. Bu Sulis ini sangat menjengkelkan, meski rumahnya berdampingan tapi karena luasnya pekarangan masing-masing maka menjadi keuntungan bagi Pak Joko untuk sedapat mungkin menghindarinya.
Bu Sulis tidak bisa menjaga perkataan dan seenaknya sendiri berkata yang sering menyakitkan hati bu Joko. Bu Sulis seperti tidak suka kepada bu Joko.
"Mbak Rini! mbak !" bu Sulih heboh berkeliling mencari keberadaan bu Joko.
Pak Joko segera masuk tergopoh-gopoh.
"Maaf bu Sulis, jangan keras-keras nanti Bida bangun."
"Bida? Siapa Bida? tanya Bu Sulis sambil memoyongkan bibirnya.
"Bida, nama anak saya Bidadari. panggilannya Bida." jawan Pak Joko dengan penuh kebanggaan.
Bu Joko yang tadi mendengarkan panggilan bu Sulis keluar kamar sambil masih menyusui Bida." Ada apa mbak Sulis? tanya bu Joko basa basi, karena pasti tetangganya akan menjenguk putrinya.
Bu Joko ingin menunjukkan bahwa ia perempuan sejati kepada mbak Sulis tetangganya yang mulutnya sudah seperti mesin bor air yang ngucur byor.. byor... tanpa saringan dan tidak bisa disetel volumenya.
Masih ingat semua kalimat menyakitkan dari mbak Sulis yang menyatakan, "Suruh saja suamimu menikah lagi. Terima takdir dengan legawa kamu itu sudah usia 35 tahun ke atas, susah punya anak lagi. Lagian sih jika hamil, ndk jaga kesehatan, bayinya meninggal di dalam baru nangis. Harusnya ketika kamu hamil lagi itu, jaga diri jangan menggoda suami kan ndk boleh orang hamil dengan kondisi lemah kandungan seperti kamu itu, jika melakukan itu selama hamil." seolah-olah mbak Sulis sok tahu dengan rumah tangganya. Padahal Pak Joko sangat hati-hati dan tidak berani menyentuh istrinya ketika hamil meskipun dokter menyatakan bahwa itu bukan penyebab keguguran istrinya.
"Eh sini, lihat bayinya. Perempuan ya, kok diberi nama Bidadari sih. iya kalau nanti besarnya cantik, jika jelek kan kasihan anaknya. Namanya ketinggian. Bidadari..."
Pak Joko menatap Bu Sulis dengan raut wajah tidak suka. Apalagi Bu Sulis sekarang tampak mengagumi kecantikan bayi mungilnya. Kulitnya putih bersih kemerahan, matanya bolak, bibirnya mungil namun penuh berwarna merah, rambutnya lebat, meski samar ada lesung pipit di kedua pipinya. Lesung pipit itu terlihat ketika bayinya sedang ******* dan saat ini Bida memang sedang *******.
"Lucu ya. kulitnya bersih. Tapi belum tentu loh dewasanya putih. Anak saya saja, Gatot lahirnya putih eh setelah bisa jalan kulitnya jadi item."
Bu Joko tersenyum hampir terkikik, bagaimana mungkin Mbak Sulis menyinggung anaknya sendiri dengan mengatakan item.
Pak Joko berdehem, memang Pak Joko tetap memanggil dengan panggilan Bu Sulis meski Bu Sulis tidak suka dan ingin dipanggil Mbak Sulis alasannya agar terlihat muda. Justru itulah Pak Joko tidak mau meladeni permintaannya. Karena sudah jelas Bu Sulis itu tidak muda lagi, bahkan usianya sudah mendekati 50 tahun.
"Kapan nih selamatannya? sudah lama kalian ndk punya anak kan? harusnya diselamati dong." kata bu Sulis yang semakin menjengkelkan.
"Nanti Mbak Sulis, jika cuplakan, selapanan, aqiqahan, dan lain-lain. Mbak Sulis akan aku kabari ya.
"Selamatannya harus besar-besaran ya. Makanannya harus yang enak-enak. Sebagai bukti syukur kalian bisa punya anak. Jangan kuatir, aku akan bantu memasak. Aku ini jagonya memasak."
"Ya mbak. Insya Allah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Afri
haaddooohjhh punya tetangga kayak gini mending d jual lelang aja Bu Joko
🤣🤣🤣🤣
2023-11-22
1
Agustina Kusuma Dewi
adohhhjj
2023-11-19
0
Tri Soen
Duuuuh tetangga rempong mulut sepedas cabe 🤭
2023-02-22
1