Berkat arahan Profesor Fritz dan Profesor Adeleine, aku dan Arno dapat menempuh rute teraman menuju ruangan boss dungeon.
Tempat yang benar-benar nostalgia untukku.
Walaupun desainnya agak sedikit berbeda, tidak salah lagi itu adalah ruangan boss dungeon.
Bedanya, jika dulu aku sebagai penerima tamu, maka kali ini giliranku yang datang sebagai penantang.
Di depan pintu kami bertemu tiga orang.
Leonardo, peringkat 5, cleric,
Tika, peringkat 7, shielder, serta
Lisanna, peringkat 1, swordsman.
Kulihat Arno terburu-buru mendekati mereka.
“Sana, bagaimana dengan keadaan dua yang lainnya?”
Tanya Arno pada Lisanna.
Namun, dengan acuh tak acuh Lisanna menjawab,
“Entahlah, kami terpisah. Bisa saja mereka masih sembunyi di pojokan, atau bahkan sudah meninggal.”
Lisanna pada dasarnya adalah orang yang cuek dan selalu berekspresi suram.
Tetapi hanya jika berhubungan dengan Arno, dia selalu menunjukkan reaksi layaknya seorang gadis yang jatuh cinta pada umumnya karena tak dapat menyembunyikan perasaan sukanya itu dengan baik.
Namun dia yang seperti itu baru saja menjawab Arno dengan dingin.
Itu menandakan bahwa energi mental Lisanna pun sudah terkuras hingga hampir kering.
Terlihat jelas dari dirinya yang biasanya bisa mengontrol pernafasannya dengan baik, kni benar-benar tak dapat menyembunyikan suara nafasnya.
“Sana! Mengapa kamu bersikap dingin begitu pada teman-teman kita!”
“Hei, Arno. Tenanglah sedikit.”
Aku segera menepuk pundak Arno yang juga telah berada dalam kondisi mental yang terkuras hingga dia yang biasanya tenang, tiba-tiba tak sanggup mengontrol amarahnya.
“Kamu lihat sendiri kan, Lisanna juga saat ini sedang kelelahan.”
“Karena dia berdiri di garis depan, pasti dia menghadapi monster yang lebih banyak daripada kita.”
“Dia bukannya tidak peduli dengan keadaan teman-teman kita yang lain, tetapi dia sendiri juga sulit untuk mengontrol perasaannya saat ini karena kelelahan.”
“Malahan reaksi Lisanna-lah yang justru normal orang-orang tunjukkan di situasi hidup dan mati seperti ini.”
Arno menggertakkan giginya dengan penuh amarah.
Aku bisa melihat betapa dia berusaha untuk menahan amarahnya, namun dia sendiri sadar, tidak ada yang dapat pula kami lakukan pada teman-teman yang telah meninggal.
“Tenanglah, Arno.”
“Seperti yang diucapakan oleh Lisanna barusan.”
“Mereka bisa saja masih hidup di suatu tempat.”
“Itulah sebabnya, kita hanya perlu segera menyelesaikan dungeon ini.”
“Karena begitu diselesaikan, jika mereka selamat, maka mereka juga akan segera tertransfer ke dunia nyata, bukan begitu?”
Arno pun mengangguk setuju atas pernyataanku itu.
“Hmm.”
“Maaf, Viar.”
“Aku berkali-kali menasihatimu untuk mengontrol sifat pemarahmu.”
“Namun di saat dibutuhkan, justru kamu yang bisa memikirkan masalah lebih tenang dariku.”
Aku tak dapat menyalahkannya.
Sebab orang seperti itulah Arno.
Jiwa kepahlawanannya menuntunnya untuk segera frustasi pada nyawa orang-orang yang melayang tepat di hadapannya.
Dia selalu menyalahkan kelemahan dirinya sendiri.
Itulah sebabnya sebagai sahabat, aku perlu mendukungnya.
Bukan berarti pula aku bisa tenang dalam kondisi saat ini.
Pikiranku tidak henti-hentinya membisikiku untuk membunuh siapapun penyebab dungeon break di ujian sakral kami ini.
Tidak.
Lebih dari apapun yang kuinginkan adalah kehancuran umat manusia yang penuh kemunafikan itu.
***
“Lisanna, Arno, kalian akan berperan sebagai penyerang utama.”
“Sementara aku dan Tika akan menyupport pertahanan kalian.”
“Leonardo akan berperan sebagai pendukung.”
“Sebagai pengamanan kemungkinan serangan dadakan dari belakang, beast tame-ku, Anto-lah yang akan mengurusnya.”
Aku segera mengambil keputusan yang terbaik untuk mengarahkan party.
“Ck, mengapa sampah rendahan seperti kamu yang memberi perintah?”
Namun meski di situasi itu, Lisanna tetap pada harga dirinya sebagai siswa berperingkat atas yang tak mau diperintah oleh siswa berperingkat bawah.
“Lantas, kamu punya ide yang lebih baik, Tuan Putri Lisanna?”
Aku tersenyum ramah padanya sembari mengucapkan kalimat itu seolah itu bukan sarkasme.
“Ck. Terserah sajalah.”
Selama tiga tahun ini aku telah mempelajari berbagai titik lemah wanita sombong itu.
Aku kini paling tahu bagaimana mengendalikan keangkuhannya.
Setelah semua persiapan selesai, Arno dan Lisanna secara berbarengan mulai membuka pintu besar di lantai lima tersebut yang menghubungkan ke ruang boss dungeon.
***
Namun apa yang kami dapati di ruang boss tersebut, itu kosong.
Singgasana di mana aku dulu biasanya duduk sambil menunggu para penyintas memasuki ruang boss dungeon benar-benar kosong.
Kami sempat dibuatnya pangling.
Akan tetapi berkat ketajaman indera Anto, aku bisa segera menyadari bahwa ruangan itu sama sekali tidak kosong.
Aku bergegas mengaktifkan skill detection-ku.
“Lisanna! Di atasmu!”
Lisanna segera merespon cepat teriakanku lantas menahan serangan boss dungeon yang datang dari arah atas tersebut.
-Srereret, srereret.
Perlahan, bayangan hitam mulai terbentuk dan semakin memadat menunjukkan suatu tampakan yang semakin jelas.
Seekor monster raksasa bertubuh mirip manusia dengan seluruh tubuhnya ditutupi oleh kain berwarna hitam serta mengenakan topeng tengkorak.
Di tangannya terdapat sabit seukuran badannya yang besar yang berwarna hitam pula nan panjang melengkung.
“Shinigami?”
Leonardo tiba-tiba menggumamkan sesuatu.
“Shinigami? Apa itu?”
“Viar, jangan bilang kamu terlalu miskin bahkan tidak sempat menonton anime di TV?”
“Hah?! Kau mengejekku, sialan?!”
“Bukan begitu. Tapi monster itu sangat mirip dengan karakter shinigami di anime-anime yang sering aku tonton.”
Sang shinigami menerjang.
Leonardo segera memberi buff dukungan kepada Tika, Arno, dan Lisanna lantas Tika menahan serangan shinigami tersebut.
Itu dilanjutkan dengan cekatan oleh serangan kombinasi luar biasa dari duo Arno-Lisanna.
Monster itu menyerang dengan tebasan sabit yang menembus dimensi.
Syukurlah, tiada serangan dimensi yang tak sanggup diblokir oleh Anto.
Anto memang telah kehilangan hampir semua mana power-nya sehingga jurus-jurusnya melemah, tetapi tidak dengan skill-nya itu sendiri.
Bayangan yang seharusnya ditembus oleh sabit itu tiba-tiba memadat sebelum sabit sempat keluar kembali ke lintasan luar hingga serangannya itu gagal mengenai party kami.
Namun begitu aku menyadari kepada siapa sebenarnya monster itu ingin menyerang jika tidak kugagalkan berkat inderaku yang terhubung dengan Anto di bayangan, aku segera berkeringat dingin.
Monster itu sama sekali tidak menyerang Tika yang menangkis serangannya, Arno maupun Lisanna yang menyerangnya, maupun bahkan Leonardo sang pemberi buff.
Itu menargetkanku yang saat itu pertahanannya paling terbuka di antara yang lain sehingga paling mudah diserang.
Namun karena itu pulalah aku segera menyadari bahwa pengalaman bertarung monster itu masihlah rendah.
Tampaknya berbeda dariku, dia belum lama ini menjadi boss dungeon.
Kalau demikian, ini akan menjadi kemenangan yang mudah.
Aku berlari di dinding untuk menarik perhatian sang monster dengan menggunakan bayangan yang dibentuk oleh Anto sebagai pijakanku.
Aku melemparkan pisau cadanganku tak henti-hentinya ke monster tersebut sembari mengaktifkan skill cut-ku pada pisau sehingga tak memberikan ruang kepada sang monster untuk berpikir.
Perhatiannya mutlak teralihkan padaku.
Akhirnya, itu pun mempermudah bagi penyerang utama kami, Arno dan Lisanna, untuk melancarkan serangan kombinasi yang memberikan dampak fatal.
Dalam kombinasi gaya berpedang kuno keluarga Annexia dan gaya berpedang kontemporer keluarga Rosechild, sang monster sama sekali tak dapat berkutik.
Walau dengan ukuran tubuhnya yang raksasa, sang monster harus bertekuk lutut di hadapan serangan kombinasi murid terhebat pertama dan kedua di angkatan kami tersebut.
Lalu sebagai serangan penghabisan, Lisanna-lah yang membelah tubuh monster itu menjadi dua.
Pemberitahuan Sistem seketika muncul.
Ya, itu bukan AI game vrmmorpg lagi sejak kami tertransfer ke dungeon nyata.
Itu… si Sistem sialan itu.
Selamat kepada Player Sana, Arno, Tika, Viar, dan Leo karena sudah menyelesaikan dungeon level E.
Hadiah akan segera ditransfer sesuai dengan kontribusi masing-masing.
Hanya ada lima nama player yang tercantum di dalam papan pengumuman Sistem tersebut yang berarti kedua rekan Lisanna sebelumnya juga telah tewas.
Namun tampaknya, bukan saatnya aku mengkhawatirkan orang lain ya.
“Viar, awas!”
-Bruak.
Anda baru saja tertransfer ke ruang tersembunyi dari dungeon bersama Arnoria Rosechild.
Memperoleh misi tingkat B
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Misi Tingkat B: Selamatkan Arno
Syarat keberhasilan: Arno berhasil keluar dari dungeon dengan selamat
Lamanya misi: 3 jam
Berhasil: poin kontribusi 1000 poin, 1 tiket harapan
Gagal: mengalami mimpi buruk selama 1551 hari
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments