“…ar. …ar. Viar.”
Suara seseorang segera membangunkan aku dari pingsanku.
Begitu aku membuka mata, dapat kulihat wajah Arno yang sangat mengkhawatirkanku.
Perlahan, kugerakkan jari-jemari ini dimulai dari kanan lalu ke kiri.
Syukurlah itu bisa digerakkan.
Aku kemudian mencoba bangun untuk mengecek kondisi tubuhku yang lain dan tampaknya juga tidak kenapa-kenapa.
Kucoba mengingat kembali apa yang baru saja terjadi sebelum aku pingsan.
Akan tetapi, bau pengap dungeon yang seakan menahan oksigen masuk ke paru-paruku terasa cukup menyiksa.
“Ukh.”
Aku meremas bagian dadaku yang tiba-tiba terasa sesak.
“Viar, kamu baik-baik saja?”
Aku menoleh kepada orang yang memanggil namaku itu.
Itu benar.
Bajingan itu baru saja melakukan tindakan yang di luar nalar.
“Ngomong-ngomong, Arno, bagaimana keadaan teman sekelas yang lain?”
Seketika ekspresi Arno berubah sedih begitu aku menanyakan pertanyaan itu.
“Termasuk George, aku gagal menyelamatkan kedelapan belas teman kita yang lain. Itu karena aku kurang kekuatan.”
Aku paham kesedihannya, namun sebenarnya bukan itu yang ingin aku tanyakan kepada Arno.
Yah, tapi kedelapan belas teman itu juga telah menghabiskan sepanjang waktu bersamaku selama tiga tahun aku berada di SMUT.
Mana mungkin aku tak merasakan apa-apa pada kematian mereka.
“Ck. Bukan itu. Lagian mengapa kamu yang mesti murung, hah? Mereka mati bukan karena kesalahanmu. Itu karena kesalahan sindikat penjahat yang mengacaukan ujian kita itu.”
Dapat kulihat Arno meremas tangannya erat-erat.
Meski tatapan matanya dari jauh tetap terlihat lembut, bisa kusaksikan api amarah terbakar lewat matanya.
Tidak hanya Arno yang marah, aku pun sama marahnya dengannya.
Siapapun dalang dari kekacauan ini, aku bersumpah akan membunuh mereka semua.
“Yang aku maksudkan dengan kesepuluh orang yang tadi bersama kita, Erna dan kawan-kawan.”
“Ah, mereka. Kalau mereka, kamu tenang saja, Viar. Mereka telah aman karena aku sudah menggunakan Return Stone-ku untuk mengembalikan mereka ke dunia nyata.”
“Hei… Arno. Darimana kamu mendapatkan Return Stone itu?”
Aku bertanya sembari benar-benar menatap wajah Arno dengan serius kali ini.
“Itu adalah artifak milik keluargaku yang memang selalu kubawa ke mana-mana di dimensi spasial-ku. Jika sewaktu-waktu aku dalam bahaya, aku dapat menggunakannya untuk kabur kembali ke rumah.”
-Puak!
Aku tak lagi dapat menahan amarahku, lantas aku memberikan kepada Arno sebuah bogeman mentah.
“Ukh.”
Tetapi sebagai akibatnya, justru aku yang semakin sekarat, kemungkinan karena luka di dadaku.
“Viar, kamu baik-baik saja?”
“Lepaskan aku, dasar pushover!”
Aku segera menghempaskan tangan Arno yang hendak memapahku.
“Kau ternyata punya barang seperti itu, tetapi mengapa kau… Mengapa kau! Aaaakkkhhhh, dasar bodoh! Aku tak tahu lagi harus bagaimana terhadapmu!”
“Maafkan aku, Viar. Seandainya saja tadi aku memutuskan untuk menggunakannya lebih cepat, aku pasti juga bisa menyelamatkanmu dengan Return Stone itu.”
-Puak, puak, puak.
Aku sangat kesal dengan ocehan di mulut Arno itu sehingga aku kembali menghajarnya berkali-kali.
Tetapi mengapa bocah ini malah diam saja dihajar begitu?
“Maafkan aku, maafkan aku.”
Air mata Arno seketika tumpah begitu dia tampak tulus meminta maaf.
Aku bahkan heran apa yang sebenarnya membuatnya merasa sangat bersalah.
“Oi, mengapa kamu malah meminta maaf?!”
Aku rasanya sudah memahami benar sifat altruisme Arno, tetapi ternyata itu jauh lebih buruk dari dugaanku.
Aku tak pernah menyangka bahkan di situasi ekstrim di mana nyawa bisa menjadi taruhannya, dia masih tetap dapat mengutamakan keselamatan orang lain ketimbang dirinya sendiri.
“Bukan itu yang aku maksudkan. Lagipula mengapa aku harus mengharapkan pertolonganmu, hah?!”
“Bukan itu, dasar bodoh!”
“Yang aku tanyakan, mengapa kamu tidak sedari awal menggunakan itu untuk kabur ketika kamu menyadari bahaya?!”
“Mengapa kamu perlu berkeliaran sana-sini demi menyelamatkan orang lain?!”
“Apa nyawa orang lain di situasi ini begitu penting bagimu?!”
“Asal kamu tahu, jika kamu juga menjadi korban dalam bencana ini, teman-teman sekelas yang kamu sayangi itu palingan hanya akan menangisimu selama tiga hari!”
“Keluargamu hanya akan meratapimu selama seminggu!”
“Setelah itu apa?”
“Kamu hanya akan terlupakan dan menjadi masa lalu bagi mereka.”
“Apakah kamu baik-baik saja dengan itu?!”
“Apakah kamu segitu tidak menghargainya hidupmu?!”
Aku meledak.
Aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan padanya.
Namun satu hal, Arno-lah orang yang paling tidak boleh menjadi hunter di dunia ini.
Dia hanya akan segera mati begitu memperoleh lisensinya.
Dia sangat baik, saking baiknya, membuat aku muak.
Begitu aku memperhatikan kembali wajah Arno, dia telah babak-belur.
Seketika aku merasa bersalah padanya.
Bagaimana bisa di situasi genting ini, aku malah memperburuk staminanya?
Bagaimana jika tiba-tiba ada monster yang menyerang, Arno jadi tidak bisa bergerak karena baru saja kuhajar?
Hah, ini juga salahnya, mengapa membiarkan dirinya dipukuli begitu saja.
“Maaf, aku kelepasan, Arno.”
“Aku tidak seharusnya melampiaskan amarahku padamu sejak aku adalah salah satu orang yang telah kau selamatkan.”
“Itu tidak dipungkiri bahwa aku masih bisa hidup sampai saat ini karena kaulah yang menyelamatkanku.”
Bisa kulihat wajah Arno seketika berubah cerah begitu aku mengucapkan kalimat itu padanya.
“Ck. Karena sudah terlanjur begini, yang terpenting sekarang adalah keluar dari tempat ini hidup-hidup.”
“Hmm.”
Arno mengangguk lantas berdiri sembari mengulurkan tangannya untuk membantu aku ikut berdiri pula.
***
Arno dan Viar berjalan menyusuri ruang sempit nan gelap itu.
Berkat skill bayangan Anto yang terhubung ke Viar, Viar masih mampu melihat dengan baik walaupun di dalam kegelapan.
Beda halnya dengan Arno, dia tak sanggup melihat apa-apa.
Akan tetapi, Arno yang sudah menguasai aura pedang, mampu mempertajam inderanya yang lain untuk menutupi terhalangnya indera penglihatannya tersebut.
Tempat mereka terjatuh adalah sarang evil spirit.
Syukurlah skill dari bakat bawaan game baik Arno maupun Viar, sama-sama kompatibel untuk menghadapi evil spirit.
Tepatnya bukan Viar, melainkan jurus bayangan Anto-lah, familiar Viar, yang serangannya bisa efektif melawan para evil spirit tersebut.
Untuk Arno, dia dengan mudah menggunakan pedang auranya untuk membelah keberadaan astral yang bersembunyi di dalam kegelapan.
Strategi yang mereka bentuk sederhana.
Arno sebagai penyerang utama yang menyerang para evil spirit yang menerjang.
Adapun Viar dengan menggunakan familiar-nya, Anto, menyisihkan para evil spirit yang lepas dari pengawasan Arno dengan menariknya ke dalam bayangan lantas menelannya bulat-bulat.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk segera menemukan jalan keluar kembali, terima kasih berkat skill pelacakan bayangan Anto yang luar biasa yang secara resmi telah dikenal sebagai beast tame partner dari Viar tersebut.
***
Begitu Viar dan Arno membuka pintu keluar tersebut, komunikasi dari ruang pengawas ujian akhirnya terhubung kembali.
Namun apa yang mereka dengar setelah beberapa saat terjebak di dalam sana adalah celotehan Profesor Catchilaoz.
“Itulah sudah kubilang jangan pernah percaya pada rakyat jelata!”
“Selama ini kalian mengabaikan aku dengan mengatakan bahwa si rakyat jelata Luvien itu baik-baik saja sebagai pengajar karena kemampuannya!”
“Lihatlah sekarang apa yang dilakukannya?!”
“Dia rupanya adalah anggota organisasi sindikat kejahatan itu yang menargetkan anak-anak yang merupakan masa depan negeri ini!”
“Kalau sudah seperti ini, bagaimana kalian akan bertanggung jawab?!”
“Lagipula sedari dulu ide Sultan Hasanuddin Gerfinda tentang kesamarataan adalah hal yang tak masuk akal!”
“Bagaimana kita bisa mempercayai orang-orang yang tidak jelas asal-usul orang tuanya?!”
Mendengar ucapan Profesor Catchilaoz tersebut, Laviar marah.
Namun itu bukan karena Profesor Catchilaoz menghina rakyat jelata.
Itu karena Laviar marah akan fakta bahwa di antara sesama mereka sendiri, manusia saling menyakiti.
Dari sudut pandang Laviar sebagai ras vampir, apa yang dilakukan oleh umat manusia itu benar-benar konyol.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments