Sang penguasa bayangan, Dullahan, kembali mensummon para death night.
Namun Arno segera membawa monster-monster tersebut kembali ke peristirahatan terakhir mereka.
Beberapa menit kemudian, Laviar terbangun lantas mendapati Arno yang berjuang sendirian.
Dia tampak gagah di matanya.
Arno dianugerahi dengan bakat berpedang yang membuat siapapun hunter berkelas swordsman, pasti akan merasa iri begitu melihat kemampuan bertarung Arno.
Laviar resmi terdaftar sebagai tamer.
Walau demikian, Laviar terkadang juga bertarung dengan menggunakan pedang.
Oleh sebab itu, Laviar juga termasuk salah satu di antara yang lain yang iri dengan bakat berpedang Arno tersebut.
Andai dirinya juga mempunyai skill bawaan game milik Arno, itu pasti akan lebih baik bagi dirinya, itulah pikir Laviar.
Dalam waktu sekejap, Dullahan merasa terdesak karena tidak ada lagi mayat lain yang mampu dibangkitkannya sebagai death night.
Dullahan pun kemudian mulai menggunakan para pengawal banshee yang ada di sampingnya.
“Semua priest! Segera aktifkan sihir perlindungan suci kalian!”
Arno dengan sigap berteriak memberi perintah dan para priest segera mengeksekusinya.
Itu jauh dari diri Arno yang lembut yang biasanya Laviar saksikan.
Tampang Arno saat itu benar-benar serius untuk melindungi rekan-rekannya yang sejak dari tadi sudah berada di ambang batasnya.
Laviar tidak luput dari salah satunya.
Dia hanya dapat menyaksikan Arno berjuang saat ini.
Baik HP, MP, maupun SP-nya benar-benar telah sekarat.
Bagaimanapun, Laviar tidak dapat melepaskan kekhawatirannya pada satu-satunya sahabat manusianya itu.
Yang lain berada di dalam perlindungan suci, namun tidak bagi Arno.
Teriakan banshee dikenal sebagai salah satu pembawa teror terdahsyat di antara sesama calon hunter.
Itu akan mengikis jiwamu dan membuatmu terkorupsi.
Namun, Laviar akhirnya bisa bernafas lega karena rupanya Arno telah mampu membangun aura yang seharusnya mustahil dilakukan bagi mereka yang baru menjadi calon hunter, terlebih bagi mereka yang belum pernah melakukan praktik langsung di lapangan dengan menggunakan tubuh asli mereka.
Sesuai harapan bagi penerus keluarga Rosechild.
Arno benar-benar unggul dibandingkan para siswa calon hunter yang lain.
Lisanna tidak salah lagi adalah siswa calon hunter paling berbakat di antara siswa-siswa angkatan ke-19 SMUT tersebut, namun Arno punya karismanya tersendiri.
Dalam sekejap, Arno membawa para banshee kembali ke abyss lantas maju menyerang sang dullahan.
Kekuatan pedang Arno begitu kuat dan berat sampai-sampai seketika sanggup memukul mundur sang dullahan.
Arno menunjukkan teknik berpedang yang luar biasa.
Dia hanya menggunakan jurus pedang yang begitu lurus.
Walau demikian, setelah bertukar hanya dengan beberapa kali serangan, Arno berhasil menembus ke pertahanan sang dullahan lantas menyingkirkannya.
Arno pun berjalan kembali ke teman-temannya.
“Viar, kamu baik-baik saja?”
“Dasar bajingan! Seharusnya kamu mengkhawatirkan dirimu sendiri dulu! Oi para priest, segera sembuhkan Arno!”
“Hahaha, aku tidak apa-apa kok.”
“Diam saja dan dapatkan perawatan, bajingan!”
Dengan bergabungnya Viar bersama party-nya, kini anggota di party Arno menjadi dua belas orang.
Anggota party akhirnya memutuskan untuk melangkah maju alih-alih menunggu Lisanna bersama party-nya sendirian menyelesaikan dungeon tersebut.
Itu karena Arno tidak bisa menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab itu kepada Lisanna.
Lisanna tidak salah lagi adalah siswa paling berbakat di antara mereka.
Walau demikian, di mata Arno, Lisanna juga merupakan salah satu temannya yang tidak bisa dia tinggalkan.
Arno adalah orang yang penuh dengan tanggung jawab.
Viar menganggap itu sebagai sifat tercela Arno yang terlalu pushover, tetapi dia tetap mendukung keputusan sahabatnya itu.
Viar membenci manusia, tetapi dia tidak ingin melihat sahabat manusianya itu meredup.
Berkat arahan yang bijak dari para guru, terutama Profesor Fritz dan Profesor Adeleine, Arno dan party bisa melewati lantai dua dan tiga dungeon dengan baik.
Namun tiba di lantai empat,
“Apa?”
Sebuah evil spirit yang datang secara tiba-tiba, berhasil menangkap Laviar lantas menyeretnya ke dalam dinding.
“Viar!”
Arno menyaksikan kejadian itu tepat di hadapan matanya lantas tanpa pikir panjang segera berusaha menyelamatkan Viar.
Hal itu menyebabkan dirinya akhirnya ikut terseret bersama Viar.
Arno berjuang sekuat tenaga agar tak terhisap ke dalam dinding.
Namun, di suatu titik Arno segera menyadari bahwa tenaganya tak memungkinkan lagi untuk melawan kekuatan penghisap dari celah spiritual yang dibentuk oleh para evil spirit tersebut.
Lalu hal yang tak disangka-sangka pun dilakukan oleh Arno.
Dia menggunakan Return Stone-nya yang seharusnya menjadi kartu cadangannya untuk selamat dari dungeon, demi menyelamatkan kesepuluh rekan lainnya yang akan segera terpisah darinya.
Tak lama kemudian, Arno dan Viar terhisap sepenuhnya ke dinding.
Akan tetapi, kesepuluh rekannya yang lain telah berhasil kembali ke dunia nyata berkat kekuatan Return Stone.
***
“Profesor Billoaz! Apa kamu sudah memastikan keadaan mereka?”
“Bagaimana… Bagaimana dengan keadaan keponakanku Erna?!”
“Tenang saja. Keadaan mereka bersepuluh baik-baik saja dan telah berada di bawah perawatan perusahaan keluarga Rosechild. Siswa Erna juga salah satu di antaranya.”
“Syukurlah.”
Profesor Catchilaoz akhirnya bernafas lega setelah mendengarkan jawaban Profesor Billoaz, namun tidak bagi Profesor Fritz.
Wajahnya diliputi kekalutan.
“Bagaimana Anda bisa bernafas lega sekarang, hah?! Dua siswa terbaik kita masih terkurung di dalam sana!”
Itu bukanlah Profesor Fritz yang meledak, melainkan Profesor Adeleine.
“Danill! Bagaimana perkembangannya? Apakah kamu sudah menemukan keberadaan siswa Arnoria Rosechild di dalam sana?”
“Maaf, Profesor. Tapi tempat yang mereka masuki seharusnya tidak ada apa-apa di sana karena sama sekali tidak terdeteksi keberadaan apa-apa di area tersebut.”
“Cih, sialan! Andai saja dia tidak menolong siswa itu. Siswa itu, Viar…”
Profesor Adeleine segera menghentikan ucapannya di tengah-tengah ketika mendapati Profesor Fritz telah menatapnya dengan tajam begitu dia kembali menyebutkan nama Viar.
“Cih! Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sekolah ini? Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain ada mata-mata penjahat yang berhasil menyusup di antara para guru.”
“Hentikan spekulasimu yang tidak berdasar, Profesor Adeleine! Kamu hanya akan membuat semuanya bertambah runyam dengan komentar tidak bertanggung jawabmu!”
Profesor Billoaz menyalahkan ucapan Profesor Adeleine tersebut yang dikiranya tak bertanggung jawab.
Namun, beberapa saat kemudian ketika mereka masih disibukkan dengan pencarian Arnoria Rosechild yang hilang, satuan pengamanan negara dari tindak kejahatan bersindikat pun tiba.
Dan ternyata itu sesuai dengan dugaan Pofesor Adeleine.
“Apakah di antara kalian ada yang melihat keberadaan Profesor Luvien?
“Eh, tadi orangnya baru saja ada di sini. Tapi mengapa sekarang tak terlihat di mana pun ya? Memangnya ada, Pak, sampai-sampai satuan pengamanan negara sendiri yang datang ke tempat ini mencarinya?”
Profesor Billoaz menjawab dengan ragu pertanyaan anggota satuan pengamanan negara tersebut yang diiringi pertanyaan yang mengungkapkan rasa penasarannya, sementara Profesor Adeleine dan Profesor Fritz turut memperhatikan dengan ekspresi yang meraba-raba.
“Besar kemungkinan bahwa dia adalah salah satu anggota sindikat penjahat yang sedang kami cari-cari yang juga menyebabkan insiden kali ini.”
Semua seketika terperangah begitu mendengar jawaban dari sang anggota pengamanan negara tersebut.
Salah satu sekolah menengah andalan pemerintah untuk mengelola calon hunter, terlebih mereka adalah satu-satunya yang dijuluki sekolah unggulan di antara sekolah-sekolah menengah taruna yang lain, diduga baru saja disusupi oleh anggota sindikat kejahatan.
Terlebih itu adalah orang yang mereka nilai sama sekali tidak pernah mencurigakan.
Seorang guru yang penuh dedikasi dalam mengajar mata pelajaran pengenalan ability yang selama ini dinilai sangat sopan dan ramah, namun bertalenta, walaupun berasal dari background rakyat jelata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments