“Friska!”
“Ya, Bu.”
“Werewolf itu adalah salah satu makhluk kegelapan yang paling lemah terhadap sihir suci sehingga kamu akan berperan sebagai jantung serangan kali ini.”
“Gunakan sihir sacred sanctuary dengan kekuatan maksimal sedari awal.”
“Tak usah lagi menghemat MP-mu, lalu sisanya serahkan kepada rekan-rekanmu.”
“Baik, Bu.”
“Kemudian, Valia.”
“Hmm.”
“Werewolf itu kebal terhadap sihir, jadi hemat saja penggunaan mantramu.”
“Fokus pada pertahanan, terutama untuk melindungi Friska yang sedang memulihkan mana.”
“Aku paham, Bu.”
“Erna akan menjadi penyerang utama.”
“Kamu siap kan, Erna?”
“Ah. Aku? Siap, Bu.”
“Lalu terakhir Viar.”
“Peranmu tidak kalah pentingnya dari Friska.”
“Werewolf sebenarnya adalah makhluk berinsting tajam.”
“Namun sejak menjadi corrupted werewolf, insting itu menjadi buta.”
“Insting mereka yang peka semasa hidup mereka justru menjadi kelemahan fatal bagi para corrupted werewolves ketika insting itu menjadi buta.”
“Mereka jadi mudah terpancing provokasi pengalihan.”
“Nah, di sinilah tugasmu, Viar.”
“Gunakan beast tame-mu yang bisa menyelinap ke dalam bayangan untuk memancing perhatian para corrupted werewolves, lalu di saat itulah Erna akan menghabisi werewolf yang lengah karena terpancing perhatiannya tersebut.”
“Aku paham, Profesor Fritz.”
“Aku juga, serahkan serangan penghabisan padaku.”
Setelah melalui briefing singkat lewat jalur komunikasi ke dunia nyata yang akhirnya bisa terhubung sejak insiden kejahatan pembajakan ujian kelulusan SMUT tersebut, Viar dan party-nya mulai mempersiapkan serangan.
“Sacred sanctuary!”
Friska segera mengeluarkan serangan pertahanan AoE dengan segenap sisa mana-nya.
Seluruh ruangan dalam jarak radius tertentu seketika diselubungi oleh cahaya putih menyilaukan.
Itu seketika mengurangi agility, vitality, serta dexterity para corrupted werewolves.
Sementara untuk kawan sendiri, stamina mereka mengalami peningkatan.
Valia segera mengambil posisi melindungi Friska yang jatuh lunglai karena mana depletion.
Valia lantas mengaktifkan suatu barier semi-transparan di sekitar dirinya dan Friska.
Sementara itu, Erna dan Viar maju secara bersamaan, tetapi mengambil jalur yang berbeda.
Erna maju lurus menerjang musuh secara frontal.
Adapun Viar mengambil jalur yang sedikit lebih memutar mengambil celah yang paling tidak menonjol bagi musuh.
[Anto, sekarang.]
[Serahkan padaku, Master.]
Anto mengaktifkan skill serupa taunt, atau lebih tepatnya Anto memadatkan eksistensi bayangan yang dikendalikannya sehingga auranya menguat lantas itu menjadi suatu keberadaan yang tak terhindari menarik perhatian kerumunan werewolves secara instan.
-Slash, slash, slash, slash, slash.
Di saat perhatian para corrupted werewolves itu teralihkan-lah, Erna mulai menyerang dengan langsung memberikan luka fatal pada tiap werewolf yang lengah.
-Slash, slash, slash, slash, slash.
Seakan tak mau kalah, Viar melakukan hal yang sama.
-Grrr.
Viar berusaha sekuat tenaga menahan insting alaminya sebagai vampir yang sangat membenci keberadaan para werewolves tersebut.
Itu dilakukannya sejak dia harus merahasiakan identitasnya sebagai seorang vampir, terlebih Viar adalah bukan vampir sembarangan, melainkan vampir yang berdiri di puncak tertinggi kasta para vampir, seorang pangeran vampir.
Berkat instruksi terarah dari Profesor Fritz dan para guru lain di ruang pengawas ujian, kali ini Viar dan rekan-rekannya bisa mengalahkan para monster dengan lebih mudah.
Setelahnya, Viar dan party kembali berhadapan dengan para winged bat dan mumi.
Namun kali ini, itu adalah kemenangan yang mudah berkat arahan para guru.
***
Daripada melanjutkan perjalanan, Viar dan party memutuskan untuk bertahan di lantai dua dungeon.
Sejak nyawa adalah taruhannya, Viar dan party tidak ingin bertindak gegabah dengan bepergian ke tempat yang memiliki monster lebih kuat.
Terlebih, telah ada Lisanna dan party-nya yang maju duluan yang akan segera menyelesaikan dungeon tersebut.
Apa yang mesti dilakukan oleh Viar dan party-nya saat ini adalah fokus untuk bertahan hidup sampai Lisanna selesai menjalankan tugasnya dengan baik.
Akan tetapi,
“Terima kasih atas kerja kerasnya, kawan-kawan. Kalian semua baik-baik saja kan?”
“Oho, ada apa ini? Tumben-tumbenan Viar yang terkenal kasar memperhatikan rekan-rekannya. Apa jangan-jangan kamu mau mati atau semacamnya? Ada yang bilang orang-orang akan berubah soalnya mendekati kematiannya.”
Erna sebenarnya hanya bermaksud bercanda untuk memecah suasana yang dingin perihal rasa letih yang teramat sangat pasca menghadapi monster tiada hentinya.
Namun bagaimanapun dilihatnya, bercandaan Erna memang terlalu berlebihan mengingat situasi hidup-mati yang sedang mereka hadapi saat ini.
“Hentikan, Erna! Perkataanmu terlalu kasar!”
Itulah yang membuat Valia akhirnya tidak dapat menahan kesalnya pada ucapan Erna lantas membentaknya.
Friska segera menepuk punggung Valia untuk menenangkan Valia yang frustasi.
“Ah, maaf. Bercandaku sudah kelewatan.”
Erna pula sudah terlalu lelah saat itu sehingga pikirannya tidak rasional lagi bahkan untuk sekadar mempertimbangkan baik dan buruknya suatu candaan yang dia lontarkan.
Dengan perasaan bersalah, Erna meminta maaf.
Namun layaknya Erna, Viar juga terlalu lelah.
Jangankan permintamaafan Erna, bahkan bercandaan keterlaluannya barusan sebenarnya luput dari telinga Viar.
Viar benar-benar lelah.
Pandangannya kabur dengan nafas yang sudah sangat terengah-engah.
Dia pun mulai mendambakan yang namanya tidur.
Sayangnya, di kala keadaan mentalnya sedang berada di puncak terendahnya itulah, Viar yang sedang terduduk di suatu tempat untuk beristirahat dalam kepenatan yang memuncak, harus mengalami musibah itu.
Tanah di sekelilingnya tiba-tiba saja bergemuruh dan menunjukkan tanda-tanda akan runtuh.
“Viar!”
“Viar!”
Erna dan Friska yang segera menyadari keadaan itu seketika meneriakkan nama Viar.
Adapun Valia, saking terkejutnya dia, bahkan tak bisa mengeluarkan satu patah kata pun.
Secara tiba-tiba saja, muncul para death knight dari dalam tanah yang tanpa Viar sadari sudah mengepungnya dari berbagai arah.
Itu tidak hanya sampai di situ.
Begitu Viar melihat ke arah yang lebih jauh, rupanya para death knight itu dikendalikan oleh sang dullahan yang juga sedang bersama beberapa banshee di sekelilingnya.
Itu adalah suatu keadaan yang sangat putus asa bagi Viar.
Badan tak bertenaga, mana power mendekati nol, ditambah stamina yang sudah di ambang batasnya.
Itu benar-benar adalah suatu keadaan yang sangat putus asa.
“Viar!”
“Viar!”
“Vi… ar.”
Teman-temannya hanya dapat meneriakkan rasa khawatir mereka padanya, tetapi tak kuasa lagi untuk menyelamatkannya.
Bahkan termasuk familiarnya, Anto, yang kini jurus bayangannya juga terkunci oleh kehadiran sang raja bayangan Dullahan.
Para death knight seketika semuanya maju menyerang Viar dengan pedang mereka masing-masing di tangan, sementara Viar hanya memiliki dua pedang pendek yang kini pula telah lusuh dipakainya bertarung selama ini.
Viar kini menyadari arti pentingnya senjata cadangan itu.
Andai dia punya senjata lebih, dia pastinya bisa bertahan dengan lebih baik sembari menunggu kesempatan untuk rekan-rekannya menyelamatkannya.
Namun tampaknya semuanya telah terlambat bagi Viar untuk menyadarinya.
“Ah, di sini kah takdirku?”
“Apakah aku akan mati di tempat ini?”
“Setelah menjadi pangeran vampir dan boss dungeon selama seribu tahun, akankah perjalananku berakhir di sini?”
“Itu bukan kehidupan yang buruk sejak keberadaan para manusia juga rupanya tidak terlalu buruk, terutama ada si cecunguk itu.”
“Apa ini?”
“Apakah dendamku pada manusia mulai luluh?”
“Dendam yang sudah aku pupuk selama seribu tahun lamanya itu?”
“Hahahahaha.”
“Semuanya karena si sialan Arno itu.”
“Kuharap si cecunguk itu bisa selamat dari tempat ini.”
“Jika aku punya dendam pada manusia, itu adalah pelaku tindak kejahatan yang menyabotase pelaksanaan ujian kami.”
“Yah, tapi kuyakin pasti Arno dapat membalas dendam dengan lebih baik ketimbang aku?”
“Ah, dengan sifatnya yang terlalu baik hati itu, kusangsi dia sanggup melakukannya.”
“Hahahahahaha.”
“Tapi ya sudahlah.”
“Selama dia selamat, apapun keputusan Arno juga boleh untukku.”
“Ya, yang penting temanku itu bisa selamat.”
“Kuharap Erna, Valia, dan Friska yang bersamaku sampai akhir di tempat ini juga bisa selamat…”
-Sraaash.
Akan tetapi di saat Viar telah akan menyerah pada hidupnya, sosok yang dibayangkannya benar-benar menampakkan wujud nyatanya.
-Slash, slash, slash, slash, slash.
Sosok itu seketika membantai para death knight yang akan mencelakai Viar.
“Viar? Ah, syukurlah kamu masih bernafas. Aku tidak terlambat menyelamatkanmu.”
“Bajingan…”
Viar pun jatuh lunglai setelah mengatai sosok penyelamat hidupnya itu, Arnoria Rosechild.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments