Selain vampir, ada satu makhluk penghuni kegelapan lainnya yang keberadaannya sangat ditakuti oleh para manusia.
Mereka adalah werewolves.
Jika vampir ditakuti karena kemampuan mereka dalam mengendalikan kesadaran orang-orang yang mereka hisap darahnya, werewolves murni ditakuti karena kekuatan fisik mereka yang di luar nalar apalagi saat terjadinya bulan purnama.
Namun sama halnya dengan hubungan antara vampir dan manusia, walaupun vampir dan werewolves adalah sama-sama makhluk penghuni kegelapan, mereka saling membenci satu sama lain.
Tidak tercatat secara jelas di dalam sejarah apa yang memulai konflik di antara kedua makhluk tersebut, yang jelas mereka sangatlah saling membenci.
Werewolves yang ada di hadapan party Viar saat ini adalah corrupted werewolves, yakni werewolves yang telah termakan oleh kegelapan dan akhirnya terjebak di antara yang hidup dan yang mati.
Jelas bahwa mereka telah lama mati, namun di saat bersamaan mereka masih tetap dapat mempertahankan wujud mereka, entah itu pengaruh dendam, amarah, merasa terhina, dan berbagai perasaan-perasaan negatif lainnya.
Walaupun tidak lagi hidup, mereka tetap kawanan werewolves.
Dan sebagai salah satu vampir, walaupun kini berada di dalam tubuh manusia, Laviar tidak dapat menahan instingnya untuk membenci keberadaan werewolves.
-Grrrr.
“Viar?”
Erna seketika terkejut melihat Viar tiba-tiba menggertakkan giginya seperti hewan buas.
Dalam sekejap, Viar maju dengan pedang pendek di kedua tangannya yang selama ini hanya disarungkannya untuk menebas para bedebah corrupted werewolves tersebut.
-Slash, slash, slash.
Viar mengayunkan pedangnya tanpa ragu sembari mengaktifkan skill ‘cut’ miliknya.
“Aku akan mensupport Viar. Friska, Valia, bisakah kalian membantu kami dari belakang?”
“Baik, serahkan peran itu kepada kami.”
Hanya Friska yang menjawab permintaan Erna itu.
Adapun Valia masih gemetaran ketakutan sembari memegang tongkat sihirnya.
Walau demikian, Valia kemudian mengangguk setelah jeda beberapa saat yang dibarengi tekad.
-Slash, slash, slash.
Viar terus bertarung dan bertarung.
Beberapa werewolves kemudian hendak menyerang ke titik buta Viar.
Erna tidak tahu apakah Viar menyadari serangan itu atau tidak, tetapi dia akhirnya maju untuk menangkis serangannya.
-Trarararang.
Terdengar bunyi nyaring seketika antara benturan kuku tajam werewolves terhadap pedang Erna.
-Dash.
Sembari menyeret Viar, Erna berusaha secepat mungkin mundur ke belakang.
“Hei, Viar! Apa yang terjadi padamu?! Hentikan kepanikanmu!”
-Bam, bam, bam.
Beberapa werewolves dengan cepat telah berlari hampir menyerang Erna dan Viar, akan tetapi jurus-jurus api milik Valia yang kini segera menghalau serangan itu.
“Ah, ini bukan waktunya untuk berdebat kah?”
-Slash, slash, slash.
-Trang, trang, trang.
Adu pedang dan cakar seketika berlanjut.
“Teman-teman! Kita harus segera kabur dari sini!”
Teriakan lembut Friska memecah situasi yang tampak berjalan stagnan oleh pertarungan Erna dan Viar melawan para corrupted werewolves itu.
Begitu mereka ikut menoleh ke arah yang dilihat oleh Friska, mereka pun mendapati kawanan winged bat yang rupanya masih mengejar mereka.
“Aku akan membuka jalannya.”
“A.. Aku akan membantu.”
Terpengaruh oleh semangat Friska, Valia akhirnya turut mengeluarkan pula suaranya setelah selama ini diam.
-Triririring.
Sinar suci segera menyelimuti area.
-Baam!
Itu segera diikuti oleh api menyala-nyala yang dalam sekejap meluluh-lantahkan satu jalur lurus ke depan yang dilaluinya.
“Viar, Erna, buruan ikuti kami!”
Tersadar oleh teriakan lembut Friska, Viar dan Erna segera menyusul Friska dan Valia yang telah lari duluan.
Sekali lagi, party Viar dapat terselamatkan dari krisis.
-Plak.
Namun Erna belum lepas dari amarahnya terhadap Viar yang tiba-tiba saja melakukan sesuatu yang sembrono.
Dia pun menampar Viar.
“Kalau kau mau mati, tolong jangan ngajak-ngajak!”
“Kamu selama ini tenang, tapi ngapain tadi kamu tiba-tiba saja jadi agresif menyerang para werewolves itu sendirian?!”
“Semua upayamu membuka jalur kabur kita sebelumnya kan jadi percuma!”
“Kamu malah membawa kami ke bahaya yang lebih laten, tahu tidak?!”
“Bukannya kamu sendiri yang meminta kami untuk tetap tenang dalam situasi apapun?!”
“Tetapi apa ini?”
“Mengapa malah kamu sendiri yang memancing keributan lantas menarik perhatian para monster, hah?!”
“Kamu sadar tidak bahwa pertarunganmu tadi terlalu berisik sehingga dapat memancing keberadaan monster lebih banyak lagi?!”
Di tengah amarah memuncak Erna yang ingin dilampiaskannya kepada Viar, Friska segera mencegahnya.
“Erna, kamu juga tenanglah. Suaramu juga nanti bisa kedengaran para monster itu.”
Perkataan Friska sedikit berhasil mengembalikan ketenangan Erna.
“Biar aku alirkan sedikit kekuatan suciku untuk menenangkanmu.”
“Tidak usah. Kamu juga masih harus menyimpan mana-mu untuk pertarungan yang entah sampai kapan akan berlangsung.”
Namun Erna menolak secara tegas uluran bantuan Friska itu demi memikirkan masa depan tim yang entah akan berapa lama lagi terjebak di dalam pertarungan dungeon.
-Grrrrrr.
Sayangnya, kesialan tak sampai di situ saja menimpa party Viar.
“Sial! Mereka menemukan kita!”
Viar dan party-nya sudah di ambang batasnya.
Walau demikian, mereka tak punya waktu istirahat di kala nyawa mereka terancam.
Dibantu oleh penciuman para werewolves yang tajam, kawanan corrupted werewolves tersebut dengan cepat menemukan kembali keberadaan Viar dan party-nya.
“Kita harus bagaimana sekarang, Viar?”
“Ck. Aku juga kehabisan ide.”
[Anto, kamu masih di sekitar sini?]
[Ya, Master. Namun tampaknya keberadaanku juga akan kurang membantu dalam menghadapi kawanan werewolves sejak mereka kebal terhadap sihir.]
[Hah, sudah kuduga kamu akan bilang begitu.]
[Maaf, Master.]
[Sekarang apa yang harus kulakukan?]
Di tengah situasi terdesak mereka itulah di mana Viar mulai putus asa, bantuan tak terduga pun tiba.
“…ar. …ar. …ar. Viar, kamu dengar? Tolong jawab kalau kamu dengar suara Ibu Guru, Nak.”
“Hah?”
“Viar? Kamu bisa mendengar suara Ibu Guru kan, Nak? Kalau iya, kumohon dijawab.”
Sebuah suara tiba-tiba menggema di dalam dungeon itu.
Tidak, itu suara yang hanya bisa didengarkan bagi para siswa yang tidak bisa didengarkan oleh para monster.
Itu sedikit berbeda dari konsep telepati yang suaranya seakan hanya bergema di dalam kepala seperti apa yang dilakukan antara Viar dan Anto.
Suara itu jelas terdengar langsung ke telinga, hanya saja pendengarnya dibatasi oleh orang-orang tertentu saja.
“Profesor Fritz?”
Laviar bisa mengenali suara itu dengan baik sejak Profesor Fritz adalah penasihat akademik Laviar selama di SMUT.
Profesor Fritz pulalah yang telah memarahi Laviar pertama kali karena kekurangan mana di awal-awal tahun ajaran lantas itu dijadikan oleh Laviar sebagai motivasinya dan akhirnya mendorongnya untuk menggunakan fasilitas pelatihan keluarga Arno dalam meningkatkan mana power-nya sampai benar-benar meningkat ke jumlah signifikan.
“Nak Viar? Nak Viar sungguh mendengarkannya?! Hei, kalian semua dengar itu? Suara kita telah terhubung kembali dengan para siswa di dalam dungeon.”
“Apa, benarkah? Kalau begitu, Erna… Apakah keponakanku Erna di dalam sana baik-baik saja?!”
“Profesor Catchilaoz! Apa yang Anda lakukan?! Harap jaga jarak aman dengan saya! Anda kan bisa melihatnya sendiri selama ini di layar kalau siswa Erna juga baik-baik saja!”
“Hei, kau! Bagaimana bisa kau menggunakan alat sepenting itu untuk bicara terhadap rakyat jelata lebih dulu?! Serahkan alat komunikasinya cepat agar aku bisa segera langsung bicara dengan Erna keponakanku!”
“Memangnya itu penting sekarang?”
“Apa?”
-Buk.
“Uakkh.”
“Nak Viar, kami di ruang kendali sedang terkena bug oleh serangan tindak kejahatan.”
“Tidak ada cukup waktu untuk menjelaskannya sekarang. Akan kami jelaskan belakangan.”
“Yang penting sekarang ujian telah dibatalkan dan kini kita masuk ke tindakan penanganan darurat.”
“Kalian pasti telah menyadarinya bahwa kematian di dalam dungeon kini bersifat nyata, bukan?”
“Ini bukan lagi sebuah game melainkan pertarungan bertahan hidup.”
“Tapi kalian tidak usah khawatir karena kami akan menspport Nak Viar dan kawan-kawan dengan baik dalam menghadapi para monster di dalam dungeon tersebut sehingga pasti kalian akan keluar dengan selamat.”
Viar dan kawan-kawan mengabaikan suara jitakan keras yang tiba-tiba terdengar.
Hanya Erna seorang yang tampak ekspresinya sedikit terpelintir merasa tidak nyaman oleh keberadaan seseorang di samping Profesor Fritz tersebut.
Itu karena informasi yang telah mereka terima dan akan mereka terima selanjutnya dari Profesor Fritz sangat jauh lebih berharga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments