“Lima ratus meter di arah jam sebelas, tiga goblin zombie bersembunyi.”
Viar berujar kepada anggota timnya.
“Ok, serahkan semuanya padaku.”
Erna lantas segera mengeksekusi arah yang ditunjukkan oleh Viar tersebut dengan keahlian berpedangnya.
-Slash, slash, slash.
Goblin-goblin zombie tidak ada apa-apanya bahkan untuk calon hunter berperingkat biasa-biasa saja di SMUT.
Pedang sang swordswoman Erna dengan mudah membelah dua tubuh para goblin zombie.
“Ck. Kita mengacau. Suara barusan memancing para monster lain mendekat. Dari arah atas dua wewekgombel bersiap menyerang. Valia!”
“Oh, iya. Fireball!”
-Bam, bam.
Kali ini giliran sang mage Valia yang menunjukkan kebolehannya dengan menembakkan dua bola api secara beruntun yang seketika memusnahkan dua monster yang merangkak dengan keempat kakinya yang menggunakan lidah mereka untuk bergelantungan.
“Kita harus segera kabur sebelum terperangkap gerombolan monster. George, tolong arahkan jalan.”
“Ck. Akhirnya aku dapat giliran juga. Viar, bukankah kamu itu tamer? Tapi skill pelacakanmu bahkan lebih hebat ketimbang kemampuan seorang scout milikku.”
“Itu bukan murni kekuatanku. Itu semua berkat partner-ku, Anto. Yang jelas kamu konsentrasi saja memandu kami ke jalan yang aman.”
“Okey dokey.”
“Friska, support kami dengan auto revive sebagai jaga-jaga.”
“Serahkan padaku.”
Dengan dipandu oleh George di mana Viar memposisikan dirinya di tempat paling belakang party dengan ketiga gadis berada di tengah-tengah, tim itu berlari menyelamatkan diri mereka dari kerumunan monster tanpa mengendorkan formasi mereka.
“Hei, Viar, menurutmu bagaimana dengan tempat ujian ini?”
“Entahlah. Selain ini dungeon tipe ghost, tidak ada lagi yang bisa kuketahui.”
“Bukan itu maksudku. Rasanya luka kita begitu nyata.”
Erna mulai mengungkapkan keanehan yang dirasakannya sejak memasuki arena yang mereka kira sebagai tempat ujian itu.
“Aku juga merasakannya. Rasa sakit di luka kita seharusnya sudah dikurangi sampai sembilan puluh persen. Tapi rasanya aneh saja tiap kali kita terluka, rasa sakitnya seperti apa adanya di dunia nyata.”
Friska ternyata juga mendukung pendapat Erna tersebut.
Viar tidak menampakkan kekhawatirannya, tetapi dahinya mulai berkerut.
Sama seperti Erna dan Friska, tidak mungkin Viar tidak menyadari keanehan tersebut sejak dia memiliki skill detection yang mampu merasakan aliran mana makhluk hidup di sekitar serta kemampuan penerawangan familiarnya, Anto.
Pergerakan monster-monster di dalam dungeon tersebut terlalu liar.
Itu tidak seperti berasal dari hasil rancangan program komputer.
Itu lebih seperti merupakan dungeon asli yang digerakkan oleh sebuah boss dungeon.
Viar kenal benar dengan sensasi ini sejak dirinya adalah mantan boss dungeon sebelum berakhir di tubuh manusianya yang menyedihkan.
“Untuk sekarang, mari kita cari dulu tempat yang aman dengan menomorduakan perburuan monster untuk pengumpulan poin. Hindari setiap luka, baik luka fisik maupun luka mental sampai bug tersebut diperbaiki. Kita baru akan aktif kembali mengumpulkan poin setelah bug-nya diperbaiki.”
“Kurasa ide Viar yang tertepat untuk saat ini. Terutama kita harus berhati-hati pada keberadaan banshee yang bisa memberikan luka mental yang dalam.”
Friska segera menyetujui perkataan Viar yang lantas diikuti oleh anggukan Erna dan Valia.
***
Beberapa murid telah menyadari adanya keanehan pada sistem vrmmorpg ujian kelulusan yang mereka jalani.
Namun masih ada beberapa pula di antara mereka yang sama sekali belum menyadarinya, seperti pada party yang dipimpin oleh Lisanna Annexia yang dengan cekatan membasmi segala monster yang menghadang tanpa pernah merasakan luka sedikit pun.
Akan tetapi dari ke semuanya, telah ada pula dua party yang berakhir dengan nasib sial dengan semua anggotanya teranhilasi.
Mereka sama sekali tak lagi tersummon kembali ke dunia nyata.
Ya, mereka telah meninggal untuk selama-lamanya dengan jasad mereka tetap berada di dalam dungeon di dimensi antah-berantah tersebut.
Siswa yang paling pertama menyadari hal ini adalah Arnoria Rosechild.
Dia pun segera memimpin rekan-rekan party-nya untuk segera menghentikan misi pelaksanaan ujian dan berfokus untuk saling bahu-membahu demi bertahan hidup.
Arno dengan segera mengarahkan rekan-rekan party-nya untuk mencari survival lainnya yang masih bisa terselamatkan.
Semua ini dengan cepat disadari oleh Arno, terima kasih berkat skill bawaan game-nya.
***
Kepanikan tidak hanya melanda kepada para peserta. Ruang pengawas ujian pun saat ini sedang ketar-ketir demi menemukan penyelesaian masalah di sistem pelaksanaan ujian virtual sesegera mungkin.
“Pak Danill, apa Anda belum juga menemukan bug-nya?! Sebenarnya Anda dibayar sebagai teknisi untuk apa?!”
“Harap bersabar, Profesor Fritz. Anda kira kerjaan teknisi itu gampangan?!”
“Tapi satu-persatu nyawa siswa sudah berjatuhan di sana selama kita sibuk berleha-leha di sini!”
“Tepatnya sudah 13 korban jiwa berjatuhan. Di dalam, hanya menyisakan 22 siswa lagi.”
Adeleine, sang guru mata pelajaran celah dimensional, malah memperjelas fakta yang paling tidak ingin didengar oleh Fritz, sang guru mata pelajaran mana power tersebut.
“Hiks… Hiks… Tidak! Para siswa-ku yang berharga yang telah kudidik selama tiga tahun ini… mengapa mereka harus mati sia-sia seperti ini bahkan sebelum mereka sempat berkarya di dunia luar. Hei! Apa sebagai guru, kita hanya akan diam saja melihat murid-murid kita mati satu-persatu dengan mengenaskan?!”
“Tenanglah Profesor Fritz! Kita saat ini semuanya juga sedang memikirkan solusinya!”
Sang guru mata pelajaran fisik, Billoaz, yang sekaligus ketua panitia di ujian itu mengeletupkan gigi-giginya dengan penuh frustasi.
Dia meratapi kesalahannya.
Walaupun sebagai ketua panitia, dia kecolongan dari belakang sehingga bencana ini dapat terjadi.
Tentu saja tiada yang lebih frustasi dibandingkan Profesor Billoaz.
“Bagaimanapun, anggota party terdepan pasti akan menerima damage yang terbesar. Kuharap mereka tidak akan bodoh dengan segera menyeberang ke lantai dua dungeon di situasi tidak menentu ini. Ngomong-ngomong, siapa party terdepan?”
“Sayangnya urutan party ditentukan dengan susunan tim terlemah duluan di depan.”
“Aku tanya anggota party-nya siapa?”
Terhadap desakan pertanyaan Profesor Adeleine itu, sang teknisi pun menjawab, “Party Viar.”
“Huff, syukurlah! Setidaknya itu bukan Lisanna atau Arnoria, murid unggulan kita.”
-Plak.
Seketika suatu tamparan dilayangkan oleh Profesor Firtz kepada Profesor Adeleine.
Profesor Fritz tampaknya tidak dapat lagi menahan kesalnya kepada Profesor Adeleine karena seakan mengatakan bahwa tidak apa-apa jika Viar atau yang lainnya meninggal dalam bencana itu, asalkan itu bukan Lisanna atau Arnoria.
“Viar juga adalah murid yang rajin dan berbakat, Profesor Adeleine.”
“Dalam waktu tiga tahun ini dia mampu meningkatkan mana powernya yang awalnya hanya 8 ke angka 308.”
“Itu memang masih rendah untuk kategori hunter, tetapi itu sudah menunjukkan peningkatan yang luar biasa yang menunjukkan kesungguhannya dalam latihan.”
“Dia adalah salah satu murid favoritku.”
“Tidak. Siapapun siswa itu, mereka tidak ada yang layak meninggal dalam insiden kejahatan seperti ini!”
“Cukup, Profesor Fritz. Kamu juga, Profesor Adeleine, sebaiknya kamu jaga ucapanmu atau itu akan mempersulitmu nanti.”
Melihat situasi yang memanas, Profesor Billoaz segera menenangkan kedua guru wanita itu.
***
“Ck. Living armor sedang melaju dari arah depan kita.”
George seketika berhenti yang diikuti oleh anggota party-nya yang lain di belakang begitu menyadari keberadaan para living armor.
“Bagaimana ini? Di belakang juga ada kerumunan goblin zombie dan wewekgombel yang juga mengincar kita.”
Valia pun tampak mulai putus asa terhadap keadaan itu.
“Apa?”
“Ada apa, Viar?”
Perihal ekspresi kaget Viar yang tiba-tiba, Erna yang penasaran bertanya.
“George, terus berlari! Sepuluh meter di depan ada belokan di sebelah kiri yang aman dari monster!”
“Dimengerti.”
Atas instruksi Viar, dengan George di depan, anggota party Viar segera melanjutkan langkah mereka demi menghindari para monster.
Namun begitu mereka akan berbelok ke arah kiri sesuai instruksi Viar, sebuah living armor secara tiba-tiba saja datang dari arah atas mereka lantas menghalangi jalan.
-Puak.
George segera menendang monster itu menyingkir dari jalan lantas mensiagakan posisinya melindungi anggota party-nya yang lain.
Sayangnya, benturan kaki George dengan living armor itu seketika menghilangkan pula mantra auto revive Friska.
“Gadis-gadis! Cepatlah! Aku akan menahan monster ini untuk sementara waktu buat kalian!”
Berkat George, para gadis pun berhasil lolos menuju ke tempat yang terhubung ke lantai yang labih bawah dari dungeon tersebut yang berada tepat pada belokan di sebelah kiri.
Namun begitu Viar menoleh ke belakang hendak turut menjemput George,
-Srash.
“Akh.”
Sebuah goblin zombie yang hampir terdeteriorasi seluruh kulitnya hingga lebih menyerupai monster skeleton tiba-tiba muncul dari dalam tanah lantas menikam George tepat di jantungnya.
“George?”
“Hei, Viar, mengapa George tak tersummon kembali ke dunia nyata? Hei, apa dia mati?”
Di situlah keempat orang itu akhirnya menyadari fakta bahwa ketika mereka mati di dalam dungeon itu, di situ pulalah akhir riwayat mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments