“Hei, Arno. Aku bukan peduli padamu atau semacamnya. Tapi karena kau sudah terlanjur menjadi temanku, aku katakan saja, sikapmu itu terlalu pushover.”
“Hahahahaha. Syukurlah ternyata Viar akhirnya menganggap aku sebagai teman.”
“Hei bukan itu, bodoh! Kau tak tahu maksudku? Maksudku sejak kau punya kekayaan dan kekuasaan, kenapa kau tidak manfaatkan saja? Itu kan bisa menjadi tamengmu untuk menghindarkanmu dari berbagai masalah.”
Mendengar ucapanku itu, Arno lantas menatap aku baik-baik.
“Viar, apa kamu tahu apa yang paling mengerikan dari seorang manusia?”
“…”
“Ketika mereka dengki dengan orang lain, mereka bisa berubah menjadi makhluk yang lebih menyeramkan daripada iblis.”
“Mereka akan mencari segala cara untuk menjatuhkanmu.”
“Jika mereka tak sanggup menyakitimu secara langsung, mereka akan menyakiti orang-orang di sekitarmu, tidak lain hanya untuk membuat kamu menderita.”
“Hei, apa yang sedang kamu bicarakan, Arno?”
“Hahahahaha. Aku iri dengan pemikiran Viar yang sederhana. Mungkin itulah sebabnya aku suka berteman dengan Viar.”
“Hei! Kau sedang mengejekku ya?!”
“Tidak bukan begitu kok, Viar. Hanya saja, Viar sekarang harus lebih banyak belajar lagi soal hati terselubung manusia. Manusia bukan makhluk sesimpel hewan yang bisa menampakkan isi hatinya dengan jelas. Kalau Viar terus-terusan jadi lugu begini, Viar tidak akan sanggup bertahan di dunia yang absurd ini.”
“Oi!”
Mengapa aku yang malah berakhir dikatai sebagai makhluk lugu oleh si makhluk paling aneh bernama si Arno ini?
“Lagipula, Viar. Tidakkah kau lihat mantan pemilik kost-anmu kemarin? Aku sama sekali tidak memperkenalkan diriku, tapi dia sudah ketakutan duluan karena dia sudah menyadari siapa aku sebenarnya.”
“Aku bukannya tidak menggunakan kekayaan dan kekuasaanku. Aku hanya tidak menampakkannya.”
“Tidak perlu menarik kebencian dari orang-orang yang tidak berarti dengan kita terlalu menonjolkan diri.”
“Kita hanya perlu melakukannya di hadapan mereka yang gampang dikendalikan oleh hal semacam itu.”
“Yah, intinya lakukan pada tempatnya, bukan begitu?”
“Ya, mungkin.”
“Hahahahahaha.”
Setelahnya, Arno tiba-tiba tertawa terbahak-bahak melihat ekspresiku yang diam seribu bahasa tanpa sanggup berkata apa-apa lagi membalas ucapannya.
Mengapa jadi aku yang berakhir malu?
Tidak hanya ekspresi wajahnya yang selalu berubah-ubah secara drastis, cara berpikir Arno ternyata juga benar-benar rumit.
-Swooosh.
Mobil terus melaju dengan kencang dan tanpa terasa kami sudah meninggalkan area Kota Sunda Palapa lantas memasuki Kota Bogor.
“Tapi Arno, bukankah terlalu bebas? Bisa-bisanya kamu hanya jalan kaki melewati area pasar tanpa penjagaan apa-apa. Apa kamu tidak takut diculik atau semacamnya? Bagaimana pun, kamu kan pewaris utama Rosechild group? Bagaimana kalau ada orang jahat yang sampai berniat mengincar harta keluargamu dengan menculikmu?”
“Hahahahahaha. Mungkin Viar tidak tahu, tetapi para bodyguard-ku selalu standy by di tiap titik pasar untuk mengawasi keselamatanku kok. Aku memang sengaja memilih mereka yang terlatih dalam menghilangkan hawa keberadaan mereka sebagai pengawal agar aku lebih nyaman. Andai saja mantan pemilik kost-anmu kemarin mengacau, pasti mereka sudah lebih babak-belur karena dihajar oleh para bodyguard-ku itu.”
Mendengar perkataan Arno, ekspresi panjang seketika diungkapkan oleh wajahku.
Orang ini, ternyata lebih tahu cara memanfaatkan kekayaan dan kekuasaan keluarganya daripada yang kubayangkan.
Kalau begitu, kekhawatiranku padanya sedari awal tidak diperlukan.
Lalu aku tiba-tiba teringat kejadian kemarin.
Bukankah kemarin aku secara sengaja mendorongnya ke kolam?
Mengapa pada waktu itu, para pengawal Arno tidak keluar?
Jika apa yang dikatakan Arno itu benar, berarti para pengawalnya itu sudah melihat aku mendorong tuannya ke dalam kolam sampai-sampai jadi depresi.
Bukankah ini hal yang gawat?
Bagaimana kalau mereka sampai mengadu ke orang tua Arno?
Bukankah posisiku dalam bahaya?
Memikirkan itu, seketika keringat dingin mengalir lewat pelipisku.
Mungkin karena menyadari hal itu, Arno pun menepuk pundakku.
“Apa jangan-jangan kamu khawatir soal kejadian kemarin, Viar?”
Si sialan ini benar-benar menyadari kepanikanku?
“Tenang saja kok, Viar. Mereka semua orang-orangku. Aku sudah memilih mereka dengan baik sehingga tidak akan ada mata-mata yang akan melaporkan hal-hal yang tidak perlu kepada anggota keluarga Rosechild yang lain. Lagipula bukan kamu yang melibatkanku dalam masalahmu, melainkan akulah sendiri yang memilih terlibat dengan masalah keluargamu. Jadi itu tidak akan berkembang ke arah yang kamu takutkan.”
Kejadian yang itu rupanya yang dimaksudkan oleh Arno.
Tunggu dulu.
Apakah itu artinya si Arno ini benar-benar tidak menyadari kalau aku sengaja menceburkannya ke dalam kolam?
Namun Arno tiba-tiba menyandarkan dirinya ke sandaran kursi mobil seraya menghela nafas panjang.
“Itulah sebabnya aku enggan menunjukkan kekayaanku kepada teman-temanku. Kamu juga kan, Viar, jadi merasa terintimidasi karenanya?”
“Ah, aku?”
“Apakah aku masih bisa tetap menjadi temanmu bahkan setelah mengetahui bahwa aku adalah orang yang semerepotkan ini?”
Arno mengucapkan kalimat itu dengan lembut sehingga bisa kutahu bahwa dia serius dalam mengucapkannya.
“Tentu saja. Kan sudah kubilang sebelumnya, kita telah menjadi teman.”
“Syukurlah… Terima kasih, Viar.”
Aku tidak tahu bagian mana yang mesti Arno ucapkan terima kasih padaku.
Bukankah justru aku yang banyak diuntungkan dengan berteman dengannya?
“Bukan apa-apa kok, Arno.” Tapi kalimat itu tanpa sengaja mengalir begitu saja lewat mulutku.
Sesaat kemudian, mobil mewah itu pun berhenti di salah satu mansion yang ukurannya super duper mewah dengan halaman yang sangat luas, bahkan lebih luas dari ukuran pasar di dekat sekolah kami, tempat di mana aku sempat membawa Arno ke dalam mantan kost-anku kemarin.
Begitu pintu gerbang dibuka, belasan pelayan pria berjas rapi serta pelayan wanita yang juga mengenakan kostum seragam yang berenda menyambut kami dengan salam yang serempak.
“Selamat datang kembali, Tuan.”
Aku benar-benar takjub saat itu.
Bahkan pelayanku di Sunda Castle dulu tidaklah sebanyak itu.
Aku kemudian berjalan memasuki koridor yang ada di dalam mansion setelah sebelumnya harus diantar menggunakan mobil mini melewati halaman saking luasnya halaman milik keluarga Rosechild tersebut.
“Ah, Dik Arno sudah pulang rupanya!”
Secara tiba-tiba saja, seorang wanita yang berpenampilan kucel, berbanding terbalik dengan kondisi mansion yang elegan, datang menghampiri kami dengan berlari. Tidak, lebih tepatnya wanita itu berlari ke pelukan Arno setelah menyadari kepulangannya.
Lalu begitu wanita itu melihatku…
-Kruduk, kruduk.
Wanita itu dengan sigap menghindariku seakan ketakutan sampai-sampai terjatuh karena tersandung kakinya sendiri.
Arno pun mendekati wanita kucel itu seraya berkata,
“Tidak apa-apa kok, Kak. Dia teman Arno. Dia tidak akan menyakiti Kakak. Nah, Viar, yuk perkenalkan dirimu ke Kakak.”
“Ah, aku Viar. Salam kenal Kak.”
Aku berlutut untuk menyamakan posisiku dengannya lantas mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan.
Wanita kucel itu pun dengan ragu-ragu turut menjulurkan tangannya untuk menggapai tanganku.
Namun baru menyentuh ujung jariku saja, dia lekas kembali menarik tangannya itu sembari gemetaran ketakutan.
Semenyeramkan itukah wajahku sampai-sampai membuatnya begitu ketakutan?
“Maaf, Viar. Kakakku ada sedikit masalah di masa lalu sehingga membuatnya jadi kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Kuharap kamu tetap mau berteman dengannya.”
“Ya, tentu saja.” Ucapku sembari berusaha tersenyum seramah mungkin pada wanita kucel itu.
“Oh iya. Kamu juga bisa memanggil kakakku dengan panggilan Kak Dahlia.”
“Ah, iya. Selamat sore, Kak Dahlia.”
Lama bercengkerama dengan wanita manusia kucel itu yang akhirnya lama-kelamaan mulai terbiasa denganku, Arno pun akhirnya mengajak aku ke tempat pelatihan peningkatan mana milik keluarganya.
Aku bisa merasakannya. Tempat itu benar-benar kaya akan mana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Ayano
Dikau terlalu gampang dibaca soalnya
2023-10-09
0
Ayano
Gue setuju
Sedelapan malah kalau perlu
2023-10-09
0
Ayano
Semua. Manusia itu sumber semua hal tidak menyenangkan meskipun mereka juga punya sisi Bagus
2023-10-09
0