Aku benar-benar tidak mengerti sosok yang bernama Arnoria Rosechild itu.
Hanya ada dua kemungkinan.
Entah dia saking liciknya hingga sanggup menyembunyikan dengan sempurna sifat aslinya melalui senyumnya yang bak seorang saint.
Ataukah mungkin…
Dia hanya terlalu polos.
Tapi bagaimanapun misi Sistem adalah mutlak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Misi Tingkat F: Buat Arnoria Rosechild marah
Syarat keberhasilan: Arnoria Rosechild mengeluarkan kalimat umpatan
Lamanya misi: sepanjang jalan pulang di hari ini
Berhasil: poin kontribusi 10, peningkatan magic power sebesar 5
Gagal: Anda akan kehilangan sesuatu yang berharga bagi Anda
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Penaltinya jelas mengatakan bahwa jikalau aku sampai gagal, aku akan kehilangan sesuatu yang berharga.
Aku tidak tahu apa yang dimaksud oleh Sistem dengan kehilangan sesuatu yang berharga.
Tetapi sejak itu Sistem yang bahkan tega membuatku mati berkali-kali di dalam dungeon lantas dihidupkan kembali, pasti bukanlah sesuatu yang simpel.
Itu kemungkinan besar adalah sesuatu yang bisa membawaku kepada keputusasaan mendalam.
Sejak begitulah sifat sejati dari Sistem.
Penuh kelicikan dan niat jahat terselubung.
Aku sudah bisa melihat pintu rumah kost-an di mana aku dan Arcia tinggal, namun aku belum juga menemukan cara yang tepat untuk membuat orang sekebal Arno tersebut marah.
Di tengah keputusasaanku memikirkan waktu yang semakin mepet, aku tiba-tiba melihat ada kolam air tepat berada di tengah-tengah alun-alun kota yang kebetulan aku dan Arno akan lewati sebentar lagi.
Ini bukanlah trik yang aku tonton pada ftv manapun pada alat yang bernama televisi tersebut.
Ini adalah kenangan kelamku ketika aku membuat si witch Jeanne itu menunjukkan sifat aslinya untuk pertama kalinya selama beberapa detik.
Tentu saja setelah dia tersadar dari amarah sesaatnya, dia segera menutupi kembali tampang jeleknya itu dengan senyum palsunya.
Aku berharap itu pula akan berpengaruh pada Arno.
Entah Arno munafik atau memang hanya polos, aku tidak peduli lagi, yang jelas kuharap dia marah.
Lalu,
-Byaaar!
Aku mendorongnya tepat jatuh ke dalam kolam.
“…”
“Arno?”
Namun apa yang kudapatkan alih-alih ekspresi marah atau kesal, itu benar-benar tak terduga sama sekali.
“Hei, Arno! Kau baik-baik saja?!”
Bahkan aku yang sangat membenci manusia sampai tak tega membiarkannya berada dalam kondisi yang semengenaskan saat ini.
“Hei, jawab, sialan!”
Seluruh tubuhnya gemetaran dan dia hanya menekuk lututnya sembari membenamkan wajahnya di dalamnya.
“Hei!”
“Jangan…”
“Apa?”
“Kumohon jangan sakiti lagi.”
Hanya empat patah kata itulah yang keluar dari mulut Arno.
Aku benar-benar tidak paham apa yang baru saja terjadi.
Arno tiba-tiba saja berada dalam keadaan depresi.
Pikiranku pun jadi ikut-ikutan kalut dibuatnya.
Bau amis kah?
Pakaian kotor kah?
Kulit yang jadi lengket kah?
Rasanya tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut yang bisa menjadi penyebab penurunan keadaan mental Arno yang terjadi secara tiba-tiba tersebut.
Jika sedari awal Arno memang mysophobia, pasti dia sudah akan marah besar ketika aku menumpahkan saus sosisku di atas pakaiannya.
Tidak, ketika pakaiannya kotor karena cola, dia pasti sudah lari terbirit-birit karena jijik.
Aku tak bisa membiarkannya dalam keadaannya seperti sekarang.
Aku kemudian terpaksa mengabaikan misi Sistem dengan membawa Arno untuk beristirahat ke dalam kost-anku.
“Mandilah dulu sambil tenangkan pikiranmu. Aku akan membawakanmu pakaian ganti.”
Arno hanya mengangguk pelan sembari menuju ke dalam kamar mandi.
“Kak Viar, semuanya baik-baik saja kan, Kak?”
“Ck. Ini bukan sesuatu yang perlu kamu khawatirkan.”
Bahkan Arcia bisa segera menyadari bahwa ada yang tidak beres pada Arno saat itu.
-Puk, puk.
Melupakan situasi itu, mengapa manusia cilik ini tiba-tiba saja menepuk pundakku?
“Arcia merasa bangga pada Kak Viar.”
“Akhirnya Kak Viar yang penyendiri bisa memperoleh teman pertamanya.”
“Keputusanku untuk membuat Kak Viar bersekolah di SMUT memang keputusan yang tepat.”
Mengapa gadis manusia ini tiba-tiba saja bersikap layaknya orang tuaku? Lagipula apa yang kamu pikirkan itu salah, oke?
“Ehem. Pokoknya hari ini kita harus perayaan sebagai hari di mana Kak Viar memperoleh teman pertamanya. Deal!”
“Hei, Gadis manusia! Dengar ya, ini tidak seperti yang kamu pikirkan!”
“Sebagai adik yang selalu mengkhawatirkan masa depan suram kakaknya yang penyendiri, Arcia hanya berharap tulus bahwa ini pertanda baik bahwa hari-hari menyenangkan Kakak di sekolah akan segera dimulai.”
Bagaimana aku meluruskan kesalahpahaman ini?
Lagian alih-alih punya banyak teman, kini aku baru saja dicap seluruh sekolah sebagai orang buangan perihal video kekonyolan ujian praktikku yang tersebar di kalangan para siswa.
-Bruak!
Namun belum sempat aku mengklarifikasikan kesalahpahaman itu kepada Arcia, tiba-tiba saja seseorang mendobrak pintu kost-an kami.
“Hei, bajingan! Cepat bayar uang kost-annya!”
Apa yang baru saja dikatakan sama bajingan itu?
Aku seketika naik pitam oleh perkembangan situasi tiba-tiba yang sangat absurd tersebut.
Hei, bukankah ini novel fantasi? Mengapa genrenya tiba-tiba berubah jadi angst?!
Ingin rasanya aku memukul wajah jeleknya yang seakan minta dipukul.
Sayangnya, Arcia terlanjur maju duluan.
“Maaf, Pak Kost. Tampaknya ada kesalahpahaman deh. Bukankah minggu lalu kita sudah bayar uang kost-annya tuk bulan ini dan bulan depan?”
Itu benar.
Sejak aku memperoleh hadiah penyelesaian dungeon di mana aku sebenarnya adalah bos dungeon-nya sendiri, Viar, manusia yang aku tempati tubuhnya saat ini bukan lagi orang miskin yang bahkan tak sanggup untuk sekadar membayar sewa kost-annya.
Tapi apa yang baru saja diocehkan sama mulut bau bajingan tengik ini?
“Mana bukti kwitansinya kalau kamu sudah bayar kost-an, hah?! Berbohong juga ada batasannya!”
“Tapi kan kemarin Pak Kost sendiri yang bilang ke kami bahwa tidak perlu pakai kwitansi segala asal saling percaya.”
“Dasar pembohong!”
“Aku tidak bohong kok, Pak.”
“Kalau gitu mana buktinya?! Segala sesuatu itu harus bisa dibuktikan di atas kertas baru sah!”
“Tapi Pak.”
“Tidak ada tapi-tapi lagi! Cepat bayar uang kost-an kalian yang udah nunggak selama 6 bulan atau keluar dari rumah ini sekarang juga!”
“Apa? Enam bulan? Kami bahkan tidak pernah telat bayar sewa kost-an sekalipun kok, Pak.”
“Halah, berisik! Orang miskin yatim piatu seperti kalian saja banyak blagu!”
“Aakh!”
Si bajingan tengik itu secara tiba-tiba saja hendak akan menampar Arcia, namun seketika tangannya itu terhentikan oleh kekuatan pria lain yang lebih kuat darinya.
Tanganku sempat maju hendak menghentikannya, namun itu bukanlah aku pada akhirnya yang melakukannya.
Ya, kalian benar.
Siapa lagi pria lain di rumah ini saat ini selain aku.
Itu Arno-lah yang muncul sebagai ksatria berkuda putih bagi Arcia.
“Hentikan sikap kekerasan Anda itu kepada anak kecil!”
“Tidakkah Sultan Hasanuddin Gerfinda menciptakan negeri ini agar setiap insan bisa hidup dengan terbebas dari segala tindak tidak berperikemanusiaan?!”
“Namun sekarang Anda dan kawan-kawan yang Anda bawa malah melakukannya secara terang-terangan di depan umum!”
“Bajingan cilik ini!”
“Anu, Arno.”
Aku ingin segera menghentikan Arno sebelum turut terlibat ke dalam masalah keluargaku.
Tentu saja aku sama sekali tidak mengkhawatirkannya jika dia akan dihajar oleh para preman yang dibawa oleh si bajingan pemilik kost-an ini.
Hanya saja, Arno berasal dari keluarga Rosechild, pemilik perusahaan terbesar kedua di negeri ini.
Jika sampai Arno terluka di rumahku, lantas keluarganya mengetahuinya, bukankah aku akan turut kena imbasnya?
Jangankan menguasai dunia manusia dan membangun kembali dunia vampir.
Aku bisa saja berakhir dalam pengawasan keluarga Rosechild kemudian mereka akhirnya menyadari identitasku yang sebenarnya, lalu aku pun dieksekusi lantas mati sia-sia bahkan sebelum mencapai apa-apa.
Tentu saja itu tidak boleh terjadi.
Tapi apa ini?
Quest terselesaikan. Hadiah berupa poin kontribusi 10 dan peningkatan magic power sebesar 5 telah diberikan kepada Player Hunter bernomor seri 01xxxxxxxxFJH.
Bukankah questnya tadi baru saja berakhir begitu aku memasuki rumah?
Oh iya, ngomong-ngomong sejak dari tadi aku melangkahkan kaki melewati pintu, tidak ada sama sekali notifikasi dari Sistem.
Apa itu berarti selama ini quest-nya masih berjalan?
Lamanya misi: sepanjang jalan pulang di hari ini
Aku seketika tersadar bahwa Sistem sama sekali tidak pernah menspesifikkan lokasi akhirnya.
Itu berarti, quest dinyatakan berakhir mungkin ketika baik aku maupun Arno sama-sama telah pulang ke rumah kami masing-masing.
“Ada saja sampah seperti kalian yang selalu menindas yang lebih lemah.”
“Untuk sampah seperti kalian, hanya ada satu cara menyelesaikan masalahnya.”
“Akan kutunjukkan kepada kalian bagaimana kekuatan yang sebenarnya.”
Aku bahkan tidak bisa lagi fokus pada papan sistemku.
Ada apa dengan anak ini?
Padahal baru saja dia terlihat begitu lemah lembut dan ramah.
Mengapa dia tiba-tiba berubah menjadi beringas?
Apa dia punya kepribadian ganda atau semacamnya?
Aku pun harus menyaksikan Arno menghajar para preman itu dengan kejam, bahkan saking kejamnya, aku sebagai pangeran vampir harus mengakuinya.
Apa yang lebih horor adalah setelah Arno melakukannya, dia segera berbalik ke arah kami dengan tersenyum lembut kembali seolah pemandangan yang baru saja kami saksikan di belakang itu hanyalah halusinasi belaka.
Baik aku maupun Arcia tidak dapat berkata apa-apa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Ayano
Buset dah
Itu tukang tagih kos kayak tukang tagih pinjol 😳
Ga-galak
2023-08-25
1
Ayano
Kenapa sistwm demen banget ngambil sesuatu yang berharga
Kek debt collector 😅
2023-08-25
1
Ayano
Tambahin, bodoh
Polos dan bodoh di anime tuh bedanya tipis 😅😅
2023-08-25
1