Pindai tubuh dalam progress.
(Loading)
Pindai tubuh selesai.
Saat ini, karakter menggunakan tubuh sesuai dengan bentuk asli Anda. Silakan modifikasi tubuh karakter Anda seperti tinggi badan, berat badan, bentuk otot, warna rambut, dan sebagainya sesuka Anda agar Anda dapat lebih menikmati game. Namun, khusus bentuk wajah dan jenis kelamin, tidak bisa dirubah karena merupakan bentuk identifikasi dasar identitas karakter Anda. Harap dimaklumi.
Suara seorang wanita yang terdengar begitu sistematis yang disebut Arcia sebagai AI tiba-tiba menggema di kepalaku.
Ada berbagai tombol di hadapanku yang tak kumengerti. Namun aku yang cerdas ini bisa segera memahaminya hanya dengan penjelasan singkat dari gadis manusia itu.
Aku memodifikasi tubuh avatarku dengan tampakan taring yang lebih panjang, juga aku ubah warna mata dan rambutku menjadi merah. Ini masih jauh dari bentuk tubuh asliku yang agung dan berkarisma, namun ini sedikit lebih mendekati.
Pindai skill awal sesuai kelas yang dipilih…
(Loading)
Kelas tamer terdeteksi dipilih oleh Player bernama ‘Viar’... Menerapkan skill awal…
(Loading)
Skill-skill bawaan terdeteksi… Skill-skill bawaan disimpan…
(Loading)
Dikarenakan terdapat skill bawaan, menunggu skill awal disesuaikan…
(Loading)
Skill berhasil diterapkan… Selamat menikmati permainan Anda.
Setelah proses panjang nan melelahkan, aku akhirnya berhasil memasuki dunia virtual untuk pertama kalinya.
Kulihat gadis manusia asing tepat berada di sebelahku yang tampak bergaya anggun. Namun begitu gadis manusia itu mulai berbicara, aku segera mengenalnya bahwa itu adalah Arcia.
Arcia yang seharusnya bertubuh mungil nan imut di dunia nyata, lebih memilih tampilan seksi dan berpayudara besar di dalam game. Suatu hal yang tidak aku duga sebelumnya. Padahal tubuh mungil nan imut Arcia itu lebih mempesona menurutku.
Hal yang wajar jika manusia juga memiliki selera kecantikan yang bervariasi sebab itu juga berlaku bagi kami kaum vampir. Seperti contohnya di utara sana, ada yang beranggapan bahwa kurus itu identik dengan cantik sehingga mereka pun melakukan diet yang berlebihan bahkan sampai-sampai mengikat payudara mereka sendiri dengan kain agar tidak tumbuh membesar dan tetap kurus.
“Aku pasti akan melindungi Kakak dengan baik melalui perisaiku ini.”
Gadis manusia itu begitu bersemangat sembari memegang perisai besar yang tampak begitu berat. Rupanya Arcia mengambil kelas shielder. Dia berkata bahwa dia sengaja mengambil kelas itu sejak dia takut bertarung dan dengan menjadi shielder, dia dapat menutupi kelemahan utama Viar sebagai assassin yakni pertahanannya.
Yah, walaupun Viar yang sekarang dikenalnya, yakni aku, telah mengganti kelasku menjadi tamer dengan familiarku yang sangat kuat, Anto.
Bagaimanapun, sedari awal aku tak membutuhkan bantuannya karena dengan wujud monster Anto, semua lawan pasti akan dengan segera dikalahkannya.
Setidaknya, itu yang kupikirkan beberapa menit lalu.
“Anto, mengapa kamu tidak kembali ke wujud besarmu?”
“Bukannya aku tidak mau, Master, tapi aku tidak bisa.”
“Apa? Kenapa bisa?”
“Aku juga tidak tahu, Master. Mungkin karena level Master di dalam game yang masih terlalu rendah, entahlah. Tapi tak usah khawatir, Master. Walaupun wujudku menjadi seperti ini, kekuatanku tetap sama.”
Aku sedikit kesal dengan ucapan Anto di bagian awal, namun mendengar ucapannya itu di akhir, aku seketika bisa bernafas lega. Sayangnya, perasaan legaku itu hanya bertahan sekian detik saja.
-Kruduk kruduk.
Anto segera terpental begitu baru menghadapi monster-monster kelinci berlevel 1 yang disebut-sebut sebagai lawan terlemah di dalam game.
“Mana kekuatan yang tadi kamu bangga-banggakan, hah?!”
“Tampaknya kekuatanku juga ikut lenyap bersamaan dengan wujudku, Master. Tehehe.”
Anto bersuara sembari menjulurkan lidahnya berusaha tampak imut. Namun, aku yang melihatnya justru merasa jijik.
Aku menatapnya dengan mata terbelalak bercampur jijik menanggapi sesuatu yang dianggapnya sebagai lelucon itu hingga dia akhirnya benar-benar mengerti aku sedang tidak main-main dan semangatnya pun seketika kendor dengan ekspresi wajah yang tampak penuh patah semangat.
***
“Apa yang terjadi? Kenapa aku yang agung ini begitu lemah bahkan kalah dari gadis manusia itu?”
Kami pada akhirnya tetap bisa menyelesaikan game-nya. Hanya saja, itu semua berkat kontribusi Arcia yang walaupun tadi katanya takut bertarung, tetapi malah menghajar para monster secara brutal dengan perisainya yang besar ketika dia menyaksikan monster-monster itu menyerangku.
Apa yang membuatku takjub adalah baru pertama kali ini aku melihat seseorang membunuh dengan menggunakan perisai yang seharusnya jadi alat pelindung.
“Kakak tidak usah putus asa ya, Kak. Kekuatan itu kan bukan segalanya. Lihat, Pak Presiden Sam Gerfinda saja bilang kalau yang penting itu attitude.”
Melihat gadis manusia itu menyemangatiku demikian, aku justru bertambah sakit hati. Apakah aku pula tampak sangat lemah di matanya?
“Yang paling penting pada saat tes wawancara nanti, Kakak harus bisa mengambil hati para pewawancaranya dengan kelembutan sikap Kakak. Aku juga akan berada di samping Kakak untuk menyemangati Kakak. Walaupun Kakak sekarang lemah, tetapi karena Kakak punya dua skill bawaan game yang keberadaannya sangat langka, kuyakin Kakak bisa lulus ujian selama Kakak bisa lulus penilaian attitude.”
Dan kini gadis manusia itu secara terang-terangan mengatakan aku lemah.
“Ha…ha…ha…”
Aku hanya dapat tertawa tanpa jiwa menanggapinya.
***
Hari ujian pun dengan cepat tiba. Pertama adalah tes tertulis. Aku selama ini benar-benar memanfaatkan waktuku belajar dengan baik dari internet tentang pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai hunter.
Apa yang kubanggakan dari diriku sebagai Laviar yang tidak hilang bersamaan dengan kekuatanku adalah keahlianku dalam menghafal. Aku bisa dengan cepat menghafal isi teks sepanjang apapun itu. Itu akan dengan mudah masuk ke dalam kepalaku tidak peduli seberapapun tingkat kesulitan kosa katanya.
Hanya saja, itu berlaku jika soal-soal yang masuk di dalam tes tertulisnya adalah hal-hal yang telah kuhafalkan. Nyatanya, hanya ada 3 nomor soal saja dari 100 nomor yang tembus di dalam soal ujian itu. Arcia benar-benar buruk dalam membuat prediksi soal ujian.
Tetapi beberapa soal yang naik juga ada yang terdiri dari pemahaman dasar yang memang sudah ada di zamanku seperti mengapa werewolf bisa menjadi kuat jika terkena paparan sinar bulan atau mengapa benda mesti jatuh ke bawah bukannya ke atas. Untuk pertanyaan-pertanyaan seperti itu, aku masih bisa menjawabnya dengan baik.
Yah, setidaknya aku yakin setengah dari soal tertulisnya dapat aku jawab dengan benar, selebihnya adalah tebak-tebak keberuntungan.
Lalu masuklah ke sesi wawancara. Aku mendapatkan giliran ke-247. Benar-benar antrian yang amat panjang dan melelahkan. Aku yang sewaktu masih berstatus pangeran terbiasa membuat orang lain menunggu, kini harus merasakan hal yang sebaliknya.
Dengan menyembunyikan kelelahanku, aku berjalan dengan percaya diri memasuki tempat wawancara. Sebagai pendampingku, ada juga Arcia yang ikut menemaniku.
“Apa hobi Anda?”
Pertanyaan pun muncul dari salah satu pewawancara.
“Ingat bicara yang sopan, Kak.”
Aku bisa mendengar dengan jelas bisikan Arcia yang tepat berada di sebelahku yang tidak henti-hentinya memintaku untuk berucap sopan. Yah, demi lulus di ujian ini, benar bahwa aku harus berkata sopan pada penilainya. Setidaknya aku harus sedikit bersabar demi sesuatu yang lebih besar.
Dengan sopan, aku pun menjawab, “Aku gemar menonton para budak saling membunuh di kolosium.”
“…”
Tapi keheningan sesaat apa ini? Kenapa para pewawancara itu hanya terdiam saja begitu mendengar jawaban pertanyaanku dengan ekspresi seolah ada tanda seru besar di atas kepala mereka?
Itu adalah hobi favoritku dulu sewaktu Sunda Castle masih berdiri. Di masaku, itu menjadi hobi yang paling terhormat bagi para keluarga kerajaan dan bangsawan kelas atas, tidak peduli mereka vampir atau manusia. Tiada yang lebih nikmat bagi mereka yang menduduki posisi tinggi selain melihat darah berceceran para budak demi memperjuangkan hidup mereka yang tidak berarti itu.
“Di film! Itu di film! Kakakku sangat suka menonton film yang bergenre petualang. Hahahahaha.”
Gadis manusia itu tiba-tiba saja berteriak memotong penjelasanku sembari menatapku dengan kesal. Memangnya kesalahan apa yang telah aku buat? Apakah hobi itu terlalu berkelas bagi status Viar yang rendah yang saat ini kupakai sebagai samaran?
“Hahahahaha. Sungguh hobi yang menarik ya, tetapi itu kan tidak produktif sama sekali. Apa Anda punya hobi lain yang lebih produktif seperti menikmati keindahan bunga pada musimnya, mungkin?”
“Hah, ngapain aku menikmati melihat-lihat organ reproduksi spesies lain? Apa aku cabul? Atau apa Anda senang jika organ reproduksi Anda juga dicium, disentuh, lantas dipetik layaknya apa yang orang barbar itu lakukan pada tanaman?!”
“…”
Entah apa kesalahanku, tetapi para pewawancara itu semakin menatapku seolah aku yang orang aneh di sini.
“Kak Viar!”
Ah, gawat! Itu benar. Aku kelepasan bicara. Tanpa sadar aku membentak mereka. Tidak peduli sevulgar apa ucapan mereka, mereka tetaplah penilai di sini. Aku seharusnya tetap menjaga sopan santun di hadapan mereka.
Tetapi bukankah omongan mereka terlalu vulgar sampai-sampai membicarakan organ reproduksi spesies lain?
Tidakkah mereka yang aneh di sini, bukannya aku?
“Sungguh pemikiran yang unik ya dari saudara Viar ini. Lupakan soal bunga, kalau merawat hewan sendiri, apakah Anda pernah melakukannya?”
Dari seorang cabul kini mereka menganggapku sebagai seorang budak hina?!
Apakah aku dalam sosok Viar ini terlihat terlalu gampangan buat mereka?!
Tidak. Aku masih punya harga diriku sebagai pangeran vampir yang harus aku pertahankan sampai taraf tertentu. Aku tidak bisa lagi bersabar atas penghinaan ini.
“Anda menyuruhku yang agung ini menjadi pembantu spesies rendahan itu, hah?! Anda pikir aku ini siapa?! Seorang hina sampai menjadi budak yang melayani seekor hewan rendahan, memberikan mereka makan, membersihkan kotoran mereka, sampai menyanyikan lagu pengantar tidur jika sampai mereka bosan di kandangnya, hah?!”
“…”
“Kak Viar!”
Sekali lagi pandangan yang aneh itu malah tertuju kepadaku dan Arcia juga segera membentakku, padahal jelas-jelas ucapan merekalah yang terlalu kelewat batas.
Aku tidak peduli lagi akan kelulusanku. Jika aku harus sampai diperlakukan serendah ini hanya demi memperoleh sertifikat diterima, lebih baik aku keluar!
Setelah itu, aku hanya menunjukkan ekspresi marah dengan dengusan selama sesi wawancara berlangsung. Pada akhirnya, mereka setelahnya justru kebanyakan mewawancarai Arcia yang menjadi pendampingku alih-alih diriku yang sudah menunjukkan tampang yang tidak bersahabat.
Salah satu pertanyaan mereka adalah tentang mengapa justru dia yang mendampingiku dan bukan orang tua kami, ke mana orang tua kami sehingga tidak kelihatan, dan sebagainya.
Di situlah aku baru mengetahui suatu fakta mengejutkan. Arcia bukanlah adik kandung Viar. Mereka berdua hanyalah sama-sama bekas anak panti asuhan yang diusir dari tempat tinggal mereka sehingga harus berjuang hidup sendiri. Dengan kata lain, Viar dan Arcia benar-benar hidup sebatang kara di dunia yang luas, namun terasa sempit ini.
***
“Kak Viar, kan sudah kubilang untuk bersikap sopan pada pewawancaranya, tapi kok Kakak malah bilang yang aneh-aneh. Apa pula hobi menonton budak bertarung sampai mati itu? Kakak sendiri kan tahu kalau Bapak Presiden kita itu keturunan Sultan Hasanuddin Gerfinda yang membebaskan negeri kita ini dari perbudakan. Lagipula mana ada pertarungan kolosium di zaman sekarang, Kak. Itu kan hanya ada di film-film.”
Aku ingin menyanggah perkataan gadis manusia itu bahwa itu memang benar-benar ada dan itu memang benar-benar hobiku sejak masih berusia kanak-kanak. Tetapi tidak mungkin aku mengatakannya sebagai Viar sejak gadis manusia kecil ini telah mengenal Viar sejak lama.
Yang ada nantinya, alih-alih curiga akan identitasku, dia malah akan mempertanyakan kewarasan mentalku karena telah mengarang cerita yang mengada-ada menurutnya.
Dan mood-ku juga telah hilang duluan sejak tampaknya aku telah mengacaukan segalanya. Jadi kucukupkan saja pembicaraannya sampai di situ.
Lagipula jika Sistem sialan itu tidak menyuruhku macam-macam, pasti aku tidak akan kesusahan sedari awal.
Kini yang tersisa, sisa perunjukan bakat game serta pengecekan skill bawaan.
Sudah kuduga sebelumnya, aku jadi bahan tertawaan di ujian perunjukan bakat game.
Anto maju dengan percaya diri di tengah kerumunan monster goblin tapi malah langsung game over kurang dari lima detik di arena.
Sayangnya, aku tidak jauh berbeda. Aku berhasil menebas tiga monster goblinnya, namun itu tidak membuat para monsternya mati. Yang ada, aku malah kena masa cool down serangan dan akhirnya berakhir tragis sebagai sasaran empuk para goblin tanpa aku bisa bergerak menghindarinya sama sekali.
Namun, hal yang tak terduga terjadi.
Begitu panitia ujian selesai mengecek skill bawaanku, pandangan mereka semua seketika menatapku dengan aneh. Semula aku gugup perihal aku berpikir bahwa skill ikatan darahku yang sudah kusembunyikan dengan baik melalui fitur Sistem juga ikut terdeteksi sehingga aku akan ketahuan sebagai vampir. Namun itu ternyata salah.
“Nak Viar, kamu punya empat skill bawaan ya?”
Panitia pengecek skill bawaanku itu menanyaiku dengan heran.
“Bukan dua tapi empat?”
Bahkan Arcia yang berada di sampingku saat itu juga ikut terheran.
Kalau dipikir-pikir kembali, aku memang mempunyai 4 skill saat ini, yakni skill ‘ikatan darah’ yang kusamarkan menjadi skill tamer dengan menggunakan 1 poin kontribusiku, terus ada skill ‘stealth’ warisan manusia bernama Viar yang aku pakai identitasnya saat ini, serta skill ‘cut’ yang kuperoleh dari Anto dan skill ‘detection’ sebagai salah satu hadiahku dari Sistem karena berhasil menyelesaikan misi tingkat E, selamatkan Arcia.
Tapi apakah seaneh itu?
Oh iya, Arcia kan memang pernah bilang padaku bahwa manusia itu normalnya hanya memiliki satu skill bawaan game sehingga aku yang punya dua waktu itu adalah suatu kespesialan. Namun kini aku malah mempunyai empat, itu sudah sangat jauh lagi dari kata spesial.
Sial, tampaknya aku malah mengacau di tempat yang terduga. Seharusnya, sewaktu aku menggunakan poin kontribusiku yang berharga itu, tidak hanya skill ikatan darah saja yang kusamarkan menjadi skill tamer, tetapi juga aku seharusnya menutupi keberadaan dua skill-ku yang lain selain skill ‘stealth’.
Perihal keberadaan langka manusia yang bisa memiliki empat skill bawaan game, aku pun walau setelah dibenci oleh para pewawancara itu, benar-benar diluluskan menjadi salah seorang siswa baru di Sekolah Menengah Unggulan Taruna alias SMUT tersebut.
Tidak semuanya kecerobohanku berakhir buruk. Walaupun agak bikin sakit kepala nantinya memberikan penjelasan tentang kuartet skill-ku itu, untuk saat ini aku lulus. Itu sudah cukup. Biarlah itu menjadi masalah yang belakangan untuk dipikirkan. Yang jelas, langkahku untuk menjadi hunter yang diakui di dunia manusia dan memenuhi misi tingkat XXX sistem pun semakin dekat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Ayano
Jan gitu
Positif thinking aja kalo dia tuh ngidolain dirimu
2023-07-12
1
Ayano
Risetnya berdasarkan aslinya ini keknya mah 🤣🤣🤣
Sungguh menakjubkan kali wak
2023-07-12
1
Ayano
Akhirnya ☺🤗
Welcome to isekai
Eh.... masih di game
Welcome to your future
2023-07-12
1