“Kamu?”
Aku menatapnya dengan heran.
“Kamu monster semut barusan kan?!”
“Ada apa dengan wujudmu?!”
Aku bertanya pada sosok yang mulanya monster menyeramkan, tetapi tiba-tiba saja berubah menjadi boneka hitam yang menggemaskan, tetap dengan spesiesnya yang semut.
“Oh ini? Entahlah juga, Master. Setahuku, aku memperoleh wujud ini setelah menyempurnakan kontrak dengan Master. Kemungkinan ini karena mana Master yang sangat sedikit.”
“Aku yang hebat ini kamu bilang bermana sedikit!”
Aku ingin meledak.
Namun begitu kumelirik MP-ku ke papan sistem,
MP: 3
Aku sama sekali tak dapat membantah perkataan sang boneka semut.
“Ngomong-ngomong, Master, bagaimana dengan namaku?”
Bisa kulihat wajah penuh pengharapan dari sang boneka semut hitam padaku untuk memberinya nama.
“Nama kah? Hmm… Aku belum pernah punya hewan peliharaan, jadi aku juga tidak tahu nama apa yang bagus. Tapi karena kamu seekor ‘ant’ (alias semut), bagaimana kalau kunamai saja kamu Anto? Bagaimana?”
“…”
“Yosh, mulai sekarang namamu Anto.”
“Master, tapi nama itu terlalu norak…”
“Sst!”
[Hunter Penggali Lobang telah tiba di lokasi kejadian. Tampaknya dungeon break di dunia luar telah berhasil diatasi. Meminta markas pusat untuk mengonfirmasi siapa hunter kurang ajar yang berani mengambil alih job-ku tanpa izin.]
Sebuah suara yang entah mengapa terkesan marah karena dungeon break-nya telah berhasil diatasi tiba-tiba terdengar. Aku dengan gesit membungkam mulut Anto yang berisik, walaupun belakangan kutahu bahwa suaranya ternyata adalah telepati yang tak bisa didengarkan oleh siapapun selain aku.
Kemungkinan besar, orang itu dan kelompoknya-lah hunter di dunia manusia ini.
Syukurlah banyak asap berseliweran di mana-mana sehingga keberadaanku, Arcia, dan Anto tidak dapat terlihat oleh mereka.
Aku pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik Arcia kabur secara diam-diam.
***
Aku melihat kembali tayangan kejadian dungeon break di taman itu melalui kotak kecil yang disebut oleh Arcia sebagai televisi ini. Rupanya kejadian dungeon break sendiri di dunia luar adalah kejadian yang amat langka bahkan baru pertama kali terjadi di Kota Sunda Palapa ini.
Itu karena lazimnya dungeon break hanya terjadi di celah antardimensi saja. Itu pun, biasanya para hunter akan segera menyelesaikan dungeonnya terlebih dahulu dengan memasukinya melalui portal yang terhubung untuk mengalahkan bos monster di dalam sana sehingga dungeon break pun tak akan terjadi.
Kejadian barusan benar-benar aneh. Bukan saja portal yang menghubungkan kedua dunia muncul di dunia luar, tetapi juga begitu muncul, itu seketika terjadi dungeon break, padahal normalnya suatu dungeon break butuh waktu paling cepat tiga hari untuk terjadi untuk dungeon level terendah jika bos monster di dalam dungeon itu tidak dibunuh dalam jangka waktu tertentu.
Wanita di dalam kotak kecil itu (pembaca berita) mengatakan bahwa ini semua ada kaitannya dengan dungeon di mana aku berasal. Apakah ini ada kaitannya dengan aku yang akhirnya terbebas dari dungeon itu? Aku juga tak tahu.
Yang membuat aku sekarang sakit kepala adalah aku tak dapat membantah keterlibatan Viar, manusia rendahan yang kini aku ambil alih identitasnya, sebagai kunci dalam penyelesaian dungeon tersebut perihal yang mereka ketahui adalah bahwa Viar adalah satu-satunya survivor dari dungeon yang bersangkutan.
Aku bisa tahu bahwa hal itu salah perihal alasan mengapa dungeon tersebut bisa menghilang adalah karena kini itu telah kehilangan esensinya alias bos dungeon-nya, yakni aku. Tetapi tidak mungkin aku mengungkapkannya kepada siapapun.
Dan sebagai akibatnya, kini aku harus diinterogasi oleh petugas keamanan di dunia manusia ini.
Aku menyembunyikan sebanyak mungkin informasi yang bisa membahayakan identitasku sebagai pangeran vampir ketahuan dan juga yang bisa menarik perhatian tidak perlu padaku. Aku hanya mengatakan bahwa aku secara tak sengaja mengalahkan bos dungeon-nya dengan menikamnya dari belakang setelah aku berupaya bersembunyi dan akhirnya menemukan celah untuk melakukannya melalui skill ‘stealth’-ku.
Bisa kulihat raut wajah tidak percaya interogator itu terhadap perkataanku, tetapi tidak ada bukti pula yang mampu menyangkal kebohongan ucapanku. Lagipula memang benar bahwa manusia rendahan dengan wajah ini berhasil mengelabuiku sejenak dengan skill aneh itu.
“Kakak, Kakak, kok Kakak kelihatannya malah berusaha merendah? Bukankah ini peluang untuk memperoleh hadiah yang lebih besar lagi Kak jika Kakak sedikit membesar-besarkan prestasi Kakak?”
“Gadis manusia, tidak baik berbohong dengan kemampuan diri kita sendiri karena itu suatu saat akan bisa mencelakai kita.”
“Tetapi kalau Kakak bilang mengalahkan bos monster di dalam dungeon itu seorang diri, mungkin aku juga akan percaya, Kak, perihal aku sudah melihat kehebatan Kakak di taman waktu itu. Oh iya, mengapa Kakak juga merahasiakan bahwa Kakak-lah yang mengalahkan monster-monster di taman waktu itu?”
“Itu bukan aku. Anto-lah yang kebanyakan melakukannya. Lagipula dengar, Gadis Manusia, tidak baik jika kita menarik perhatian berlebih orang-orang kepada kita. Itu hanya akan membuat kita susah sendirinya. Sebaiknya kamu juga camkan ucapan Kakak ini.”
“Baik, Kak.”
Gadis manusia itu mengangguk atas nasihatku padanya.
‘Tidak, bukan itu yang penting, bukan?!’
Kini aku secara alami menyebut diriku sendiri sebagai kakak di hadapan gadis manusia itu perihal dia yang keseringan memanggilku kakak.
‘Ah, ini benar-benar melukai harga diriku sebagai pangeran vampir.’
Namun, itu tidak bisa dipungkiri sejak aku selalu bisa mengingat wajah Selena tiap kali menatap gadis manusia kecil ini.
***
Keberadaan hunter baik di zaman dulu maupun di zaman sekarang rupanya tidak ada bedanya. Yang berubah hanya musuhnya saja yang dari memburu vampir, kini memburu memburu monster dari celah dimensi. Akan tetapi, kelihaian mereka untuk menyembunyikan keberadaan mereka dari publik tetap luar biasa.
Sama seperti saat ini. Betapapun bencana dungeon break diberitakan, itu sama sekali tidak menyinggung keberadaan hunter.
Hanya diberitakan bahwa pemerintah telah berhasil menangani bencana dungeon break sehingga masyarakat bisa merasa aman. Padahal jelas mana mungkin orang-orang lemah yang tanpa kekuatan super itu bisa menangani entitas seperti monster.
Di malam harinya, aku mencoba untuk membatalkan perubahanku dari skill ikatan darah.
Di saat itulah aku baru tersadar.
Aku memang tidak bisa lagi kembali ke wujud asliku.
Entah bagaimana aku menggambarkan rasa takut yang aku rasakan saat itu. Hanya ada dua kemungkinan yang bisa menyebabkan hal ini terjadi. Bisa jadi ini adalah bagian dari ulah Sistem yang hendak menyamarkan aku sebagai manusia di dunia manusia… ataukah… ini memang dari awalnya raga milik Viar.
Melebihi rasa takutku kehilangan semua kekuatanku yang telah kukumpulkan selama seribu tahun, aku lebih takut kalau eksistensi Laviar sang pangeran vampir benar-benar menghilang dari dunia ini.
Kutakut pada akhirnya aku akan menghilang sia-sia bahkan setelah menahan rasa sakit yang kualami selama seribu tahun terkurung di dalam dungeon itu.
“Ah, aku takut menghilang!”
“Setidaknya jika aku memang akan menghilang, biarkan aku membalaskan dendamku dulu pada para umat manusia itu!”
Seribu tahun adalah masa hidup yang sangat lama. Jika aku hidup normal lalu mati di usia itu, tentu itu bukanlah kehidupan yang buruk. Hanya saja aku tidak ingin menghilang sebelum dendam ini terbalaskan.
***
Percuma memikirkan hal yang belum bisa kutemukan jalan keluarnya.
Yang lebih penting sekarang adalah misi dari Sistem.
Jika aku berhasil menyelesaikan misinya, bukankah aku akan berhasil memperoleh kekuatanku kembali? Jika demikian, bukankah dengan sendirinya masalahku itu dapat juga kutemukan jalan keluarnya?
Itulah sebabnya begitu bencana dungeon break mereda, aku sekali lagi mengunjungi game center bersama Arcia sebagai pemanduku.
“Oh iya, bukankah Kakak sekarang ingin menjadi hunter kan? Kalau begitu, daripada mendaftar ke sekolah gamer elit yang mahal seperti SMGP, bukankah sebaiknya kakak langsung saja masuk ke sekolah menengah khusus pembinaan hunter seperti SMUT?”
“Tunggu, tunggu, tunggu! Jelaskan dulu apa bedanya SMGP atau SMUT atau apalah itu! Kalau kamu langsung berkata begitu, mana akau memahaminya! Jelaskan secara detail agar aku paham!”
“Dari yang Arcia baca di internet dan dari perkataan ibu-ibu tetangga sebelah, …”
Arcia pun menjelaskan.
Dari penjelasannya yang bertele-tele itu, dapat aku simpulkan kurang lebih seperti ini:
SMGP (Sekolah Menengah Gamer Prima), hanya fokus pada peningkatan kemampuan siswa binaan terhadap sinkronisasi tubuh avatar game untuk peningkatan skill gamer.
SMUT (Sekolah Menengah Unggulan Taruna), di samping mengajarkan hal seperti di atas, itu lebih fokus untuk membangkitkan skill bawaan yang siswa peroleh dari game lantas melatih tubuh mereka dalam pertarungan secara nyata (tidak lewat tubuh avatar lagi).
“Hmm. Menarik juga. Aku akan pilih itu. Tapi bagaimana aku bisa masuk ke sana? Itu pastinya mahal kan? Apakah uang yang kita punya cukup untukku membiayai biaya sekolahnya?”
Terhadap pertanyaanku itu, gadis manusia itu tiba-tiba tersenyum licik.
“Tidak ada biaya sekolah sama sekali kok, Kak, kalau di sana. Pendaftaran dan ujiannya pun gratis karena itu sekolah yang dibiayai oleh pemerintah. Hanya saja sangat sulit untuk lolos ke sana. Tetapi berkat prestasi Kakak dalam dungeon itu, tidak peduli kalau itu hanya sekadar keberuntungan, kuyakin Kakak pasti bisa akan lolos ke sana. Yang mesti Kakak perhatikan sekarang adalah tes tertulisnya serta mengasah skill bawaan dan skill bertarung Kakak.”
“Kalau begitu, aku pasti akan baik-baik saja karena Anto-lah yang kebanyakan akan bertarung mewakiliku.”
Aku terlalu menganggap enteng tes yang diucapkan oleh Arcia itu kepadaku. Kupikir, sejak aku punya Anto di sisiku, apalagi yang mesti kukhawatirkan. Aku pasti tak terkalahkan.
Siapa sangka bahwa tak lama aku mengatakannya, aku harus menelan pahitnya ludahku sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 72 Episodes
Comments
Ayano
Hmmm... bentuk waspada?
2023-06-13
1
Ayano
Ant - ara niat gak niat ngasih namanya si master satu ini 🤣🤣
2023-06-13
1
Ayano
Woi 🤣🤣
Kasian amat anak orang dikasih nama kek gak niat
2023-06-13
1