Evan kembali ke rumah, di rumah pak braja dan ibu surti menunggu kepulangan evan dengan cemas.
" gimana nak, malingnya ketangkap." kata pak braja
" iya pak, sudah dibawa ke balai desa sama warga." kata evan
" syukur kalau begitu, kamu enggak kenapa kenapa kan nak." kata ibu surti. Lalu menyerahkan minum
" gak bu, aku baik baik aja." jawab evan, sambil menerima air minum yang diberikan ibunya. Setelah mengobrol mereka pun pergi ke kamar masing masing untuk istirahat.
Di pagi hari evan, pak braja dan ibu surti duduk di dapur didepan tempat memasak dari tungku kayu bakar sambil menikmati singkong bakar dan teh. Setelah sarapan pak braja pamit pergi ke sawah sedangkan evan pergi mencari rumput untuk kambing kambingnya ke lereng gunung.
Setelah mendapatkan rumput, evan istirahat di tempat biasa dibawah pohon, sambil selonjoran, karena lelah dan dengan susana tertiup angin sehingga evan pun tertidur. Dalam tidurnya, evan bermimpi, dalam mimpinya tersebut evan melihat rumah besar, didalam rumah orang orang sedang berbahagia atas kehadiran seorang bayi laki laki yang lucu. Ayah dari bayi tersebut memberikan kalung kepada isterinya untuk di pasangkan di leher anaknya.
Akan tetapi seketika terjadi keributan dari luar. para penjaga keamanan sedang menghadang para perampok, melihat situasi seperti ini, bapak dari bayi tersebut menyuruh isterinya membawa bayi pergi dari sana. Sang isteri membawa bayi tersebut bersama pelayan pergi dari rumah dengan menyelinap melalui pintu belakang.
Mereka pergi ke daerah pegunungan, karena masih khawatir akan keselamatan bayinya sang ibu menyuruh pelayannya untuk meletakkan bayi tersebut di keranjang bayi, sang ibu pun menulis pesan sambil menangis " tolong selamatkan anak ini, tolong kasih benda ini ke dia kalau dia sudah berumur 17 tahun, saya sangat berterima kasih atas pertolongannya, saya melakukan ini untuk kebaikan anak ini, saya akan datang lagi kesini setelah kondisi keluarga membaik. Terimakasih.".
Pelayan itu disuruh ibunya untuk menaruh keranjang bayi di prmatang sawah di pinggir sungai. Lalu mereka pergi lagi.
Di rumah mewah itu sang ayah dibawa paksa sama pelayan untuk masuk ke dalam kamar rahasia yang ada di rumah tersebut supaya dia tidak kena bahaya. Akan tetapi seketika ada api yang membesar sehingga rumah tersebut hangus terbakar.
Evan pun tersadar dari mimpinya karena ada yang menjilati pipinya, si hacu sedang membangunkan evan dengan menjilati pipi evan, dia mengajak bermain. Lalu seketika evan memegang kalung yang ada di lehernya. Dia merasa kalung tersebut sama dengan kalung yang di pakai bayi tadi di dalam mimpinya. " aku akan tanyakan nanti ke bapak sama ibu, siapa aku sebenarnya." fikir evan. Setelah beberapa saat evan pun main bersama hacu. Disaat bermain hacu melihat kelinci, dia pun mengejarnya dan menangkapnya lalu dia memakannya.
" hacu apa yang kamu makan." kata evan. Hacu menghabiskan kelinci tersebut lalu mendekat ke evan.
" kamu lapar ya. Iya sudah kamu pulang sana, besok kita bermain lagi ya." kata evan, hacu pun pergi ke dalam hutan.
Evan pun pergi dari sana dengan memikul rumput yang dia ambil tadi. Setibanya di kandang, evan memberikan rumput tersebut ke kambing kambing miliknya. Setelah memberikan makan ke kambing kambingnya vian bersih bersih lalu masuk ke dalam rumah, ibu surti menyuruh evan untuk makan karena tadi siang belum makan. Evan menurut apa yang ibunya bilang. Evan pun belum menanyakan perihal mimpinya tadi. Setelah makan dia pergi ke halaman rumah untuk membelah kayu untuk masak, selesai membelah kayu di pergi untuk mandi dan berganti pakaian.
Di sore hari Pak braja pun datang dari sawah, lalu pergi mandi dan duduk bersama di dapur di depan tungku memasak sambil makan ubi bakar.
Di malam hari mereka bertiga berkumpul di dapur di depan tungku untuk masak, mereka pun makan malam bersama.
" pak, bu, tadi habis mengambil rumput, selagi istirahat evan tertidur dan bermimpi, dalam mimpi tersebut evan melihat satu keluarga di rampok, tapi sang ayah menyuruh isterinya untuk membawa bayinya pergi, karena khawatir keselamatan sang bayi sang ibu pun meletakan bayinya di pematang sawah di pinggir kali. Evan merasa hal itu ada keterkaitan sama evan." kata evan. Setelah mendengar cerita evan Pak braja pergi ke kamarnya dan mengambil kotak dari dalam lemari, kotak tersebut yang ada dalam ketanjang bayi waktu itu.
" nak, sekarang sudah waktunya bapak memberitahukan kamu. Bacalah." kata pak braja sambil menyerahkan kotak dan surat ke evan. Evan pun membacanya sambil dia menangis, sang ibu pun mengelus kepala evan.
" nak, kamu memang bukan anak kami, tapi ibu dan bapak sudah menganggap kamu seperti anak sendiri." kata ibu surti
" terimakasih pak, ibu sudah bersedia merawat evan." kata evan sambil terisak.
" kalau kamu mau mencari keberadaan orang tua mu bapak dan ibu tidak akan menghalangi kamu, tapi jangan lupakan bapak dan ibu ya setelah kamu bertemu mereka, juga kalau kamu tidak bisa bertemu mereka kamu kembali kesini, ini rumah kamu juga." kata pak braja
" evan enggak akan melupakan kebaikan bapak sama ibu." kata evan lalu memeluk bapak dan ibunya tersebut.
" nanti kalau kamu mau pergi mencari keberadaan orang tua kamu bapak izinkan. dan kamu juga harus tau bahwa rumah ini kapan pun itu terbuka untuk kamu selamanya, bapak dan ibu selalu akan merindukan kamu, walaupun kamu bukan darah daging kami, tapi bapak dan ibu sudah menganggap kamu anak kami, jika kamu sudah menemukan orangtua kandung kamu, jangan lupakan kita ya." kata pak braja
" iya nak, ibu akan bahagia melihat kamu bahagia, jangan lupakan kami ya." kata ibu surti
" bapak dan ibu memang orang tua evan, walaupun evan bukan anak kandung bapak dan ibu akan tetapi berkat ibu dan bapak, evan bisa ada seperti saat ini, bapak dan ibu yang telah merawat evan, evan enggak akan melupakan kasih sayang ibu sampai kapanpun itu." kata evan
Setelah mengobrol dan makan malam, evan pergi ke kamar membawa kotak dan surat tadi. Sampai di kamar dia melihat kembali surat dan isi dari kotak tersebut sambil memegang kalung, sampai dia tertidur. evan pun bermimpi kembali tetang kejadian yang sama seperti tadi dia siang, evan melihat bahwa ayahnya sangat memperhatikan ibu dan dia sampai kejadian itu terjadi, ayahnya bersikukuh untuk menyelamatkan ibu dan dia tanpa mempedulikan keselamatannya. Evan pun terbangun tak terasa air matanya menetes. " pak, ibu kalian ada dimana, aku udah besar sekarang, aku kangen kalian." gumam evan, dia pun tertidur kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 448 Episodes
Comments
Usmi Usmi
jangan cengeng ya Thor Evan nya 😂
2024-09-02
0
Sang M
Dilarang cengeng.!!!!!!!!
2024-04-14
2
Edison
bro cari org tuamu itu kewajiban mu sebab entah apa kondisi kedua org tuamu sekarang
2024-04-02
1