EPISODE 5: KAYA MENDADAK

    Setelah anaknya yang besar, Eko dan Dewi berangkat ke sekolah, Podin bersama istrinya akan membuka peti harta karun. Podin mengambil peti harta karun yang dibungkus kain taplak itu dari kolong tempat tidur, lantas dibawanya ke ruang tengah yang lebih longgar. Maklum, rumah gubug sederhana itu tidak punya ruang yang cukup untuk keluarganya.

    "Sini, Buk .... Kita buka di sini peti harta karun ini ...." kata Podin yang mengajak istrinya untuk membuka peti itu.

    "Iya, Pak ...." tentu Isti langsung mendekat, dengan senyum yang sudah mengembang di bibirnya.

    Dengan penuh harap, Isti, istri si Podin itu, ingin segera mengetahui isi yang ada di dalam peti harta karun itu. Lantas setelah dua orang itu menghadapi peti, Podin perlahan-lahan membuka peti itu. Istrinya memerhatikan secara seksama, dengan jantung yang berdebar, ingin tahu isi peti itu.

    Setelah pintu peti itu terbuka, betapa kagetnya istri Podin. Ia hampir tidak percaya, kalau ternyata apa yang dikatakan oleh suaminya adalah benar, bahwa peti harta karun itu benar-benar isinya penuh dengan uang.

    Mata Isti kembali terbelalak, manakala menyaksikan peti itu lebih mendekat. Ternyata tidak hanya uang tang ada di dalam peti itu, tetapi ternyata juga ada gelang-gelang dan kalung emas yang indah dan bagus. Tentu Isti langsung mengambil gelang dan kalung yang dilihatnya. Lalu gelang-gelang itu langsung dikenakan ke pergelangan tangannya. Lantas Isti mengangkat lengannya, mengamati gelang-gelang yang sudah dimasukkan ke dalam lengannya itu.

    "Lihat Pak .... Bagus kan ...?! Ini benar-benar sangat bagus, Pak .... Ini gelang emas beneran kan, Pak ...?! Benar ini gelang emas ...?! Wah ..., Pak .... Terima kasih ya ..., Bapak sudah memberikan gelang emas untukku ...." tentu istri Podin sangat gembira. Baru kali ini ia mengenakan gelang emas di lengan tangannya. Tentu sangat girang tidak karuan. Lantas ia berdiri sambil menari-nari, pengangkat tangannya, menggerak-gerakkan tangannya, sehingga gelang-gelang emas itu menimbulkan suara gemerincing.

    Podin merasa senang dan bahagia menyaksikan istrinya yang gembira, menyaksikan istrinya yang senang, karena di pergelangan tangannya kini sudah melingkar gelang-gelang emas yang sangat indah.

    "Pak ..., uang dan gelang-gelang sebanyak ini dapat dari mana? Bapak dapat peti harta karun berisi uang dan perhiasan ini dari mana ...? Bapak tidak mencuri, kan ...? Bapak tidak merampok, kan ...? Bapak tidak mengambil uang-uang ini dari orang lain, kan ...?" tanya istrinya yang tentu juga merasa khawatir dengan harta benda yang dibawa oleh suaminya itu.

    "Jangan khawatir Is .... Uang dan perhiasan-perhiasan itu, yang sudah kamu kenakan itu, semuanya adalah pemberian kakek yang baik hati itu .... Yang kemarin aku temui di jalan itu .... Dan yang sudah memberikan uang kemarin itu. Ia memang baik .... Rumahnya bagaikan istana .... Sangat besar dan megah. Sangat mewah. Rumah kakek itu benar-benar istana yang luar biasa. Saya sampai takjub menyaksikan istana yang sebesar itu. Tiang-tiang penyangganya terbuat dari emas, dinding-dinding temboknya dilapisi emas, kemudian dihiasi dengan aneka rupa permata. Lampunya yang menyinari istana itu sangat terang, sehingga semua yang ada di dalamnya terlihat dengan jelas. Lantas ..., ketika saya melihat lantainya yang terbuat dari marmer yang mengkilap, saya takut menginjakkan kaki, takut mengotori lantai itu. Apalagi saat masuk ke bagian dalam, lantainya masih dilapisi dengan permadani yang tebal dan empuk. Sampai-sampai saya tidak berani melangkahkan kaki ke permadani itu, karena saya takut akan mengotori dan merusak permadani itu. Is ..., tapi saat saya menyaksikan di ujung permadani itu, di dekat altar terdapat peti-peti harta karun yang jumlahnya sangat banyak. Ada lebih dari sepuluh peti harta karun. Oleh si Kakek tua itu, saya disuruh memilih untuk mengambil salah satu dari peti-peti itu. Akhirnya, saya mendapatkan peti yang saya bawa ini. Dan Ternyata isinya adalah uang yang sebegitu banyak, Is .... Apa kamu tidak senang?" kata Podin pada istrinya, yang menceritakan kisahnya saat mendapatkan peti harta karun itu.

    "Kalau di situ ada banyak peti harta karun, kok Bapak tidak mengambil yang banyak ...?" kata istrinya, yang tentu pikirannya langsung ingin mendapat harta yang berlebih.

    "Walah, Buk .... Saya hanya mampu membawa ini .... Petinya berat-berat .... Saya tidak kuat mengangkatnya .... Akhirnya ya, saya membawa yang kuat saya panggul ...." jawab suaminya.

    "Ya sudah .... Ini saja sudah sangat banyak kok, Pak .... Saya sangat senang, Pak .... Saya gembira .... Saya tidak menyangka, tidak mengira kalau bisa punya uang sebanyak ini, Pak .... Tidak pernah menyangka kalau bisa memakai gelang yang indah-indah ini, Pak ...." kata istrinya yang tentu sangat gembira.

    "Ya sudah .... Ayo sekarang kita hitung dan tata uangnya ...." kata Podin.

    "Iya, Pak .... Tapi kalau nanti ada tetangga yang tanya, 'Is, kamu kok sekarang pakai gelang, suamimu uangnya banyak ya ...' saya harus jawab bagaimana, Pak? Dari mana asal uang kita? Saya yakin, pasti nanti para tetangga akan iri. Pasti nanti para tetangga akan menanyakan. Pasti nanti para tetangga ingin tahu, dari mana asal uang sebanyak ini. Dan pasti mereka semua akan menuduh Pak Podin sekarang jadi pencuri ...." kata Isti yang tentu khawatir dengan para tetangganya.

    "Jangan khawatir .... Suamimu bukan koruptor .... Suamimu tidak pernah mencuri uang orang lain .... Suamimu tidak pernah mengambil harta milik orang lain .... Suamimu tidak seperti para pejabat itu .... Tetapi suamimu punya seorang kakek yang baik hati .... Kakek yang harta kekayaannya berlimpah .... Kakek yang punya warisan sangat banyak ..... Kalau tetangga-tetangga nanti pada bertanya, katakan Saja bahwa semua ini adalah warisan dari kakek kita." begitu jelas Podin pada istrinya, jika nanti para tetangganya kaget melihat perubahan pada keluarganya.

    "Iya, Pak .... Terus, uang sebanyak ini mau buat apa? Nanti kita mau ngapain, Pak? tanya istrinya.

    "Saya pengin beli rumah, Bu .... Saya sudah bosan dengan rumah kita yang seperti ini .... Saya sudah bosan tinggal di rumah yang seperti gubug ini .... Saya sudah tidak ingin tinggal di gubuk yang jelek ini, Bu .... Saya ingin punya gedung yang bagus .... Saya ingin punya gedung yang mewah .... Saya ingin hidup senang .... Tidak menderita seperti ini .... Saya sudah bosan dengan kemiskinan, Bu .... Ibu mau kalau kita beli rumah yang bagus?" kata Podin pada istrinya, yang memang sudah tidak tahan hidup menderita.

    "Ya mau lah, Pak .... Saya juga pengin punya rumah yang bagus .... Saya juga Kepengin punya rumah yang mewah .... Saya pengin beli TV yang besar nanti anak-anak kita pasti akan senang melihat TV kita yang besar itu ...." kata Isti yang tentu sangat gembira dengan tawaran suaminya itu.

    "Iya .... Tenang saja .... Coba lihat, uang sebanyak ini, Bu .... Kita mau apa saja bisa .... Kita mau beli apa saja bisa .... Ibu mau TV yang sebesar apa?" kata Podin yang sudah mulai berkhayal dengan istrinya.

    "Pokoknya saya pengen TV yang besar, Pak  ..., yang bagus, Pak ...." jawab istrinya.

    "Bapak juga pengin beli motor yang bagus, Bu .... Nanti kita bisa naik motor keliling-keliling kota, Bu .... Nanti kita bisa jalan-jalan .... Kita bisa pergi kemana-mana dengan nyaman, Bu ...." kata Podin yang tentu juga ingin seperti kebanyakan orang yang punya motor.

    "Ternyata jadi orang kaya itu enak ya, Pak ...." kata istrinya.

    "Makanya, Bu .... Saya sudah bosan dengan hidup miskin yang selalu menderita .... Kemana-mana kita diejek .... Mau hutang saja diejek. Itu, Bu ..., teman-teman saya saja, kalau saya dekati semuanya pada pergi .... Katanya takut kalau saya pinjamin uang ...." kata Podin yang mengingat saat diejek teman-temannya.

    "Sama, Pak .... Saya juga begitu .... Kalau pergi ke warung, pasti sudah dibilang sama penjual warung itu bilang 'mau hutang lagi ya?' .... Gitu, Pak .... makanya saya sudah tidak ingin hidup miskin, Pak ...." tambah istrinya.

    "Tenang saja Bu .... Lihat, uang kita banyak .... Ada gelang, ada kalung .... Nanti anak kita yang perempuan-perempuan diberi kalung ini, Bu .... Dikenakan di lehernya .... Terus kita kenakan gelang di lengannya, Bu .... Pasti orang-orang akan iri melihat kita, orang-orang akan jengkel melihat kita ....." kata Podin yang juga pernah jengkel dengan para tetangganya yang sering menghina.

    "Iya, Pak .... Saya juga kepingin pakai gelang, nanti akan saya pamerkan ke tetangga. Nanti kalau saya ke warung mak-mak yang belanja biar pada ngiler melihat gelang yang saya pakai ...." kata istrinya, yang tentu ingin pamer gelang kepada tetangganya.

    "Sudah Bu ..., sekarang peti yang berisi uang ini kita hitung jumlahnya ..., kita tata .... Nanti siang saya akan bertanya pada Pak Mandor, saya akan beli rumah. Pak mandor akan saya suruh nyarikan di mana ada rumah yang bagus yang akan dijual. Saya akan rumah yang bagus, nanti kita akan tinggal di rumah yang bagus itu, Bu .... Kita akan tinggal di rumah yang mewah itu, pasti anak-anak akan senang ya, Bu ...." kata Podin yang langsung mengajak istrinya untuk menata uangnya.

    "Tapi anu ya, Pak ..... Saya minta perabot-perabotannya juga yang bagus-bagus ya, Pak ...." pinta istrinya.

    "Tentu, Bu .... Nanti perabotan rumah kita diisi dengan perabotan-perobotan yang mahal-mahal. Kita belikan kursi tamu yang empuk, yang besar, yang megah, yang mewah, sehingga nanti kalau ada tamu yang datang dia akan betah duduk di kursi itu, tidak mau pergi dan yang jelas mereka akan iri dengan kita." kata Podin yang terus berkhayal.

    "Iya, Pak .... Saya juga kepengin anak-anak kita dibelikan kasur sendiri-sendiri .... Kasur yang empuk, kasur spring bed yang bisa mentul-mentul .... Pasti anak kita senang, Pak ...." pinta istrinya lagi.

    "Ya ..., anak kita ada empat .... Nanti kita bikin kamar empat .... Kita punya kamar sendiri, Bu .... Sehingga kalau kita tidur berdua tidak terganggu oleh anak-anak kita. Jadi kita bisa asik di dalam kamar, Bu ...." kata Podin.

    "Iih ..., Bapak itu, lo .... Senengnya ...." istrinya langsung mencubit pinggang Podin.

    Pudin bersama istrinya terus menghitung uang yang ada di dalam peti harta karun itu. Lembar demi lembar dia hitung. Lembar demi lembar mereka tata. Mereka sibuk menata dan menghitung uang-uang yang ada di dalam peti harta karun itu. Jumlahnya sangat banyak. Sehingga sampai mereka kecapean, hingga sampai anaknya pulang sekolah, mereka meminta makan.

    "Buk..., laper .... Mau makan ...." kata Eko dan Dewi yang  baru saja pulang.

    "Walah .... Lha kok jam segini sudah pulang ...? Ibu lupa masak ..... Sebentar ya, nak ...." Isti kaget, ia langsung berlari ke dapur untuk masak. Saking asyiknya menghitung uang seharian, sampai lupa kalau belum memasak. Maka ia pun langsung memasak untuk menyiapkan makan buat anak-anaknya.

    Udin memasukkan uang itu ke dalam peti yang tertata rapi. Kemudian peti itu kembali dibungkus dengan kain taplak, lantas disimpan rapi.

    Istrinya langsung berlari ke warung. Ia berteriak pada anaknya, "Sebentar Nang ..., sebentar Wi .... Ibu mau belanja dulu, Ibu mau ke warung .... Sabar ya ...." kata Isti menyuruh anaknya untuk menunggu.

    "Yang sabar .... Ibu pasti akan masak enak ...." kata Podin sambil mengelus kepala anaknya, menyabarkan anaknya untuk menunggu masakan sebentar. Tentunya anak-anaknya sudah kelaparan.

    "Iya, Bu .... Saya akan menunggu, sambil mau mencari kayu bakar dulu." sahut anak laki-lakinya yang paling besar, yang kemudian bergati kaos dan mengambil sabit untuk mencari kayu bakar.

    "Dewi ikut Ibu ke warung, yuk .... nanti bantu Ibu bawakan belanjaan ...." ajak Isti pada anak perempuannya.

    "Iya, Bu ...." jawab anak perempuannya, yang tentu juga mengajak adiknya. Berjalan mengikuti ibunya menuju warung.

    "Ibu mau masak apa sih?" tanya anak perempuannya yang kecil pada ibunya.

    "Kalian pengin apa? Mau ayam goreng atau ayam dibumbu opor?" tanya ibunya pada dua anak perempuannya itu.

    "Asyik .... Ibu mau masak opor ayam ...." tentu anak-anaknya kegirangan.

    Isti ke warung membawa uang yang cukup banyak. Tentu dia ingin belanja sepuasnya di warung langganannya. Ya, akan belanja ayam, masakan orang yang punya duit banyak. Dan sesampai di warung, langsung mendapat reaksi dari pemilik warung itu.

    "Wah ..., Isti pakai gelang baru, ya ...?" kata ibu penjual warung itu.

    "Hehehe ..., iya .... Ini yang membelikan bapaknya anak-anak ...." jawab Isti sambil senyum-senyum.

    "Udin sekarang kaya, ya .... Wah ..., Udin sudah bisa membelikan gelang istrinya .... Pasti sebentar lagi beli rumah ...." kata penjual sayur itu lagi.

    "Iya, Bu .... Katanya mau beli gedung ...." jawab Isti yang tentu memanasi hati pemilik warung itu.

    "Wah ..., uang suamimu berarti banyak ya, Is ...." kata penjual sayur itu lagi.

     "Syukurlah Bu .... Yang penting saya bisa belanja." kata Isti.

    "Wah .... Kalau begitu sekarang kamu tidak hutang lagi dong, Is ...." kata si penjual itu lagi.

    "Maaf, Bu  ..., saya punya uang .... Saya bawa uang banyak .... Saya tidak akan hutang, Bu .... Jangan bilang begitu malu-maluin saya .... Ini lho Bu, saya bawa uang." kata Isti yang tidak mau diejek lagi.

    "Iya ..., iya, Is .... Aku percaya .... Mau belanja apa? Ayo belanja yang banyak ...." kata penjual itu lagi.

     "Aku mau beli ayam, Bu masih ada nggak ayamnya?" jawab Isti.

    "Walah .... Masih ..., ini ayamnya masih banyak. Mau berapa kilo?" kata si pedagang itu.

    "Kalau untuk sekeluarga, kira-kira satu kilo cukup nggak, Bu?" tanya Isti yang belum bisa memperkirakan banyaknya.

    "Halah ..., jangan satu kilo, Is .... Kurang .... Ayo ditambahin, dua kilo ya ...." kata pedagang itu, yang tentu agar ayamnya cepat habis.

    "Iya, Bu ...." jawab Isti yang tentu sambil senyum-senyum.

    "Ini ayamnya mau dipotong-potong sekalian apa utuh?" tanya si pedagang.

    "Tolong dipotong-potong sekalian ya, Bu .... Jangan terlalu besar, nanti susah kalau makan." kata Isti.

    "Oh ..., iya beres." jawab sih penjual sayuran itu, lantas penjual itu mengambil ayam kemudian dipotong-potong.

    "Mau dimasak apa, Is?" tanya ibu penjual sayuran itu.

    "Rencananya dimasak opor, Bu .... Yapi bumbunya apa, ya?" tanya Isti.

    "Ya Allah .... Pakai ini, santannya pakai santan jadi saja kamu tidak usah marut tidak usah meres kelapa, langsung dituangkan di panci. Bumbunya juga pakai bumbu jadi saja, jadi kamu tidak usah ulek-ulek, kamu tidak usah repot, langsung dimasukkan saja ke dalam panci, ditambah air, ayamnya nanti kamu masukkan, terus diaduk-aduk. Tunggu sampai mendidih .... Nah gampang kan .... Sekarang itu zaman gampang, Is ..., jangan sampai kamu repot, bikin capek, bikin kesel, malah-malah nanti masakanmu ndak selesai-selesai, masakanmu belum tentu rasanya enak." kata si pedagang itu memberi masukan.

    Dewi dan adiknya, anaknya yang ikut ke warung, begitu melihat ibunya membeli ayam, tentu langsung senang. Dia tersenyum girang, karena nanti akan makan dengan opor ayam. Anak-anaknya membantu membawakan belanjaan ibunya. Baru kali ini mereka diajak belanja ke warung, dan akan dibuatkan masakan yang enak.

Lantas, mereka ke dapur, mengikuti ibunya yang memasak. Anaknya membantu ibunya yang sedang memasak, bahkan tidak hanya membantu, tetapi anak-anak yang kecil itu ikut bermain di dekat ibunya yang memasak.

    Hari itu, Podin beserta istri dan anak-anaknya, menikmati makan enak.

Terpopuler

Comments

Kardi Kardi

Kardi Kardi

hmmm. hati-hati kang dengan keluargomuuu

2024-05-13

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1: MISKIN ITU MENDERITA
2 Episode 2: KAKEK YANG BAIK
3 Episode 3: MENCARI RUMAH SI KAKEK TUA
4 Episode 4: DAPAT UANG SATU PETI
5 EPISODE 5: KAYA MENDADAK
6 Episode 6: INGIN RUMAH MEWAH
7 EPISODE 7: RUMAH MEWAH
8 EPISODE 8: MASUK BANK
9 EPISODE 9: PINDAH RUMAH
10 EPISODE 10: BERSENANG-SENANG DI RUMAH BARU
11 EPISODE 11: BELI MOTOR
12 EPISODE 12: PERGI KE MALL
13 EPISODE 13: INGIN INI INGIN ITU
14 EPISODE 14:UANG HABIS HATI MENANGIS
15 EPISODE 15: KEMBALI KE ISTANA
16 EPISODE 16: SYARAT MENGAMBIL HARTA KARUN
17 EPISODE 17: PETAKA TAK TERHINDARKAN
18 EPISODE 18: HANTU TANPA KEPALA
19 EPISODE 19: MEMBONGKAR KUBURAN KOSONG
20 EPISODE 20: INGIN MEMBUKA USAHA
21 EPISODE 21: MEMBUKA TOKO
22 EPISODE 22: MULAI BERTINGKAH
23 EPISODE 23: ISTRI KEDUA
24 EPISODE 24: HARTA KARUN TERKURAS HABIS
25 EPISODE 25: USAHA YANG GAGAL
26 EPISODE 26: PENGEMIS ANEH
27 EPISODE 27: MENJUAL RUMAH
28 EPISODE 28: OMELAN ISTRI MUDA
29 EPISODE 29: LEBARAN SUNYI
30 EPISODE 30: RENCANA GILA
31 EPISODE 31: TERDAMPAR
32 EPISODE 32: TAK SANGGUP
33 EPISODE 37: MENYIKSA TIADA HENTI
34 EPISODE 33: BERITA PILU
35 EPISODE 34: MENJEMPUT ANAK
36 EPISODE 35: PIKNIK
37 EPISODE 36: KEDATANGAN SIA-SIA
38 EPISODE 36: KEDATANGAN SIA-SIA
39 EPISODE 38: DIUSIR
40 EPISODE 39: TINGGAL DI RUMAH KAKEK
41 EPISODE 40: SENAM
42 EPISODE 41: MENCULIK ANAK SENDIRI
43 EPISODE 42: KORBAN PERSEMBAHAN
44 EPISODE 43: PENYELAMATAN DEWI
45 EPISODE 44: MINTA ANAK
46 EPISODE 45: GEGER PENCULIKAN ANAK JALANAN
47 EPISODE 46: KAYA KEMBALI
48 EPISODE 47: MENYEMBUNYIKAN HARTA KARUN
49 EPISODE 48: MENCOBA LARI
50 EPISODE 49: RAYUAN MAUT
51 EPISODE 50: MENGAJAK NIKAH
52 EPISODE 51: MENIKAH LAGI
53 EPISODE 52: CURIGA
54 EPISODE 53: GEGER DI TELEPON
55 EPISODE 54: REMBULAN MERAH
56 EPISODE 55: MENANYA MIMPI
57 EPISODE 56: MEMENUHI PANGGILAN MAYA
58 EPISODE 57: MENANYA USAHA
59 EPISODE 58: MENATA WARUNG
60 EPISODE 59: MEMBUKA WARUNG MAKAN
61 EPISODE 60: ANAK ANEH
62 EPISODE 61: ADA YANG BINGUNG
63 EPISODE 62: KEJADIAN ANEH
64 EPISODE 63: ULAH PODIN
65 EPISODE 64: RIBUT DI WARUNG RINA
66 EPISODE 65: MENGUSIR PODIN
67 EPISODE 66: PULANG KE JAKARTA
68 EPISODE 67: MELAHIRKAN
69 EPISODE 68: REPOTNYA MERAWAT BAYI
70 EPISODE 69: MENDATANGI ISTANA RAJA
71 EPISODE 70: BAYI YANG DIPERSEMBAHKAN
72 EPISODE 71: PODIN KEBINGUNGAN
73 EPISODE 72: MENJUAL ASET MAYA
74 EPISODE 73: MENINGGALKAN JAKARTA
75 EPISODE 74: PODIN DIJAMBRET
76 EPISODE 75: HUJAN DI TENGAH KEMARAU
77 EPISODE 76: GEGER DI KUBURAN
78 EPISODE 77: PIJAT JARI LENTIK
79 EPISODE 78: TERJERAT
80 EPISODE 79: PERNIKAHAN KEEMPAT
81 EPISODE 80: TERSINGGUNG SINDIRAN
82 EPISODE 81: MINTA WARISAN
83 EPISODE 82: ADA APA JAKARTA?
84 EPISODE 83: DI KAMAR HOTEL
85 EPISODE 84: MASALAH LAGI
86 EPISODE 85: MENOLAK WARISAN
87 EPISODE 86: MENANTU BAIK
88 EPISODE 87: LESTI BUKA USAHA
89 EPISODE 88: KEHABISAN MODAL
90 EPISODE 89: TERJUALNYA PETI HARTA KARUN
91 EPISODE 90: MENELISIK PENGHUNI PETI
92 EPISODE 91: MENANYAKAN BAYI
93 EPISODE 92: PODIN CARI UANG
94 EPISODE 93: CERITA PESUGIHAN
95 EPISODE 94: PENCULIK LICIK
96 EPISODE 95: SUSAH DIAJAK
97 EPISODE 96: DITOLAK
98 EPISODE 97: RAHASIA PENGEMIS CILIK
99 EPISODE 98: BERUNTUNG
100 EPISODE 99: DITEMU ORANG
101 EPISODE 100: PELANGGAN BAIK
102 EPISODE 101: KENA GODAAN
103 EPISODE 102: AMBYAR
104 EPISODE 103: KEMBALI KE ASAL
105 EPISODE 104: PLONG
106 EPISODE 105: CURHAT
107 EPISODE 106: TERTARIK CERITA BANG KOHAR
108 EPISODE 107: DIPELUK TUYUL
109 EPISODE 108: MENCURI PETI
110 EPISODE 109: GAGAL
111 EPISODE 110: SELALU KOSONG
112 EPISODE 111: MAAF BANG KOHAR
113 EPISODE 112: PETUAH KAKEK
114 EPISODE 113: RINA MENEMUKAN PETI
115 EPISODE 114: MEMBUANG PETI
116 EPISODE 115: BOCAH MENAKUTKAN
117 EPISODE 116: RINA PULANG KAMPUNG
118 EPISODE 117: PENDERITAAN MAYA
119 EPISODE 118: MELARIKAN DIRI
120 EPISODE 119: JADI MANGSA
121 EPISODE 120: MERAUP UANG
122 EPISODE 121: KETAGIHAN
123 EPISODE 122: MENCARI PETI
124 EPISODE 123: MASUK PENJARA
125 EPISODE 124: PODIN BEBAS
126 EPISODE 125: PETI YANG HILANG
127 EPISODE 126: DETEKTIF PODIN
128 EPISODE 127: LEBIH LICIK
129 EPISODE 128: MENGELUARKAN ARWAH
130 EPISODE 129: KETAKUTAN
131 EPISODE 130: DIUSIR
132 EPISODE 131: MENGALAH DAPAT VILLA
133 EPISODE 132: KEMBALI GAGAL
134 EPISODE 133: MINTA TUMBAL
135 EPISODE 134: TUYUL MOGOK
136 EPISODE 135: KIRIMAN PETI
137 EPISODE 136: ARWAH SANG ANAK
138 EPISODE 137: DISAMBUT HANTU PEREMPUAN
139 EPISODE 138: TEMPAT SINGGAH HANTU
140 EPISODE 139: MENGUAK RAHASIA
141 EPISODE 140: DIKEROYOK HANTU
142 EPISODE 141: BINGUNG
143 EPISODE 142: MENGGUGAT PENJUAL
144 EPISODE 143: MENCARI RUMAH DI KAMPUNG
145 EPISODE 144: MENTRAKTIR WARGA
146 EPISODE 145: TAMU-TAMU PEREMPUAN
147 EPISODE 146: KECEWA
148 EPISODE 147: DITINGGAL CINTA
149 EPISODE 148: BENARKAH CINTA?
150 EPISODE 149: MENIKAH LAGI
151 EPISODE 150: HARI PERTAMA
152 EPISODE 151: BERIBADAH
153 EPISODE 152: KEMBALI MENCARI UANG
154 EPISODE 153: KECURIGAAN SANG ISTRI
155 EPISODE 154: USAHA BARU
156 EPISODE 155: SANTAI SAJA
157 EPISODE 157: KEMBALI MEMANGGIL TUYUL
158 EPISODE 158: PERTANYAAN SANG ISTRI
159 EPISODE 156: KEKURANGAN MODAL
160 EPISODE 159: USAHA YANG LARIS
161 EPISODE 160: MENAMBAH USAHA
162 EPISODE 161: GERHANA BULAN
163 EPISODE 162: PODIN HILANG
164 EPISODE 163: DIMAKAN GERHANA
165 EPISODE 164: KEMARAHAN PENGUASA PULAU BERHALA
166 EPISODE 165: PODIN DITEMUKAN
167 EPISODE 166: PODIN TERGOLEK DI RUMAH SAKIT
168 EPISODE 167: DOA SANG PENDETA
169 EPISODE 168: MENGUAK KAMAR RAHASIA
170 EPISODE 169: KEYAKINAN CIK MELAN
171 EPISODE 170: NASEHAT UNTUK SUAMI
172 EPISODE 171: NASEHAT PENDETA
173 EPISODE 172: BIMBANG
174 EPISODE 173: MENYINGKIRKAN PETI KERAMAT
175 EPISODE 174: HIDUP BARU
176 EPISODE 175: COBAAN HIDUP
177 EPISODE 176: DOA YANG MUJARAB
178 EPISODE 177: BAPTISAN BERDARAH
179 EPISODE 178: PENGAKUAN
180 EPISODE 179: PENGUPING
181 EPISODE 180: KANG ZAKI KE PULAU BERHALA
182 EPISODE 181: NASIB KANG ZAKI
183 EPISODE 182: PODIN SEHAT
184 EPISODE 183: PODIN RAIB
185 EPISODE 184: BIJAKSANA
186 EPISODE 185: MENCARI ISTRI DAN ANAK
187 EPISODE 186: PERTEMUAN
188 EPISODE 187: PERTANYAAN ISTRI
189 EPISODE 188: MENANGIS SENDIRI
190 EPISODE 189: CERITA ANAK
191 EPISODE 190: MENENTUKAN PILIHAN
192 EPISODE 191: DI KAMAR HOTEL
193 EPISODE 192: ISTRI DAN ISTRI
194 EPISODE 193: AKUR
195 EPISODE 194: RUMAH YANG HILANG
196 EPISODE 195: BERPINDAH RUMAH
197 EPISODE 196: REBUTAN KAMAR
198 EPISODE 197: KELUARGA YANG MESRA
199 EPISODE 198: PIKNIK KE MONAS
200 EPISODE 199: MENELISIK PENGEMIS TUA
201 EPISODE 200: MENELISIK PULAU BERHALA
202 EPISODE 201: FOTO MEMBINGUNGKAN
203 EPISODE 202: SUARA BAYI MENANGIS
204 EPISODE 203: JADI PENDIAM
205 EPISODE 204: KAKEK YANG MENGHILANG
206 EPISODE 205: SIAP MEMBANTU
207 EPISODE 206: MENGGUGAH MIMPI BURUK
208 EPISODE 207: MENUJU PULAU BERHALA
209 EPISODE 208: AKHIRNYA, BISA MASUK PULAU BERHALA
210 EPISODE 209: PULAU ANEH
211 EPISODE 210: PERLAWANAN TAK SEIMBANG
212 EPISODE 211: BELUM SAATNYA
213 EPISODE 212: MASUK ISTANA
214 EPISODE 213: JERITAN MENGGEGERKAN
215 EPISODE 214: GEGER SEMAKIN KISRUH
216 EPISODE 215: PEREMPUAN PENGHANCUR BATU KISARAN
217 EPISODE 216: MURKA SANG PENGUASA
218 EPISODE 217: RUNTUHNYA ISTANA BERHALA
219 EPISODE 218: PERLAWANAN SANG PERKASA
220 EPISODE 219: PETUALANGAN TERAKHIR
221 EPISODE 220: TAMATNYA PULAU BERHALA
Episodes

Updated 221 Episodes

1
Episode 1: MISKIN ITU MENDERITA
2
Episode 2: KAKEK YANG BAIK
3
Episode 3: MENCARI RUMAH SI KAKEK TUA
4
Episode 4: DAPAT UANG SATU PETI
5
EPISODE 5: KAYA MENDADAK
6
Episode 6: INGIN RUMAH MEWAH
7
EPISODE 7: RUMAH MEWAH
8
EPISODE 8: MASUK BANK
9
EPISODE 9: PINDAH RUMAH
10
EPISODE 10: BERSENANG-SENANG DI RUMAH BARU
11
EPISODE 11: BELI MOTOR
12
EPISODE 12: PERGI KE MALL
13
EPISODE 13: INGIN INI INGIN ITU
14
EPISODE 14:UANG HABIS HATI MENANGIS
15
EPISODE 15: KEMBALI KE ISTANA
16
EPISODE 16: SYARAT MENGAMBIL HARTA KARUN
17
EPISODE 17: PETAKA TAK TERHINDARKAN
18
EPISODE 18: HANTU TANPA KEPALA
19
EPISODE 19: MEMBONGKAR KUBURAN KOSONG
20
EPISODE 20: INGIN MEMBUKA USAHA
21
EPISODE 21: MEMBUKA TOKO
22
EPISODE 22: MULAI BERTINGKAH
23
EPISODE 23: ISTRI KEDUA
24
EPISODE 24: HARTA KARUN TERKURAS HABIS
25
EPISODE 25: USAHA YANG GAGAL
26
EPISODE 26: PENGEMIS ANEH
27
EPISODE 27: MENJUAL RUMAH
28
EPISODE 28: OMELAN ISTRI MUDA
29
EPISODE 29: LEBARAN SUNYI
30
EPISODE 30: RENCANA GILA
31
EPISODE 31: TERDAMPAR
32
EPISODE 32: TAK SANGGUP
33
EPISODE 37: MENYIKSA TIADA HENTI
34
EPISODE 33: BERITA PILU
35
EPISODE 34: MENJEMPUT ANAK
36
EPISODE 35: PIKNIK
37
EPISODE 36: KEDATANGAN SIA-SIA
38
EPISODE 36: KEDATANGAN SIA-SIA
39
EPISODE 38: DIUSIR
40
EPISODE 39: TINGGAL DI RUMAH KAKEK
41
EPISODE 40: SENAM
42
EPISODE 41: MENCULIK ANAK SENDIRI
43
EPISODE 42: KORBAN PERSEMBAHAN
44
EPISODE 43: PENYELAMATAN DEWI
45
EPISODE 44: MINTA ANAK
46
EPISODE 45: GEGER PENCULIKAN ANAK JALANAN
47
EPISODE 46: KAYA KEMBALI
48
EPISODE 47: MENYEMBUNYIKAN HARTA KARUN
49
EPISODE 48: MENCOBA LARI
50
EPISODE 49: RAYUAN MAUT
51
EPISODE 50: MENGAJAK NIKAH
52
EPISODE 51: MENIKAH LAGI
53
EPISODE 52: CURIGA
54
EPISODE 53: GEGER DI TELEPON
55
EPISODE 54: REMBULAN MERAH
56
EPISODE 55: MENANYA MIMPI
57
EPISODE 56: MEMENUHI PANGGILAN MAYA
58
EPISODE 57: MENANYA USAHA
59
EPISODE 58: MENATA WARUNG
60
EPISODE 59: MEMBUKA WARUNG MAKAN
61
EPISODE 60: ANAK ANEH
62
EPISODE 61: ADA YANG BINGUNG
63
EPISODE 62: KEJADIAN ANEH
64
EPISODE 63: ULAH PODIN
65
EPISODE 64: RIBUT DI WARUNG RINA
66
EPISODE 65: MENGUSIR PODIN
67
EPISODE 66: PULANG KE JAKARTA
68
EPISODE 67: MELAHIRKAN
69
EPISODE 68: REPOTNYA MERAWAT BAYI
70
EPISODE 69: MENDATANGI ISTANA RAJA
71
EPISODE 70: BAYI YANG DIPERSEMBAHKAN
72
EPISODE 71: PODIN KEBINGUNGAN
73
EPISODE 72: MENJUAL ASET MAYA
74
EPISODE 73: MENINGGALKAN JAKARTA
75
EPISODE 74: PODIN DIJAMBRET
76
EPISODE 75: HUJAN DI TENGAH KEMARAU
77
EPISODE 76: GEGER DI KUBURAN
78
EPISODE 77: PIJAT JARI LENTIK
79
EPISODE 78: TERJERAT
80
EPISODE 79: PERNIKAHAN KEEMPAT
81
EPISODE 80: TERSINGGUNG SINDIRAN
82
EPISODE 81: MINTA WARISAN
83
EPISODE 82: ADA APA JAKARTA?
84
EPISODE 83: DI KAMAR HOTEL
85
EPISODE 84: MASALAH LAGI
86
EPISODE 85: MENOLAK WARISAN
87
EPISODE 86: MENANTU BAIK
88
EPISODE 87: LESTI BUKA USAHA
89
EPISODE 88: KEHABISAN MODAL
90
EPISODE 89: TERJUALNYA PETI HARTA KARUN
91
EPISODE 90: MENELISIK PENGHUNI PETI
92
EPISODE 91: MENANYAKAN BAYI
93
EPISODE 92: PODIN CARI UANG
94
EPISODE 93: CERITA PESUGIHAN
95
EPISODE 94: PENCULIK LICIK
96
EPISODE 95: SUSAH DIAJAK
97
EPISODE 96: DITOLAK
98
EPISODE 97: RAHASIA PENGEMIS CILIK
99
EPISODE 98: BERUNTUNG
100
EPISODE 99: DITEMU ORANG
101
EPISODE 100: PELANGGAN BAIK
102
EPISODE 101: KENA GODAAN
103
EPISODE 102: AMBYAR
104
EPISODE 103: KEMBALI KE ASAL
105
EPISODE 104: PLONG
106
EPISODE 105: CURHAT
107
EPISODE 106: TERTARIK CERITA BANG KOHAR
108
EPISODE 107: DIPELUK TUYUL
109
EPISODE 108: MENCURI PETI
110
EPISODE 109: GAGAL
111
EPISODE 110: SELALU KOSONG
112
EPISODE 111: MAAF BANG KOHAR
113
EPISODE 112: PETUAH KAKEK
114
EPISODE 113: RINA MENEMUKAN PETI
115
EPISODE 114: MEMBUANG PETI
116
EPISODE 115: BOCAH MENAKUTKAN
117
EPISODE 116: RINA PULANG KAMPUNG
118
EPISODE 117: PENDERITAAN MAYA
119
EPISODE 118: MELARIKAN DIRI
120
EPISODE 119: JADI MANGSA
121
EPISODE 120: MERAUP UANG
122
EPISODE 121: KETAGIHAN
123
EPISODE 122: MENCARI PETI
124
EPISODE 123: MASUK PENJARA
125
EPISODE 124: PODIN BEBAS
126
EPISODE 125: PETI YANG HILANG
127
EPISODE 126: DETEKTIF PODIN
128
EPISODE 127: LEBIH LICIK
129
EPISODE 128: MENGELUARKAN ARWAH
130
EPISODE 129: KETAKUTAN
131
EPISODE 130: DIUSIR
132
EPISODE 131: MENGALAH DAPAT VILLA
133
EPISODE 132: KEMBALI GAGAL
134
EPISODE 133: MINTA TUMBAL
135
EPISODE 134: TUYUL MOGOK
136
EPISODE 135: KIRIMAN PETI
137
EPISODE 136: ARWAH SANG ANAK
138
EPISODE 137: DISAMBUT HANTU PEREMPUAN
139
EPISODE 138: TEMPAT SINGGAH HANTU
140
EPISODE 139: MENGUAK RAHASIA
141
EPISODE 140: DIKEROYOK HANTU
142
EPISODE 141: BINGUNG
143
EPISODE 142: MENGGUGAT PENJUAL
144
EPISODE 143: MENCARI RUMAH DI KAMPUNG
145
EPISODE 144: MENTRAKTIR WARGA
146
EPISODE 145: TAMU-TAMU PEREMPUAN
147
EPISODE 146: KECEWA
148
EPISODE 147: DITINGGAL CINTA
149
EPISODE 148: BENARKAH CINTA?
150
EPISODE 149: MENIKAH LAGI
151
EPISODE 150: HARI PERTAMA
152
EPISODE 151: BERIBADAH
153
EPISODE 152: KEMBALI MENCARI UANG
154
EPISODE 153: KECURIGAAN SANG ISTRI
155
EPISODE 154: USAHA BARU
156
EPISODE 155: SANTAI SAJA
157
EPISODE 157: KEMBALI MEMANGGIL TUYUL
158
EPISODE 158: PERTANYAAN SANG ISTRI
159
EPISODE 156: KEKURANGAN MODAL
160
EPISODE 159: USAHA YANG LARIS
161
EPISODE 160: MENAMBAH USAHA
162
EPISODE 161: GERHANA BULAN
163
EPISODE 162: PODIN HILANG
164
EPISODE 163: DIMAKAN GERHANA
165
EPISODE 164: KEMARAHAN PENGUASA PULAU BERHALA
166
EPISODE 165: PODIN DITEMUKAN
167
EPISODE 166: PODIN TERGOLEK DI RUMAH SAKIT
168
EPISODE 167: DOA SANG PENDETA
169
EPISODE 168: MENGUAK KAMAR RAHASIA
170
EPISODE 169: KEYAKINAN CIK MELAN
171
EPISODE 170: NASEHAT UNTUK SUAMI
172
EPISODE 171: NASEHAT PENDETA
173
EPISODE 172: BIMBANG
174
EPISODE 173: MENYINGKIRKAN PETI KERAMAT
175
EPISODE 174: HIDUP BARU
176
EPISODE 175: COBAAN HIDUP
177
EPISODE 176: DOA YANG MUJARAB
178
EPISODE 177: BAPTISAN BERDARAH
179
EPISODE 178: PENGAKUAN
180
EPISODE 179: PENGUPING
181
EPISODE 180: KANG ZAKI KE PULAU BERHALA
182
EPISODE 181: NASIB KANG ZAKI
183
EPISODE 182: PODIN SEHAT
184
EPISODE 183: PODIN RAIB
185
EPISODE 184: BIJAKSANA
186
EPISODE 185: MENCARI ISTRI DAN ANAK
187
EPISODE 186: PERTEMUAN
188
EPISODE 187: PERTANYAAN ISTRI
189
EPISODE 188: MENANGIS SENDIRI
190
EPISODE 189: CERITA ANAK
191
EPISODE 190: MENENTUKAN PILIHAN
192
EPISODE 191: DI KAMAR HOTEL
193
EPISODE 192: ISTRI DAN ISTRI
194
EPISODE 193: AKUR
195
EPISODE 194: RUMAH YANG HILANG
196
EPISODE 195: BERPINDAH RUMAH
197
EPISODE 196: REBUTAN KAMAR
198
EPISODE 197: KELUARGA YANG MESRA
199
EPISODE 198: PIKNIK KE MONAS
200
EPISODE 199: MENELISIK PENGEMIS TUA
201
EPISODE 200: MENELISIK PULAU BERHALA
202
EPISODE 201: FOTO MEMBINGUNGKAN
203
EPISODE 202: SUARA BAYI MENANGIS
204
EPISODE 203: JADI PENDIAM
205
EPISODE 204: KAKEK YANG MENGHILANG
206
EPISODE 205: SIAP MEMBANTU
207
EPISODE 206: MENGGUGAH MIMPI BURUK
208
EPISODE 207: MENUJU PULAU BERHALA
209
EPISODE 208: AKHIRNYA, BISA MASUK PULAU BERHALA
210
EPISODE 209: PULAU ANEH
211
EPISODE 210: PERLAWANAN TAK SEIMBANG
212
EPISODE 211: BELUM SAATNYA
213
EPISODE 212: MASUK ISTANA
214
EPISODE 213: JERITAN MENGGEGERKAN
215
EPISODE 214: GEGER SEMAKIN KISRUH
216
EPISODE 215: PEREMPUAN PENGHANCUR BATU KISARAN
217
EPISODE 216: MURKA SANG PENGUASA
218
EPISODE 217: RUNTUHNYA ISTANA BERHALA
219
EPISODE 218: PERLAWANAN SANG PERKASA
220
EPISODE 219: PETUALANGAN TERAKHIR
221
EPISODE 220: TAMATNYA PULAU BERHALA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!