Hanya orang asing

“Lepaskan tanganku, Pak Rafael,” pinta Ayasha, merasa jengah dengan cengkeraman tangan Rafael.

Pria itu hanya menatap lurus ke depan, dan tak sedikit pun menoleh ke arah Ayasha, serta tak melepaskan cengkeramannya.

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai lima, pria itu belum melepaskan tangan Ayasha, hingga bisa menarik gadis itu untuk turut keluar dari lift.

Raut wajah Ayasha mulai kebingungan dengan sikap Rafael, yang menurutnya aneh ... apalagi setelah sekian lama tidak bertemu, tiba-tiba sikapnya seperti ini.

“Pak Rafael, kita mau kemana? Bisakah tanganku dilepas!” pinta Ayasha yang langkah kakinya terpaksa mengikuti langkah kaki Rafael, dan masih berusaha melepaskan lengannya. Pria itu lagi dan lagi tidak menjawab.

Sekarang mereka sudah berada di pintu kamar 515, pria itu mengeluarkan access card kamarnya untuk membuka pintunya.

Untuk apa aku di bawa ke kamarnya?

Klek!

Pintu kamar 515 telah terbuka, Rafael pun kembali menarik lengan Ayasha secara paksa agar turut masuk ke dalam kamar, setelahnya baru melepaskan lengan Ayasha.

Tak banyak yang dilakukan oleh Ayasha, gadis itu hanya berdiam diri tak jauh dari keberadaan Rafael, gadis itu benar-benar menjaga jarak agar tidak terlalu berdekatan dengan sang mantan. Sedangkan Rafael dari tempatnya berdiri, menatap dalam gadis itu, tatapan yang tak bisa diartikan.

“Sudah lama kita tak bertemu, apa kabarnya Ayasha?” tanya Rafael, akhirnya membuka suaranya.

“Seperti yang Pak Rafael lihat sekarang, kabarku jauh lebih baik,” balas Ayasha datar.

Rafael sepertinya tidak suka dengan panggilan ‘Pak' oleh Ayasha, dia sudah terbiasa dipanggil ‘Om' oleh Ayasha sejak gadis itu masih kecil.

“Ternyata sekarang kamu bekerja di hotel milikku.”

“Sepertinya begitu, aku juga tak menyangka jika Pak Rafael menjadi pemilik baru hotel Inna Garuda ini,” jawab Ayasha begitu tenangnya, tanpa eskpresi.

“Kenapa kamu sekarang memanggilku Pak bukan Om lagi?” cecar Rafael.

Ayasha mengulas senyum tipisnya. “Bukankah wajar jika seorang karyawan memanggil atasannya dengan sebutan Pak, lagi pula Pak Rafael juga bukan Om ku,” jawaban Ayasha terkesan dingin untuk Rafael, namun buat Ayasha biasa saja.

Tanda sepengetahuan Ayasha, pria itu sudah mengepalkan salah satu tangannya, sepertinya sudah terpancing emosi. “Bagus kalau begitu ... jadi kamu sudah tahu posisimu di sini, hubungan kita hanyalah atasan dan bawahan. Aku hanya ingin memastikan ke kamu jika sekarang aku pemilik hotel ini berarti aku adalah atasanmu, dan kamu adalah karyawanku di hotel milikku. Jadi aku harap kamu tahu batasannya. Dan kita tidak memiliki hubungan apa pun, anggap aja kita orang asing yang baru saja bertemu!” kata Rafael penuh penegasan.

Ayasha menganggukkan kepalanya, paham. “Kita memang tidak ada hubungan apapun Pak Rafael baik di masa lalu maupun di masa akan datang, aku akan bisa menjamin itu semua, dan akan menjaga batasan itu. Lagi pula aku sudah melupakan semuanya hingga tak tersisa, dan baguslah jika diminta kita menjadi orang asing, karena aku juga tidak mau mengenal Pak Rafael,” balas Ayasha, setiap kalimat penuh penegasan.

Rafael bergeming ...

Bukan itu yang diinginkan sebenarnya oleh Rafael, seharusnya Ayasha menolak atau menyanggah dibilang sebagai orang asing dan tak saling mengenal, namun yang terjadi sebaliknya.

“Jika pembicaraan kita sudah selesai, maka izinkan aku untuk kembali ke ruangan. Lagi pula tidak baik jika seorang bawahan berada di kamar atasannya, nanti akan menimbulkan gosip di hotel ini,” lanjut kata Ayasha begitu dingin, tak butuh waktu lama gadis itu memutar balik badannya, dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.

“Kamu sudah banyak berubah, Ayasha!!” sahut Rafael, suaranya terdengar meninggi, hati Rafael sudah tak tahan dengan sikap dingin Ayasha.

Sejenak Ayasha menghentikan langkah kakinya. “Waktulah yang membuatku berubah!” jawab Ayasha tanpa menoleh ke Rafael.

“Aku permisi!” Ayasha memutar kenop pintu kamar, lalu keluar meninggalkan Rafael seorang diri. Pria itu hanya bisa menatap nanar punggung gadis itu yang menghilang dari pintu, lalu menyugar rambutnya dengan salah satu tangannya.

Kamu benar-benar sudah berubah Ayasha, kamu benar-benar tidak bertanya kabarnya aku ... setelah sekian lama kita tak bertemu. Benarkah kamu telah melupakan aku selama ini ... Kamu bahkan menuruti kehendakku! ... Batin Rafael agak gusar.

Ayasha yang baru saja keluar dari kamar 515, sesaat menyandarkan dirinya ke dinding, mengatur napasnya yang hampir saja terasa sesak setelah berduaan di dalam kamar dengan mantan tunangannya, pria yang pernah berada di hatinya walau hanya sesaat. Sedangkan Rafael menjatuhkan dirinya di atas sofa, dan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.

Hubungan kita hanya atasan dan bawahan, tidak lebih! ... batin Ayasha.

Bukan ini yang aku inginkan Ayasha, aku hanya ingin tanya kabarmu, kenapa jadi begini! ... Kalut batin Rafael.

Di rasa sudah teratur napasnya, Ayasha bergegas turus ke lantai dua, tempat di mana ruang kerjanya berada.

...----------------...

Jam 10.00 WIB

Setelah pembicaraan dengan Rafael, Ayasha terlihat sibuk dengan pekerjaannya di depan layar monitor komputer, sampai di tegur atasannya Pak Hendry tidak disahuti.

“Ayasha!” seru Lena, sambil mencolek gadis itu.

Ayasha langsung menoleh. “Itu dari tadi di panggil sama Pak Hendry,” kata Lena, sambil menunjuk ke pria paruh baya itu yang sudah berdiri tak jauh dari kubikelnya.

Gadis itu langsung mendongakkan wajahnya. “Eh ... maaf Pak, saya tidak mendengar,” ucap Ayasha.

“Ya gak pa-pa, sekarang kamu ikut saya ... kita akan ikut rapat bersama Pak Rafael,” pinta Pak Hendrik.

Bukannya rapatnya khusus dengan direktur dan manajer saja, sedangkan wakil manajer tidak perlu ikut?

“Sudah cepetan, jangan bengong aja!” tegur Pak Hendry, gara-gara melihat Ayasha melamun.

“Eeh ... maaf Pak Hendry.” Ayasha bergegas save data yang sedang di kerjakan di komputernya, kemudian mengambil alat tulis untuk dibawanya. Lalu menyusul Pak Hendry yang sudah jalan terlebih dahulu.

Sesampainya di ruang meeting yang masih berada di lantai dua, rupanya dugaan Ayasha terpatahkan, karena gadis itu melihat beberapa wakil manajer tiap divisi juga turut hadir. Farel yang sudah berada di ruang meeting tampak melambaikan tangan dan menunjukkan bangku kosong di sampingnya, dan Ayasha membalasnya dengan senyuman kemudian menghampirinya.

“Duduk di sampingku, Aya,” pinta Farel, sembari menggeser bangku kosong tersebut.

“Terima kasih Mas Farel,” balas Ayasha, sembari menjatuhkan bokongnya dengan lembut, lalu meletakan note booknya di atas meja meeting.

“Tumben ya Mas Farel, kita-kita ikut serta dalam rapat manajer, biasanya kan gak pernah?”

“Setiap ganti pemilik atau atasan, pasti punya kebijakan yang berbeda-beda Aya, dan kita sebagai karyawan cukup mengikuti aturan perusahaan saja,” jawab Farel.

“Oh ... iya juga sih Mas.”

Di saat Farel dan Ayasha berdiskusi, masuklah Rafael yang di dampingi oleh Satya. Kedua netra pria itu tampak memindai semua karyawan yang hadir dalam ruang meeting, lalu tatapannya  terkunci saat menangkap kehadiran Ayasha sedang tersenyum dengan pria yang ada di samping gadis itu.

“Satya, segera buka rapatnya!” perintah Rafael terkesan dingin, di saat pria itu hendak duduk di ujung meja meeting, tempat sang penguasa.

Semua manajer serta wakil tiap divisi langsung pasang badan, bersiap-siap untuk menjalankan meeting pagi hari ini. Satya sang asisten pribadi mulai membuka acara meeting tersebut, kemudian di lanjutkan oleh Rafael.

Ayasha untuk pertama kalinya bekerja di bawah naungan Rafael, untuk pertama kalinya juga melihat Rafael yang berkharisma dan berwibawa sebagai seorang pemimpin, dan sejatinya sebagai karyawan, Ayasha hanya bisa menyimak semua paparan yang sedang dijelaskan oleh Rafael, serta berusaha tidak beradu pandang dengan Rafael.

“Jadi untuk peningkatan hotel ini, saya akan mengevaluasi seluruh karyawan yang telah bekerja di hotel ini, baik karyawan tetap maupun karyawan kontrak. Dan kemungkinan akan ada perombakan dalam jabatan ataupun divisi penempatan kerjanya, di sini saya tekannya untuk bapak ibu yang menjabat sebagai manajer, saya harap dalam minggu-minggu ini bisa memberikan evaluasi bawahannya masing-masing. Sedangkan untuk Pak Wibowo juga bisa memberikan laporan evaluasi kinerja Manajer serta Wakil Manajernya,” kata Rafael begitu tegasnya.

Entah kenapa suasana di ruang meeting jadi mencekam seketika itu juga, setiap individu yang berada di ruang meeting di buat ketar ketir dengan perkataan Rafael, seakan adanya ancaman buat posisi mereka masing-masing.

Ayasha terlihat santai menanggapinya, dan sikapnya juga menunjukkan jika dia tak pernah mengenal Rafael. Bukankah mereka berdua hanya orang asing yang tak saling mengenal!

bersambung .....

Terpopuler

Comments

Ahmad Zaenuri

Ahmad Zaenuri

pasti Aya di rolling dekat dgn Raphael /Grin//Grin/

2025-02-27

1

Sofiya

Sofiya

bagus Aya 👍👍

2024-12-23

0

Anonim

Anonim

Ayasha masih mau bertahan dibawah pimpinan yang baru yang telah menyakitimu di masa lalu ???
Kenapa tidak resign aja Ayasha...pindah kerja diperusahaan yang lain.

2024-09-30

0

lihat semua
Episodes
1 Hati yang terluka
2 Ikatan sudah berakhir
3 Semoga kelak kita tidak akan bertemu
4 Bertemu dengan Delia
5 Menggores luka kembali
6 Waktu yang berlalu
7 Pemilik Hotel
8 Acara ramah tamah
9 Berusaha mendekati
10 Hanya orang asing
11 Kesal sendiri
12 Teman dekat
13 Ulah Rafael
14 Jangan genit
15 Kejutan
16 Haruskah bertemu setiap hari?
17 Apakah aku harus panggil Om Rafael!
18 Istri Rafael
19 Pelet
20 Sandiwara
21 Dijemput Darial
22 Makan malam
23 Lain dihati lain dimulut
24 Feeling seorang Ibu
25 Anak kecil
26 Mengantar Ayasha pulang
27 Perbincangan antara Bos dengan Aspri
28 Hati yang gundah
29 Delia bukan istri Om Rafael
30 Pertemuan pertama Ayasha dan Delia
31 Dipecat!
32 Delia bukan istri saya!
33 Keributan di lobby hotel
34 Klarifikasi Rafael
35 Healing sejenak
36 Datang ke rumah Ayasha
37 Tolong beri aku kesempatan!
38 Friend with benefit
39 Hati yang kecewa
40 Jantung yang berdebar
41 Rafael patah hati
42 Tubuh Rafael mulai bereaksi
43 Sidak ke kamar
44 Amelia vs Delia dan Rian
45 Bangunnya singa betina
46 Putus hubungan!
47 Melelahkan
48 Obat rindu kisah keluarga Erick Alya dan Albert Tania
49 Ada yang jantungnya berdebar-debar
50 Perhatian Rafael
51 Tak bisa tidur
52 Sarapan pagi
53 Pertemuan kembali
54 Memohon maaf
55 Terkuaknya borok Delia
56 Memberitahukan rekaman
57 Abaikan aku kembali seperti dulu.
58 Penjelasan Rian
59 Darial cemas
60 Perhatian Darial
61 Rafael vs Delia
62 FORGETTING YOU
63 Delia diusir
64 Keadaan Rafael
65 Menemui Rafael
66 Berpisah untuk selamanya?
67 Memberitahukan kebenaran yang lain
68 Tentang Larissa
69 Ungkapan Larissa
70 Kekhawatiran Rafael
71 Ilmu hitam dan ilmu putih
72 Perjalanan pulang ke rumah
73 Obrolan Rafael dan Larissa
74 Minta restu
75 Kedatangan Delia ke perusahaan
76 Kejutan dari Rafael
77 Gosip yang beredar
78 Ada yang datang!?
79 Tamak!
80 Dukun mulai bekerja
81 Datang kembali ke Jogja
82 Dia tak ada di sini
83 Darial cemburu
84 Mengobati Ayasha
85 Penyakit
86 Ayasha akhirnya tahu
87 Apa hubunganmu dengan Rafael?
88 Melamar Ayasha.
89 Sang Casanova
90 Info sejenak
91 Ciuman pertama
92 Sarapan pagi bersama
93 Minta berhenti bekerja!
94 The hardest day
95 Tentang Darial
96 Bu Laras & Delia
97 Melukis kenangan indah
98 Don't say you love me
99 Malam dan pagi yang indah
100 Perhatian Rafael
101 Menemui orang tua Ayasha
102 Restu orang tua Ayasha
103 Makan malam bersama
104 Video club malam
105 Kapan kalian menikah?
106 Welcome back Delia!
107 Putus hubungan!?
108 Siuman dari pingsan
109 Makan siang bersama keluarga
110 Melamarnya kembali
111 Memelukmu
112 Rumah Sakit
113 Keadaan Ayasha
114 Berjuang menyelamatkan
115 Larissa melihatnya
116 Menikah dengan Kak Darial
117 I love you
118 SAH! SAH!
119 Extra Part - Hubby
120 Extra Part - menjenguk Ibra
121 Extra Part - cepat sembuh Uncle
122 Extra Part - sudah tidak waras
123 Extra Part - perpisahan
124 Extra Part - Tidur seranjang
125 Extra Part - mengunjungi orang tua Delia
126 Extra part - kejutan kecil
127 Extra part - menyempurnakan ibadah
128 Extra Part - akhir cerita
129 Info Novel Terbaru
130 Info Novel Terbaru : Salahkah Aku Mencintaimu?
131 Info novel terbaru : Om Bram, Nikah Yuk!
Episodes

Updated 131 Episodes

1
Hati yang terluka
2
Ikatan sudah berakhir
3
Semoga kelak kita tidak akan bertemu
4
Bertemu dengan Delia
5
Menggores luka kembali
6
Waktu yang berlalu
7
Pemilik Hotel
8
Acara ramah tamah
9
Berusaha mendekati
10
Hanya orang asing
11
Kesal sendiri
12
Teman dekat
13
Ulah Rafael
14
Jangan genit
15
Kejutan
16
Haruskah bertemu setiap hari?
17
Apakah aku harus panggil Om Rafael!
18
Istri Rafael
19
Pelet
20
Sandiwara
21
Dijemput Darial
22
Makan malam
23
Lain dihati lain dimulut
24
Feeling seorang Ibu
25
Anak kecil
26
Mengantar Ayasha pulang
27
Perbincangan antara Bos dengan Aspri
28
Hati yang gundah
29
Delia bukan istri Om Rafael
30
Pertemuan pertama Ayasha dan Delia
31
Dipecat!
32
Delia bukan istri saya!
33
Keributan di lobby hotel
34
Klarifikasi Rafael
35
Healing sejenak
36
Datang ke rumah Ayasha
37
Tolong beri aku kesempatan!
38
Friend with benefit
39
Hati yang kecewa
40
Jantung yang berdebar
41
Rafael patah hati
42
Tubuh Rafael mulai bereaksi
43
Sidak ke kamar
44
Amelia vs Delia dan Rian
45
Bangunnya singa betina
46
Putus hubungan!
47
Melelahkan
48
Obat rindu kisah keluarga Erick Alya dan Albert Tania
49
Ada yang jantungnya berdebar-debar
50
Perhatian Rafael
51
Tak bisa tidur
52
Sarapan pagi
53
Pertemuan kembali
54
Memohon maaf
55
Terkuaknya borok Delia
56
Memberitahukan rekaman
57
Abaikan aku kembali seperti dulu.
58
Penjelasan Rian
59
Darial cemas
60
Perhatian Darial
61
Rafael vs Delia
62
FORGETTING YOU
63
Delia diusir
64
Keadaan Rafael
65
Menemui Rafael
66
Berpisah untuk selamanya?
67
Memberitahukan kebenaran yang lain
68
Tentang Larissa
69
Ungkapan Larissa
70
Kekhawatiran Rafael
71
Ilmu hitam dan ilmu putih
72
Perjalanan pulang ke rumah
73
Obrolan Rafael dan Larissa
74
Minta restu
75
Kedatangan Delia ke perusahaan
76
Kejutan dari Rafael
77
Gosip yang beredar
78
Ada yang datang!?
79
Tamak!
80
Dukun mulai bekerja
81
Datang kembali ke Jogja
82
Dia tak ada di sini
83
Darial cemburu
84
Mengobati Ayasha
85
Penyakit
86
Ayasha akhirnya tahu
87
Apa hubunganmu dengan Rafael?
88
Melamar Ayasha.
89
Sang Casanova
90
Info sejenak
91
Ciuman pertama
92
Sarapan pagi bersama
93
Minta berhenti bekerja!
94
The hardest day
95
Tentang Darial
96
Bu Laras & Delia
97
Melukis kenangan indah
98
Don't say you love me
99
Malam dan pagi yang indah
100
Perhatian Rafael
101
Menemui orang tua Ayasha
102
Restu orang tua Ayasha
103
Makan malam bersama
104
Video club malam
105
Kapan kalian menikah?
106
Welcome back Delia!
107
Putus hubungan!?
108
Siuman dari pingsan
109
Makan siang bersama keluarga
110
Melamarnya kembali
111
Memelukmu
112
Rumah Sakit
113
Keadaan Ayasha
114
Berjuang menyelamatkan
115
Larissa melihatnya
116
Menikah dengan Kak Darial
117
I love you
118
SAH! SAH!
119
Extra Part - Hubby
120
Extra Part - menjenguk Ibra
121
Extra Part - cepat sembuh Uncle
122
Extra Part - sudah tidak waras
123
Extra Part - perpisahan
124
Extra Part - Tidur seranjang
125
Extra Part - mengunjungi orang tua Delia
126
Extra part - kejutan kecil
127
Extra part - menyempurnakan ibadah
128
Extra Part - akhir cerita
129
Info Novel Terbaru
130
Info Novel Terbaru : Salahkah Aku Mencintaimu?
131
Info novel terbaru : Om Bram, Nikah Yuk!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!