Setelah melakukan perjalanan kembali dan menyusuri jalanan yang lebih rendah dari sebelumnya selama beberapa jam, namun mereka tak juga berhasil menamukan satupun petunjuk ataupun batu kristal pelangi.
Bahkan meeka juga tidak bertemu dengan para mahasiswa lain maupun dengan para seniornya. Dan sebenarnya ini cukup aneh.
"Sebaiknya kita berusaha untuk mendaki kembali. Sepertinya jalanan yang kita ambil ini adalah salah. Dan kita malah semakin jauh dari mereka." Zoe sang ketua kelompok ini berkata sambil menengadahkan wajahnya menatap ke atas yang memiliki tinggi sekitar 10 meter.
Sepasang matanya yang berada di balik lensa bening minus itu sangat menyiratkan jika dia sedang begitu fokus dan serius.
"Zoe benar! Kita sudah menyusuri jalanan ini selama berjam-jam, namun kita masih saja tak bisa menemukan petunjuk apapun. Sebaiknya kita kembali saja." sahut gadis berambut kecoklatan panjang bergelombang- Yumeko.
"Ehh!! Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kompas ini tiba-tiba saja tidak berfungsi? Padahal sebelum menuruni jurang kompas ini masih berfungsi dengan baik." seorang pemuda yang mengenakan pakaian paling stylish dan berkelas kini terlihat kebingungan saat membuka alat navigasi kompasnya untuk melihat arah yang sudah tidak bisa berfungsi.
"Ehh? Apa maksudmu, Kiryu?" seorang gadis berambut pendek mulai melihat kompas tersebut bersama pemuda bernama Kiryu itu.
"Bagaimana mungkin bisa tidak berfungsi begitu saja? Aku bahkan menuruni jurang dengan sangat hati-hati dan tidak menyebabkan kompas ini rusak." gumam Kiryu kebingungan.
"Alat navigasi adalah untuk menentukan arah mata angin dengan sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas dan menyelaraskan jarumnya dengan medan magnet bumi secara akurat. Seharusnya alat navigasi ini masih memberikan petunjuk arah tertentu. Arah mata angin yang ditunjuknya adalah utara, selatan, timur, dan barat. Dan apabila digunakan bersama-sama dengan jam dan sekstan, seharusnya alat navigasi ini akan lebih akurat dalam menunjukkan arah. Namun mengapa malah sebaliknya?"
Zoe sang ketua kelompok 5 bergumam dan mengusap dagu tirusnya dengan kening berkerut, memperlihatkan ekspresi rumit.
"Itu berarti di sekitar tempat ini medan magnet sedang tidak stabil. Atau arah angin yang tidak beraturan. Sehingga kompas ini tidak bisa berfungsi kembali dengan baik." Yumeko menyimpulkan sesuatu dan membuat semua orang menatapnya bingung.
"Tapi hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Bahkan kompas ini sudah sering digunakan oleh kakakku untuk berkemah, di berbagai tempat yang bahkan lebih ekstrim. Dan alat navigasi ini selalu saja berguna dengan cukup baik dan sangat akurat." gumam Kiryu lagi.
Disaat keempat temannya masih dibingungkan dengan kerusakan alat navigasi dari Kiryu yang secara tiba-tiba, Shu malah berbalik dan mengedarkan pandangannya memperhatikan sekitarnya.
Dia merasakan ada hembusan angin yang lebih kencang dari sebelumnya, namun yang membuatnya merasa sedikit berbeda, tiba-tiba saja arah angin itu manjadi berlawanan dari sebelumnya.
Shu melenggang beberapa langkah untuk menuju arah angin itu berasal. Langkah demi langkahnya membuatnya berjalan semakin menjauh meninggalkan teman-temannya.
Namun yang sangat membuatnya terkejut bukan main adalah, saat ini Shu melihat ada sebuah pintu kuno berbahan tembaga yang sudah dipenuhi dengan lumut hijau dan akar tanaman yang besar dan kuat melilitnya.
"Pintu apa ini? Mengapa ada pintu seperti ini di dalam hutan bayangan? Ada apa dibalik pintu ini?" gumam Shu menelisik pintu di hadapannya.
Pemuda tampan itu juga mengamati di sekitar pintu itu dan hanya terlihat bebatuan yang berlumut saja. Bahkan disisi atasnya juga hanya ada bebatuan yang berlumut. Perlahan Shu mendekati pintu tua itu sambil menelisiknya lekat.
Hanya sebuah pintu kuno tua yang terlihat usang dan memiliki beberapa ukiran dengan beberapa tulisan kuno. Namun meskipun begitu, tiba-tiba saja ada sebuah rasa keingintahuan dan penasaran di dalam diri Shu.
Semilir angin tiba-tiba menerpa wajah Shu yang berasal dari pintu yang masih tertutup itu. Ini cukup aneh sekali. Perlahan dia mengangkat tangan kanannya dan berniat untuk mengusap pintu tua itu.
Namun belum sempat hal itu terjadi, sebuah tangan tiba-tiba saja menahannya dan membuat Shu menghentikan pergerakannya.
"Kiryu?" gumam Shu saat menyadari jika dia adalah Kiryu.
"Mengapa kamu sering sekali bertindak sendirian dan meninggalkan kami? Apa susahnya jika kita semua selalu pergi bersama-sama?!" ucap Kiryu terlihat sangat kesal menatap Shu.
"Eh? Aku hanya ingin melihat-lihat sekitar karena aku merasakan ada sesuatu yang berbeda. Jadi aku ..." ucap Shu terputus karena Zoe memotongnya.
"Apa yang sudah kamu temukan? Pintu apa ini?" celutuk Zoe menatap lekat pintu tua di belakang tubuh Shu dengan tatapan rumit.
"Aku juga tidak tau. Aku baru saja menemukannya." jawab Shu seadanya.
Sementara Eren si gadis berambut pendek malah menatap pintu tua itu penuh binar.
"Jangan-jangan ... di dalam sana ada batu kristal pelangi! Kita harus mendapatkannya! Kita harus masuk dan melewati pintu ini!" celutuk Eren berbinar.
Seketika keempat temannya terdiam selama beberapa saat dan hanya menatap pintu tua itu.
"Baiklah! Tidak ada salahnya kita mencoba memasukinya. Siapa tau kita bisa menemukan batu kristal pelangi di dalam. Ayo kita buka pintu ini!" seru Zoe menyetujui usulan dari Eren.
"Baiklah! Semakin cepat mendapatkan batu kristal pelangi, maka kita akan semakin cepat untuk kembali! Dan setidaknya kita tidak akan mendapatkan hukuman. Ayo!"
Kiryu menyauti dan mulai berusaha untuk menyingkirkan beberapa dedaunan dan akar-akar pohon yang melilit pintu itu. Zoe juga segera membantunya. Namun karena akar tanaman yang melilit sisi pintu itu cukup besar dan kuat, dia mengeluarkan sebuah pisau lipat untuk memotongnya.
Namun sepertinya hal itu sia-sia saja, akar tanaman itu tak bisa terpotong karena sangat kuat. Bahkan beberapa kali Kiryu dan Zoe berusaha untuk mendobrak pintu kuno itu, namun tetap saja pintu itu tak bisa terbuka. Hingga Kiryu dan Zoe sudah merasa kelelahan dan berhenti untuk sejenak.
"Tidak bisa dibuka! Percuma saja kita berusaha sekuat apapun!" keluh Kiryu dengan nafas yang sudah naik turun. "Pintu ini sepertinya terkunci dan tak bisa dipatahkan dengan mudah! Sial!!"
Shu masih saja berdiam diri, namun pandangannya masih menelisik pintu kuno itu. Hingga akhirnya Shu mulai melihat sebuah lubang kunci pada pintu itu. Seketika dia mulai mengingat jika dia pernah menemukan sebuah kunci tembaga kuno beberapa saat yang lalu.
Hingga akhirnya Shu mengeluarkan sebuah kunci tua yang ditemukannya beberapa saat yang lalu dari saku pakaianny. Dan secara naluri Shu segera memasukkannya dalam lubang kunci pintu tersebut dengan sangat berhati-hati.
Keempat temannya hanya terdiam bingung mengamatinya. Mengapa Shu memiliki kunci tersebut?
Satu putaran kunci, dua putaran kunci. Dan akhirnya pintu itu berhasil terbuka dengan kunci yang digunakan oleh Shu. Perlahan Shu membuka pintu itu.
Angin berhembus cukup kuat berasal dari balik pintu tua itu, dan menyapu wajah serta tubuh mereka. Sebuah cahaya menyilaukan seketika membuat penglihatan mereka menjadi silau dan mereka melindungi penglihatan masing-masing dengan lengan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
@ Yayang Risa Selamanya
Kiryu bingung sendiri karena dia menuruni jurang dengan sangat hati hati tapi kenapa kompas dia rusak
2023-07-27
0
@💞Lophe💝💗💓🤵👰
Zoe menduga kalau jalanan yang di ambil oleh dirinya dan kelompoknya itu salah
2023-07-27
0
🍁ʀͬαͥɪᷤʂᷜαͥ❣️
wah terbuka kan ayo masuk penasaran kalian nemuin apalagi didalam sana
2023-07-08
0