Kamar Pengantin.
Elle menatap kamar pengantin itu dengan kagum, senyumannya yang manis selalu tersungging dari sudut bibirnya. Kamar yang begitu megah dan luas, serta hiasan taburan kelopak mewah di atas ranjangnya, dan jangan lupakan hiasan sepasang angsa yang berbentuk love itu, menambah kesan romantis kamar pengantin tersebut.
Elle menarik nafasnya dalam, lalu berjalan perlahan menuju sisi ranjang pengantin itu, tangannya yang lembut mulai menyentuh ujung ranjang itu dengan pelan. "Inikah yang di sebut kamar pengantin? Emm sungguh seperti mimpi." Batin Elle tanpa melepaskan senyuman yang manis dari sudut bibirnya.
Elle tidak menyangka jika malam ini ia sudah resmi menjadi istri dari laki-laki yang sangat di cintainya itu. Dan itu artinya mulai malam ini ia akan berbagi ranjang dan tidur bersama dengan Rendra. Membayangkannya saja sudah membuat Elle tersipu malu, apalagi ketika ia mengingat ucapan mamanya tadi tentang malam pertama, rasanya Elle ingin menyembunyikan wajahnya di lubang semut. "Apa yang sedang kamu bayangkan Elle? Kenapa kamu mendadak mesum seperti ini sih? Aarghh menyebalkan." Teriak Elle dalam hati seraya memukul pelan wajah cantiknya membuat Nathan langsung mengernyitkan keningnya bingung melihat tingkah laku istri adik kembarnya tersebut.
"Ada apa dengan gadis itu? Kenapa dia memukul wajahnya sendiri? Apakah dia sedang berpikiran mesum? Astaga... Untuk apa aku memperdulikannya, terserah dia mau berpikiran apa, itu bukan urusanku." Batin Nathan seraya berjalan dan melepaskan jas yang melekat pada tubuhnya dan meletakkannya di atas sofa yang berada di dalam kamar tersebut.
Setelah itu, Nathan pun berbalik dan kembali menatap Elle. "Mandilah, baru setelah itu kamu istirahat." Ucap Nathan berusaha untuk menirukan gaya bicara adik kembarnya yang lembut.
Elle seketika memalingkan wajahnya ke arah Nathan, ia pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. "Ya! Ini aku mau ke kamar mandi kok." Sahut Elle dengan nada suaranya yang selalu lembut dan halus. "Emm,,, kalau begitu aku ke kamar mandi dulu, kalau kamu sudah ngantuk, kamu boleh tidur duluan." Sambung Elle tanpa melepaskan senyuman di wajahnya yang cantik itu.
"Ya! Aku tahu." Sahut Nathan singkat dan padat membuat Elle harus menghela nafas panjang.
"Sepertinya Rendra masih dalam keadaan mood yang buruk gara-gara kakak kembarnya itu tidak hadir di pesta pernikahan kita. Ah sudahlah, sebaiknya aku mandi dulu sekarang, biar nanti aku bicara sama Rendra." Batin Elle seraya melangkahkan kedua kakinya menuju kamar mandi, sementara Nathan, ia terlihat berjalan menuju jendela kamar itu.
Nathan berdiri di dekat jendela itu dan menatap gelapnya langit malam ini. "Bagaimana keadaan dia sekarang? Apakah dia sudah sadar? Sudah empat hari lo tidur Ren, apakah lo akan selamanya tertidur? Cepatlah bangun, biar lo bisa hidup bahagia bersama Elle." Batin Nathan di iringi dengan helaan nafasnya.
Tiba-tiba saja ponsel Nathan berdering menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang, dengan segera Nathan pun merogoh ponsel itu dan langsung menggeser tombol berwarna hijau, kemudian ia pun menempelkan ponsel itu di telinganya. "Ada apa?" Tanya Nathan dengan nada suaranya yang selalu dingin.
"Bos! Apa anda baik-baik saja?" Tanya seseorang yang tak lain adalah David, asisten pribadi Nathan.
"Menurutmu?" Nathan berbalik nanya sembari menyenderkan tubuhnya di jendela kamar itu.
"Saya tidak tahu, bos. Makannya saya bertanya, apakah anda baik-baik saja? Secara sekarang ini anda sudah menikah dengan gadis yang baru pertama kali anda temui. Saya khawatir penyamaran anda akan terbongkar, bos." Ucap David yang memang mengetahui jika bosnya itu menjadi pengantin pengganti untuk adik kembarnya, Rendra.
Mendengar ucapan David, membuat Nathan kembali menghela nafasnya. "Kau tenang saja, David. Penyamaranku tidak akan pernah di ketahui oleh siapapun. Dan posisi ini aku akan kembalikan kepada Rendra ketika dia bangun nanti, mengerti." Sahut Nathan dengan sangat yakin.
"Saya mengerti, bos. Saya hanya merasa khawatir saja, dan bagaimana jika anda jatuh cinta sama gadis itu, bos?" Tanya David membuat Nathan mendengus kesal.
"Ckkk.... Aku tidak mungkin jatuh cinta sama gadis itu. Jadi, hilangkan pikiran gilamu itu, Dav." Seru Nathan dengan nada suaranya yang terdengar kesal di telinga David.
"Yakin, kalau anda tidak akan jatuh cinta sama gadis itu, bos? Secara gadis itu sangat sempurna di mata laki-laki, bahkan adik anda saja sampai tergila-gila sama gadis itu. Saya tidak yakin jika anda tidak akan jatuh cinta sama gadis itu, apalagi mulai saat ini anda akan terus bersama dan melihat gadis itu setiap hari. Jadi, tidak menutup kemungkinan jika anda.... " Ucapan David tercekat di tenggorokkan, ketika Nathan kembali bersuara.
"STOP! KENAPA LO SANGAT CEREWET SEKALI! Apakah lo ingin, gue menggantung lo di ujung Monas!" Seru Nathan semakin kesal mendengar ucapan David tadi. "Mau gadis itu sempurna atau tidak, gue tidak akan mungkin jatuh cinta sama gadis itu, apalagi gadis itu adalah gadis yang di cintai oleh adik gue sendiri, mengerti." Sambung Nathan dengan nada bicaranya yang mulai berubah. David dan Nathan itu memang sudah sahabatan sedari kecil. Ketika mereka berada di kantor, mereka akan menggunakan bahasa formal, namun ketika mereka di luar kantor, mereka akan berbicara seperti biasanya.
"Gue mengerti, Nathan. Lo tidak perlu marah-marah seperti itu, dan lo juga tidak perlu berteriak, karena telinga gue masih normal, tidak budeg!" Ucap David dengan kesal karena ia merasa terkejut ketika ia mendengar teriakan bosnya tadi.
"Lo yang udah mancing gue. Dasar asisten menyebalkan." Omel Nathan seraya mengusap wajahnya kasar.
"Ckkk.. Lo sendiri gak sadar, kalau lo itu bos yang paling menyebalkan sejagat raya." Sahut David membuat Nathan langsung melebarkan kedua bola matanya.
"Lo mau gue pecat atau lo resign sendiri?" Tanya Nathan membuat David tersenyum kaku di ujung telpon sana.
"Astaga... Gue cuma becanda, Than. Yasudah kalau begitu gue tutup dulu telponnya dan selamat beristirahat bos gue yang paling baek sedunia. Bye, bye." Ucap David mulai mengubah nada suaranya menjadi lembut. Lalu setelah itu, David pun langsung memutuskan sambungannya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Nathan.
"Dasar kampret! Kalau bukan sahabat gue, udah gue tendang lo ke laut." Gumam Nathan sembari menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Setelah itu Nathan pun berbalik dan mulai melangkahkan kedua kakinya menuju sofa, namun tatapan matanya tertuju pada pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. "Apakah gadis itu tidur di dalam kamar mandi? Kenapa dia sangat lama sekali?" Batin Nathan seraya melepaskan dia kancing kemejanya dengan tatapan mata yang masih tertuju pada pintu kamar mandi tersebut. "Sudahlah, dia mau tidur di kamar mandi atau tidak, itu bukan urusanku. Sebaiknya aku tidur saja sekarang." Nathan kembali membatin seraya merebahkan tubuhnya di atas sofa yang berukuran lumayan besar itu. Ia berusaha untuk memejamkan kedua bola matanya, namun ia sama sekali tidak bisa.
"Aaarghhh sial! Jika dia benar-benar tertidur di dalam kamar mandi, dia pasti akan sakit. Dasar gadis merepotkan." Gumam Nathan seraya bangkit dari atas sofa itu dan berjalan menuju pintu kamar mandi tersebut.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Defi
jangan2 malah kamu yg gak mau lepasin Elle Nath 😜😁
2023-04-01
0
Cinta Suci
hehee nathan jdi pusing
2023-04-01
1
Diana Susanti
hahahaha 😂😂😂😂 tahu tahu langsung di tubruk sana elleina
2023-04-01
1