Gedung Pernikahan.
Setelah pesta pernikahan itu berakhir, Nathan dan juga Elle memutuskan untuk pergi menuju kamar pengantin yang berada di dalam gedung itu. Keduanya berjalan dengan beriringan, namun sama sekali tidak bergandengan tangan. Dan hal itu membuat Elle terlihat kecewa, namun ia tetap berusaha untuk memahami mood sang suami yang menurutnya sedang buruk karena kakak kembar sang suami tidak pulang untuk menyaksikan pernikahannya.
Langkah kaki Elle terhenti ketika ia melihat kedua orangtuanya sedang berjalan menghampiri dirinya. Seketika Elle melebarkan senyumannya, lalu menggandeng tangan sang suami, membuat sang suami terkejut. "Ada mama sama papa, bersikaplah seperti biasanya, sayang. Jangan membuat kedua orangtuaku khawatir, ok." Bisik Elle di telinga Nathan, laki-laki yang ia anggap sebagai Rendra.
Nathan terlihat diam sembari menoleh dan menatap gadis yang di cintai oleh adik kembarnya tersebut. Wajah putih nan mulus, senyuman yang sangat menawan, bulu mata yang lentik, hidung mancung, serta suaranya yang sangat lembut, ah pantas saja adik kembarnya itu jatuh hati kepada wanita ini. Wanita ini benar-benar sangat sempurna, wanita ini sama sekali tidak memiliki cacat sedikit pun di tubuhnya. Pikir Nathan.
"Rendra! Gue mohon, cepatlah bangun dari tidur lo. Gue tidak ingin berlama-lama menjadi lo dan menggantikan posisi lo saat ini." Batin Nathan tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Elle.
"Jangan liatin aku terus, sayang. Aku tahu kok, kalau aku itu cantik. Tapi, gak segitunya juga kamu liatin aku." Bisik Elle yang merasakan tatapan dari yang di berikan oleh suaminya tersebut.
Nathan seketika tersadar, ia hendak mengeluarkan suaranya, namun suara yang lembut itu kembali terdengar di kedua telinganya. Akan tetapi, kali ini suara lembut itu bukan berbicara kepada dirinya, melainkan kepada sepasang suami istri yang saat ini sudah berdiri di hadapan Nathan dan juga Elleiana.
"Mama, papa. Kalian sudah mau pulang?" Tanya Elle kepada sepasang suami istri itu, yang tak lain adalah Elena dan juga Dav, kedua orangtua Elleiana.
Elena nampak tersenyum, lalu mencium kening putri semata wayangnya itu. "Iya, sayang. Mama sama papa sudah harus pulang sekarang. Soalnya sudah malam banget." Sahut Elena seraya memperlihatkan senyumannya kepada putrinya tersebut.
"Kenapa kalian tidak menginap saja di sini? Bukankah jarak ke rumah kita itu lumayan jauh?" Ucap Elle masih dengan nada suaranya yang sangat lembut dan halus itu.
"Mama sih pengennya begitu, sayang. Tapi, papamu itu tidak mau menginap di sini. Papamu kekeh pengen pulang seperti anak kecil." Sahut Elena sambil melirik suaminya sekilas, lalu ia pun kembali menatap putri semata wayangnya tersebut.
"Sayang, siapa yang seperti anak kecil?" Tanya Dav sambil menatap istrinya.
"Kamu, pah. Memangnya siapa lagi." Sahut Elena seraya mencubit gemas hidung suaminya tersebut.
"Astaga, sayang. Aku hanya ingin tidur di ranjangku saja. Lagian besok aku harus pergi pagi-pagi ke perusahaan karena ada meeting penting, kalau kita menginap di gedung ini, bisa-bisa aku kesiangan. Kamu tahu kan jarak dari gedung ini sangat jauh dengan perusahaan, dan.... " Ucapan Davin tercekat di tenggorokkan ketika sang istri menempelkan jari telunjuknya di bibir miliknya itu.
"Ya, aku tahu sayang. Jadi, jangan di teruskan lagi, ok." Ucap Elena menyela ucapan suaminya tersebut. "Bukannya kamu sudah meminta asistenmu untuk mengosongkan jadwalmu besok? Lalu, kenapa tiba-tiba besok ada meeting penting, pagi-pagi lagi." Sambung Elena sembari menatap wajah sang suami.
"Ada sedikit masalah, sayang. Dan aku harus hadir besok pagi." Sahut Dav di iringi dengan helaan nafasnya. Elena hanya ber oh ria saja, lalu ia pun kembali menatap putri serta menantunya yang sedari tadi hanya berdiri dan membiarkan dirinya beradu mulut dengan suami bucinnya tersebut.
"Sayang, Rendra. Mama dan papa pulang dulu ya, kalian nikmatilah malam pertama kalian. Agar kita segera mendapatkan cucu." Ucap Elena membuat wajah putri semata wayangnya tersebut memerah seperti tomat. Sementara Nathan, ia terlihat biasanya, padahal dirinya pun merasa terkejut ketika ia mendengar malam pertama yang keluar dari mulut mertuanya itu.
"Ish, mama apaan sih. Ngomongnya gitu." Tutur Elle dengan salah tingkah membuat Elena terkekeh pelan.
"Loh, memangnya ada yang salah dengan ucapan mama? Enggak kan, sayang." Ucap sang mama seraya mengelus wajah cantik putrinya tersebut.
"Enggak sih, mah. Tapi.... Ah sudahlah jangan di bahas lagi." Sahut Elle dengan wajahnya yang masih memerah seperti tomat.
Elena tersenyum, ia pun kembali berpamitan kepada putri dan juga menantunya tersebut.
"Yasudah kalau begitu kita berdua pamit ya, sayang." Ucap Elena yang mendapat anggukkan kepala dari putrinya itu. Lalu, Elena menatap ke arah menantunya yang sedari tadi hanya diam seperti patung pancoran itu. "Rendra! Titip putri semata wayang mama, ya. Jangan sakiti dia, apalagi sampai kamu mengkhianatinya. Jika dia berbuat salah, tegurlah dengan cara yang baik. Jangan sampai kamu membentaknya. Mengerti." Ucap Elena kepada menantunya tersebut.
"Aku mengerti." Jawab Nathan singkat dan padat membuat Elena seketika mengernyitkan keningnya. Biasanya, Rendra tidak pernah berbicara irit seperti ini, paling tidak Rendra akan berkata. 'Iya, mah. Mama tenang saja, aku tidak mungkin menyakiti putri mama, karena apa? Karena aku sangat mencintai putri mama ini. Dan mama tidak perlu khawatir, aku tidak akan pernah mengkhianati putri mama ini, aku bersumpah, aku akan menjaga dan membahagiakan putri mama ini.' Itulah yang selalu Rendra ucapkan kepada Elena, di saat Elena memintanya untuk menjaga putrinya dulu.
"Bagus! Kita percaya sama kamu, Rendra. Tapi, ingat! Jika kamu berani menyakiti putri kita, walaupun hanya seujung kuku, aku Dav Jonatan William's, tidak akan melepaskanmu, mengerti." Kini Dav pun ikut berbicara, bahkan bukan hanya berbicara saja, Dav juga memperingati Nathan dengan nada suaranya yang dingin itu.
Nathan seketika menoleh ke arah Dav, ia merasakan aura yang di pancarkan oleh Dav sangatlah tidak bersahabat, apalagi ketika Dav memberikan tatapan matanya yang tajam itu, membuat Nathan harus berhati-hati dan menjaga rahasia dirinya yang hanya seorang pengantin pengganti adik kembarnya tersebut.
"Aku mengerti, kalian tenang saja, aku tidak mungkin menyakiti Elle." Sahut Nathan bersikap seolah-olah, dirinya adalah Rendra.
"Bagus, kalau begitu kita pamit dulu." Ucap Dav seraya merapikan kemejanya, lalu mengalihkan pandangannya kepada putri semata wayangnya tersebut. "Sayang, papa sama mama pergi dulu, jika dia berani menyakiti kamu, segera beritahu papa, biar papa beri dia pelajaran, mengerti sayang." Ucap Dav dengan nada suaranya yang berubah menjadi lembut tidak seperti sebelumnya yang sangat dingin ketika ia berbicara kepada Nathan.
Elle nampak tersenyum manis seraya menganggukkan kepalanya. "Papa tenang saja, Rendra tidak akan mungkin menyakitiku, karena dia sangat mencintaiku." Sahut Elle membuat Nathan langsung menatap ke arahnya. "Yasudah mama dan papa, hati-hati di jalan, kalau udah sampai rumah, jangan lupa kabarin Elle ya." Sambung Elle sembari memberikan pelukan hangat kepada mama dan papanya tersebut. Tak lupa, Elle juga memberikan kecupan di pipi kedua orangtuanya itu.
"Iya, sayang. Kalau begitu kita pergi dulu ya. Bye sayang." Sahut Elena yang mendapat anggukkan kepala dari Elle. Setelah itu Dav dan juga Elena pun berbalik dan pergi melangkahkan kedua kakinya meninggalkan putri serta menantunya itu.
"Sayang, ayo kita istirahat, rasanya kakiku sudah sangat pegal sekali." Ajak Elle setelah kepergian kedua orangtuanya itu. Nathan hanya menganggukkan kepalanya saja, lalu setelah itu keduanya pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar pengantin yang berada di dalam gedung itu.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Musniwati Elikibasmahulette
ko EL ga bisa bedain mana Rendra mana Nathan
2023-08-28
0
Defi
jelas saja aneh Elle karena orang berbeda
2023-04-01
0
Diana Susanti
MP nggak yaa
2023-04-01
1