Hati Trisna terenyuh melihat sahabat-sahabatnya yang begitu kelelahan dan juga ketakutan. Setelah disandera oleh para hantu gentayangan yang ada di rumah sakit yang penasaran dengan kematian mereka yang sampai saat ini belum terbalaskan karena pelakunya yang masih hidup bebas di luar sana.
" Ak tidak akan pernah menyerah dengan usaha ini! Besok aku akan mengunjungi kediaman Kenzo aku akan melihat apa yang ada di sana! Aku yakin Kakeknya Kenzo pasti menyimpan sesuatu yang membuat para arwah itu tidak bisa keluar dari rumah sakit. Dan kembali ke alam baka!" ucap Trisna yang saat ini sudah berhasil keluar dari rumah sakit dan sekarang dia sedang membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya.
Sementara itu Rara saat ini sedang berbicara dengan Kenzo. Terlihat gadis itu sangat ketakutan melihat Kenzo yang seperti sangat shock dengan kejadian malam itu.
" Maafkan aku ya Kenzo, kamu jadi mengalami hal buruk seperti ini! Seandainya saja aku tidak menceritakan kepadamu tentang rencana kami ke rumah sakit, pasti kau pun tidak akan pernah berkunjung ke sana!" ucap Rara yang terlihat begitu menyesali apa yang sudah terjadi pada Kenzo.
Kenzo tersenyum kepada Rara Dan dia berusaha untuk meyakinkan Rara bahwa dia baik-baik saja!
" Jangan khawatir Ra! Aku nggak papa kok!" ucap Kenzo sambil menggenggam telapak tangan kekasihnya.
" Apa kau yakin?" tanya Rara dengan air mata yang mulai menetes dari kelopak matanya.
Kenzo kemudian menghapus air mata lelah dan memeluk Gadis itu dengan begitu erat.
Rasanya sekarang Kenzo semakin mencintai Rara. Setelah melihat perjuangan gadis itu saat di rumah sakit yang berusaha untuk melindunginya.
" Udah sekarang kau sebaiknya tidur dan beristirahat. Aku juga akan kembali ke rumahku. Orang tuaku pasti sekarang sedang kebingungan mencariku. Karena aku tidak berpamitan kepada mereka!" ucap Kenzo sambil melepaskan pelukannya terhadap Rara yang masih menangis pilu.
" Sudahlah Rara. Kalau kau menangis begini. Aku tidak bisa pulang loh! Apa kamu mau aku menginap disini?" tanya kenzo sambil tersenyum dan menggoda Rara.
Mendengar pertanyaan Kenzo Rara Auto menggelengkan kepala.
" Gak usah. Kamu pulanglah. Kenzo tolong kau berhati-hati di jalan ya?" tanya Rara terlihat begitu tidak rela untuk melepaskan Kenzo pergi dari rumahnya.
" Kau tidak usah khawatir. Temanku yang indigo mengatakan kalau setan-setan itu akan selamanya berada di rumah sakit itu dan tidak akan bisa keluar dari sana!" ucap Kenzo berusaha menenangkan Rara.
" Ya aku tahu! Baiklah kau hati-hati di jalan ya?" ucap Rara sambil memeluk Kenzo sekali lagi sebelum mereka berpisah.
Kenzo mencium bibir Rara sekejap. Tapi sukses membuat Rara terkesiap dan kaget dengan apa yang dilakukan oleh Kenzo yang sudah mencuri ciuman pertamanya tanpa Permisi kepadanya.
Akan tetapi Rara merasa bahwa saat ini jantungnya berdebar sangat kencang.
" Selamat malam, aku cinta sama kamu!" ucap Kenzo yang kemudian mencium kening Rara dan setelah itu masuk ke dalam ke mobilnya dan meninggalkan rumah Rara.
" Jawab dong!" ucap Kenzo sambil menyentil hidung mancung Rara yang masih diam.
" Apa?"
" Aku cinta sama kamu, Rara! Ayo jawab!"
" Iya Rara juga cinta sama Kenzo!" ucap Rara sambil tersipu malu. Kenzo sampai gemes di buatnya.
" Aku pulang ya sayang. Istirahat ya?" ucap Kenzo yang kemudian pergi meninggalkan Rara sendiri.
Sementara Rara masih membeku di tempat. Dia benar-benar bingung dengan kelakuan Kenzo yang sangat berani mencium bibirnya Padahal mereka baru berhubungan selama satu minggu lamanya.
" Aih, kenapa aku jadi bego begini?" ucap Rara sambil memukul kepalanya untuk membuat dia menjadi sadar.
Rara kemudian masuk ke dalam rumah dan berusaha untuk melupakan kejadian tadi.
" Ih, Kenzo kenapa harus melakukan itu sama aku sih lihat nih aku jadi tidak bisa tidur!" ucap Rara sambil menutup wajahnya dengan bantal dan tersenyum-senyum sendiri.
" Ternyata begini ya rasanya dicium oleh orang yang kita cintai?" tanya Rara pada diri sendiri.
" Rara Kenapa kau sudah malam belum tidur juga?" tanya ibunya Rara yang tiba-tiba saja sudah menampakkan wajahnya di depan Rara.
" Astaghfirullahaladzim Mama kenapa main masuk begitu aja?" tanya Rara sambil memegang dada nya yang terasa begitu berdebar sangat kencang karena kaget luar biasa melihat ibunya yang tiba-tiba saja ada di kamarnya nyaris tanpa suara.
" Itu kan salahmu sendiri Rara! Kamu yang dari tadi melamun terus seperti orang bego. Mama berkali-kali mengetuk pintu kau tidak dengar juga! Karena mama khawatir dengan kamu. Makanya mama menerobos masuk tidak tahunya kamu sedang senyum-senyum sendiri seperti orang gila!" ucap Mamanya Rara sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putrinya.
Mendengarkan perkataan dari ibunya Rara hanya bisa meringis.
" Udah cepat kau tidur sayang. Ini sudah larut malam bukan malam lagi!" ucapnya sambil mencium kening putrinya yang tercinta.
Rara pun kemudian mengucapkan selamat malam kepada ibunya dan setelah itu dia pergi ke kamar mandi karena ingin membersihkan tubuhnya dan ganti pakaian.
Malam ini adalah malam yang sangat berat untuk Rara dan juga teman-teman yang lain.
Kalau dokter Bagas tidak mengorbankan dirinya dengan bertarung melawan dokter Alfonso. Rara bisa meyakinkan dirinya bahwa mereka pasti tidak akan bisa keluar dari rumah sakit itu hidup-hidup.
Seketika Rara merasa tidak enak, ketika dia berpikir tentang dokter Bagas.
" Aku harus menelpon Trisna dan bertanya kepadanya tentang keadaan dokter Bagas yang terbaru. Trisna pasti tahu keadaan dokter Bagas yang sekarang!" ucap Rara yang kemudian mempercepat mandinya setelah itu mengganti pakaian.
Saat Rara hendak mengambil ponselnya, tiba-tiba Rara berpikir bahwa Trisna pasti saat ini juga sedang tidur karena sama-sama kelelahan seperti dirinya.
" Baiklah sebaiknya aku tidur saja. Aku yakin Trisna juga pasti sudah terlelap. Aku gak aku ganggu dia. Karena kejadian ini Trisna pasti sangat terpukul hatinya memikirkan laki-laki yang dia cintai saat ini sedang berjuang melawan angkara murka di rumah sakit ayahnya. Ah kasihan juga Dokter Bagas!" Rara kemudian memutuskan tidur agar besok pagi-pagi dia bisa mengunjungi rumah Trisna.
Rara benar-benar sangat penasaran dengan kondisi dokter Bagas yang terbaru.
Sementara itu Trisna yang sudah tertidur. Dia tampak sedang bermimpi buruk dan melihat dokter Bagas yang saat ini sedang terluka sangat parah. Bahkan dokter Bagas sekarang sedang diikat di sebuah ruangan yang sangat asing oleh dokter Alfonso yang terlihat sangat marah kepada dokter Bagas karena sudah melepaskan Sandra yang susah payah dia tangkap.
" Dokter Bagas kau baik-baik saja kan?" tanya Trisna benar-benar sangat khawatir dengan keadaan dokter Bagas yang begitu kepayahan dan kesakitan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments