Dokter Bagas akhirnya setuju untuk membantu Trisna dan Rara. Ketika nanti mereka akan mencoba untuk menyelidiki Rumah Sakit milik kakeknya yang terbakar sekitar 50 tahun yang lalu.
Walaupun sebenarnya jantung Trisna benar-benar berdebar sangat kencang ketika setiap kali dia bertatap muka dengan dokter Bagas yang sangat tampan.
Walaupun dia seorang hantu yang sudah mati lebih dari 50 tahun tetapi dokter Bagas masih memiliki pesona yang sangat luar biasa dan itu membuat Trisna kalang kabut dibuatnya.
" Baiklah aku akan kembali ke rumah sakit. Kalau aku pergi terlalu lama dari sana, pasti penguasa tertinggi di sana akan mengetahui kepergianku! Itu akan sangat berbahaya untuk eksistensi ku selama berada di sana!" ucap Dokter Bagas yang kemudian berpamitan kepada Trisna.
Sementara itu Trisna kemudian melihat ponselnya yang sedang tadi terus berdering ternyata Rara yang memanggilnya.
" Ya Ra, ada apa?" tanya Trisna merasa kelelahan karena tadi dia harus berbicara sangat lama dengan dokter Bagas yang secara tidak langsung telah menyerap energinya sangat banyak.
" Ada apa kepalamu? Ya ampun! Bukannya kita punya janji akan bertemu di kafe dekat rumahmu? Kenapa kau belum datang juga?" protes Rara yang merasa mulai kesal karena menunggu Trisna sejak tadi tetapi tak kunjung datang.
Trisna sontak memukul kepalanya pelan, karena dia baru ingat kalau memiliki Janji temu dengan Rara.
" Maafkan aku ra aku lupa tadi dokter Bagas datang kemari membuatku jadi tidak ingat dengan janji kita!" ucap Trisna mengatakan sejujurnya kepada Rara tentang dokter Bagas.
Rara terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Trisna.
" Dokter Bagas datang kemari? Ke rumah loe?" Tanya Rara benar-benar terkejut mendengarkan berita itu.
Bagaimana coba caranya dokter Bagas bisa menemukan alamat mereka Padahal mereka tidak pernah memberitahukan alamat mereka kepada dokter Bagas sebelumnya.
Rara sontak memukul kepalanya sendiri untuk kebodohannya sendiri.
" Ya ampun jelaslah dia tahu segalanya Dia kan hantu!" ucap Rara bermonolog sendiri.
" Kenapa Ra?" tanya Trisna bingung.
" Nggak apa-apa. Kamu mau ke sini apa tidak? Kalau nggak saya mau pulang aja nih! Bete tahu gak sih? Nungguin kamu sejak tadi tapi kamu nggak datang-datang malah asik pacaran dengan dokter Bagas!" sungut Rara kesal bukan kepalang kepada sahabatnya.
" Besok aja ya Ra ketemuannya. Gue capek banget tau nggak sih? Habis ketemu sama dokter Bagas. Energi gue kayak kesedot gitu sama dia." ucap Trisna lemes banget membuat Rara jadi ga tega.
" Ya udah, lu istrahat gih, gue juga mau pulang aja, cape nunggu lu dari tadi!" ucap Rara yang akhirnya setuju untuk membatalkan janji teman mereka.
Setelah itu Rara pun langsung menutup panggilan telepon dan dia pun kembali ke kediamannya sendiri.
" Eh, si Trisna mah enak, punya gebetan ganteng kayak dokter Bagas, biar di kata dia hantu, tapi tetap ganteng lah. Nah gue? Jomblo abadi!" ucap Rara kesal setengah mati.
Pada saat Rara hendak keluar dari cafe, tiba-tiba saja ada seseorang yang menabraknya tanpa sengaja. Seorang pria tampan yang membuat wajah Rara merona karena malu dan salting.
" Maafkan aku! Apa kau tidak apa-apa?" tanya pemuda itu sambil menatap Rara yang mulai salah tingkah dibuatnya.
" Aku tidak apa-apa. Salahku kok karena jalan tidak lihat-lihat!" ucap Rara tersipu melihat wajah pria tampan yang tersenyum terus kepadanya membuat Rara jantungnya terus berdebar sangat kencang.
Pada saat Rara sudah hendak meninggalkan kafe dengan motornya, Rara melihat laki-laki itu mengejarnya.
"Eh, tunggu!" ujarnya sambil memanggil dan melambaikan tangannya kepada Rara.
Rara pun mengerutkan keningnya dan merasa heran melihat pemuda tampan itu terus mengejarnya.
" Ada apa dia? Wah gila yah! Seumur-umur gue baru dikejar-kejar Cowok seganteng ini!" ucap Rara dengan jantung yang berdebar sangat kencang karena malu dan takut.
" Ya ampun! Apa jangan-jangan dia mau ganti rugi ya? Gara-gara aku tadi nabrak dia apa dia sakit atau gimana?" tanya Rara yang sudah mulai ketakutan sendiri dengan otaknya yang tumpul itu. Hadeuh Rara kalau sudah urusan cowok ganteng otaknya seketika tidak bisa berpikir dengan jernih.
Rara yang menunggu kedatangan laki-laki itu dia pun menatap pria tampan itu dengan lekat dan tanpa berkedip sedikit pun.
" Eh ini dompetmu ketinggalan!" ucap pria tampan itu sambil mengulurkan dompet milik Rara otomatis melihat dompetnya ada di tangan pria tampan yang menarik hatinya.
Mengingat apa yang ada di dalam dompetnya, Rara sontak langsung menyambar dompet dari tangan pemuda tampan tadi.
Wajah Rara benar-benar tersipu malu kepada pemuda tampan yang kini mengulurkan tangannya dan mengajak berkenalan dirinya.
" Halo namaku Kenzo Siapa namamu?" tanya pria itu sambil menghulurkan tangannya kepada Rara.
' Ya ampun tidak sia-sia aku duduk kayak orang bego di cafe sendirian eh kenalan dengan orang ganteng!' bathin Rara dalam hati bersorak penuh bahagia.
" Hello, siapa nama kamu? kok kamu malah bengong sih?" tanya Kenzo sambil melambaikan tangannya di depan Rara yang masih membeku di tempatnya.
" Oh, namaku Rara!" ucap Rara dengan kaku dan gugup luar biasa.
" Wah nama yang sangat cantik boleh nggak kita tukeran nomor telepon?" tanya Kenzo lagi.
Rara sontak menyerahkan ponselnya kepada Kenzo dan menundukkan kepala nya di hadapan Kenzo yang kemudian mengetikkan nomor teleponnya dan menghubungi ke ponselnya melalui nomor Rara.
" Aku sudah menyimpan nomorku dengan nama Kenzo. Nanti jangan lupa kau menghubungi aku ya kalau sudah sampai di rumahmu!" ucap Kenzo sambil tersenyum kepada Rara yang auto bego.
" Hah? Kok aku?" tanya Rara sambil melongo di hadapan Kenzo.
" Oke deh nanti aku yang menghubungi kamu diangkat ya telepon dari aku! Sekarang aku pulang dulu ya karena Mamaku sudah menungguku dari tadi!" ucap Kenzo sambil mengelus pucuk rambut Rara dengan lembut membuat gadis itu semakin jingkrak-jingkrak kesenangan dengan perlakuan manis Kenzo kepadanya.
Sampai di rumahnya Rara terus saja tersenyum bahagia setelah bertemu dengan Kenzo yang begitu tampan dan juga manis sikapnya.
Baru saja Rara hendak membaringkan tubuhnya di atas ranjang tiba-tiba saja ponselnya berdering.
" Kenzo?" tanya Rara akan tidak percaya bahwa Kenzo benar-benar menghubunginya seperti apa yang dia katakan.
" Ya?" tanya Rara dengan nada bingung.
" Kamu udah nyampe rumah kan Ra?" tanya Kenzo dengan suara lembut.
" Ya, baru aja. Gimana dengan Kenzo?" tanya Rara gugup luar biasa.
Sejujurnya ini adalah pengamalan pertama Rara untuk berbicara begitu serius dengan seorang laki-laki seumur hidupnya. Sehingga membuat Rara auto gugup dan tidak tahu harus berbuat apa untuk menanggapi semua keakraban yang ditawarkan oleh Kenzo kepadanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments