Setelah mereka kembali ke Garut, Mereka berdua pun kembali menjalani aktivitas seperti biasa menjadi wartawan majakah misteri dan horor. Hingga akhirnya mereka berdua pun merasa bosan dengan kehidupan mereka yang begitu-begitu saja. Kehidupan monoton yang sangat menyebalkan bagi mereka.
Bagi orang-orang lapangan seperti Rara dan Trisna, bekerja di belakang meja benar-benar sangat membuat mereka bosan dan seakan tercekik saja rasanya.
Rara dan Trisna kemudian memutuskan untuk menyelidiki rumah sakit tempat dokter Bagas terjebak di sana saat ini.
Mereka berdua pun lalu membuat janji temu untuk bertemu di suatu cafe yang ada di Garut, kota kelahiran mereka berdua.
" Assalamualaikum, Ra! Hari ini aku bosan banget nih di rumah. Kamu mau gak kita ketemu di cafe deket rumahku? Sambil kita merencanakn, selanjutnya kita mau ngapain? Mau gak?" tanya Trisna sambil memeluk bantal nya diatas kasur saat menelpon Rara, sahabat suka dukanya yang selama ini selalu mendampinginya
" Waalaikum salam, boleh tuh, jam berapa?" tanya Rara dengan raut wajah yang sangat bahagia.
" Besok habis pulang kerja, oke?! " Jawab Trisna dengan penuh semangat.
" Oke!! " Ucap Rara sambil menulis di salah satu bukunya.
" Kamu sekarang lagi ngapain?" Tanya Trisna dengan terus mengscroll tiktok nya.
" Aku lagi nulis jurnal laporan nihh! Atasan kita meminta aku buat nyusun jurnal laporan saat kita menyeleliki rumah kosong di Desa Cemara. Lah emang kamu kagak?? Kamu sendiri lagi ngapain?" tanya Rara kemudian bertanya kembali kepada Trisna.
" Aku tidak diminta kok sama Pak Bagus untuk membuat jurnal itu. Mungkin dia merasa sudah cukup dengan jurnal yang kau buat itu. Lagi pula kan sama saja isinya. Hanya mungkin nanti akan berbeda dari gaya dan bahasa penulisan saja!" ucap Trisna.
" Aku sekarang lagi nonton tiktok! Habisnya bosen banget tahu gak sih, kangen aku dengan petualangan kita mengungkap kasus misteri. Apa kamu juga sama kayak aku, Ra?" tanya Trisna sambil tersenyum sendiri.
Trisna saat ini sedang membayangkan tentang dokter Bagas yang mereka temui di rumah sakit. Ketika mereka dulu melakukan penyelidikan kasus misteri di rumah kosong sekitar satu bulan yang lalu di Desa Cemara.
" Iya sih aku juga merasa bosan. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang di dalam diriku. Nggak enak juga ya ternyata, bekerja di balik meja benar-benar membosankan!" ucap Rara menimpali ucapan sahabatnya.
" Jadi kamu setuju kan Ra? Kalau nanti kita berdua kembali menyelidiki Rumah Sakit Dokter Bagas itu? Ra, aku yakin deh. Pasti ada rahasia besar di balik rumah sakit itu yang sekarang menjadi rumah sakit bagi para hantu gentayangan!" ucap Trisna pelan.
Trisna tampak begitu bersemangat dengan rencananya untuk menyelidiki rumah sakit yang pernah dia datangi ketika dirinya jatuh dari atas tangga di dalam rumah kosong ketika dia diteror oleh para penghuni rumah kosong yang horor banget itu.
" Iya aku setuju kok nanti kita bicarakan detailnya pas kita ketemu di cafe aja!" ucap Rara setuju dengan ajakan sahabat sejatinya.
" Sudah dulu yah Tris, aku sibuk nihh... !! " Ucap Rara sambil membereskan bukunya.
" Oke, assalamualaikum ya Ra!! Semangat ya untuk buat jurnalnya biar nanti kita bisa menyelidiki rumah sakit itu dengan tenang tanpa kau harus dikejar-kejar dengan tugas jurnal itu! " Ucap Trisna memberi salam perpisahan.
" Iya, waalkumsalam!!" Jawab Rara kemudian menutup telepon nya.
Setelah menutup telepon, Trisna kemudian mulai browsing di internet tentang rumah sakit yang akan dia jadikan target berikutnya untuk penyelidikan misteri sebagai bahan artikel barunya yang akan dia laporkan ke majalah misteri dan horor tempat dia bekerja bersama Rara saat ini.
" Wah ternyata rumah sakit itu pernah terjadi kebakaran besar sekitar 30 tahun yang lalu dan telah mengakibatkan 300 orang yang mati terbakar di sana. Ya Allah sungguh sangat menakutkan dan juga kasihan sekali!" ucap Trisna yang entah kenapa tiba-tiba saja hatinya sedih sekali saat ingat dokter Bagas.
Matanya berkaca-kaca. Marena merasa sedih dengan nasib dokter Bagas yang pasti saat itu merasakan kesakitan luar biasa saat tubuhnya habis terbakar di sana dan menjadi abu.
Dikabarkan di dalam artikel itu, bahwa tidak ada satu orang pun yang selamat dalam kebakaran besar itu. Bahkan tidak ada satu pun jenazah yang bisa dievakuasi karena semuanya sudah habis gosong menjadi abu.
" Ya Allah pasti di sana banyak sekali arwah gentayangan yang masih penasaran karena hidup mereka harus berakhir sia-sia, akibat kebakaran itu. Tampaknya aku dan Rara harus menyelidikinya. Apa yang menjadi penyebab dari kebakaran itu? Kenapa polisi menutup kasusnya begitu saja tanpa penyelidikan lebih lanjut? Padahal ini adalah kasus yang sangat besar. Nyawa 300 orang, yang terdiri pasien, keluarga pasien, pengunjung, dokter serta suster yang berada di rumah sakit itu harus mendapatkan ketenangan dengan menyelidiki kasus itu secara benar dan mencari Siapakah yang bertanggung jawab atas kejadian buruk yang sangat memilukan hati!" ucap Trisna sambil menghapus air matanya yang terasa begitu panas.
Tiba-tiba saja suasana di dalam kamarnya terasa begitu mencekam. Trisna tahu kalau saat ini ada makhluk halus yang sedang menghampirinya.
" Siapa itu? Kalau kau memang berniat untuk mengunjungiku. Tunjukkan wajahmu dan jangan coba-coba aku menakutiku!" ucap Trisna yang sudah bersiap dengan tasbih yang berada di tangannya.
Tasbih itu bukanlah sembarangan tasbih. Karena di dalamnya terdapat khodam yang selama ini selalu menjaga Trisna. Apabila Trisna dalam keadaan kesulitan alias berhadapan dengan makhluk gaib seperti setan dan hantu penasaran ataupun Jin yang selalu menggoda untuk berbuat kejahatan.
Setelah Trisna mengatakan itu, terlihat sosok dokter Bagas yang tersenyum kepadanya.
" Hai," sapanya sambil tersenyum.
visualisasi dokter Bagas.
visualisasi Trisna Anjani
visualisasi Rara
Visualisasi Kenzo, kekasihnya Rara
" Ya ampun! Kok dokter Bagas sih? Eh, maksudku, bagaimana bisa datang kemari?" tanya Trisna dengan gugup melihat dokter Bagas yang tadi sudah sukses membuat dia termehek-mehek ketika membaca tentang artikel rumah sakit dia mengalami kebakaran besar sekitar 30 tahun yang lalu.
" Kenapa apa kau tidak suka dengan kedatanganku di sini?" dokter Bagas kemudian mendekati Trisna dan melihat sekeliling kamar tersebut.
Mata dokter Bagas langsung memicing ketika dia melihat tasbih yang ada di tangan Trisna yang terasa begitu panas untuknya.
" Apa kau bisa menyimpan dulu tasbihmu itu? Karena jujur saja, mataku tidak sanggup untuk melihatnya!" Trisna pun mengangguk, lalu memasukkan tasbih yang ada di tangannya ke dalam lemari kecil yang letaknya tidak terlalu jauh dari kursi yang saat ini sedang dia tempati. Karena dari tadi dia sedang sibuk di meja kerjanya, browsing tentang rumah sakit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments