Mereka berdua pun sudah masuk didalam rumah kosong tersebut, tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi diluar dugaan Trisna dan Rara.
Jendela rumah itu pun terbuka dan angin kencang tiba-tiba masuk membuat hawa dirumah kosong itu sangat dingin dan menyeramkan.
Barang-barang jatuh dan pecah, jendela terbuka dan tertutup bagaikan rumah itu sudah mau roboh di buat angin kencang tersebut.
" Tris, ada apa ini? Jangan-jangan penghuni rumah ini ngamuk! Gua takut Tris!! " Ucap Rara sambil memegang pundak Trisna dengan raut wajah yang sangat pucat karena takut.
" Tenang Ra! Kita baca doa-doa saja semoga kita dilindungi oleh Allah SWT " Ucap Trisna menenangkan sahabat nya yang sedang ketakutan.
" Ayo pulang Tris! Gua takut! " Ucap Rara dengan wajah yang sangat pucat dan keringat dingin yang mulai mengucur di tubuh Rara.
" Istighfar Ra! Biar kamu gak di masuki sosok disini Ra! " Ucap Trisna mencoba untuk meyakinkan kan Rara.
Terlambat Rara sudah dikuasai oleh makhluk yang ada disana.
" Kenapa kamu masih mencoba kembali kesini? Padahal sudah saya peringatkan apakah peringatan ku belum cukup membuatmu menyerah? Atau kau sudah bosan hidup? Beraninya kau! " Ucap sosok wanita yang merasuki tubuh Rara dengan nada yang sangat marah.
" A-aku kesini hanya untuk menyelidiki kasus yang menimpa keluarga kamu, aku gak berniat buruk kok! Tolong beri aku kesempatan untuk menyelidiki kasus ini! " Ucap Trisna dengan wajah pucat karena takut dan keringat dingin yang mulai membasahi tubuh nya.
" Aku tidak peduli dengan yang kau katakan!! Pergi lah dari sini, sebelum peringatan ketiga yang akan ku berikan kepada mu!! " Ucap sosok wanita tersebut dengan wajah yang sangat marah.
" Baiklah aku akan pergi dari sini, tapi tolong lepas kan sahabatku!! jangan sakiti dia "
Ucap Trisna dengan raut wajah yang sangat pucat.
" Pergilah dan bawa sahabat mu pergi dari rumah ini!! Aku tidak mau melihatmu lagi disini!! " Ucap sosok wanita itu dengan raut wajah yang sangat marah dan penuh dengan dendam dan amarah.
Trisna pun membaca ayat kursi dan surat-surat pendek, agar sosok wanita tersebut menghilang.
Sosok wanita itu pun menghilang dan akhirnya Trisna dan Rara pun melanjutkan perjalanan untuk melanjutkan penyelidikan.
" Ra, kamu baik-baik saja kan? Kamu merasa sakit gak? " Ucap Trisna dengan raut wajah khawatir.
" Kamu kenapa Tris? Kok kelihatannya khawatir banget sama aku emang aku habis ngapain? " Tanya Rara kepada Trisna dengan raut wajah bingung.
" Gak kok gak ada apa-apa! " Jawab Trisna dengan raut wajah bingung, karena Rara tampaknya tidak ingat lagi dengan apa yang terjadi tadi.
Mereka berdua pun berniat untuk pergi dari rumah kosong tersebut namun saat mereka ingin keluar mereka tampak tak bisa membuka pintu rumah itu.
" Duhhh..... Gimana ini pintunya gak bisa di buka! " Ucap Rara dengan raut wajah yang sangat takut.
" Kita kayaknya malam ini tidur disini dehh... " Ucap Trisna dengan raut wajah pasrah.
" Aduh... Masa kita tidur dirumah ini? Gak ada pilihan lain kah Tris? " Tanya Rara sambil menatap Trisna dengan pusing. Ya memikirkan bahwa mereka akan tidur di rumah kosong itu benar-benar membuat kepala Rara menjadi pening seketika
" Ada, cuman ini sangat mengancam nyawa! " Jawab Trisna sambil menatap Rara dengan tatapan tajam.
" Apaan tuhh... ? " Tanya Rara dengan bingung dan wajah yang penuh pertanyaan.
" Pilihan pertama kita malam ini tidur disini sampai besok, pilihan kedua kita naik keatas lalu melompat dari balkon! Pilih yang mana? Tidur disini atau melompat dari balkon yang tingginya berkisaran 9-10 meter! " Ucap Trisna sambil menatap Rara.
" Hahh.... Pilihan nya sulit amat perasaan! " Jawab Rara dengan raut wajah terkejut.
" Tinggal pilih mau yang mana! " Ucap Trisna dengan tatapan tajam.
" Ya udah gua pilih yang pertama ajah dah dari pada melompat dari ketinggian yang sangat tinggi begitu! Auto pulang tinggal nama gua! " Ucap Rara sambil meringis ngeri.
Trisna lalu memeluk sahabat nya yang tadi sempat dirasuki oleh sosok wanita bergaun merah yang marah dengan kehadiran mereka.
" Apa kita usaha lagi saja untuk membuka pintunya? Siapa tahu tadi hanya macet saja?" tanya Rara yanh merasa bahwa dia memang harus usaha dulu sebelum menyerah.
Trisna kemudian menyanggupi keinginan Rara dan mereka berdua pun kemudian berusaha kembali membuka pintu rumah kosong itu.
" Tris, ayo kita membukanya sambil membaca ayat kursi dan juga ayat-ayat pendek berdoa kepada Allah agar Allah mau menyelamatkan kita dari sini!" ucap Rara penuh dengan keyakinan dan juga kemantapan.
Trisna kemudian membacakan ayat-ayat suci Alquran. Sambil mulutnya terus merapalkan doa dan tangannya dia salurkan kekuatan tenaga dalam agar mereka berdua bisa membuka pintu dengan baik.
Waktu semakin sore dan waktu mereka untuk bisa keluar dari rumah kosong itu sebelum maghrib tiba pun benar-benar sangat sempit bagi mereka.
Oleh karena itu terlihat Trisna berusaha sangat keras agar bisa keluar dari rumah kosong yang benar-benar auranya mulai terasa sangat mistis.
" Aduh Tris kayaknya kita bakalan mati di rumah ini deh. Lihatlah bulukuduk gue dari tadi udah merinding semuanya!" ucap Rara yang tampaknya ingin menyerah karena dia sudah ketakutan sekali.
" Ayolah Ra kita harus berjuang lagi agar bisa keluar dari rumah kosong ini. Kita itu masih punya Allah, maka kita harus berusaha untuk ingat bahwa Allah pasti akan melindungi kita!" ucap Trisna terus membujuk sahabatnya.
Rara pun kemudian mengangguk dan setuju dengan apa yang dikatakan oleh Trisna.
Akan tetapi ketika mereka mulai kembali berusaha untuk membuka pintu, tiba-tiba saja ada seberkas cahaya putih seakan melesat dan muncul di hadapan mereka.
" Ya ampun sih Neng. Kemarin kan Mamang sudah peringatkan untuk tidak datang lagi kemari. Kenapa masih saja bandel sih? Apa kalian sudah bosan hidup Neng?" tanya suara yang dikenali oleh Rara.
" Bukannya Mamang itu tukang ojek yang kemarin membantu saya membawa teman saya ke rumah sakit ya?" tanya Rara yang merasa senang karena dia pikir akan ada orang yang bisa menolong dia.
" Pintunya tidak bisa dibuka Mang. Dari tadi kami terus berusaha untuk keluar dari rumah ini. Tapi sepertinya penghuni rumah ini tidak mengizinkan kami untuk keluar dari sini!" ucap Trisna sambil mengulas senyum kepada laki-laki yang dikatakan oleh Rara sebagai tukang ojek yang membantunya kemarin sewaktu Trisna pingsan ketika dia jatuh dari tangga yang menuju lantai dua.
" Hah. Kalau seperti ini sudah berbahaya buat kalian berdua. Pasti penguasa di rumah ini sudah marah dan berniat untuk membunuh kalian berdua. Makanya mereka menahan kalian untuk berada di rumah ini!" ucap si Mamang ojek samping menggelengkan kepalanya tampak begitu frustasi sekali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Ima Diah
Rara kebanyakan mengeluh,bukan nya usaha dulu cari solusi gitu atau apa aja,tapi cerita nya indigo.....🤔🤔🤔🤔🤔🤔
2024-01-31
0