Begitu sampai di rumah sakit terdekat, Rara langsung menuju ke ruang ICU meminta pertolongan kepada tim paramedis untuk menolong Trisna yang saat ini masih pingsan.
Dengan bantuan tukang ojek itu akhirnya Rara berhasil membawa Trisna ke ruang ICU. Rara kemudian menemui mamang tukang ojek dan memberikan upah sesuai dengan tarif yang disebutkan oleh pria paruh baya itu. Selain itu Rara juga mengucapkan terima kasih karena sudah membantunya lolos dari bahaya saat dia berada di rumah kosong bersama dengan Trisna yang sekarang masuk ke ruang ICU.
" Terima kasih banyak ya pak. Karena bapak sudah menolong saya dan juga teman saya semoga Allah yang akan membalas kebaikan bapak!" ucap Rara mengucapkan terima kasih kepada tukang ojek itu yang tersenyum kepadanya.
" Hati-hati ya Neng. Lain kali kalian tidak usah datang lagi ke rumah kosong itu. Karena hal itu sangat berbahaya. Karena di sana itu bisa dikatakan sebagai sarangnya para demit yang mati penasaran, karena dibunuh oleh orang-orang jahat. Kalian berdua sangat beruntung masih bisa keluar dari rumah itu dengan selamat." ucap tukang ojek itu yang kemudian berpamitan kepada Rara.
Rara setelah itu langsung masuk ke dalam rumah sakit lagi dan dia bertemu dengan suster yang tampak heran kepadanya.
" Neng Kamu bicara dengan siapa?" tanya suster itu sambil mengerutkan keningnya.
" Itu suster tukang ojek yang tadi membantu saya dan teman saya untuk sampai ke rumah sakit." ucap Rara sambil tersenyum kepada suster yang malah tanpa kelihatan bingung mendengarkan ucapannya.
" Ada apa suster? Emangnya ada yang aneh ya?" tanya Rara tampak bingung.
" Dari tadi Saya tidak melihat siapa-siapa bersama denganmu. Saya hanya melihat Mbak yang sedang bicara sendiri dari tadi. Saya kira Mbak itu orang gila. Makanya saya datang menyapamu untuk memastikan saja." Rara auto melotot mendengarkan penuturan dari Suster itu yang mengatakan bahwa dia tidak melihat siapa-siapa bersama dia.
" Lah terus tadi suster melihat saya datang ke sini membawa teman saya dengan siapa?" tanya Rara yang mulai horor saja rasanya.
" Saya melihat Mbak tadi menggendong temannya sendirian ke mari dengan berlari seperti orang yang dikejar setan!" ucap Suster itu yang sukses membuat Rara gemetar ketakutan di buatnya.
" Ya sudah suster. Terima kasih atas keterangannya. Oh ya bagaimana dengan keadaan teman saya di dalam sana?" tanya Rara sambil terus membaca doa di dalam hatinya. Karena sejujurnya dia saat ini sedang merasa merinding sekali.
' Jangan-jangan suster ini adalah makhluk astral juga kenapa tubuhku merinding seperti ini?' bathin Rara mulai tidak nyaman.
Ketika Rara hendak mencari Suster itu lagi, tiba-tiba Suster itu sudah tidak ada di hadapannya.
" Tuh asli kan, dia pasti mahluk astral yang sedang usil padaku. Dasar ga ada kerjaan!" ucap Rara merasa kesal luar biasa karena telah menjadi korban keusilan dari makhluk yang ada di rumah sakit.
Rara kemudian masuk ke dalam ruangan di mana Trisna sudah masuk ke dalam sana setelah tadi diperiksa di ruang ICU.
" Trisna. Cepat sembuh ya? Aku nggak buat loh kalau lama-lama harus di rumah sakit ini. Karena rumah sakit ini banyak sekali penunggunya dan banyak sekali aura negatif yang tersimpan di rumah sakit ini! Kata suster tadi mengatakan kalau aku datang kemari dengan cara menggendong mu dengan berlari. Jangan-jangan tukang ojek itu juga makhluk astral yang membawa kita ke rumah sakit para kaum astral! Ih serem banget Tris! Cepat bangun dong! Gue ga nyaman tahu!" bocah berarah terus bermonolog sambil melihat ke arah sahabatnya yang masih memejamkan matanya.
Karena merasa sangat lelah sekali. Rara pun kemudian memejamkan matanya di samping sahabatnya sambil menggenggam telapak tangan Trisna. Karena dengan melakukan hal itu Rara merasa lebih aman.
Rara tahu kalau Trisna memiliki ghodam penjaga warisan leluhur dia yang selalu menjaganya kemanapun perginya.
Itulah yang membuat Trisna tidak pernah merasa ketakutan, walaupun pergi ke tempat wingit sekalipun. Karena dia percaya bahwa dia selalu dijaga oleh khodam penjaganya.
Keesokan harinya, tampak sebuah tangan yang menggenggam tangan seseorang, ternyata itu adalah Rara yang sedang menggenggam tangan Trisna dengan raut wajah yang sangat sedih dan khawatir akan keadaan Trisna.
" Trisna ayo bangun! Masa baru hari pertama kita menyelidiki rumah itu, kau sudah sakit seperti ini! Bagaimana dua minggu coba? Mungkin kita udah tinggal nama saja. Hiks hiks. Bangunlah, kau sudah membuat aku jadi khawatir!" Ucap Rara sambil menggenggam telapak tangan Trisna yang masih pingsan dengan wajah yang sangat pucat.
Tak beberapa lama kemudian, Trisna pun bangun dari pingsannya. Dia tampak bingung saat melihat dia sudah berada di rumah sakit dengan tangan yang sudah diinfus.
" Rara, kenapa aku di rumah sakit?" Tanya Trisna dengan wajah yang pucat dan suara yang pelan.
" Kamu tadi terjatuh dari tangga saat berada di rumah kosong itu! Kepalamu berdarah dan aku langsung membawamu ke rumah sakit. Sebenarnya apa yang terjadi saat kau di atas? Sampai-sampai kamu kok bisa terjatuh dari tangga?" tanya Rara dengan wajah penasaran dan khawatir.
"Eeehhh... Aku tidak terlalu ingat soal kejadian itu! Yang kuingat, ada sosok kakek-kakek yang sedang berdiri di dekat tangga dan terus menghalangiku untuk turun dari tangga, lalu aku kepleset karena kesandung sesuatu yang aku juga tidak tahu apa itu! Aku mencoba untuk menghindar namun terjatuh! Saat terbangun sudah berada di sini! " jawab Trisna dengan wajah pucat sambil memegang kepalanya.
" Kamu seharusnya lebih berhati-hati! Apa lagi disitu banyak hantu nya! " Ucap Rara sambil menatap Trisna dengan tatapan yang khawatir dan juga takut terjadi apa-apa dengan mereka berdua.
" Yah... Aku kan sudah berhati-hati, namun mungkin memang takdirlu kalo aku itu bakalan jatuh! " Jawab Trisna dengan mengerutkan alis nya.
" Ayo kita pulang! Kamu sudah sembuh kan? " Tanya Rara sambil membereskan barang- barang mereka berdua.
" Ya, nggak bisa gitu dong ra? Masa pulang gitu aja sih? Kamu sok ngadi-ngadi aja deh! Kita harus tunggu dulu bagaimana pendapat Dokter. Dengerin diagnosis dokter dulu Rara! Masa kita main pergi saja? Bagaimana kalau ada luka dalam. Bagaimana kalau ada patah tulang? Emang kau mau bertanggung jawab kalau seandainya ada sesuatu yang buruk menimpa aku?" tanya Trisna cemberut.
" Ya udah kalau begitu aku akan pergi keluar dulu ya? Aku mau mencari makan untuk kita. Aku lapar sekali tahu. Sejak tadi malam aku belum makan apapun!" ucap Rara berpamitan kepada Trisna yang akhirnya hanya bisa menganggukan kepala karena bagaimanapun dia saat ini belum bisa melakukan apapun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments