Mereka pun kemudian menyelesaikan perdebatan dan memutuskan untuk kembali menyelidiki rumah kosong itu.
" Sudahlah capek aku berdebat sama kamu! " Ucap Trisna langsung berjalan kearah rumah kosong tersebut.
" Ehhh kamu mau kemana? " Tanya Rara kemudian menyusul Trisna.
" Kembali menyelidiki lah! " Ucap Trisna sambil berbalik kearah Rara.
" Owhhh.... tungguin dong! " Ucap Rara mempercepat jalan nya.
Mereka berdua pun kembali masuk kerumah kosong tersebut. Terasa sangat menakutkan dan tercium aroma darah yang sangat kental membuat Trisna dan Rara seketika merasa merinding bulu roma mereka berdiri sempurna. Hawa dingin mulai terasa menusuk kulit mereka.
" Apakah hantu itu sudah pergi? " Tanya Rara sambil memegang pundak Trisna dengan menundukkan kepalanya.
" Ahhh... Kamu indigo juga penakut! Cemen kamu! " Jawab Trisna yang langsung menyingkirkan tangan Rara dari pundaknya.
" Ah... Tadi kamu duluan lari kok daripada aku! " Ucap Rara sambil menatap Trisna kesal bukan main kepada sahabat nya yang sejak tadi terus mengolok-olok dirinya.
"Hihihi... Iya sih... " Ucap Trisna sambil tersenyum malu.
" Nah... Kan bener, ngomong elit, sadar diri sulit kamu! Dasar... " Ucap Rara sambil menatap Trisna dengan tatapan yang tajam.
Mereka pun mulai menyelidiki rumah itu, dengan cara berpencar dan melihat-lihat rumah kosong itu, siapa tahu mereka menemukan sesuatu petunjuk.
" Kita berpencar saja supaya cepat kita dapat petunjuknya! " Ucap Trisna sambil menoleh kearah Rara.
" Ya sudah kalo begitu aku ke ruangan yang ada di bawah kamu ruangan yang diatas! Oke?" Jawab Rara sambil menatap Trisna.
" Oke! " Jawab Trisna kemudian berjalan kelantai atas dengan menaiki tangga. Walaupun sebenarnya hati Trisna benar-benar ketakutan dan juga gemetar. Tetapi dia harus mendapatkan berita untuk menerangkan jeritan tengah malam yang selalu ada di dalam rumah kosong ini.
" Rumah kosong ini memang sangat besar, tapi sayang angker! " Ucap Rara sambil melihat kesetiap sudut rumah tersebut.
Saat Rara sedang fokus melihat-lihat rumah tersebut, Rara tak sengaja menangkap penampakan seorang anak kecil yang sedang bermain di dekat ruang tamu.
" Hahh... Siapa itu? masa hantu lagi!! Aduhhh... Atuttt...! " Ucap Rara yang mulai merinding karena ketakutan.
Saat Rara berjalan kearah sosok tersebut, tiba-tiba ada barang yang jatuh dan langsung pecah.
" Huhhh... Apa itu? Trisna? Kau kah itu? " Ucap Rara sambil mendekati barang yang jatuh itu.
Rara kemudian memeriksa barang yang tadi terlihat jatuh berserakan menimpa lantai yang sudah tidak bisa dikatakan mulus lagi.
Rumah itu telah kosong lebih dari 20 tahun lamanya dan selama itu tidak ada yang merawatnya lagi. Bahkan lantai-lantai sudah terlihat terangkat karena lumut dan juga akar-akar pohon yang merusaknya.
Kaca-kaca jendela saja sudah banyak yang pecah dan terlihat dinding ruangan juga sadah banyak yang retak-retak di sana sini.
" Jangan bercanda lahh... Takut aku lohhh..... Bercanda mu nggak lucu tahuuu... " Ucap Rara sambil berjalan pelan kearah barang yang jatuh tersebut.
Tiba-tiba saja ada suara tangisan bayi yang sangat mengganggu Rara.
"Ooeee..... Ooooeeeeeeee..... " Tangisan bayi tersebut yang sangat menyeramkan bagi Rara.
" Aduhh... Kayak nya gua harus lari ini mah! " Ucap Rara dengan raut wajah ketakutan.
Rara pun mencoba keluar dari rumah kosong itu namun tak bisa, karena pintu rumah tersebut terkunci dengan sendirinya.
" Aduhh... Pintunya pake acara terkunci segala lagi!! " Ucap Rara sambil terus berusaha membuka pintu dengan terus menggoyangkan gagang pintu tersebut.
Di lantai atas Trisna pun juga merasakan gangguan dari makhluk halus yang ada di rumah kosong tersebut.
Tampak jendela terbuka sendiri dan angin yang sangat kencang memasuki ruangan tempat Trisna berada.
Dorrrr... pletak... Husshhh... Suara jendela dan angin yang memasuki ruangan tersebut.
Trisna pun mencoba untuk berlari ke lantai bawah namun tiba-tiba muncul sosok penampakan hantu nenek-nenek dengan tangan dan kaki yang berlumuran darah.
Trisna pun mencoba membaca doa-doa agar sosok itu menghilang.
" Allahula Ilaha Illa hualhayyul Qoyyum... " Trisna mencoba membaca ayat kursi dan berhasil membuat sosok itu menghilang.
Trisna pun cepat-cepat berlari ke bawah.
Tiba-tiba ada sosok lagi yang terus mencoba untuk menghalanginya turun dari lantau atas. Trisna mencoba menghindar namun kakinya tersandung dan dia pun terguling di tangga hingga akhirnya pingsan.
Rara yang melihat Trisna jatuh pingsan dia pun kemudian menolong sahabatnya agar bisa tersadar kembali. Akan tetapi ternyata hal itu tidaklah mudah karena banyak darah yang mengalir dari kening sahabatnya.
" Ya Allah! Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Rara mulai frustasi.
" Segera kau bawa temanmu keluar dari rumah ini dan jangan pernah sekali-kali lagi kau datang lagi kemari dan mengganggu ketenangan kami semua yang ada di rumah ini. Kalau kau masih sayang dengan nyawa kalian berdua!" tiba-tiba ada sosok seorang wanita yang menggunakan gaun merah dan berwajah sangat seram. Hantu itu mulai menampakan wajah di hadapan Rara yang sedang gemetar karena ketakutan.
" Cepat kau angkat kaki dari rumah ini sebelum aku kehilangan kesabaran!" ucap sosok itu dengan mata melotot ke arah Rara yang masih terpaku di tempat karena dia Sejujurnya merasa sangat kesulitan untuk bergerak apalagi saat ini Trisna yang sedang pingsan dengan darah yang bercucuran di keningnya sejak tadi.
" Tunggu dulu aku harus menghubungi temanku di luar untuk membantuku membawa sahabat ku yang pingsan ini! Aku tidak kuat kalau harus membawanya sendiri!" ucap Rara yang mulai berusaha untuk bernegosiasi dengan hantu wanita yang menggunakan gaun merah yang terlihat sangat menyeramkan itu.
" Heh! Kau kata aku ini tukang dagang di pasar yang bisa kau ajak tawar-menawar? Cepat segera kau pergi dari rumah ini dan jangan pernah coba-coba kau kembali!" ucap hantu itu menebarkan aura horor yang sangat kentara di sekitar Rara.
Akhirnya dengan susah payah Rara pun kemudian menggendong Trisna yang masih pingsan. Karena darah yang terus bercucuran di kepalanya. Sehingga membuat banyak makhluk-makhluk astral yang mulai berdatangan dan menunjukkan eksistensi mereka di dunia ini karena mencium darah dari Trisna yang tercium sangat wangi bagi mereka yang haus darah.
Setelah Rara berhasil keluar dari rumah kosong itu. Rara pun kemudian memanggil tukang ojek yang kebetulan sekali lewat di depan matanya.
" Ya ampun Neng! Kamu dari mana? Kenapa itu temannya?" tanya tukang ojek itu melihat Trisna yang saat ini masih pingsan dengan darah bercucuran dan membasahi sekujur tubuh Rara yang tadi berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan sahabatnya dari rumah kosong yang sangat menyeramkan itu.
" Sudah mang! Ayo cepat kita bawa temanku ke rumah sakit jangan sampai nanti terlambat sejak tadi dia sudah kehilangan banyak darah!" ucap Rara berbicara kepada tukang ojek yang merasa kasihan kepada mereka berdua dan akhirnya menolong mereka untuk dibawa ke rumah sakit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments