Terlihat mobil berwarna hitam pekat datang memasuki permukiman Desa Cemara. Di dalam mobil terlihat dua orang gadis cantik yang memiliki kemampuan sebagai seorang Indigo yang mampu melihat makhluk halus maupun dunia alam gaib.
Mobil tersebut berhenti di depan rumah salah satu warga yang terlihat sederhana dan tidak terlalu mewah.
Pintu mobil pun terbuka dan nampak seorang gadis keluar dari mobil. Badannya tinggi dan langsing, kulitnya putih, rambutnya panjang gadis tersebut sangatlah cantik.
" Permisi, apakah saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Trisna dengan sopan kepada salah satu warga yang sedang menyapu halaman rumahnya.
" Iya ada apa ya Neng? Neng kayaknya bukan orang sini yah? saya baru lihat Neng di sini" Jawab perempuan paruh baya tersebut dengan tersenyum dan raut wajah bingung.
" Iya bu, saya bukan orang sini. Saya datang dari kota ke sini untuk menyelidiki rumah kosong yang angker itu bu," jawab Trisna dengan tersenyum ramah.
" Jangan Neng!! Lebih baik nggak usah, bahaya loh!! Lewat aja Neng bisa diganggu sama sosok arwah di situ!! Di situ tempatnya angker banget Neng!! Hati-hati, saya saranin jangan! Nanti Neng bisa kenapa-napa loh!! " ucap ibu tersebut dengan wajah yang kaget dan bingung, karena masih saja ada orang yang berani ke rumah angker tersebut.
" Oh iya Bu, Saya mau tanya di sini di mana rumahnya Pak desa atau Balai Desa?" tanya Trisna mengalihkan pembicaraan karena bisa saja ia tidak jadi menyelidiki rumah kosong tersebut kalau dia terus mendengar ibu itu bicara dan terus membujuknya agar jangan menyelidiki rumah kosong itu.
Berdasarkan sumber kabar yang bisa di percaya oleh Trisna, di rumah kosong itu selalu terdengar jeritan di tengah malam yang membuat warga sekitar ketakutan dan tidak berani melintas di sana.
"Ohhh... Neng nanti tinggal lurus dari sini, ada pertigaan Neng belok kanan rumah warna hijau yang atapnya warna biru, itu sudah rumahnya Pak Desa, " jawab ibu itu sambil tersenyum dan mengarahkan jalan pada Trisna yang masih belum paham desa itu.
" Oh iya Bu, makasih Saya pergi dulu ya Bu, permisi, maaf sudah mengganggu waktu ibu!! " Ucap terisna dengan tersenyum ramah kemudian berjalan ke arah mobil yang dia sewa untuk sampai ke desa Cemara.
" Gimana?" tanya Rara kepada Trisna yang baru saja membuka pintu mobil.
" Hampir aja kita nggak jadi menyelidiki rumah kosong itu, karena ibu-ibu tadi nyaranin untuk jangan melakukan hal itu!! Katanya sangat berbahaya. Tapi kita aja yang keras kepala!! Jujur sih Ra, aku penasaran sekali dengan rumah kosong itu," ucap Trisna dengan wajah penasaran dan juga lega.
" Kamu nggak bilang mau nyerah bukan??" tanya Rara dengan wajah kagetnya.
" Enggak lah mana mau. Kita udah jauh-jauh kita ke sini demi menyelidiki rumah kosong itu, sia-sialah kalau aku bilang iya," ucap Trisna langsung menjawab pertanyaan Rara.
" Hmmm... baguslah!" ucap Rara dengan perasaan lega.
" Bang, Lurus...ada pertigaan belok kanan, ada rumah warna hijau atapnya biru berhenti ya!! " ucap Trisna memberi arahan kepada sopir mobil yang dia sewa bersama Rara.
" Siap Neng!! " ucap sopir mobil tersebut dengan tersenyum.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah Pak Kades.
"Permisi!" ucap Trisna sambil berdiri di depan pintu rumah Pak Kades.
" Ya, siapa ya?" tanya Pak Kades terkejut dan kemudian berjalan keluar dari rumahnya yang paling mewah di antara rumah warga lainnya.
" Permisi Pak saya mau tanya. Benar ini rumah Pak Kades?" tanya Trisna.
" Benar Neng!" jawab Pak Kades pelan.
" Apakah di sini ada kost-kostan yang dekat dari rumah kosong yang terkenal angker itu?" tanya Trisna tanpa basa-basi lagi kepada pak Kades dan to the point.
" Apa? Neng jangan bercanda Neng! Rumah itu sangat angker Neng!" ucap Pak Kades tampak sangat terkejut sekali.
" Saya serius pak dengan tujuan itu. Saya datang kemari untuk menyelidiki rumah kosong itu yang kabarnya adalah tempat terjadinya pembantaian sekitar 20 tahun yang lalu oleh kawanan perampok yang kejam dan sadis!" ucap Trisna dengan semangat dan penuh keberanian.
Terlihat Pak Kades yang kesulitan menelan salivanya sendiri. Ketika dia mendengarkan jawaban dan juga keberanian Trisna.
" Kalau dekat dengan rumah kosong itu nggak ada Neng, soalnya nggak ada yang berani bangun rumah di dekat rumah kosong itu, apalagi kos-kosan, lewat aja warga pada takut!! " jawab Pak Kades dengan serius.
" Owhhh, kalo agak jauhan dari rumah kosong itu ada nggak Pak?" tanya Trisna dengan rasa khawatir, karena Trisna takut kalau ia sampe tidak jadi menyelidiki rumah kosong tersebut.
Apalagi dia sudah jauh-jauh dari kota hanya untuk menyelidiki rumah kosong tersebut yang sangat membuat dia penasaran sekali dengan kisah di balik rumah itu.
" Kalau agak jauhan dari rumah itu ada, tapi kalau yang dekat nggak ada. Apakah Neng mau? " tanya Pak Kades menawarkan.
" Okelah pak, daripada saya tidak bisa menginap di mana-mana, mending saya menginap di tempat yang Bapak bilang tadi ajah," jawab Trisna dengan pasrah.
" Baiklah Neng, mau diantar?" tanya Pak Kades menawarkan diri
" Boleh Pak, saya ambil barang-barang dulu ya di mobil," ucap Trisna sambil tersenyum kemudian berjalan ke arah mobil.
" Boleh atuh Neng silakan, biar saya bantu!! ! " Ucap Pak Kades sambil berjalan mengikuti Trisna untuk membantu Trisna membawa barang-barang.
Trisna pun memanggil Rara untuk keluar agar Dia membantu Trisna dan Pak Kades membawa barang-barang mereka berdua.
" Rara! Ayo bawa barang-barang!!! Sudah dekat tempat kosnya kita!! Jangan sampai kamu cuma di mobil aja. Ayo bantuin aku!! " ucap Trisna sambil menggenggam tangan Rara dan menariknya untuk keluar dari mobil dan membawa barang-barang sambil berjalan menuju rumah Pak Joko sang pemilik kost-kostan yang rumahnya tidak jauh dari rumah Pak Kades dan hanya berjarak sekitaran 50 meter.
" Iya atuhhh... sabar!!! Lagian Kamu aneh sih Tris. Kita kan bisa ke sana naik mobil. Kenapa harus jalan kaki? Kan cape!" protes Rara sambil mengkerutkan alisnya.
" Sekalian lihat sekitar sini. Pak Desa sudah nungguin di luar!!" ucap Trisna kemudian berjalan ke arah bagasi untuk mengambil barang-barang dibantu oleh Pak Kades.
" Neng Trisna dari mana? Kayaknya orang jauh!!" tanya Pak Kades pada Trisna sambil berjalan membawa barang-barang Trisna dan Rara.
" Saya dari Garut, Pak. " jawab Trisna singkat.
"Oohh kirain dari Jakarta!!" Ucap Pak Kades sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di tempat yang mereka tuju yaitu rumahnya Pak Joko pemilik kost-kostan yang akan ditempati Trisna dan Rara.
" Assalamualaikum Pak Joko!! " ucap Pak Kades dengan nada tinggi namun halus.
" Waalaikumsalam Pak Kades. Ada apa pagi-pagi sudah ke sini? " jawab Pak Joko.
" Ini ada orang mau ngekost dari kota, masih ada toh kamarnya yang kosong?" tanya Pak Kades kepada Pak Joko.
" Masih ada tiga kamar, Pak!" jawab Pak Joko kepada Pak Kades sambil tersenyum, karena ia bahagia pagi-pagi sudah ada rezeki.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Aishnina(✿ ♥‿♥)
trisna biasanya Nama cowok thor
2024-01-30
0