Telpon Dari Ibu

Yesha pulang ke rumahnya jam lima sore dengan menaiki sepeda yang dipinjamkan oleh bu Dian. Dia benar-benar merasa bersyukur atas apa yang dia dapatkan hari ini. Seorang majikan dan teman-teman yang baik. Dia tidak pernah berfikir sebelumnya kalau semua ini akan terjadi padanya. Sedikit berontaknya dia kepada keluarga suaminya, seolah melepaskan sedikit ikatan yang menjerat lehernya.

Setelah menjalankan sholat maghrib, Yesha sedang mengajari Aksa mengaji. Hingga deru suara motor milik Dika berhenti di depan rumah. Dika masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam, membuat Yesha dan Aksa saling berpandangan dan menghembuskan nafas secara bersamaan.

"Sudah pulang mas? " Yesha menyapa Dika yang dari tadi hanya diam saja.

"Kamu lihat sendiri kan aku sudah dirumah sekarang. " jawab Dika dengan ketus.

Yesha tidak menghiraukannya, dia langsung ke dapur dan membuatkan teh untuk Dika. Lalu menghidangkannya di meja.

"Tumben pulang cepet, kemarin bilang dua hari. " Yesha mencoba berbasa basi dengan suaminya itu.

"Ini semua karena kamu, karena kamu tidak ke rumah ibu. Ibu menerorku selama kerja tadi. " ujar Dika dengan geramnya.

"Hah... aku harus bagaimana? Kamu sama ibu sudah sering menyuruhku kerja, sekarang aku sudah cari kerja salah lagi. Bahkan aku mengajak Aksa kerja lho ,mas. Terus aku harus bagaimana mas? " kata Yesha yang sudah merasa kesal dengan pembicaraan ini.

"Entahlah, Sekarang bersiaplah. Kita ke rumah ibu."

Tanpa banyak bicara lagi Yesha beranjak dari duduknya dan bersiap kerumah ibu mertuanya, walau sebenarnya dia enggan. Tapi karena suaminya yang meminta akhirnya dia menuruti.

Yesha, Dika dan Aksa sudah sampai di rumah bu Ayu, rumah mertua Yesha. Mereka duduk di ruang keluarga bersama dengan semua orang yang ada di rumah itu.

"Tumben, ada apa kalian kemari. Biasanya juga kalian kemari sendiri-sendiri. Yesha pagi, Dika malamnya. " sapa Bagus kakak Dika.

"Ga ada mas, cuma pengen main aja. " Dika yang menjawab.

Yesha hanya diam saja seperti biasa, dia tidak akan menjawab kalau tidak di tanya. Bu Ayu dan Dila juga diam saja sejak tadi, seolah acuh dna tidak peduli dengan kedatangan mereka. Mereka berdua masih merasa kesal, karena Yesha tidak datang ke rumah tadi akhirnya mereka berdua yang harus bersih-bersih rumah. Sedangkan Maya entah kemana.

"Ibu kenapa? kok cuek gitu aku datang. " Dika menyapa ibunya yang dari tadi berpaling darinya dan tidak mau melihat wajahnya.

"Males." jawab bu Ayu ketus.

Dika yang tidak bisa melihat ibunya marahpun akhirnya mengeluarkan jurus terakhirnya, agar ibunya itu tidak marah dan cuek lagi padanya.

"Nih bu, Dika ada sedikit rejeki buat ibu. " kata Dika sambil membuka dompetnya.

Benar saja Bu Ayu langsung menoleh ke arah dika yang sedang menghitung uang di dompetnya. Matanya langsung berbinar melihat lembaran uang merah yang ada ditangan Dika.

"Nih, bu, sejuta buat jajan Tadi Dika dapat bonus dari kantor. " Dika memberikan sepuluh uang ratusan ribu kepada ibunya. Membuat semua orang yang ada di sana menelan ludahnya, tapi tidak dengan Yesha dia masih diam dan memasang wajah datar.

Yesha menatap datar ke arah suaminya yang memberikan uang secara cuma-cuma kepada ibunya. Tanpa memikirkan perasaannya sedikitpun. Keadaan seperti ini sering Yesha lihat, karena rasa sayangnya kepada sang ibu, Dika tidak segan-segan memberikan apapun dan berapapun yang ibunya minta dengan dalih bakti kepada sang ibu.

Berbanding terbalik ketika dirinya yang meminta uang, yang dia dapatkan adalah cacian dan makian terlebih dahulu sebelum mendapat lemparan uang suaminya. Sungguh ini tidak adil bagi Yesha yang adalah istrinya sendiri.

"Dik, besok-besok aku pinjam uang dua juta dong buat acara rekreasinya si Harum keponakanmu dua minggu lagi. " kata Bagus yang sudah sadar setelah melihat gepokan uang di dompet adiknya.

"Ya nanti aku transfer aja mas, ini buat pegangan aku soalnya. "

"Oke deh, makasih ya. Bukannya Aksa juga mau rekreasi juga ya, bareng Harum? rekreasi perpisahan sekolah, mereka kan satu sekolah. " kata bagus lagi.

Dika menoleh kearah anak dan istrinya yang dari tadi diam. "Beneran Yes? " tanyanya kemudian.

Yesha hanya mengangguk tanpa bersuara sedikitpun.

"Alah, ga usah ikut mending di rumah aja. Kan si Yesha baru dapat kerja. Mana mungkin bisa minta libur dia, masa pegawai baru mau langsung minta libur. " Celetuk bu Ayu yang tidak ingin menantunya itu menghabiskan uang anaknya.

"Bener tu, mending ga usah ikut. buang-buang duit aja." sahut Dila yang masih sakit hati dengan Yesha.

Yesha tak menjawab sepatah katapun apa yang dibicarakan mereka. Toh jawaban nya pasti sama, karena Dika lebih mendengarkan ibunya daripada istrinya. Jadi dia lebih baik diam. Yesha juga merasa lebih baik bekerja dari pada bepergian, tapi dia juga memikirkan anaknya. Bagaimana perasaan anaknya, saat yang lain bersenang-senang tapi dirinya malah ikut ibunya kerja. Nanti akan Yesha tanyakan apa yang Aksa inginkan.

Mereka masih ngobrol santai di sana tanpa menghiraukan adanya Yesha dam anaknya. Terkadang Yesha di ajak bicara, tapi itupun kata-kata pedas yang keluar dari mulut mereka. Dika yang mendengar tak sedikitpun ada niatan untuk membelanya atau melarang keluarganya untuk menghinanya. Itu sudah biasa bagi Yesha, tapi tidak dengan Aksa. Anak sekecil itu sudah harus mendengarkan ibunya dihina habis-habisan tanpa memikirkan mentalnya.

"Kami pulang dulu, bu, mas. Udah malem. " pamit Dika kepada keluarganya.

"Ya sudah, hati-hati Dik. " kata Bagus sambil menepuk punggung adiknya itu.

"Jangan lupa transferannya ya. " bisiknya di telinga Dika.

"Beres, mas. "

Mereka bertiga akhirnya pulang ke rumah, Dika sudah merasa lega karena ibunya sudah tidak marah lagi. Sore tadi ibunya menelpon lagi, dan mengadu karena kecapean mengurus rumah sendiri. Dan marah pada Dika, karena tidak bisa membujuk Yesha untuk membantu di rumahnya. Karena itu malam ini Dika mengajak Yesha datang ke rumah ibunya, agar ibunya itu tidak marah lagi padanya.

Sesampainya dirumah, Yesha langsung menyuruh Aksa ke kamarnya, agar segera tidur. Karena besok harus sekolah dan tidak kesiangan. Aksa pun menurut perintah ibunya.

Yesha juga sudah bersiap dengan baju tidurnya tanpa menghiraukan Dika, dia sudah sangat capek hari ini. Moodnya yang sehari sudah bagus berubah buruk dalam hitungan menit karena hinaan dari keluarga suaminya. Yesha kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasurnya, tak lama Dika menyusuk.

"Kamu kenapa diam aja dari tadi? " tanya Dika yang akhirnya mau bicara dengannya.

"Ga papa, aku capek. Lagi pula kalau aku bicara memangnya akan ada yang berubah? " jawabnya dengan ketus.

Dika terdiam, dia tau sikap keluarganya sudah keterlaluan kepada Yesha. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena takut ibunya akan marah padanya dan mengecap nya sebagai anak durhaka jika membela istrinya. Dan dia tidak mau itu terjadi, dia ingin selalu di cap sebagai anak yang berbakti walau harus mengorbankan perasaan istrinya.

"Yesha, aku pengen nih. Udah berapa hari ga di manjain sama kamu. " Dika mencoba membujuk Yesha.

Yesha bergeming tak menghiraukan ucapan suaminya.

"Dosa lho, kalau nolak suami. " ancam Dika.

Ysha yang mendengar itu, menghembus nafasnya kasar. Lalu dia berbalik dan menatap ke arah Dika. Dia sadar, bagaimanapun pria di sampingnya ini masih suaminya dan dia harus melayaninya sebagsi seorang istri. Akhirnya malam ini Yesha melayani Dika walau hanya dengan setengah hati.

Pagi harinya, Yesha dan Aksa sudah siap. Mereka akan melakukan kegiatan hari ini seperti biasa. Dika yang melihat senyuman Yeshapun ikut tersenyum, karena tidak biasanya Yesha tersenyum seperti itu. Mungkin bekerja bisa membuatnya bahagia. pikir Dika.

"Sepeda siapa itu Yes. " tanya Dika yang tidak menyadari kalau ada sepeda di rumahnya.

"Oh, itu sepeda majikanku. Beliau meminjamkannya kepadaku, untuk menjemput Aksa pulang sekolah untuk mempersingkat waktu." kata Yesha dengan nada sindiran.

Dika manggut-manggut. "Ya sudah, aku kerja dulu. Ga tau nanti pulang apa enggak. Nunggu perintah dari bos, nanti aku kabari kamu kalau aku ga pulang. "

"Iya, " Yesha lalu menyalami punggung tangan Dika.

Setelah Dika pergi, kini giliran Yesha dan Aksa yang akan pergi kesekolah dan bekerja.

Di tempat kerja, Yesha mendapat telpon dari orangtuanya di kampung.

"Assalamualaikum bu. "

"Waalaikum salam, piye kabarmu nduk? " (gimana kabarmu nak? )

"Alhamdulillah apik bu. ono opo kok tumben eram telpon " (Alhamdulillah baik bu, ada apa tumben

telpon)

Ibu Yesha terkekeh mendengar ucapan putrinya itu.

"kowe opo ora muleh to nduk, bapak karo ibu wes kangen iki. " (kamu apa ga pulang, nak. bapak sama ibu sudah kangen. )

"InsyaAllah bu, saiki aku iseh kerjo. Mengko lek wes oleh prei aku tak muleh karo Aksa." (InsyaAllah bu, sekarang aku masih kerja. Nanti kalau sudah bolej libur, aku akan pulang dengan Aksa.)

Ibu Yesha mengernyit saat mendengar anaknya sekarang kerja. Ada sedikit kecurigaan di hati ibunya mendengar ucapan Yesha tadi.

"Oohh, saiki kowe kerjo to. Ya wes, lek ngunu. Tapi ibu njaluk tulong, lek iso rong minggu engkas usahano kowe iso mulih yo. Bapak onok perlu karo kowe. " (Ooh, sekarang kamu kerja. Ya udah kalau begitu. Tapi ibu minta tolong, dua minggu lagi kamu usahakan untuk pulang. Bapak ada perlu sama kamu. )"

"Ono perlu opo to, bu. Kok koyoke penting eram." (ada perlu apa sebenarnya bu, kok sepertinya penting banget.)

"Iki lho, bapakmu oleh warisan teko mbahmu. Bagi-bagi sawah karo pak lek mu. Trus sawahe pak mu iku kenek proyek perumahan, kate di tuku pemborong. Wes to, mrinio. Mengko lak ngerti dewe, kowe. " (Ini lho, bapakmu dapat warisan dari kakekmu. Bagi-bagi sawah sama pamanmu. Terus sawahnya bapakmu itu kena proyek perumahan, mau dibeli pemborong. Sudahlah, kamu segera kesini. Nanti kamu juga akan mengerti)

"Ya wes bu, aku mengko tak coba ngomong nang juraganku. Tak njaluk prei. " (Ya udah bu, nanti aku akan coba bicara sama majikanku. Aku akan minta cuti.)

"Ya wes lek ngunu, Assalamu'alaikum. " ( ya udah kalau begitu, assalamu'alaikum)

"Wa'alaikum salam. "

Panggilan terputus. Yesha mengehela napas dalam dan menghembuskannya secara perlahan.

Kini dia berpikir, haruskah dia pulang bersama dengan Dika? kalau dia pulang dengan Dika, maka Dika akan tahu kalau selama ini orang tuanya bukanlah orang miskin. orang tuanya memiliki beberapa hektar sawah yang apabila di jual, menghasilkan uang milyaran belum lagi warisan dari kakeknya.

Orang kampung memang terlihat miskin dari luar karena kehidupan mereka yang sederhana. Membangun rumah pun sederhana tidak harus mewah yang penting nyaman untuk berteduh dari teriknya matahari dan derasnya hujan. Tapi dibalik kesederhanaan itu, ada kekayaan yang terbentang luas.

"Dont judge a book by its cover. "

to be continue.

Terpopuler

Comments

Sumintiari Widiastuti

Sumintiari Widiastuti

Yg betul itu, don't judge the book by cover.
tdk pake it's.
terimakasih

2024-12-16

1

Ani Ani

Ani Ani

laki nya bodoh

2024-07-22

0

Neneng Liauw

Neneng Liauw

s bucin psti ngomong k suaminya, secara kn takut d tinggal.

2024-06-22

0

lihat semua
Episodes
1 Tajamnya Lidah Mertua
2 Mencoba Melawan
3 Alasan Bekerja
4 Hari Pertama Bekerja
5 Telpon Dari Ibu
6 Pulang Kampung
7 Warisan
8 Langkah Pertama
9 Mulai Terkuak
10 Mulai Terkuak ( 2 )
11 Alasan Menikahi Yesha
12 Talak
13 Pergi Dari Rumah
14 Mengunjungi Bu Dian.
15 Penyesalan Dika
16 Kedatangan Bu Erina
17 Bekal Makan Siang
18 Surat Cerai
19 Bertemu Calon Mantan
20 Ayah Sementara
21 Desakan Dari Ibu Ayu
22 Janda Terhormat
23 Ketok Palu
24 Penyesalan dan Rasa Syukur
25 Toko Perhiasan
26 Penasaran
27 Perasaan Abhi
28 Masa Lalu Abhi
29 Hasutan Bu Ayu
30 Pertemuan Tak Disengaja
31 Pertemuan Tak Disengaja ( 2 )
32 Pertemuan Tak Di Sengaja ( 3 )
33 Keputusan Dika
34 Perjuangan dan Obsesi
35 Pernikahan Dika
36 Permintaan Papa
37 Keinginan Aksa
38 Rencana Papa Abhi
39 Harus Meyakinkan Diri
40 Bertemu Sahabat Lama
41 Alasan Abhi Menghilang
42 Keadaan Vio
43 Shock Therapy
44 Lamaran Tidak Langsung
45 Dewasa dan Kekanakan
46 Remaja Tua
47 Toko Perhiasan ( 2 )
48 Manipulasi Keadaan
49 Abhi dan Yesha
50 Tidak Tau Malu
51 CEO Baru
52 Ancaman Abhi
53 Istri Idaman
54 Menyusul Keputusan Yesha
55 Bertemu Yesha
56 Bukan Seorang Malaikat
57 Kekhawatiran Abhi
58 Obrolan Dua Pria
59 Sah
60 Resepsi
61 Hadiah Dari Jihan
62 Malam Pertama
63 Permintaan Vio
64 Pesan Terakhir
65 Karma Yang Bekerja
66 Mencari Suami Untuk Dila
67 Dila Pergi
68 Boomerang
69 Pembantu Ngelunjak
70 Hamil
71 Kabar Bahagia
72 Ketahuan
73 Dila Kabur
74 Memohon Maaf
75 Bertemu Dika
76 Bertemu Dika (2)
77 Hasil Tes DNA
78 Karma
79 Dika Mau Menikah Lagi?
80 Sadar
81 Keinginan Dua Bocah
82 Rencana Dika
83 Mempermalukan
84 Bertemu Agus
85 Ungkapan Rasa
86 Dika Dan Maya
87 Erhan dan Nisa Menyapa
88 Mario
89 Masa Lalu
90 Fakta
91 Ulang Tahun Abhi
92 Drama Suami Istri
93 Fakta Tentang Arum
94 Keputusan Arum
95 Drama Tiga Wanita
96 Pernikahan Dila dan Agus
97 Kedatangam Bu Ayu
98 Pemintaan Maaf
99 Dila Melahirkan
100 Pernikahan Maya dan Mario
101 Cerita Arum
102 Arion Menyapa
103 Akhir Dari Semua Kisah Bahagia
104 Author Menyapa
105 #S2 Dika 1
106 #S2 Dika 2
107 #S2 Dika 3
108 #S2 Dika 4
109 #S2 Dika 5
110 #S2 Dika 6
111 #S2 Dika 7
112 #S2 Dika 8
113 #S2 Dika 9
114 #S2 Dika 10
115 #S2 Dika 11
116 #S2 Dika 12
117 #S2 Dika 13
118 #S2 Dika 14
119 #S2 Dika 15
120 #S2 Dika 16
121 #S2 Dika 17
122 #S2 Dika 18
123 #S2 Dika 19
124 #S2 Dika 20
125 #S2 Dika 21
126 #S2 Dika 22
127 #S2 Dika 23
128 #S2 Dika 24
129 #S2 Dika 25
130 #S2 Dika 26
131 #S2 Dika 27 (Dika Dan Aksa)
132 #S2 Dika 28
133 #S2 Dika 29
134 #S2 Dika 30
135 #S2 Dika 31
136 #S2 Dika 32
137 #S2 Dika 33
138 #S2 Dika 34
139 #S2 Dika 35
140 #S2 Dika 36
141 #S2 Dika 37
142 #S2 Dika 38
143 #S2 Dika 39
144 #S2 Dika 40
145 Promosi Novel
146 #S2 Dika 41 (End)
147 Promosi Novel Baru
Episodes

Updated 147 Episodes

1
Tajamnya Lidah Mertua
2
Mencoba Melawan
3
Alasan Bekerja
4
Hari Pertama Bekerja
5
Telpon Dari Ibu
6
Pulang Kampung
7
Warisan
8
Langkah Pertama
9
Mulai Terkuak
10
Mulai Terkuak ( 2 )
11
Alasan Menikahi Yesha
12
Talak
13
Pergi Dari Rumah
14
Mengunjungi Bu Dian.
15
Penyesalan Dika
16
Kedatangan Bu Erina
17
Bekal Makan Siang
18
Surat Cerai
19
Bertemu Calon Mantan
20
Ayah Sementara
21
Desakan Dari Ibu Ayu
22
Janda Terhormat
23
Ketok Palu
24
Penyesalan dan Rasa Syukur
25
Toko Perhiasan
26
Penasaran
27
Perasaan Abhi
28
Masa Lalu Abhi
29
Hasutan Bu Ayu
30
Pertemuan Tak Disengaja
31
Pertemuan Tak Disengaja ( 2 )
32
Pertemuan Tak Di Sengaja ( 3 )
33
Keputusan Dika
34
Perjuangan dan Obsesi
35
Pernikahan Dika
36
Permintaan Papa
37
Keinginan Aksa
38
Rencana Papa Abhi
39
Harus Meyakinkan Diri
40
Bertemu Sahabat Lama
41
Alasan Abhi Menghilang
42
Keadaan Vio
43
Shock Therapy
44
Lamaran Tidak Langsung
45
Dewasa dan Kekanakan
46
Remaja Tua
47
Toko Perhiasan ( 2 )
48
Manipulasi Keadaan
49
Abhi dan Yesha
50
Tidak Tau Malu
51
CEO Baru
52
Ancaman Abhi
53
Istri Idaman
54
Menyusul Keputusan Yesha
55
Bertemu Yesha
56
Bukan Seorang Malaikat
57
Kekhawatiran Abhi
58
Obrolan Dua Pria
59
Sah
60
Resepsi
61
Hadiah Dari Jihan
62
Malam Pertama
63
Permintaan Vio
64
Pesan Terakhir
65
Karma Yang Bekerja
66
Mencari Suami Untuk Dila
67
Dila Pergi
68
Boomerang
69
Pembantu Ngelunjak
70
Hamil
71
Kabar Bahagia
72
Ketahuan
73
Dila Kabur
74
Memohon Maaf
75
Bertemu Dika
76
Bertemu Dika (2)
77
Hasil Tes DNA
78
Karma
79
Dika Mau Menikah Lagi?
80
Sadar
81
Keinginan Dua Bocah
82
Rencana Dika
83
Mempermalukan
84
Bertemu Agus
85
Ungkapan Rasa
86
Dika Dan Maya
87
Erhan dan Nisa Menyapa
88
Mario
89
Masa Lalu
90
Fakta
91
Ulang Tahun Abhi
92
Drama Suami Istri
93
Fakta Tentang Arum
94
Keputusan Arum
95
Drama Tiga Wanita
96
Pernikahan Dila dan Agus
97
Kedatangam Bu Ayu
98
Pemintaan Maaf
99
Dila Melahirkan
100
Pernikahan Maya dan Mario
101
Cerita Arum
102
Arion Menyapa
103
Akhir Dari Semua Kisah Bahagia
104
Author Menyapa
105
#S2 Dika 1
106
#S2 Dika 2
107
#S2 Dika 3
108
#S2 Dika 4
109
#S2 Dika 5
110
#S2 Dika 6
111
#S2 Dika 7
112
#S2 Dika 8
113
#S2 Dika 9
114
#S2 Dika 10
115
#S2 Dika 11
116
#S2 Dika 12
117
#S2 Dika 13
118
#S2 Dika 14
119
#S2 Dika 15
120
#S2 Dika 16
121
#S2 Dika 17
122
#S2 Dika 18
123
#S2 Dika 19
124
#S2 Dika 20
125
#S2 Dika 21
126
#S2 Dika 22
127
#S2 Dika 23
128
#S2 Dika 24
129
#S2 Dika 25
130
#S2 Dika 26
131
#S2 Dika 27 (Dika Dan Aksa)
132
#S2 Dika 28
133
#S2 Dika 29
134
#S2 Dika 30
135
#S2 Dika 31
136
#S2 Dika 32
137
#S2 Dika 33
138
#S2 Dika 34
139
#S2 Dika 35
140
#S2 Dika 36
141
#S2 Dika 37
142
#S2 Dika 38
143
#S2 Dika 39
144
#S2 Dika 40
145
Promosi Novel
146
#S2 Dika 41 (End)
147
Promosi Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!