18

Kaela menatap punggung tegap yang ia rindukan ini, sudah berapa bulan mereka tidak pernah menghabiskan waktu untuk berdua. Punggung tegap itu tampak begitu gagah untuk menghalau sinar matahari yang menebus jendela kamar tidurnya itu. Jeno berdiri menatap pemandangan laut dari luar jendela kamar tidurnya itu dengan kedua tangannya di dalam saku celananya.

“Apa kabar, Jen?” tanya Kaela untuk pertama kalinya setelah sekian bulan mereka sudah tidak bertemu. Ia merindukan Jeno-nya.

“Gue baik, Kaela. Lo apa kabar?” tanya Jeno kembali dengan suara beratnya yang sudah tidak sehangat dulu. Kaela berdiri dari duduknya, ia mencoba memperkecil jaraknya dengan lelaki itu.

“Lo selama ini ke mana?” tanya Kaela dengan suaranya yang lembut dan terdengar pelan. Kaela melihat Jeno kini membalikkan badannya ke arahnya, sepenuh ke arahnya. Tatapan mata bulan sabit itu, begitu ia rindukan.

“Gue nggak ke mana-mana, Kaela. Gue masih di sini ketika lo panggil gue, ketika lo butuh gue, gue masih di sini. Jadi, tolong jangan menganggap gue itu kayak menghilang. Padahal gue di sini,” jawab Jeno dengan tatapan tajamnya kepada Kaela.

Kaela meremat dress-nya untuk menghantar kesedihan dan kegugupannya. “Gue ganggu, ya?” tanya Kaela kembali dengan kepalanya sedikit menunduk.

Jeno menghela napasnya dengan berat, ia pun menyugarkan rambutnya untuk menghilangkan rasa lelahnya. “Gue lagi nggak bisa diajak untuk bahas seperti ini. Gue lagi capek, Kae. Jadi, tolong dulu untuk nggak bahas, ya,” jelas Jeno yang kini nadanya kembali melembut, ia bahkan sudah berada dekat dengan Kaela, ia menyentuh bahu gadis itu dengan lembut.

Kaela pun menatap Jeno yang sudah tersenyum kepadanya, usapan lembut Jeno di bahunya membuat Kaela kembali jatuh cinta kepada lelaki di hadapannya. Entah berapa kali lelaki itu menyakitinya tanpa ia sadari, tetapi kesekian kali pula ia kembali jatuh kepada lelaki itu.

“Jeno,” panggil Kaela dengan tatapan penuh cintanya kepada lelaki itu.

“Hm.” Jeno menyahut panggilan itu dengan senyumannya.

“Gue jatuh cinta sama seseorang, Jen. Gue jatuh terlalu dalam sama dia, gue terlalu bahagia lihat senyuman dia, gue bahagia lihat dia memperhatikan gue, gue bahagia kalau itu dia.” Ucap Kaela dengan tatapannya begitu dalam kepada lelaki di hadapannya itu.

Jeno menyunggingkan senyumannya, “oh, ya? Siapa itu? Kenalin ke gue dong.”

Kaela mengangkat tangannya untuk mengusap pipi Jeno dengan lembut, ia begitu mencintai lelaki ini. “Gue terlalu jatuh cinta ke lo, Jeno Janurio.”

Jeno melunturkan senyumannya, ia terkejut dan tidak menyangka. Sahabat kecilnya menyatakan cinta kepadanya. Kaela meneteskan airmatanya, ia menurunkan kembali tangannya yang mengusap pipi lelaki itu. “Gue lelah nahan semua perasaan gue ke lo, Jeno. Gue jatuh cinta ke Jeno tanpa perlu tahu ke depannya bagaimana. Apa yang harus gue buat, Jen?” ucap Kaela dengan isakan tangisnya yang pelan.

Jeno hanya diam, ia tidak menjawab, ia juga membiarkan gadis itu menangis. Ia bingung, ia tidak tahu jika Kaela menaruh perasaan kepadanya. Getaran ponselnya membangunkan kebingungan yang terjadi, Jeno menarik ponsel itu dan melihat nama kekasihnya memanggilnya, ia meremat pelan ponselnya dan menatap Kaela yang masih menangis,

“Gue pulang.” Dan begitulah Jeno pergi menjauh dari Kaela setelah ungkapan cinta Kaela. Kaela terjatuh ke lantai kamar tidurnya, ia sudah menggali lubang yang dalam untuk hubungannya dengan Jeno, tidak ada lagi senyuman itu untuk dirinya.

“Maafin aku, maafin aku yang nggak bisa nahan perasaan aku ke kamu.”

- - -

Rhea menggoyangkan penanya dengan rasa bosan yang melandanya, guru tengah menerangkan pelajaran yang sudah ia lewati dan ia pahami sebelumnya dan kini ia menunggu waktu istirahat akan datang. Ia menopang dagunya sembari melirik Jaemin yang sibuk mencatat materi yang tengah dijelaskan oleh guru itu.

“Sst..Na,” bisik Rhea memanggil Jaemin yang tampak serius. Jaemin yang tengah tidak bisa diganggu, tampaknya memberi respon menyikutnya dengan pelan.

“Ish, lihat aku dulu!” kembali Rhea mencoba mencari perhatian Jaemin. Jaemin hanya melototkan kedua matanya sebentar untuk menegur sahabatnya itu. Rhea berdecak kecil, Jaemin sebentar lagi akan marah jika ia kembali mengganggunya.

Rhea menghembuskan napas dengan pelan, ia ingin tidur saja tetapi pasti akan kena masalah. Oke, jika seperti ini kondisinya, ia akan permisi untuk keluar saja. Rhea mengangkat salah satu tangannya, Jaemin yang tengah serius pun seketika sedikit terkejut saat sahabatnya tiba-tiba bangkit berdiri.

“Kae, lo mau—”

“Miss boleh permisi ke toilet?” ucapan Jaemin terpotong saat suara gadis itu dengan lantangnya meminta izin keluar. Guru yang tengah menjelaskan itu pun terhenti sebentar, lalu menganggukkan kepalanya dan mulai kembali menjelaskan.  Rhea tersenyum bahagia, ia mengedipkan satu matanya ke arah Jaemin, lalu berlalu begitu saja keluar dari kelas.

Jaemin melirik sahabatnya yang melenggang santai keluar dari kelasnya itu, ia menyunggingkan senyumannya dengan tatapannya kembali ke arah gurunya. “Aku tahu kamu, Kaela.”

Rhea berhasil keluar dari kelas dengan aman, jam-jam sekarang pasti banyak murid dari kelas lain yang tengah berolahraga. Ia jadi iri, ingin sekali setiap datang ke sekolah mata pelajarannya hanya olahraga saja, istirahat, olahraga kembali. Rhea mengerucutkan bibirnya sembari menatap iri ke arah lapangan itu.

“Kaela!” Nama Kaela terpanggil, Rhea yang tampaknya berjalan menuju lapangan pun terhenti. Ia melihat sekelompok lelaki pemain basket tengah memanggil Kaela dengan senyuman.

“Buset, ganteng amat. Ada gerangan apa sih, kawan?” batin Rhea memuji.

Rhea hanya membalasnya dengan senyuman, tetapi tangannya dia angkat sebagai bentuk responnya kepada panggilan itu.

“Ngapain di situ? Sini gabung!” ajak salah satu kelompok dari lelaki pemain basket. Kesempatan yang bagus, Rhea yang juga tengah bosan pun menghampiri mereka dengan senang hati. Ia jadinya membuat Kaela menambah pertemanan.

Rhea memberikan senyuman ramah kepada sekelompok lelaki pemain basket itu saat menyambutnya dengan ramah pula, “ada apa, nih? Kalian kenal aku?” tanya Rhea dengan berpura-pura polos. Tak mungkin ia langsung ajak by one.

“Eh, gue dengar-dengar, lo bakalan dipilih jadi tim inti voli sekolah kita, ya?”

“Wih, hebat banget, Kaela.”

“Iya, lo itu hebat tahu! Baru masuk, sudah mau dipilih jadi tim inti voli.”

“Mana tim voli sekolah kita itu terkenal ketat dan susah, lho.”

“’Kok bisa, Kaela? Lo, kan pendek.”

Dan untuk ucapan yang terakhir itu membuat Rhea menatap datar ke arah lelaki yang bertubuh tinggi itu, “maksudnya apa ya, kak? Ini lagi kasih informasi atau ngejek Kaela?” ucap Rhea dengan kalimat sarkasnya. Ia dari dulu sangat sensitif dengan tinggi badannya dijadikan bahan diskusi.

“Eh, bu-bukan maksud ingin mengejek, tapi emang pendek, kan?” salah satu lelaki itu tampaknya benar-benar polos. Rhea menyunggingkan senyumannya yang terlihat kesal, ia berkacak pinggang dengan satu tangannya, lalu menatap lelaki itu dengan senyuman tak sampai matanya.

“Iya, Kaela tahu, kalau Kaela pendek. Tapi, bukan berarti Kaela nggak bisa melompat, kan? Lompatan Kaela malah lebih tinggi dari pada tinggi badan kakak. Percaya?” ucap Rhea dengan tatapannya yang tajam.

Kelompok lelaki itu tertawa mendengar ucapan Kaela yang begitu lucu.

“Kamu lucu banget sih, kalau marah.”

“Hahahahaha…. emang bisa, Kae?”

“Coba sini, main sama gue coba.”

“Awas nanti jatuh, nangis pula.”

‘Dih! Ngeremehin banget nih manusia. Gue dribble juga dah pala lo.’ Umpat Rhea dalam batinnya. Rhea berdecak kecil, “Yaudah, kita by one. Siapa yang berhasil mencetak satu angka aja, kalian traktir Kaela makan siang selama 1 minggu full. Gimana?” tantang Rhea dengan senyuman menantangnya.

“Kalau kamu yang kalah?”

“Kaela beliin kita-kita minum selama kita latihan. Gimana?”

Rhea semakin semangat mendengar itu, “Oke! Siapa takut?” balas Rhea dengan semangatnya.

“Kalian siapa yang bisa main voli?” tanya salah satu lelaki itu kepada teman-temannya. Rhea mengernyitkan dahinya, kenapa tiba-tiba voli?

“Eh, kok voli, sih?” Sela Rhea dengan cepat. Kelompok lelaki pemain basket yang di hadapannya pun terdiam.

“Jadi, maksud lo tanding basket?”

“Yakalik! Pasti lo langsung kalah lah. Nggak adil.”

Rhea kembali berdecak, “tuh kan ngeremehin lagi. Ayo, buktiin kalau memang langsung kalah!” pancing Rhea dengan nada menantangnya.

Mereka saling mengode untuk salah satu dari mereka dapat melawan Kaela, bukannya mereka takut, tetapi mereka tidak yakin bahwa gadis mungil itu akan menang apalagi mereka pilih sekolah untuk tim inti basket.

“Lo aja deh, Hendry. Tapi jangan main kasar.” Ucap salah satu dari kelompok lelaki itu. Hendry pun hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum menatap Kaela yang tampak berani.

“Kalau dia doang mah kecil!”

Rhea pun mulai mencepol rambutnya dengan sembarang, ia dengan seragam ciri khas sekolahnya yaitu memakai kemeja dengan berlengan panjang berwarna putih, lalu roknya berwarna hijau dengan motif kotak-kotak di atas lutut, berikut dengan sepatu tali berwarna putih dengan kaos kaki di bawah mata kaki. Ia menggulung lengan seragamnya hingga ke sikutnya.

Ia memberikan senyuman semangatnya, “kalau gitu, kalahin Kaela.” Rhea mengucapkannya dengan tatapan nakalnya.

Tatapan mereka bertemu sebagai bentuk awal perlawanan.

**

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!