“Gue minta maaf.”
Rhea terdiam, ia tidak menanggapi ucapan dari laki-laki yang kini menemaninya duduk di bangku taman belakang rumah Kaela. Malam semakin pekat, deburan ombak semakin merajalela untuk menghembuskan anginnya untuk mengingatkan untuk tetap terlelap di dalam kehangatan sang malam. Setelah makan malam yang diisi oleh kekesalan Rhea dan usaha Jeno yang hendak memperbaiki hubungan mereka, kini mereka duduk bersama di bangku taman ini.
Helaan napas berat terdengar oleh Rhea,”gue nggak tahu salah gue kali ini apa, tapi bisa nggak, kita bicarakan terlebih dahulu?” lanjut Jeno dengan suara beratnya yang terdengar sedikit serak entah karena apa.
Rhea menyunggingkan senyuman kecilnya, atensinya kini ke arah laut luas nan gelap itu. “Apa yang membuat lo harus bersusah payah untuk meluruskan semuanya, Jen?” tanya Rhea yang kini mengalihkan atensinya kepada lelaki yang ada di sampingnya itu, dan tatapan mereka bertemu.
Jeno terdiam, ia melihat kedua mata Kaela dengan tatapan seriusnya. “Bukannya dengan gue yang mau diajak komunikasi dan mengizinkan untuk memulai berteman itu sudah cukup?” tanya Rhea kembali dengan tatapannya yang kini seperti menyatakan bahwa dirinya terbawa karena hubungan Jeno dan Kaela. Ia rindu dengan dunianya, ia rindu dengan Chika, ia rindu dengan mamanya dan rindu dengan semestanya di sana.
“Tapi baikan yang gue maksud bukan sekadar ini, Kaela. Lo dan gue bersahabat sejak kita kecil, lo yang selalu ikut gue ke manapun, dan lo yang nggak bisa jauh dari gue. Gue rindu dengan lo yang selalu tersenyum ke gue, gue rindu waktu lo meluk gue. Gue rindu semua—”
Rhea memberikan senyumannya kepada Jeno, dan ucapan Jeno terhenti saat melihat senyuman itu. “Kita semakin besar, dan lo juga nggak mungkin berhenti di gue terus, ‘kan? Lo udah ada Karina yang bisa menggantikan semua yang lo rindukan itu, Jen. Gue juga harus menjaga perasaan seseorang nantinya karena kedekatan kita yang hanya seorang teman,” ucap Rhea dengan senyumannya, tatapannya tidak menyampaikan arti senyuman itu.
Tatapan Jeno seketika berubah, kini tatapannya terlihat sedih karena ucapan sahabatnya ini. Ada sesuatu yang membuatnya tidak rela dengan ucapan Kaela kepadanya, kenapa Kaela tidak ada pertahanan untuk menahannya?
“Perasaan siapa yang akan lo jaga, Kae?” tanya Jeno dengan suaranya yang kini sedikit serak, atensinya kini sepenuhnya ke arah Kaela.
Rhea mengangkat kedua bahunya dengan santai, ia membiarkan angin laut membelai rambutnya dan mengalihkan atensinya ke arah laut. Rhea merapatkan kardigannya untuk menghalau dinginnya angin laut. “Siapapun nanti jadi pendamping gue. Gue juga lagi mencari teman hidup gue yang menyayangi gue, yang memprioritaskan gue, yang mencintai gue, dan selalu memberikan kebahagiaan.” Jawab Rhea dengan senyuman manisnya yang benar-benar tulus, sudah terbayang di sana ada kebahagiaan yang menanti dirinya kelak.
Jeno mengepalkan salah satu tangannya menahan rasa sesak tiba-tiba melanda dirinya, entah kenapa senyuman Kaela yang satu ini tidak membuatnya bahagia, ia merasa ketidak relaannya. “Apa gue punya hak untuk mengetahui siapa yang bakal jadi teman hidup lo, Kae?” tanya Jeno dengan tatapannya yang tidak lepas dari gadis itu.
Rhea kini menatap Jeno yang terlihat menatapnya sendu,’lah? Kenapa dia nangis?Perasaan gue nggak ada ngumpat ke dia.’ Batin Rhea dengan bingung.
“Lo kenapa nangis, woi?! Lagi sakit atau gimana?” tanya Rhea bingung. Jeno pun menyentuh pipinya sendiri, ia sedikit terkejut saat airmatanya jatuh kembali. Apa ia tidak menyadari jika dirinya menangis? Tetapi usapannya terhenti saat ibu jari Kaela mengusap pipinya yang basah, Jeno mematung dengan tatapan penuhnya kepada Kaela.
“Udah besar masih nangis, malu sama pacar lo!” Ejek Rhea dengan senyumannya.
‘Ah, sudah lama sekali sepertinya senyuman itu hilang. Apa perlu ia menangis terus-menerus untuk melihat senyuman itu?’
Jeno pun menyunggingkan senyumannya, ia menatap lekat kedua mata gadis itu. “Jangan sakit lagi ya, Kae. Lo terlalu berharga buat gue yang selalu egois untuk dunia lo.”
Senyuman Rhea kembali luntur, ucapan Jeno begitu merubah pandangannya kepada lelaki itu. Senyuman Jeno begitu tulus, ada rasa semakin tumbuh dalam dirinya atau mungkin rasa Kaela yang masih tertinggal? Apa Kaela seperti ini asal berbicara dengan Jeno?
“Lo mending pulang, Jen. Besok sekolah,” ucap Rhea dengan nadanya yang dingin. Ia tidak mau rasa itu semakin bertumbuh.
Jeno pun menganggukkan kepalanya, lalu mengusak puncak rambut Kaela dengan lembut. “Gue pulang kalau gitu. Ayo, masuk ke rumah.” Ajak Jeno dengan senyuman manisnya
‘Aku mohon, jangan libatkan aku juga di dalam perasaan ini, Tuhan.’
Jaemin menatap lekat foto yang telah dibingkai khusus itu dengan posisinya yang tertidur di ranjangnya. Foto dirinya bersama Kaela yang tersenyum bahagia di taman bunga pada suatu tempat.
“Aku kenal kamu sekali Kaela. Dari cara kamu berbicara, dari cara kamu berpikir, dari cara kamu tertawa sampai dari cara kamu menatap orang yang kamu suka.” Ucap Jaemin dengan kedua tangannya menjadi bantalan kepalanya. Bingkai itu tergantung rapi di dinding kamarnya itu.
“Tapi, entah kenapa, aku kali ini merasa asing dengan kamu, Kaela. Setelah kamu bangun dari koma, banyak perubahan pesat yang ada di dalam diri kamu. Kamu bukan Kaela yang aku kenal sejak dulu. Kaela yang dulu selemah itu, dan serapuh itu, tetapi kali ini Kaela yang aku lihat adalah Kaela yang begitu berani untuk segala hal.” Jaemin mengungkapkan semua pemikirannya yang selama ini ia pendam.
“Apa aku harus membuktikan satu hal lagi, supaya aku meyakinkan diriku bahwa kamu memang bukan Kaela, tetapi orang lain?”
Dan setelah itu, bingkai foto Kaela dan Jaemin terjatuh begitu saja ke lantai kamarnya. Jaemin terkejut, ia bangun dari tidurnya dan melihat bingkai itu patah dan banyak serpihan kaca yang bertebaran di sana.
“Kenapa perasaan aku nggak enak, ya?”
**
Chika mengusap punggung tangan Rhea yang terlihat pucat, suara alat penunjang kehidupan Rhea selalu akrab di dalam telinganya. Selepas kepergian mama Rhea yang tidak bisa menunggu lama Rhea karena ia harus bekerja, sebagai seorang orang tua tunggal harus bisa memilih salah satunya agar tetap bertahan hidup, dan pilihannya ia harus mencari uang untuk anaknya dapat hidup.
“Rhe, lo lagi di mana, sih? Kayaknya betah banget tidur terus. Indah banget ya tempatnya? Sekali-sekali ajak gue dong ke sana, enak banget lo sendirian liburan! Gue juga mau kali!” ucap Chika dengan suaranya yang lembut. Ia tak henti-hentinya mengusap lembut punggung tangan sahabatnya ini.
“Eh, lo tahu nggak, sih?si Jihan? Yang bikin lo nangis karena lihat bapaknya jemput dia selalu kehujanan itu? Sekarang bapaknya udah punya mobil, Rhe! Bapaknya udah kaya, cuy. Udah bisa jemput Jihan nggak pakai motor lagi, nggak kehujanan lagi. Lo wajib lihat sih, kata gue.”
Kembali hanya suara penunjang kehidupan itulah yang bersuara, dan Chika hanya memiliki harapan yang besar untuk Rhea dapat kembali terbangun seperti sedia kala. “Gue udah janji ke diri gue sendiri, gue nggak boleh nangis! Gue harus selalu ngajak lo bicara, kata dokter, semakin gue banyak ajakin lo bicara, semakin banyak respon yang akan lo kasih. Jadi, kita sama-sama berjuang ya, Rhea. Berhenti bermimpi indah dulu, lo harus bareng gue buat jalanin masa depan indah yang asli! Wajib!”
Tanpa Chika sadari, ada sebuah senyum yang Rhea berikan sebagai bentuk respon kecilnya terhadap ucapan Chika.
**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments