Langit sudah merubah warnanya menjadi jingga, matahari pun tampak sudah memulai meredupkan perlahan-lahan cahayanya. Rhea yang telah mengganti baju olahraganya menjadi seragam sekolahnya pun mulai mengeringkan rambutnya yang basah akibat keringatnya tadi, ia puas akan hari ini karena telah berolahraga setelah sekian lama. Ia telah diberi pesan oleh Jaemin untuk menunggunya di parkiran motor sekolah itu, Rhea melirik jam di pergelangan tangannya, sudah hampir menunjukkan angka 6. Rhea kembali berjalan menuju parkiran sekolah dengan seragam olahraganya sebagai handuk untuk mengeringkan basah di rambutnya.
“Sejak kapan lo main bola voli?”
Rhea memberhentikan langkah kakinya saat mendengar suara dari belakang punggungnya, ia membalikkan badannya dan melihat Karina yang entah kapan itu sudah ada di belakangnya, Rhea mengernyitkan dahinya. “Urusannya dengan lo?” tanya Rhea kembali dengan bingung.
Karina memutar kedua bola matanya dengan malas, ia bersedekap dada. “Lo kenapa sih, Kae? Mau ganggu fokus Jeno atau gimana? Sejak kapan lo jadi ekstrakurikuler voli? Biasanya lo nggak bakalan kelihatan kalau udah ekstrakurikuler,” balas Karina dengan nadanya terdengar sedikit kesal.
Rhea menggelengkan kepalanya pelan, “lo kayaknya butuh tidur, deh, Kar. Jangan biasakan begadang, jadi bawaannya overthingking. Dah deh, gue mau pulang dulu,” ucap Rhea untuk menyudahi percakapan yang sedikit panas ini.
“Gue dikasih tahu Jeno, kalau lo mau belajar ngingat dia sebagai sahabat dan lo kasih dia kesempatan untuk dia juga. Apa gue salah kalau bilang lo cari perhatian Jeno dengan ikut ekskul itu?” ujar Karina dengan nadanya yang sudah terdengar emosi. Ucapan itu membuat Rhea kembali mengalihkan atensinya kepada Karina, ia menghela napasnya pelan.
“Karina, gue nggak ada niatan buat cari perhatian Jeno, cantik. Gue memang mau mencoba hal baru yang belum pernah gue lakuin selama ini. Apa itu salah? Apa gue harus diam aja di kelas? Lo nggak perlu takut deh, Jeno nggak bakalan suka sama gue. Cantiknya lo lebih-lebih daripada gue. Nah, lo harusnya bangga kalau gue udah bilang lo cantik.” Balas Rhea dengan nada lelahnya. Ia sudah lelah karena olahraga tadi, dan kini terkuras karena Karina.
Karina mengernyitkan dahinya, ia semakin tidak suka dengan gadis di hadapannya ini. Perkara gadis itu koma, amnesia dan berubah, membuat Jeno semakin berubah. Bahkan Jeno terlihat memusatkan perhatiannya pada gadis itu, semalam saat ia bertelepon ria dengan kekasihnya itu, lelaki itu terdengar bahagia saat menceritakan bahwa Kaela mengizinkan untuk bergabung.
“Apapun yang lo buat, nggak akan merubah kalau Jeno bisa jadi milik lo. Yang selama ini dia prioritaskan itu gue, bukan lo yang sahabat paling dekatnya. Jadi, usaha lo yang sekarang adalah usaha yang sia-sia.” Dan Karina mengakhiri percakapan itu sembari berlalu menjauh dari Kaela, sebelum itu ia bahkan menyenggol kasar bahu Kaela.
“Anjing! Karina, bangsat! Astaga.. untung lo cewek! Kalau lo di dunia gue, udah gue tonjok, gue injak, gue jambak sampai gue puas. Apaan banget, pakai labrak-labrak gitu, mana permasalahannya tentang si Jeno pula. Pemeran utama bangsat!” umpat Rhea dengan emosinya, ia bahkan menendang asal tanah itu sehingga menjadi debu. Napasnya memburu karena sangking emosinya, padahal hari ini sudah bahagia tetapi karena si Karina membuat emosinya tinggi.
Rhea menarik napasnya sedalam mungkin, lalu menghembuskannya dengan kasar. Berulang kali ia lakukan, lalu mulai terasa ringan. Emosinya hampir membutakan kedua matanya, jika ia tidak dapat menahannya. “Jangan emosi, Rhea. Lo harus tenang, jangan keluarkan cakar lo, ya. ANJING!” di ujung kalimatnya kembali ia mengumpat dengan kesal.
**
Rhea menutup buku harian Kaela dengan kasar, kembali ia merasakan sakit saat membaca buku harian Kaela yang lagi-lagi menelan rasa sakit dan cemburu itu. Kali ini, bagian Kaela yang menunggu ucapan ulang tahun dari Jeno yang tak kunjung datang. Tetapi sekali ucapan itu ada, hanya ada kecemburuan yang didapat oleh Kaela, di mana Jeno bercerita bahwa ia membuat acara untuk ulang tahun Karina.
“Nggak ceweknya, nggak cowoknya, nggak author-nya sama-sama nyakitin mulu. Nyesal gue baikan sama Jeno!” gumam Rhea dengan kesalnya, ia pun mulai turun dari ranjangnya. Berhubung ia belum makan malam, Rhea beranjak dari kamar tidur untuk menuntaskan kelaparannya ini.
Rhea menepuk perutnya dengan pelan seperti gendang, suara deburan ombak menemani langkah kakinya keluar dari kamar tidurnya. Tak butuh waktu yang lama, langkahnya terhenti saat melihat Jeno di meja makan bersama dengan mama Kaela. Baru saja ia mengutuk lelaki itu, kenapa tiba-tiba sudah berada di dalam rumah ini?
“Itu Kaela. Kamu belum makan ‘kan, sayang? Jeno bawa masakan bunda ke sini. Yuk, ambil nasinya.”
Tatapan Jeno dan Rhea bertemu, Jeno tersenyum sampai mata bulan sabit itu kembali terlihat, namun Rhea tidak, malah semakin jengkel melihat lelaki itu. Perkara kekasihnya yang melabraknya dan buku harian itu. Ia menatap Jeno dengan sinis. Jeno yang melihat tatapan itu pun mulai kebingungan, apakah ada kesalahan darinya?
“Mama ke kamar dulu, ya, Jen. Mau istirahatkan punggung, maklum lah, mama udah tua. Kaela makan ya, nak, habis itu langsung minum obatnya, sayang. Oh iya, temani Jeno nya di sini.”
Tanpa perlu menjawab perintah itu, mama Kaela berlalu memasuki kamar tidur wanita itu. Rhea menyipitkan kedua matanya, ia mengintimidasi Jeno yang tengah duduk di kursi ruang makan. “Ngapain lo ke sini? Sana pulang!” usir Rhea sembari mulai berjalan untuk mempersiapkan makannya.
Jeno seketika bingung, kenapa kembali jadi Kaela yang membencinya? Bukan kah mereka sudah mulai baikkan?
“Gue antar makanan, bunda masak banyak tadi. Jadi—”
“Yaudah, sana pulang. Nunggu apalagi lo? Bayaran ongkos kirim?” potong Rhea dengan cepat. Ia berjalan menuju meja makan dengan piring yang berisi nasi banyak. Jeno memperhatikan Kaela yang mulai mengambil lauk pauk yang telah tersedia di meja ini. Gadis itu makannya banyak.
“Lo kenapa? Gue ada salah? Kan bisa dikasih tahu, Kae. Baru juga baikkan, kok marah lagi, sih?” ucap Jeno dengan tatapannya kepada Kaela yang sudah bersiap-siap hendak makan.
“Masih nanya lagi! Dosa lo tuh banyak! Segini,” jawab Rhea sembari membuat gambaran gunung dari kedua tangannya. Jeno memperhatikan gerakan kedua tangan Kaela yang kecil itu, entah kenapa membuatnya hendak tersenyum.
“Segini itu, segunung?” tanya Jeno kembali dengan senyuman kecilnya. Rhea yang sudah mengambil lauk pauk yang banyak itu pun mulai membawa piringnya untuk makan di dalam kamar tidur, ia tidak ingin berada di dekat Jeno, takut makanannya basi.
“Kae, lo mau makan di mana? Sini aja, gue temani,” panggil Jeno dengan nadanya yang lembut, ia bahkan sudah berdiri untuk menahan Kaela yang hendak pergi.
Rhea berdecak kecil, ia memberhentikan langkah kakinya, dan mulai mengalihkan atensinya kepada Jeno. “Gue nggak perlu ditemani, urus sono pacar lo. Gue udah biasa makan sendiri,” usir Rhea dengan raut wajahnya yang masih jengkel.
Jeno menghela napasnya pelan, ia menatap sendu ke arah Kaela,”gue kangen sama lo, Kae. Kita udah lama nggak di meja makan berdua gini. Di sekolah tadi juga lo nggak ada jawab panggilan gue, sekarang juga lo mau jauhi gue lagi. Katanya baikkan,” balas Jeno dengan suara beratnya yang lembut.
“Kangen..kangen! Pala lo meledak! Jantung gue kayak apaan banget dah! Baru digituin sama Jeno udah brutal detakannya.” Umpat Rhea dalam hatinya.
“Kae,” panggil Jeno dengan suara beratnya yang lembut.
“Apaan sih!” sahut Rhea dengan nada kesalnya.
“Sini, ya, makannya. Gue janji nggak bakal ganggu, gue duduk diam di sini. Mau, ya?” pinta Jeno dengan lembutnya. Rhea menatap Jeno yang terlihat memohon kepadanya, wajah itu mengingatkannya pada seekor ras anjing samoyed, benar-benar seperti anjing.
“Dan lebih anjingnya lagi, gue nggak bisa nolak permintaan Jeno!” teriak Rhea dalam hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Nurwana
heleh begitu aj meleleh.... punya pendirian nda itw rhea.....????
2023-05-04
1
fransisca brahara
mulai dmn yh lo re
2023-05-02
1