14

                                                                Source : Pinterest

“Kae, kamu kenapa?”

Rhea tersadar dari lamunannya, ia mengerjapkan kedua matanya dan mulai kembali menatap jelas pancingannya yang masih tenang begitu saja, ia baru sadar jika ia sejak tadi melamun.

“Kamu sakit lagi?” Seketika Rhea menyunggingkan senyumannya saat mendengar suara khawatir Jaemin diiringi dengan angin laut dan suara deburan ombak laut. “Nggak kok, Na. Aku baik-baik aja, buktinya masih sabar menunggu tangkapan ikan,” jawab Rhea dengan senyuman manisnya.

Jaemin yang berada di samping sahabatnya ini pun menganggukkan kepalanya dengan lega, ia tersenyum sembari menunggu pancingannya disambar oleh ikan. “Seru juga ya, kalau mancing sore-sore gini, nanti malam tinggal camping dan bakar-bakar ikan, deh!” ucap Jaemin dengan senyuman manisnya.

Rhea menganggukkan kepalanya dengan semangat, ia bahkan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan lucunya. Jaemin yang menyadari itu seketika melayangkan cubitan lembut di pipi sahabatnya karena gemas, lalu kembali mengalihkan atensinya pada pancingannya.

“Gue ikut acara camping kalian, masih bisa, kan?”

Suara berat itu membuat Jaemin tiba-tiba mengalihkan atensinya, netranya mengarah pada sosok Jeno yang telah mengambil posisi di sisi kanan Kaela, kini Kaela berada di tengah-tengah antara dirinya dan Jeno.

Rhea menghela napasnya pelan, ia pasrah saat Jeno sudah berada di sini dengan keberanian dan kepercayaan diri dari lelaki itu. Lagi pula, ia juga memberi izin atas adanya kehadiran lelaki itu di sini.  Jaemin melirik ke arah sahabatnya ini, dan terlihat sahabatnya ini tidak terganggu.

Jeno menyunggingkan senyuman kecilnya, ia mulai melemparkan umpannya yang telah terpasang ke laut. Tidak ada penolakan atau usiran secara langsung dari Kaela sejak percakapan yang mereka lakukan di teras rumah lelaki itu, Jeno.

Sebelumnya..

Rhea menghela napasnya dengan lelah, apa yang harus ia lakukan sekarang? Apa perlu dirinya pura-pura pingsan? Tapi ini terlalu mendadak karena sempat-sempatnya ia melontarkan ancaman hendak menendang lelaki itu.

“Lepasin dulu tangan gue, baru gue kasih tanggapan dengan diskusi paksaan ini. Cepat!” ucap Rhea mencoba melobi lelaki ini. Dan Jeno tetap menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Dengan lo semakin memaksakan gue untuk kayak gini, gue semakin memantapkan pikiran gue buat untuk menjauh dari lo. Lepas, nggak?!”  Mendengar itu, membuat Jeno melepaskan kedua tangan sahabatnya itu dengan tatapan sedihnya. Rhea pun memberi jarak kepada Jeno, dan terlihat kedua mata Jeno yang menatapnya dengan sedih.

“Kae..”panggil Jeno dengan nada lirihnya, ia tidak mau gadis itu pergi begitu saja. Rhea menatap kedua mata Jeno yang terlihat benar-benar meminta dirinya untuk tetap di sini dan memulai berbaikan. Tetapi ada yang aneh dalam dirinya, entah kenapa jantungnya berdetak dengan irama yang tidak menentu saat berdekatan dengan lelaki itu.

“Lo tahu, selama ini gue nggak suka dipaksa, ‘kan?” ucap Rhea dengan tatapannya terkunci pada kedua mata bulan sabit itu.

Jeno hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan, tetapi tangannya seakan bersiap hendak menahan Kaela kembali jika tiba-tiba nanti pergi menjauh. Rhea bersedekap dada sembari memikirkan rencana selanjutnya yang hendak ia lakukan jika sudah begini. Jujur saja, ia baru mengetahui detik ini sifat Jeno yang tidak ada diceritakan di dalam novel, bahkan adegan seperti ini saja tidak ada.

“Dan lo masih maksa, itu gimana ceritanya?” tanya Rhea kembali dengan nada sarkasnya.

Jeno menundukkan kepalanya, ia terlihat seperti anak kecil yang tengah dimarahi oleh ibunya. “Gue cuma mau lo nggak jauhi gue lagi, Kae. Gue kangen sama lo, gue mau lo perlakukan gue seperti lo perlakukan Jaemin. Walaupun lo lupa ingatan, tetap aja gue sahabat lo dari kecil. Gue kangen Kaela,” balas Jeno dengan suara beratnya yang bernada pelan.

‘Gila! Kenapa jadinya gue kasihan sih, bangsat?!’ Batin Rhea dengan tidak terima.

Rhea berdehem pelan untuk menghalau rasa kasihannya kepada si pemeran utama ini, ia juga menangkap Jeno sedikit mengangkat kepalanya untuk menatapnya lalu ketika kedua mata itu bertemu, kembali ia menundukkan kepalanya.

‘Ya, kembali lagi. Nggak bisa seluruhnya gue menghindar juga dari si pemeran utama ini, semua sudah terikat satu dengan yang lainnya. Mungkin gue harus meminimalisirkan saja atau juga mungkin bisa dimanfaatkan keberadaan mereka buat kepulangan gue.’

Rhea mulai menyusun kembali rencananya, ia berdehem kembali untuk kedua kalinya. “Oke, kalau gitu. Kita baikan,” ucap Rhea dengan tegas. Mendengar nada tegas itu membuat kepala Jeno tegak kembali, ia menatap sahabatnya dengan perasaan senangnya yang membuncah, bahkan senyuman bulan sabit itu terbit seketika tanpa ia pinta.

Rhea terpana, senyuman Jeno benar-benar membuatnya terpana.

“Gue janji akan buat lo perlahan-lahan ingat gue lagi! Gue juga bakalan jagain lo lagi! Janji!” balas Jeno dengan semangatnya, senyuman itu begitu manis.

Rhea mengerjapkan kedua matanya dengan cepat, ia menyadari dirinya seketika. Mengalihkan tatapannya ke arah lain agar dirinya tidak lagi terhipnotis pada senyuman itu.

“Ya-yaudah! Balikin alat pancing gue, Nana takutnya udah nunggu gue lama.” Ucap Rhea segera untuk mengalihkan pikirannya yang sudah melalang buana.

Jeno menganggukkan kepalanya dengan cepat, “oke! Sebentar, ya.” Dan dengan semangat pula Jeno hendak mengambilkan alat pancingnya itu, tetapi tiba-tiba memberhentikan langkah kakinya, Rhea menatap bingung saat Jeno kembali menatapnya.

‘Kenapa lagi nih, anak?’

Jeno menatap sahabatnya itu dengan ragu, tetapi terlihat ingin menyampaikan sesuatu.”Gue boleh—”

“Nggak!”

Jeno melemahkan kedua bahunya seketika, “belum juga bilang,” gumam Jeno dengan pelan. Ia hendak kembali untuk mengambil barang yang diminta oleh Kaela, tetapi suara Kaela kembali membuatnya menghentikan langkah kakinya.

“Lo mau apa?” tanya Rhea yang terdengar sabar.  Jeno tersenyum mendengar itu, lalu mengalihkan atensinya kepada gadis itu. “Boleh ikut acara kalian, nggak?”tanya Jeno dengan senangnya.

“Asal nggak ngerepotkan dan ngehancurin acara gue, silakan.” Mendengar itu, membuat Jeno dengan bahagianya berlari kecil memasuki rumah itu untuk mengambil barang yang dibutuhkan.

Rhea menggelengkan kecil kepalanya, ia bingung dengan dirinya kenapa bisa bersikap seperti itu kepada Jeno? Ini Jeno! Seorang Jeno yang ingin dirinya buat menderita dan Kaela bahagia. Ke mana semua itu pergi?

“Tunggu gue, Kae! Kita berangkat sama!” teriak lelaki itu dari dalam rumah.

Rhea menghela napasnya entah untuk keberapa kalinya.

“Na, aku udah nyari resep bumbu ikan bakar yang enak. Nanti kita praktekkan, gimana?”

Terdengar helaan napas lelah Jaemin, dia menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak ada bahan uji coba untuk saat ini, tuh kamu lihat kita susah payah mancing ikan, kalau nggak enak, masak mancing lagi. Big no!”tolak Jaemin yang terlihat masih menunggu pancingannya disambar oleh ikan.

“Ish! Padahal ini anti gagal, lho! Percaya sama aku, Na. Please!” mohon Rhea sembari menggelitik dagu Jaemin dengan satu tangannya. Jaemin menggelengkan kepalanya dengan keras kepalanya. “Gak mau!” tolak Jaemin sembari menghindari gelitikan sahabatnya.

Rhea menggodanya kembali dengan mencoba menggelitik dagu Jaemin, ia mencoba merayu Jaemin agar mau mengikuti resepnya. “Ih, ayo dong, sayang. My baby, my pillow, my fish.” Rayu Rhea dengan tangannya tak henti-hentinya menggoda Jaemin.

Jaemin tertawa mendengar panggilan yang dibuat oleh sahabatnya ini, “dih, apaan my fish, dikira aku ikan. Makin nggak mau aku nurutinnya,” balas Jaemin dengan tawanya, ia bahkan menangkap satu tangan sahabatnya itu.

“Lah, itu panggilan gemas aku ke kamu, Nana. Nana kan sering juga manggil-manggil aku dengan hal seperti itu,” sahut Rhea dengan tawa kecilnya, ia semakin gencar mengganggu Jaemin.

Jaemin tertawa saat tangan yang ia tahan itu terlepas dan menggelitiknya kembali, “tapi memang kamu gemas! Apalagi lemak-lemak di pipi kamu ini, coba sini aku cubit, sudah seberapa tebal lemaknya itu.” Balas Jaemin yang tak mau kalah.

“Aaa.. NANA!” pekik Rhea dengan gelinya saat Jaemin mulai mencubit pipinya itu.

Jeno yang berada tak jauh dari mereka pun hanya menyunggingkan senyuman kecilnya, tatapannya ia arahkan sepenuhnya pada air laut biru itu dengan rasa irinya. Percakapan-percakapan itu benar-benar memberinya sebuah kesadaran bahwa sebegitu jauhnya jarak antara dirinya dan Kaela. Jeno melirik ke arah Kaela dan Jaemin, tawa mereka seakan-akan mengalahkan suara deburan ombak laut itu, ia ingin juga mendengar tawa gadis itu ketika bersamanya, merasakan sentuhan itu di dirinya. Ia merasakan sedikit cemburu melihat kedekatan mereka.

‘Step by step, Jeno. Lo nggak bisa memaksakan semuanya atau lo kembali asing seperti dulu.’

Jeno menghela napasnya pelan, ia kembali menikmati percakapan random mereka dengan tatapannya mengarah pada laut yang luas itu.

‘Tapi, gue tetap senang. Kaela mau nerima gue kembali.’ Jeno menyunggingkan senyuman bahagiannya, hari ini begitu membuat hatinya bersemangat dan bahagia.

**

Kini malam semakin menghantar angin laut untuk menemani darat, Rhea tersenyum sepanjang acara mancing hingga acara bakar-bakar hasil tangkapan mereka. Cukup banyak juga, setelah perdebatan Rhea dan Jaemin, akhirnya mereka memutuskan untuk memakai kedua resep dengan sistemnya setengah ikan memakai resep ikan Rhea, lalu setengah lagi memakai punya Jaemin.

Tenda pun sudah didirikan sejak sore tadi, walaupun camping-nya hanya berada di luar halaman rumah Kaela, tetap saja jika bersama teman-teman akan terasa lebih menyenangkan untuk camping. Dua tenda sudah didirikan berikut dengan lampu-lampu kecil yang menghiasi.

Api untuk bakar ikan-ikan itu pun mulai menghangatkan dirinya, Jaemin terlihat sibuk untuk membuat minuman untuk mereka, deburan ombak menemani gelapnya malam. Rhea duduk di sekitaran api bakaran ikan itu.

“Nggak bagus kalau terus-terusan kena angin laut.” Rhea sedikit terkejut saat sebuah jaket besar menyelimuti dirinya, suara berat Jeno yang tiba-tiba terdengar itu pun mengalihkan atensinya kepada lelaki itu. Jeno telah mengambil posisinya di samping Rhea.

“Lo udah minum obat?” tanya Jeno dengan tatapannya ke arah api bakaran ikan itu. Rhea melirik Jeno yang tengah menikmati pemandangan di depannya itu. “Gue bukan anak kecil lagi buat diingetin untuk minum obat,” jawab Rhea dengan sedikit ketus.

Jeno menyunggingkan senyuman kecilnya, “masih beda ternyata.” Gumam Jeno dengan pelan.

Rhea sedikit mengernyitkan dahinya, ia mendengar gumaman Jeno itu. “Beda? Maksud lo?” tanya Rhea dengan nada bingungnya. Jeno membasahi bibir bawahnya, lalu mengalihkan atensinya kepada sahabatnya, tatapan mereka bertemu kembali. Entah kenapa, cahaya api itu membuat Jeno melihat sahabatnya semakin cantik.

“Gue yakin, lo bakalan bisa bicara ke gue seperti lo bicara ke Jaemin. Gue bakalan nunggu saat-saat itu,” jawab Jeno dengan suara beratnya yang lembut. Tatapannya terkunci pada Kaela. Ada sesuatu yang bersinar di kedua mata itu, yang sebelumnya tidak pernah ia lihat di mata sahabatnya itu.

‘Kenapa dia gini, sih? Maksudnya apa? Dia mau buat gue gagal jantung atau gimana, njing?!’ teriak Rhea dalam hatinya.

“Apaan sih,” balas Rhea dengan pelan. Ia pun memutuskan kontak mata mereka, lalu mengalihkannya kepada Jaemin yang tengah berjalan ke arah mereka dengan senyuman. Jeno pun mengalihkan atensinya kembali ke arah api bakaran ikan itu, ia tersenyum.

“Minuman sudah datang!” Rhea menyambut ucapan Jaemin dengan tepuk tangannya, ia memberi ruang kosong kepada Jaemin dan menjadikannya berada di tengah-tengah kembali. “Berhubung ikannya bentar lagi baru masak, kita minum cokelat hangat dulu gak, sih?” ucap Jaemin sembari memberikan gelas minumannya itu.

“Kenapa bukan kopi, sih?” tanya Rhea yang tetap menerima gelas minuman itu. Jaemin sedikit mengernyitkan dahinya, “nggak bagus untuk jantung, lagian mau nggak tidur-tidur?! Setelah seharian mancing?” omel Jaemin yang sibuk memperhatikan ikan-ikan itu.

Rhea hanya diam mendengar omelan itu, ia pun berpura-pura sibuk meniup cokelat panas itu seakan-akan lari dari perkopian. Jeno kembali memperhatikan sahabatnya yang tengah melarikan diri dari omelan Jaemin, ia mengambil gelas yang ditiup isinya itu oleh Kaela lalu memberikan gelasnya yang tidak ia sentuh kepada gadis itu.

“Apa—”

“Nggak boleh tiup-tiup gitu, nggak sehat.” Potong Jeno dengan suara beratnya yang lembut.

“Ya, kan dari gue ke gue lagi. Udah cape-cape niup juga biar diminum,” gerutu Rhea kembali.

Jeno tertawa kecil, “makin bahaya malah. Udah, jangan ditiup, tungguin aja.” Balas Jeno dengan tawa kecilnya.

‘Makin ke sini malah makin ke sana, anjir!’ omel Rhea dalam hati.

Jaemin melirik ke arah lelaki itu, Jeno dengan tatapan penuh arti, Entah kenapa lelaki itu semakin banyak tersenyum dan raut wajah lelaki itu semakin terlihat cerah tidak seperti biasanya. Apa karena diberi izin oleh Kaela untuk bergabung dengan mereka? Apa sebegitu berpengaruhnya kebaikan hubungan dia dan Kaela?

**

‘Ada hal yang berubah sejak awal.’

**

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!