Rhea berdecak kecil, ini hari Sabtu-nya yang berharga di mana dia telah membuat rencana untuk memancing ikan bersama Jaemin, tetapi ia melupakan satu hal bahwa alat pancingnya masih berada di mobil Jeno. Perjalanannya tidak terlalu jauh dari rumahnya ke rumah Jeno, hanya perlu melewati 5 rumah besar saja.
Rhea sedikit menyipitkan matanya karena sinar matahari pagi begitu cerah untuk jam di pagi hari ini. Ia hanya perlu mengambil alat pancingnya dan pulang, Jaemin juga 2 jam lagi akan sampai di rumah, jadi dirinya harus segera mengambil alat pancingnya.
Tak perlu butuh waktu yang lama, rumah yang ia tuju telah ia temukan. Rhea memastikan kembali nomor rumah Jeno yang telah diberitahu oleh mama Kaela, mengingat di dalam novel pun tidak ada diberitahu secara detail mengenai nomor rumah, siapa pemimpin komplek itu bahkan presiden yang tengah menjabat sekalipun.
Rhea menekan bel yang ada di sekitar pagar tinggi di hadapannya ini. Ia mendongakkan kepalanya sembari menganggumi kemegahan rumah Jeno. ‘Pekerjaan bapaknya apa, ya? PNS, kah?’
“Permisi.” Teriak Rhea dengan tarikan napasnya yang panjang. Rumahnya sudah besar, lalu jarak antar pagar dan pintu utama saja sudah berapa meter. Di akhir teriakannya membuat Rhea terengah-engah, ia benar-benar teriak memanggil orang di dalam rumah besar itu.
Kembali Rhea menekan bel rumah Jeno, “permi—” seketika Rhea terkejut saat melihat pagar rumah itu terbuka otomatis. Teriakannya terhenti, bahkan kedua matanya membola karena melihat pagar itu terbuka sendiri.
‘Gila! Pagarnya aja dibuka otomatis, cuy.’ Batin Rhea terkagum-kagum.
“Kaela, masuk saja. Bunda lagi di dapur, nih.” Rhea mendengar suara yang keluar dari sebuah intercom yang menempel di sekitaran pilar pagar itu. Rhea menggelengkan kepalanya pelan sembari berjalan menuju pintu utama rumah itu.
“Canggih banget rumahnya. Eh, kalau misalnya gue kembali ngejar Jeno dan rebut semua harta keluarganya, boleh juga, tuh.” Gumam Rhea dengan memikirkan sekilas drama-drama yang sering ditayangkan di duniannya itu.
Ia menggeleng kecil untuk menghilangkan pemikiran bodohnya itu, bukannya lebih cepat pulang ke duniannya, malah permanen di sini. Rhea pun akhirnya membuka pintu utama rumah besar ini, dan terbukalah, pemandangan pertama kali yang ia lihat adalah rumah yang mewah.
“Kaela, kalau kamu mau cari Jeno, dia ada di dalam kamar, ya. Masih tidur anaknya.” Suara wanita paruh baya itu terdengar lembut namun bergema, Rhea sedikit menyipitkan kedua matanya saat melihat wanita itu tengah sibuk di dapurnya. Ke sana- ke mari dengan cepat.
“Tapi tan-..eh, maksudnya, Bun. Kaela cuma mau ambil barang Kaela yang ketinggalan waktu itu di dalam mobil Jeno.” Sahut Rhea dengan cepat, ia mau segera pergi juga tanpa perlu melihat lelaki itu.
“Emang apa yang ketinggalan, Kae?”
“Alat pancing, bun.”
Wanita paruh baya itu tampak tidak terganggu, ia malah makin gesit mencuci sebuah bahan-bahan masakannya. “Ya udah, coba kamu bangunin Jeno. Bunda belum ada lihat alat pancing, sih. Gih.”
Rhea menghela napasnya pelan, mau tak mau ia harus menemui juga lelaki itu. Ia berjalan gontai ke arah pintu yang ditunjuk oleh bunda Jeno. ‘Namanya kehidupan novel, pasti selalu ada cara untuk bertemu.’
Tak perlu waktu yang lama, Rhea akhirnya berada tepat di pintu kamar lelaki itu. Apa perlu ia ketuk terlebih dahulu? Atau ditendang saja?
TOK
TOK
TOK
“Permisi. Ini gue, Kaela. Boleh masuk, nggak?” ucap Rhea dengan sopannya, seperti pelayan yang hendak memasuki kamar tuannya. Mencoba menunggu jawaban dari dalam sana.
“Kaela, kamu langsung masuk saja. Sebelum kamu koma, kamu sering masuk kok ke kamar Jeno. Sana, masuk.” Terdengar ucapan bunda Jeno di dapur sana. Mendengar izin itu membuat Rhea mengutuk kecil karakter Kaela yang dengan mudah memasuki kamar lelaki.
Rhea pun segera membuka pintu kamar itu, hal pertama yang ia hidu saat memasuki kamar lelaki itu adalah aroma leather yang membuat candu. Rhea melangkah menginjakkan kakinya untuk pertama kali di dalam kamar Jeno, ia melihat warna hitam mendominan seluruh kamar tidur ini. Gantungan foto-foto yang rapi dan enak dipandang itu pun menjadi hiasan di dalam kamar tidur Jeno. Sungguh menggambarkan karakteristik si pemilik kamar ini.
Ia mengitari penglihatannya untuk mencari alat pancingnya, mana tahu sudah di keluarkan dari mobil itu. Namun, tidak ada sama sekali alat pancingnya itu terlihat. Rhea melirik ke arah tempat tidur itu, seorang lelaki tengah tertidur nyenyak di sana dengan selimut tebalnya itu sudah tidak karuan lagi. Tampaknya tidak terganggu dengan suara deburan ombak dan ketukan pintunya tadi.
‘Pantasnya, gue bangunin secara manusiawi atau langsung dibekap aja pakai bantal? Otomatis gue jadi pemeran utama. Hahahaha.. bego.’
Rhea pun mendekati ranjang Jeno itu, ia sedikit memanjangkan lehernya untuk melihat Jeno yang tampak nyenyak tidurnya. “Woi, bangun woi! Gue mau minta alat pancing gue,” ucap Rhea sembari menendang kerangka ranjang Jeno dengan pelan.
Tidak ada pergerakan dari Jeno sama sekali. Rhea mencoba menendang kembali ranjang itu dengan sedikit kuat. Tetapi hanya deburan ombak di luar sana yang mengiringi kesunyian kamar ini. Rhea berdecak kecil.
“Jeno,” panggil Rhea dengan sedikit menaikkan nadanya. Bukannya bangun, malah mengganti posisi tidur menjadi menghadap Rhea. “Lo tidur apa lagi latihan mati, sih? Susah banget dibangunin, anjir!” omel Rhea dengan kernyitan di dahinya.
Dengan gemas, Rhea mulai menarik selimut itu yang sedikit melilit lelaki itu dengan tenaganya. “Jeno, bangun! Gue mau mancing, cuy! Lo kenapa dah susah banget banguninnya!” ucap Rhea sembari menarik selimut itu. Dan yang terjadi adalah ia terjatuh ke karpet yang ada di dalam kamar ini.
“Anjing! Astaga! Benar-benar minta dibekap pakai bantal si siluman satu ini. Susah banget banguninnya!” lanjut Rhea sembari berdiri dari keterjatuhannya, napasnya naik-turun akibat tarikan selimut tadi.
“WOI! BANGUN!” kini Rhea benar-benar sedikit memekikkan suaranya. Ia sekarang kesal, Rhea pun mulai menggoyangkan lengan Jeno dengan kedua tangannya. “Jeno! Bangun nggak, lo?! Gue bakar bentar lagi tempat tidur lo kalau nggak bangun! JENO!” pekik Rhea yang sudah habis batas kesabarannya.
Dan benar, Jeno pun terbangun. Ia membuka kedua mata khas bulan sabitnya itu, tidurnya terganggu akibat suara dan gerakan di lengannya tadi. “BANGUN! GUE MAU ALAT PANCING GUE!” omel Rhea dengan nada kesalnya yang meninggi.
Jeno sedikit terkejut saat melihat Kaela berada di dalam kamar tidurnya, “kapan ke sini?” tanya Jeno dengan suara beratnya yang sedikit parau itu. Ia bahkan sudah mengambil posisi duduknya sembari melihat gadis mungil yang belakangan ini membuatnya menangis.
Rhea berkacak pinggang dengan tatapan kesalnya kepada Jeno, “kapan ke sini, kapan ke sini! KAPAN-KAPAN GUE KE SINI! GUE MAU MANCING! MANA ALAT PANCING GUE!” ucap Rhea dengan napasnya yang terlihat memburu. Emosinya sudah menaik.
Jeno mengernyitkan dahinya,”kenapa marah-marah terus, sih? Nggak bisa memangnya ngomong sama gue itu dengan baik-baik?” tegur Jeno dengan nada tidak sukanya.
“Suka-suka gue!”
“Yaudah, pulang sana! Nggak bakal gue kasih alat pancing lo.” Dan terlihat Jeno kembali bersiap-siap mengambil posisi tidurnya.
“JENO!” panggil Rhea kembali dengan nada tingginya. Jeno tidak menghiraukan panggilan itu, ia benar-benar kembali tidur.
“Gue aduin ke Jaemin, baru tahu rasa lo!” ancam Rhea sembari berkacak pinggang kembali.
“Aduin sana ke pacar lo! Ke orang yang bertanggung jawab sama lo! Ke orang yang antar jemput lo! Aduin aja sana! Nggak takut gue!” balas Jeno sembari memunggungi sahabatnya. Ia pun terlihat tidak mau kalah.
Rhea terlihat frustasi dengan Jeno yang tidak menghiraukan ancamannya. “Bunda! Lihat Jeno, bunda. Masa Jeno nggak mau kasih alat pancing punya Kaela. Malah Jeno ngusir Kaela, bunda.” Adu Rhea sembari keluar dari kamar Jeno. Rhea seperti anak kecil yang meminta pembelaaan dari orang yang lebih tua.
“JENO! KENAPA SIH SUKA BANGET BIKIN KEGADUHAN KE KAELA!” teriakan bunda Jeno dari dapur membuat Jeno bangkit dari tidurnya, ia tampak terlihat kesal juga. Ia melihat Kaela sudah berada di dapur sembari memeluk bundanya itu.
“Biarin! Kaela-nya juga nggak sopan gitu. Marah-marah mulu kerjanya sama Jeno, dikit-dikit marah, nggak mau lagi diajak berteman, nggak mau lagi ngomong sama Jeno, biarin aja! Ada maunya aja datang ke sini! Waktu di kantin Jeno nanya kabar doang, langsung diusir!” ucap Jeno dengan kesalnya. Ia bahkan sudah keluar dari kamar tidurnya dengan rambut hitamnya yang berantakan akibat baru bangun tidur.
Rhea mendengar itu seketika mengutuk Jeno dalam hatinya, ‘badjingan! Kenapa lo yang malah ngadu anjir! ****** juga nih si tokoh utama!’
Wanita paruh baya itu semakin pusing, pertengkaran kedua remaja ini begitu membuatnya pusing. Lita – bunda Jeno- pun mencoba mencari jalan tengah untuk kedua anak remaja ini. “Yaudah, gini aja. Coba Kaela dan Jeno dibicarakan baik-baik dulu, kenapa Kaela marah-marah sama Jeno, mana tahu ada kesalah pahaman antara kalian.” Ucapan bijak dari bunda Jeno yang kini menatap Kaela – yang telah melepaskan pelukannya.
‘Dih, mana mau gue ngambil jalur damai. Kalau bisa langsung hukum pancung aja tuh manusia satu!’ Rhea melirik ke arah Jeno yang tengah berkacak pinggang dengan tatapan kesalnya itu. Ia tidak akan pernah mau mengambil jalur damai untuk hubungan Kaela dan si pemeran utama itu.
“Yaudahlah, bun. Kaela beli baru aja alat pancingnya, Kaela buru-buru juga soalnya takut Nana nunggu Kaela di rumah.” Balas Rhea yang mulai membiarkan saja alat pancing itu, daripada dirinya harus kembali sakit karena rasa cemburu.
Jeno membolakan kedua matanya saat Kaela pergi tanpa ada penjelasan apapun, ia bahkan melihat gadis itu mulai berjalan menuju pintu utama rumahnya. Bunda Jeno yang hendak memanggil gadis itu pun terhenti saat melihat Jeno sudah terlebih dahulu mengejar Kaela, wanita paruh baya itu hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan sembari melanjutkan masakannya.
Di sisi lain, Rhea berpikir untuk meminta tolong ke Jaemin agar menemaninya beli alat pancingnya kembali. Ia pun melirik jam di pergelangan tangannya, ternyata masih lama.
“Kaela, lo benar-benar, ya!” Tarikan tangan Jeno yang secara tiba-tiba itu membuat Rhea terhenti dari gerakannya. Ia membolakan kedua matanya saat Jeno kini lebih dekat jaraknya darinya. “Lo kenapa, sih?! Gue udah ngalah buat lo nggak ingat gue dan kenangan lainnya, sekarang lo mau uji kesabaran gue buat lo memindahkan tanggung jawab itu ke Jaemin! Lo lupa ingatan, ya! Bukan kehilangan identitas diri!” ucap Jeno dengan suara beratnya yang penuh penekanan.
Rhea merasakan jantungnya berdetak tak karuan saat melihat kedua tatapan Jeno yang begitu tajam kepadanya, ia mencoba mendorong Jeno agar dapat menjauh darinya, tetapi kembali di tahan oleh lelaki itu.
“Jangan bikin gue nangis terus, bisa? Lo tahu nggak? Karena perlakuan lo ini, gue bahkan hampir mau ngehajar Jaemin sampai dia koma di rumah sakit dan tanggung jawab itu, bisa kembali ke gue.” Bisik Jeno tepat di hadapan Rhea dengan penuh penekanan dan suara beratnya itu.
Ia merasakan Jeno menggenggam kedua tangan mungilnya itu dengan lembut, bahkan kedua tangannya dijadikan sebagai penengah antara dirinya dan dada Jeno. Tatapan tajam itu tidak pernah teralihkan ke manapun.
‘Ini pasti Kaela yang nguasai tubuhnya lagi, ini pasti Kaela, ini pasti Kaela. Tapi kenapa gue nggak bisa menjauh?!’
Jeno menatap wajah Kaela itu dengan rahangnya yang mengeras, “gue kangen sama lo. Berminggu-minggu lo menjauh, lo menghilang dari gue, dan sekarang mau pergi lagi. Jahat tahu, nggak?!” Lanjut Jeno dengan suara beratnya yang menuntut jawaban yang ingin didengar oleh lelaki itu.
Rhea mencoba melepaskan kedua tangannya, ia tampak susah untuk menjawab Jeno yang begitu mendadak mengungkapkan perasaan lelaki itu selama ini. Jika Kaela yang menguasai dirinya, tidak mungkin dirinya sadar untuk dapat melepaskan sentuhan lelaki itu di tangannya.
“Apaan, sih! Lepas, nggak?! Lo tuh nggak pantas sedekat ini sama gue! Lo sudah punya pacar! Gue nggak mau banyak spekulasi mengenai hal-hal yang nggak ada, ya!” balas Rhea sembari mencoba melepaskan genggaman tangan Jeno yang mengetat.
Jeno semakin mengeratkannya, bahkan menarik dengan ringan tubuh mungil itu agar semakin menempel kepadanya walau kedua tangan Kaela sebagai penengahnya. “Nggak! Baikan dulu sama gue, baru gue mau lepas!”
“Gue nggak mau baikan atau berhubungan dengan lo lagi!”
“Oh, yaudah. Biarin aja kayak gini, sampai lo pegal. “
“Lo gila, ya?”
“Lo yang lebih gila! Biarin gue nangis-nangis mulu!”
“Dih, nggak jelas lo. Nggak ada yang nyuruh lo nangis juga!”
“Iya, emang nggak ada yang nyuruh gue nangis. Tapi lo penyebab gue nangis!”
“Makin gak jelas! Lepas, Jen. Nana nungguin gue!”
“Nana terus! Gue juga mau diperlakukan kayak Nana, Kae! Ayolah, jangan kayak gini ke gue.”
Rhea seketika sedikit mengernyitkan dahinya saat mendengar rengekkan Jeno tanpa Jeno sadari, lelaki itu bahkan sedikit menggoyangkan kedua tangannya tanpa sadar. ‘Di novel kagak ada sifat Jeno yang kayak gini, anjir! Kenapa jadi numbuh sifat-sifat yang belum gue ketahui?!’
“Gue nggak ingat sama lo! Lo lepasin, deh. Sebelum gue tendang lo,” ancam Rhea yang sudah tidak sanggup lagi dengan detakan jantungnya yang tidak karuan ini, akibat Jeno yang dekat kepadanya.
Jeno menatap sendu ke arah Kaela,”gue ajarin biar ingat gue lagi, tapi please jangan suruh gue menjauh lagi, gue nggak sanggup, Kae.”
Rhea merasakan ini bukan Kaela yang mengatur dirinya, tapi ini dirinya sendiri. Entah kenapa rasa menghangat menjalar ke dirinya.
**
Semuanya berjalan dengan awalan yang baru.
**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
fransisca brahara
snangt re
2023-05-02
1