12

“Ada apa dengan kamu, Jeno?” Selepas kepergian Jeno dari kantin tanpa memberi kabar membuat Karina kebingungan sembari mencari keberadaan kekasihnya itu. Pada akhirnya, ia melihat kekasihnya itu tengah menyendiri di bangku taman sekolahnya ini.

Jeno yang mendengar suara lembut Karina membuatnya seketika mengalihkan atensinya, dan Karina melihat kedua mata kekasihnya itu seperti sehabis menangis. Ada apa sebenarnya ini? Kenapa belakangan ini Jeno selalu membuatnya bingung? Karina segera mengambil posisi untuk duduk bersama lelaki itu.

“Maaf, aku lagi banyak pikiran. Kamu pasti bingung nyari aku tadi, ya?” ucap Jeno dengan tatapan sendunya kepada Karina. Karina menatap sedih kekasihnya itu, tanpa perlu ucapan apapun, ia memeluk Jeno.

“Aku khawatir sama kamu, Jeno. Apa yang kamu pikirkan? Apa masalahnya seberat itu, sampai kamu diam sendiri begini? Cerita sama aku, sayang,” bisik Karina dengan mengeratkan pelukannya kepada Jeno.  Jeno menutup kedua matanya dengan lelah, jujur saja, ia lelah merasakan ketidak relaannya bahwa Kaela menjauh darinya dan kini berubah.

“Aku..” Jeno memberikan jeda ucapannya, kedua matanya memanas,”aku belum sanggup kalau sahabatku benar-benar berniat buat jauhi aku, Karin. A-aku harusnya senang, Kaela nggak akan ikut-ikut aku kalau lagi berdua sama kamu, ta-tapi.. kenapa bikin aku sakit ya, Karin?”

Karina melepaskan pelukannya, ia kini menatap Jeno yang juga menatapnya. Ia melihat airmata Jeno jatuh sembari salah satu tangan lelaki itu memukul pelan dada bidangnya itu. “Sesak banget napas aku waktu dengar dia minta sama mama untuk minta tolong ke Jaemin aja, daripada aku. Sa-sakit banget, Karin.” Dan lepaslah airmata itu, Jeno benar-benar mengeluarkan rasa sedihnya. “Ma-maf.. aku belum bisa lepas dari Kaela, sayang.”

Karina tidak dapat memberi satu kata pun saat mendengar tangisan Jeno yang begitu pilu. Ia mulai mengusap airmata kekasihnya itu dengan lembut, “apa yang harus aku perbuat, Jen? Biar kamu bisa melupakan Kaela?”

Jeno menatap kekasihnya dengan pelupuk matanya yang digenangi oleh airmatanya itu, ia melupakan satu hal bahwa Karina adalah kekasihnya yang selama ini ia perjuangkan. Ia melupakan bahwa ia memprioritaskan kekasihnya itu dalam segala hal, ia menaruh hatinya kepada Karina.

“Apa kamu juga akan menangis seperti ini, kalau aku yang pergi juga?” tanya Karina dengan senyuman sedihnya, jemarinya masih sedia mengusap airmata kekasihnya itu. “Aku cemburu, Jeno.”

Bak drama-drama yang sering ia tonton, Rhea yang tidak jauh dari pemandangan Jeno dan Karina yang terlihat berpelukan di bangku taman itu membuatnya menutup mulutnya dengan salah satu tangan mungilnya. ‘Omo..omo.. mereka pelukan? Apa sekarang waktunya aku menangis, Kaela? Biasanya lo kan muncul tuh kalau lagi adegan-adegan krusial seperti ini.’ Batin Rhea dengan sarkasnya.

Bukan tanpa alasan juga ia tiba-tiba di sini, semenjak rasa sesaknya muncul, ia hendak menyusul Jeno agar rasa sesaknya hilang. Namun, yang terjadi makin menyesakkan dirinya, di mana tontonannya sekarang kedua pasangan pemeran utama itu saling menyalurkan afeksi mereka seakan-akan dunia ini milik mereka.

‘Ya, tapi memang benar, sih. Dunia ini diciptakan memang untuk kisah mereka. Bego lo, Rhe.’

Rhea ingin pergi saja, rasa cemburu makin merajalela saat melihat Jeno bermesra ria dengan kekasihnya itu. Sebelum ia hendak membalikkan badannya, tiba-tiba rasa hangat menghampirinya. Ia ditarik ke dalam pelukan yang ia kenal, Jaemin. Rhea terkejut saat Jaemin tiba-tiba muncul dan menarik dirinya ke dalam pelukannya. Ada apa, ini?

“Na..—”

“Maaf, aku telat.”

Rhea mengerjapkan kedua matanya dengan bingung, ‘telat untuk apa?’  Bahkan ia mendengar tarikan napas Jaemin yang terdengar lelah.

“Pasti sakit kamu kambuh, ya? Harusnya kamu jangan lihat-lihat mereka lagi, Kae. Aku kan udah ada untuk kamu,” ucap Jaemin dengan suara beratnya itu. Kali ini, Jaemin benar-benar terdengar serius dengan kata-katanya itu.

‘Ah, benar juga. Jaemin  ngira gue kesakitan banget lihat adegan itu. Sekarang lagi drama nih, ceritanya?’

Rhea akan menuntaskan drama ini sebentar, ia pun membalas pelukan Jaemin dengan eratnya. “Kenapa ya, Na? Walaupun aku amnesia, aku cemburu nggak jelas gini lihat Jeno pelukan sama Karina?” tanya Rhea dengan berpura-pura sedih. Kini, Jaemin mengusap punggung mungil sahabatnya ini.

Rhea menyunggingkan senyumannya di dalam pelukannya, “ak-aku kira setelah aku berusaha kasar ke Jeno, menjauh dari Jeno, ternyata tetap aja cemburu terus lihat dia sama Karina. A-aku nggak ingat Jeno itu sahabat aku, tapi rasa cemburunya itu datang terus.”

Pelukan Jaemin benar-benar bemanfaat untuknya, buktinya sekarang rasa cemburu itu perlahan-lahan teralihkan dengan Jaemin yang memeluknya. ‘Mana Jaemin harum banget lagi, duh.. boleh tidur bareng, nggak? Atau nggak, pelukannya minimal selamanya.’

“Sst..aku akan lindungi kamu dari hal-hal yang seperti ini. Jangan lagi pergi sendirian ya, Kaela.” Bisik Jaemin dengan lembut. Rhea ingin melompat senang saat suara Jaemin begitu lembut kepadanya, ia menganggukkan kepalanya seakan-akan Jaemin adalah pegangan hidupnya.

“Aku sayang Nana.” Ucap Rhea dengan pelan, ia berusaha benar-benar seperti orang yang terpukul, teraniyaya, termenderita apapun itu bahasa yang menunjukkan bahwa dirinya sekarat.

“Aku juga sayang sama kamu.”

‘Woho! Kalau gini, Jaemin bakalan bisa jadi jodoh gue di dalam dunia ini. Otomatis, cerita ini akan menjadi cerita paling adil di sepanjang sejarah per-novelan! Dan menjadi mega best seller.’ Batin Rhea dengan senangnya.

Tetapi, di balik kesenangan Rhea, ada Jeno yang tersadar akan kehadiran mereka yang tengah berpelukan itu juga.

**

Chika menatap kedua tangannya, ia sudah tidak lagi di dalam ruangan rumah sakit tempat Rhea dirawat, ia kini duduk di kursi tunggu tepat di luar ruangan Rhea. Kegiatan Chika selepas komanya Rhea adalah pergi ke sekolah, pulang sekolah langsung mendatangi rumah sakit tempat Rhea di rawat hingga esoknya kembali ke sekolah lagi. Selama Rhea koma, tidurnya tidak pernah nyenyak, ada lingkar hitam di bawah matanya, dan kini tubuhnya pun ikut mengurus bersamanya dengan Rhea juga.

Setelah kemarahan mama Rhea, Chika hanya bisa pasrah jika mama Rhea menuntutnya, apapun itu akan ia laksanakan. Memang dirinya yang salah, jika saja ia bisa mengatur emosinya maka Rhea tidak akan tertidur pulas seperti ini. Kedua tangannya ini benar-benar membawa kesialan untuk Rhea.

“Makan, Chika.”

Chika seketika mengalihkan atensinya pada orang yang menjulurkan kotak makan kepadanya, dan seketika membolakan kedua matanya saat melihat mama Rhea tersenyum kepadanya. “Tan-te..”

“Makan. Tante perhatikan, kamu selalu diam seperti ini tidak pernah lihat kamu makan. Kenapa? Karena tante ngamuk, ya?” tanya wanita paruh baya itu dengan lembut. Chika menggelengkan kepalanya dengan cepat, “itu memang seharusnya tante marah ke Chika. Chika yang salah, harusnya Chika pandai mengatur diri, Chika di sini memang salah tante. Bahkan Chika nggak pantas untuk minta maaf.”

Mama Rhea menghela napasnya pelan, ia mengasihani Chika juga. Gadis kecil ini terlihat memakan bulat-bulat kesalahannya yang berakibat fatal, bahkan ia terlihat pasrah jika dirinya memang harus dibunuh pun. Wanita paruh baya itu mengusap puncak rambut Chika dengan lembut, “makan dulu, tante nggak mau kalau Rhea bangun nanti, dia marah lihat temannya makin kurus.”

Mendengar itu pecahlah tangis Chika untuk kesekian kalinya, ia sudah tidak sanggup lagi menahan tangisnya. “Ma-mafin, Chika, tante. Chika salah, tante.. maafin, Chika.”

Senyuman tua nan rela hati itu pun  terbit di wajah wanita paruh baya itu. “Kita doakan bersama ya, Chika.”

**

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!