11

Apa harus merasakan kehilangan dahulu?

**

Sudah hampir dua minggu lebih Rhea pergi ke sekolah bersama Jaemin, selalu tersenyum, tidak ada lagi rasa cemburu buta, rasa sedih di hati, dan rasa tertekan. Pilihan dan rencananya sudah berjalan baik, ia sudah menutup komunikasi dan interaksi pada pemeran utama. Rhea yakin, secepatnya ia akan pulang kembali ke dunianya.

Ada kalanya, ia bertemu dengan Jeno tanpa sengaja tetapi Rhea lebih cepat menghindar bahkan sebelum kedua mata itu bertatapan, Rhea lebih dahulu menghilangkan eksistensinya dari Jeno. Dan sepertinya Kaela menyetujuinya, dirasakan Rhea tidak ada rasa sesak di dadanya yang berlebihan, kepalanya yang biasanya terasa sakit kini merasa enteng. Tidak ada lagi. Rhea tersenyum senang kembali.

“Aku suka kalau kamu selalu senyum seperti ini, Kaela.” Rhea menatap lelaki di hadapannya ini dengan tatapan binar bahagianya, bagaimana tidak bahagia? Sesuatu yang direncanakan kini berjalan dengan semestinya dan makin bertambah rasa sukanya kepada lelaki itu.

“Kalau Nana juga selalu dekat aku, pasti bahagia dong,” balas Rhea dengan senyuman bahagianya. Mereka sedang di dalam kantin, suasana di sini begitu riuh karena istirahat jam pertama dan di hari Senin pula, oleh sebab itu para siswa berbondong-bondong untuk mengisi energinya sebelum memulai kembali pelajaran selanjutnya.

Rhea menikmati makanannya bersama Jaemin, bahkan sesekali tertawa kecil mendengar lelucon yang dilontarkan Jaemin kepada dirinya. “Eh, iya! Aku lupa, Na. Aku kan ada beli alat pancing, sebenarnya sebelum koma itu aku ada rencana mau ajak kamu mancing-mancing ikan. Hari Sabtu ini, kamu bisa, nggak?” ucap Rhea yang tiba-tiba saja teringat tentang rencana memancing ikan itu.

Jaemin menganggukkan kepalanya sembari mengunyah makanannya, “boleh, aku juga bawa alat pancing  kalau gitu. Kita tanding, siapa yang paling banyak dapat ikannya, pemenangnya akan diteraktir makan selama 2 minggu. Gimana?” tawar Jaemin sembari menaik turunkan alisnya.

“Jangan ditanya lagi! Deal!” balas Rhea dengan semangat, ia menyetujui tantangan Jaemin. Mereka kembali tertawa saat menyetujui kompetisi kecil itu, kebahagiaan di antara mereka benar-benar merekat seperti ada lem di sana. Tawa yang sederhana namun dapat bertahan lama.

“Boleh gabung sama kalian, nggak?”

Jaemin mengalihkan atensinya saat mendengar suara lembut itu, dan ia melihat Karina bersama dengan Jeno dekat dengan meja mereka. Jaemin kembali mengalihkan atensinya kepada Kaela, sahabatnya ini untuk melihat raut wajah sahabatnya ini.

“Meja yang lain penuh, jadi aku dengan Jeno bingung mau ke meja mana lagi.” Lanjut Karina dengan nada lembutnya.

Rhea menghela napasnya pelan, ‘mau sekeras apapun itu untuk menghilangkan interaksi figuran dan si tokoh utama tetap nggak akan bisa. Mungkin gue harus memperkecil frekuensinya saja, dan mengalihkan rasa Kaela dari Jeno ke Jaemin. Gue rasa nggak ada salahnya.’ Rhea memantapkan keputusannya, ia pun menganggukkan kepalanya kepada Jaemin sebagai tanda mengizinkan mereka duduk bersama mereka.

“Silakan,” ucap Jaemin mempersilakan kedua pasangan itu untuk duduk bersama mereka. Jaemin memberikan senyumannya kepada Kaela, bahkan ia mengusap punggung tangan sahabatnya itu sebagai tanda bahwa Kaela sangat baik untuk tidak menolak mereka.

‘Gimana gue nggak jatuh cinta sama lo, Na?! Bisa nggak sih, gue cium di sini?’ batin Rhea meronta-ronta karena kegemasannya pada lelaki di hadapannya ini. Rhea bahkan ingin menggigit pipi lelaki itu dengan kuat.

“Na, kamu nggak ada niatan buat pacaran gitu? Sama aku, yuk! Aku bersedia dengan senang hati,” dan kembali Rhea melontarkan pernyataan cintanya kepada Jaemin. Entah kenapa, urat malu Rhea putus begitu saja saat sudah bersama dengan Jaemin.

Jaemin yang sudah terbiasa dengan pernyataan cinta Kaela hanya bisa menggelengkan kepalanya kecil, ia menyuapi makannya sendiri sembari menatap Kaela. “Kamwu memwang nggak habis-habiwsnya, yawh.” Jaemin membalas ucapan sahabatnya itu dengan makanan yang berada di dalam mulutnya, bahkan sedikit keluar mengenai wajah sahabatnya itu.

Rhea menganggukkan kepalanya dengan pelan, “untung ganteng,” gumam Rhea dengan pasrah sembari membersihkan wajahnya. Jaemin yang melihat itu pun dengan kunyahan di dalam mulutnya pun ikut membantu membersihkan wajah sahabatnya itu.

Karina menyunggingkan senyuman kecilnya saat menyimak percakapan antara Kaela dan Jaemin, ia pun mengalihkan atensinya kepada kekasihnya, Jeno. Lelaki itu hanya diam sembari menyuapi makanannya dengan tatapannya mengarah pada kerumunan siswa yang tengah memesan makanan. Entah kenapa belakangan ini, Jeno terlihat lebih banyak diam dan tidak banyak tersenyum.

“Sayang, suka dengan pilihan makanan aku?” tanya Karina sembari menyentuh punggung tangan Jeno dengan lembut. Jeno pun mengalihkan atensinya kepada Karina, ia menganggukkan kepalanya sembari memberikan senyuman tak sampai matanya. Kembali, Jeno tidak memberikan suara yang seperti biasa lelaki itu lakukan.

Karina menatap sedih lelakinya ini banyak berubah beberapa minggu belakangan ini, apa yang terjadi sebenarnya?

“Aku mau beli minum lagi, kamu mau nitip juga, nggak?” tawar Jaemin yang mulai berdiri dari duduknya itu. “Nggak usah, aku masih ada,” balas Kaela dengan sembari mengunyah makanannya. Jaemin mengacak singkat puncak rambut Kaela, lalu mulai berlalu membeli minuman itu.

Karina pun berdiri dari duduknya,”kamu mau sekalian nitip nggak, sayang? Aku mau beli minuman juga, nih,” ucap Karina dengan lembutnya. Jeno pun menggelengkan kepalanya dengan senyumannya, “aku bisa beli sendiri,” balas Jeno dengan suara beratnya yang sedikit serak.

“Sebentar, ya.” Dan berlalu lah Karina menjauhi meja kantin itu. Rhea berdecak sangat kecil, kenapa dia harus ditinggalkan berdua seperti ini bersama Jeno? Rhea melirik kecil ke arah atap kantin sekolahnya seakan-akan ia mengutuk kembali penulis cerita novel ini. ‘Baru juga senang rencana gue berjalan dengan baik, malah ditahan lagi.’

“Apa kabar, Kaela?”

‘Tuh, kan! Ah, elah! Kenapa harus berkomunikasi lagi sih, cok!’ Rhea pun hanya diam, seharusnya tidak perlu lagi ada komunikasi atau pun interaksi. Jeno harusnya fokus pada Karina dan kisah hidupnya.

Jeno sama sekali tidak menerima jawaban apapun dari gadis itu. Posisi duduk mereka yang bersebrangan seperti ini membuat Jeno dapat melihat jelas Kaela. Jeno menyunggingkan senyuman kecilnya sembari mengaduk makanannya ini tanpa ada selera sedikit pun. “Apa gue juga nggak pantas untuk nanya kabar lo juga, Kae?”

Rhea kembali merasakan perasaan sedih saat mendengar suara berat Jeno yang dapat menenggelamkan riuhnya suara-suara yang ada di dalam kantin ini. Ia menghela napasnya pelan, lalu menatap ke arah Jeno yang juga menatapnya, tatapan mereka kembali bertemu setelah sekian lama tidak berinteraksi.

“Untuk apa lo tahu kabar gue? Mau gue mati atau pun hidup, bukannya itu bukan urusan lo, ya?” jawab Rhea dengan tatapannya kepada Jeno. Rhea melihat tatapan Jeno yang seakan-akan meredup saat mendengar jawabannya.

“Kenapa lo jahat banget sama gue, Kae?” tanya Jeno dengan suara beratnya yang sedikit serak, Rhea melihat kedua mata Jeno yang memerah. “Gue cuma mau tahu kabar lo sekarang. Gu-gue tahu dari mama, kalau lo nggak mau lagi pergi sama gue, lo juga nggak mau lagi dekat-dekat gue. Terus, lo juga nggak memperbolehkan gue buat nanya kabar lo.” Dan jatuh lah airmata lelaki itu untuk kesekian kalinya, entah kenapa hatinya sakit sekali melihat ketidakperdulian Kaela kepadanya, dan menjauhinya begitu saja.

“Jen—”

“Iya, gue bakalan diam. Gue cuma kangen sama lo, jadi lo bisa tenang. Soalnya gue nggak bakalan ganggu lo dan perasaan lo ke Jaemin.” Jeno menghapus airmatanya dengan cepat, ia pun bangkit berdiri lalu meninggalkan Kaela sendiri di meja kantin itu. Ia tidak sanggup untuk mendengar ucapan Kaela yang kembali mengusir dirinya.

Rhea menghembuskan napasnya dengan lelah, sedikit ia memberantaki rambutnya. “Kenapa jadi gini, sih?!” gumam Rhea dengan nada kesalnya. “Dada gue jadinya sesak lagi! Bangsat, lah!”

**

Setiap tetesan airmatanya jatuh membasahi jeritan hati yang ia tulis itu, Kaela menahan sesaknya sejak tadi agar dapat ia tumpahi di dalam tulisan di buku hariannya itu. Tak sanggup lagi, ia pun akhirnya melipat kedua tangannya di atas buku hariannya itu dan menumpahkan rasa sedihnya yang memuncak.

“Je-jeno jahat banget, Tuhan. Di-dia suruh Kaela jauhi dia,” isak tangis Kaela dengan begitu sedihnya. “Jeno mungkin bisa tanpa Kaela, ta-tapi Kaela nggak bisa tanpa Jeno, Tuhan.”

Tangisan kesakitan dari seorang gadis mungil nan rapuh itu memenuhi ruang kamar tidurnya, deburan ombak yang sejak tadi menjadi musik penghantarnya kini tertelan dengan suara isak tangis gadis itu. “Se-seandainya Kaela bisa lepasin rasa cinta Kaela dari Jeno, Kaela mau lepasin. Ta-tapi kenapa tidak bisa ya, Tuhan?”

Kaela kembali menegakkan kepalanya, bahunya bergetar hebat karena tangisannya, dan menjadikan dirinya tidak dapat mengendalikan tangisannya. “Sebegitu besar rasa cinta Kaela ke Jeno, tetapi kenapa Jeno ja-jahat ke Kaela, Tuhan?”

Ia kembali menulis deritanya hari ini di dalam buku harian itu, entah kenapa dirinya lebih banyak menumpahkan jeritan hatinya di dalam buku ini daripada mengungkapkannya pada seorang manusia. “Je-jeno hari ini jahat.”

‘Banyak atau sedikit yang dirubah, maka hasilnya juga berubah.’

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!