Chika menundukkan kepalanya dengan seluruh badannya yang bergetar menahan tangis.
“ADA APA DENGAN KAMU, CHIKA?! HANYA PERKARA NOVEL SAJA, KAMU BUAT ANAK SAYA KOMA! KAMU TAHU RASANYA HATI SAYA BAGAIMANA? HANCUR SEKALI, CHIKA… HANCUR SEKALI!” teriak seorang wanita paruh baya itu dengan tidak kuasanya. Chika tidak berani mengangkat kepalanya, ia sudah pasrah jika memang harus diselesaikan dengan jalur hukum, karena dirinya memang salah.
“DIA HARTA YANG SAYA PUNYA, CHIKA! KAMU TAHU ITU! SAKIT SEKALI HATI SAYA SAAT MELIHAT DIA TIDAK SADARKAN DIRI SEPERTI ITU! TEGA KAMU, CHIKA.. SAYA PERCAYAKAN ANAK SAYA KEPADAMU, TAPI KENAPA HARUS SEPERTI INI KAMU MEMBALASNYA.”
BRUK!
Wanita paruh baya itu jatuh tidak sadarkan diri di lantai koridor rumah sakit itu, semua orang mulai berdatangan untuk membantu, termasuk Chika yang sudah menangis. “T-tolong tante saya, pak,” ucap Chika dengan isak tangisnya. Ia bahkan membantu seorang pria tua itu untuk membantu mama Rhea agar dapat dibawa ke unit gawat darurat. Chika mengusap airmatanya sembari membantu menuntut pria tua itu membantunya. “Lewat sini, pak.”
**
Rhea tersenyum dengan bahagianya saat ia akhirnya duduk dekat dengan jendela kamarnya, memandang laut jernih yang semakin dekat dengan pandangannya, ia juga tak lupa menyandungkan irama kecil karena Jaemin tengah menjalin rambutnya. Bahkan kakinya ia goyangkan kecil karena menikmati perlakuan Jaemin padanya.
“Kamu ada rencana potong rambut nggak, Kae?” tanya Jaemin yang sibuk dengan jalinan rambut hitam ini.
Ide pun tiba-tiba muncul saat mendengar pertanyaan Jaemin, ‘iya juga, ya. Gue selama di sini belum ada otak-atik penampilan. Apa gue potong rambut aja? Sambil diwarnai gitu rambutnya! Ah, harus dilaksanakan kalau gitu.’
Jaemin yang sama sekali tidak mendengar suara Kaela, tiba-tiba memeriksa kondisi gadis itu, ia takut gadis itu koma kembali. “Astaga, Kaela! Aku nanya tahu! Aku kira kamu koma lagi,”omel Jaemin yang kembali ke posisinya untuk menjalin rambut sahabatnya.
Rhea tertawa kecil saat mendengar suara omelan Jaemin, “iya, aku ada rencana gitu sih, biar refershing gitu,” jawab Rhea yang kembali semangat saat mengingat rencananya.
“Mau aku temani?”
“Aku mau banget!”
Dan kembali terdengar kedua tawa mereka memenuhi ruang kamar Kaela. Rhea begitu bahagia saat bersama dengan Jaemin, apa yang harusnya Kaela cari lagi jika kebahagiaan itu sudah sangat dekat dengannya?
“Jaemin.” Suara berat itu tiba-tiba mengalihkan atensi Rhea dan Jaemin, terlihat pantulan Jeno dari kaca jendela itu tengah berdiri di dekat pintu masuk kamar Kaela. Ia terlihat membawa nampan yang cukup banyak isinya di atasnya.
Jeno sempat mengheningkan dirinya saat melihat Jaemin dan Kaela tampak tengah menikmati suasana sore di sana, ia berdehem sebentar lalu mulai memasuki kamar Kaela. “Kaela udah waktunya makan,” ucap Jeno yang mulai meletakkan nampan berisi piring makanan untuk Kaela di meja kecil yang ada di dalam kamar Kaela.
Rhea melihat dari pantulan kaca jendela itu, Jeno masih memakai seragam sekolah itu.”Di mana Karina?” tanya Rhea yang kini mulai berdiri dari duduknya tadi, ia pun dituntun Jaemin untuk kembali ke tempat tidur itu.
“Pulang ke rumahnya,” jawab Jeno yang mulai mengambil nampan itu kembali, ia hendak memberi makan Kaela.
“Terus, lo kenapa nggak pulang?” tanya Rhea kembali yang kini sudah mengambil posisi duduk di tepi ranjangnya itu. Jaemin merasakan atmosfir di sekitar mereka mulai dingin, ada dinding tinggi menghalangi kebahagiaan memasuki ranah mereka.
“Kaela,” tegur Jaemin dengan lembut. Rhea memberikan senyuman manisnya kepada Jaemin, “kamu belum mau pulangkan, Na? Suapin aku, ya,” pinta Rhea dengan senyuman manisnya.
Jeno melihat raut wajah sahabatnya itu melembut ke arah Jaemin, bahkan tak segan-segan untuk bertingkah manja. Jeno mengeratkan pegangannya pada nampan makanan itu, tetapi tetap berjalan untuk memberi nampan ini ke arah Kaela.
“Tuh, kan! Ketahuan banget bayinya. Tapi, aku harus pulang sehabis kamu makan,” balas Jaemin sembari mencubit gemas pipi sahabatnya. Rhea terkikik geli saat Jaemin mencubit pipinya dengan gemas.
Jeno memberikan nampan itu kepada Jaemin tanpa suara, ia menatap kedekatan mereka yang tidak pernah terhalang oleh apapun. Bahkan terhapusnya ingatan Kaela, kedekatan mereka terasa semakin erat dari waktu ke waktu. Tanpa sengaja, tatapan Jeno dan Rhea bertemu, ada arti yang tersembunyi saat tatapan itu bertemu.
‘aku sayang Jeno.’ Lelaki itu mengingat ucapan dari sahabatnya itu, walau sekarang ia merasa hubungan dirinya dan Kaela semakin jauh, tetapi ia percaya suatu saat Kaela akan mengingatnya.
“Mama lo udah pulang, Kae. Dia lagi istirahat karena baru beberapa jam lalu sampai,” ucap Jeno dengan suara beratnya, tatapan sendunya ia arahkan kepada Kaela.
“Oke, terima kasih.” Dan hanya ucapan singkat yang keluar dari mulut gadis mungil itu, Jeno merasakan sakit di dalam hatinya kini. Tidak ada senyuman hangat, tidak ada tatapan bahagia, tidak ada sentuhan kecil yang biasa gadis itu lakukan. Apa amnesia itu berlangsung selama dan sesakit ini?
“Jangan lupa minum obatnya, udah gue sediakan juga di sana,” lanjut Jeno dengan nada lirihnya. Kembali, ia diacuhkan oleh gadis itu. Jeno hanya bisa menerimanya, ia tidak ingin memaksakan kehadirannya lagi, ia takut Kaela akan jatuh tidak sadarkan diri seperti sebelumnya.
“Gue pulang dulu, Jae, Kae.” Pergilah Jeno meninggalkan mereka yang tengah sibuk dengan makanan itu.
Rhea merasakan pukulan kecil di lengannya, dan atensinya ia alihkan kepada Jaemin. “Nggak gitu caranya, Kae. Dia itu khawati—”
“Cukup, Na. Aku cuma mau sama kamu, bukan dia.” Potong Rhea dengan cepat, ia tidak mau lagi ada pembahasan Jeno di sekitarnya
Jaemin menatap sahabatnya ini dengan sedih, “sekesal-kesalnya aku dengan orang yang menyakiti kamu, aku nggak suka dengan sifat baru kamu yang sekarang, Kaela. Kamu menjauh dengan cara menyakiti yang lain.”
‘Tapi ini bukan Kaela, Na. Ini Rhea, yang menentang apapun untuk terlepas dari rasa sakit itu.’
**
Rhea melihat raut khawatir dari wanita paruh baya itu, bahkan tidak henti-hentinya mengusap lengannya itu. “Mama lega kamu masih membuka mata untuk mama,” nada lirih dari wanita itu membuat hati Rhea terenyuh.
‘Seandainya dia tahu kalau raga anaknya sudah bukan lagi diisi oleh Kaela.’
“Mama kalau masih capek, besok bisa lihat Kaela, Ma,” ucap Rhea yang juga sedikit khawatir melihat mama Kaela yang tampak lemah seperti itu. Hanya gelengen kecil dari wanita itu untuk menolak segala larangan dari siapapun itu, “mama rindu anak mama.”
Dan Rhea merasakan pelukan hangat itu dan usapan lembut di punggungnya. Rhea menghela napasnya pelan, ia memejamkan kedua matanya dengan rasa bersalah yang besar.’Sejahat apa lagi sih untuk kisah Kaela ini?’
“Jangan lagi koma ya, sayang. Kamu cuma harta yang mama memiliki, kamu penyemangat hidup mama,” bisik mama Kaela dengan isak tangisnya. Rhea mengusap punggung wanita yang memeluknya itu, hanya itu yang dapat ia lakukan. Ia juga tidak bisa memastikan dirinya untuk dapat bertahan di dunia ini apa tidak, ia hanya bisa melakukan sebisa yang ia tahu.
“Mama jangan nangis lagi, Kaela nggak mau mama sakit.” Hanya itu yang dapat Rhea katakan kepada mama Kaela.
Wanita paruh baya itu pun melepaskan pelukannya sembari tersenyum lega, ia menghapus airmatanya dan menatap sayang Kaela. “Untung saja, Jeno bisa bantu mama. Kalau saja Jeno nggak ada, mungkin mama nggak tahu lagi tentang kamu dan bahkan nggak bisa lihat kamu.”
Dan Rhea kembali harus mendengar nama lelaki itu, apakah ia bisa melepaskan takdir Kaela dari si pemeran utama itu?
“Ma, ada yang mau Kaela bicarakan ke mama.” Kini Rhea harus bisa mengambil jalannya lagi, sejak Jaemin datang di saat ia menangis sendirian, ia sudah bertekat bulat untuk dapat mendapatkan Jaemin sebagai pengganti Jeno. Ia tidak akan merubah alur cerita ini lagi, tetapi ia akan menggantikan pengisi hati Kaela, yaitu Jaemin. Mulai dari sekarang, figuran bernama Kaela Faleesha akan mencintai Jaemin sampai kapanpun.
“Tentang apa, sayang?” sahut mama Kaela dengan lembutnya. Rhea berdehem sebentar untuk melancarkan tenggorokannya.
“Mengenai Jeno dan kepercayaan mama kepada Jeno. Tolong untuk jangan terlalu lagi memberikan tanggung jawab itu kepada Jeno, bisa, Ma?” ucap Rhea dengan ekspresi seriusnya.
Mama Kaela mengernyitkan dahinya, “lho, kenapa? Kan tadi—”
“Ma, Kaela mau mama kasih tanggung jawab itu ke Jaemin. Mama kenal Jaemin, kan?” ucap Rhea seketika, ia memotong ucapan mama Kaela dengan cepat.
“Tentu dong, itu kan sahabat kamu dari kecil banget.”
“Kaela suka Jaemin, Kaela mau sama Jaemin, jadi Kaela mau Jaemin yang mama kasih tanggung jawab untuk jaga Kaela. Lagian, kalau Jeno mulu yang mama kasih tanggung jawab, kapan Kaela bisa dapat pacar.” Ucap Rhea dengan acting-nya yang mencoba meyakinkan wanita paruh baya itu.
Wanita paruh baya itu seketika tersenyum mendengar ucapan anaknya ini, “kamu beneran suka Jaemin? Kok nggak cerita-cerita ke mama, sayang? Ah.. anak gadis mama udah besar ternyata.” Goda mama Kaela dengan gencar. Rhea yang mendengar itu pun berpura-pura malu, ia bahkan menutup wajahnya dengan kedua tangannya sekaligus membuktikan bahwa dirinya malu.
“Mama! Jangan gitu, Kaela jadi malas deh kalau digituin!” gerutu Rhea dengan nada yang ia buat merajuk. Terdengar tawa geli dari mama Kaela, sepertinya berhasil dengan apa yang direncanakan Rhea.
“Oke..oke, mama nyerah deh kalau sudah masalah suka-suka gini. Berarti mulai minggu depan, mama minta tolong ke Jaemin buat berangkat bareng sama kamu. Gimana? Sudah senang, tuan putri?”
Rhea memberikan senyumnya, tanda bahwa ia menyukai semua itu. ‘See? Gue harus bisa pulang dengan surga yang sedang gue buat untuk lo, Kae.’
“Terima kasih, mama cantik.”
**
Jeno meletakkan ponselnya di nakas di samping tempat tidurnya, kini posisinya sudah menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih itu. Sudah beberapa hari ini, ia tidak lagi ke rumah Kaela, lagi pula mama Kaela sudah berada di rumah juga, jadi sedikit ada rasa lega Kaela memiliki teman di sana. Ia melirik jam dindingnya itu, sudah menunjukkan waktu makan siang. Jeno mulai bangkit dari tidurnya, ia akan mengisi energi terlebih dahulu sebelum bersiap untuk berlatih basket di sekolahnya.
“Bunda, Nono lapar, bunda..” Suara manja itu ia keluarkan sembari keluar dari kamar tidurnya. Dan saat ia keluar dari kamarnya, ia melihat mama Kaela sudah duduk santai di ruang makan rumahnya dengan segelas teh dan kudapannya.
“Mama, sejak kapan datang, ma?” sapa Jeno dengan senyuman manisnya, ia bahkan mendekat ke arah wanita paruh baya itu.
“Jeno, sayang. Kata bunda, kamu latihan basket, udah selesai latihannya, sayang?” sahut mama Kaela dengan ramahnya. Jeno mengambil posisi duduk di kursi kosong meja makan itu. Ia menggelengkan kepalanya, “agak sorean, ma, Jeno latihannya. Mungkin karena di dalam kamar mulu, makanya bunda kira Jeno udah latihan.” Seketika Jeno ingat sesuatu, “eh, Kaela sama siapa di rumah, ma?” tanya Jeno sembari mengunyah kudapan yang ada di meja makan ini.
Mama Kaela menepuk lembut lengan Jeno dengan raut wajahnya yang semangat, “mama hampir lupa! Beberapa hari yang lalu, Kaela sempat curhat ke mama. Kaela ada cerita nggak sama kamu? Kalau dia naksir sama Jaemin. Jeno tahu Jaemin, kan? Teman dari kecilnya Kaela, tahu, kan?” cerita Mama Kaela dengan semangatnya. Jeno memberhentikan kunyahannya, atensinya benar-benar kepada Mama Kaela.
“Jadi, Kaela minta sama mama buat Jaemin aja yang jadi pengganti Jeno untuk antar Kaela, atau nemani Kaela kalau mama keluar kota gitu. Secara tidak langsung kan, Kaela minta dijodohkan sama Jaemin kan, Jen?” ucap Mama Kaela dengan semangatnya.
Jeno benar-benar memberhentikan kunyahannya, rasa laparnya hilang seketika saat mendengar ucapan antusias dari mama Kaela. “Jadi, maksud mama, Jeno nggak perlu bantuin Kaela lagi?” tanya Jeno memastikan ucapan mama Kaela dengan lirih.
Mama Kaela menganggukkan kepalanya dengan senyuman keibuan itu, dan melihat itu, Jeno pun terdiam. “Lagian, Jeno kan udah punya juga tuh, si Kaela juga bentar lagi bakalan pacaran sama Jaemin. Aduh, anak-anak mama udah besar semua, bisa kencan ganda gitu lho kalian. Seru banget masa muda gini ya, kan, Lita?” dan kini mama Kaela mengalihkan komunikasinya kepada bunda Jeno.
Jeno kembali merasakan sesak di hatinya, bahkan sekarang Kaela benar-benar melangkah untuk menjauh darinya. Lalu, tanggung jawab yang selama ini dipegangnya kini sudah beralih tangan kepada Jaemin.
“Jeno, kamu jadi makan, nggak? Itu ada semur ayam dibawa sama mama tadi.” Bunda Jeno menawarkannya kepada anak lelakinya itu.
“Nggak, bun. Jeno mau siap-siap latihan.” Tanpa perlu menjelaskan apapun dari panggilan bunda dan mama Kaela, Jeno pergi meninggalkan ruang makan itu dengan hatinya yang terasa sesak.
Ia membuka pintu kamarnya kembali, dan menutupnya dengan punggung tegapnya itu. Energinya seakan terhisap habis oleh fakta yang baru saja ia dengar tadi, seseorang yang selalu menjadi tanggung jawabnya telah dilepaskan begitu saja kepada seseorang yang baru. Bukankah harusnya ia senang? Bukankah ini menjadi awal yang baru agar dia tidak ada lagi beban?
“Kenapa makin berat, ya?” tanya Jeno sembari memukul pelan dadanya. “Harusnya makin ringan, kan? Soalnya Kaela sendiri yang minta.” Tetapi bukan senyum yang terpatri di wajahnya itu, melainkan lelehan airmatanya yang tidak bisa ia tahan lagi.
“Kenapa ya, Kaela jauhinya nggak kira-kira? Kenapa nggak kasih aba-aba dulu?” isak tangis Jeno yang sudah meluruhkan dirinya di lantai kamar tidurnya. Punggung tegap itu masih menempel lekat di pintu kamarnya.
“Kaela cuma lupa ingatan, tetapi dia niat buat hapus semuanya?” Jeno menangis di dalam patah hatinya yang tak ia sadari. Ia menahan suara tangisnya dengan wajahnya ia tutup dengan kedua lututnya. “Sa-sakit, Kae, saat l-lo benar-benar berniat jauhi gue.”
**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
fransisca brahara
mampus lo rasain noh
2023-05-02
1