“Lo belakangan ini keliatan banget sibuknya, Jen.” Kaela membuka suaranya sembari melirik kecil ke arah Jeno yang tengah tersenyum dengan ponselnya. Setelah seminggu Jeno menghilang, kini dapat kembali bertemu dan bersedia datang ke rumahnya. Ia merindukan kehadiran sahabatnya ini.
Kaela merasakan cemburu saat Jeno terlihat lebih banyak tersenyum dengan ponselnya itu, apakah ia boleh melarang sahabatnya itu untuk dapat memperhatikan dirinya saja? Banyak ucapan yang ia simpan kini hanya di dalam hatinya. “Jen,” panggil Kaela dengan lembut.
Jeno seketika tersadar, lalu mengalihkan atensinya kini kepada Kaela yang posisinya sudah berada di ranjang kamar gadis itu. “Ah, iya. Kenapa, Kae?”sahut Jeno dengan senyuman mata bulan sabitnya yang tidak menghilang itu. Kaela menyukai senyuman itu.
“Gue tadi tanya, lo belakangan ini keliatan banget sibuknya. Ada apa, sih?” tanya Kaela kembali dengan tatapan sayangnya kepada Jeno.
Jeno mengusap tengkuknya sembari menyembunyikan rasa senangnya lebih ini, “gue lagi gencar banget melakukan pendekatan sama Karina, makanya gue jarang ke sini. Gue sering ajak dia jalan-jalan sehabis pulang sekolah, dan ngantar dia pulang juga. Sorry banget kalau jarang bantu lo dan jarang jawab telepon lo, kadang waktu mau telepon balik, gue udah keburu lupa.”
Dadanya seketika terasa sakit, seperti ada sengatan listrik yang menyetrumnya tanpa ampun. Kaela menundukkan kepala sembari memperhatikan jari-jari mungilnya saling tertaut. Ia lupa, bahwa Jeno sudah punya tambatan hati yang hendak ia jadikan kekasihnya, Kaela menyunggingkan senyuman sedihnya. Kenapa susah sekali merelakannya, ya?
“Oh, gue kira lo ada permasalahan atau mau tanding basket lagi makanya sibuk,” balas Kaela dengan pelan. Ia menahan suaranya agar tidak bergetar, airmatanya seperti hendak berlomba-lomba keluar dari pelupuk matanya.
Tiba-tiba ia merasakan usapan lembut di puncak rambutnya, Kaela mendongakkan kepalanya dan melihat Jeno telah berdiri di dekatnya sembari tersenyum kepadanya. “Tapi, untuk hari ini, waktu gue untuk lo. Gue bakalan habisin waktu gue untuk lo, kita mau ke mana? Jajan atau keliling di kota Bintra? Gue siap untuk lo suruh-suruh.”
Kaela ingin menangis di dalam pelukan hangat Jeno, ia ingin meneriakkan kata jahat untuk Jeno karena telah mengabaikannya karena seorang gadis lain. Tetapi, ia kembali terjatuh untuk kesekian kalinya, karena Jeno dengan lihai menarik hatinya untuk jatuh berlutut di dalam senyuman manis lelaki itu.
“Makasih, lo masih mau kasih waktu lo untuk gue.”
Rhea menutup kembali buku diary Kaela, ia membaca kesedihan sekaligus kesenangan Kaela di dalam waktu bersamaan. Kaela benar-benar menumpahkan seluruh isi hatinya di dalam buku diary ini, bahkan lebih detail daripada cerita novel yang ia baca itu. Rhea menghela napasnya dengan pelan sembari menyimpan buku diary Kaela di bawah bantalnya.
Kini dirinya sudah sendiri di dalam kamar ini, hanya deburan ombak yang terdengar di luar sana. Rhea menatap sendu dinding biru laut itu, ia bingung harus melangkah ke mana lagi untuk menyelesaikan semua ini.
“Apa tujuan gue ke sini hanya untuk menggantikan sakit yang ditanggung Kaela?” tanya Rhea dengan kebingungan yang melanda pada dirinya.
“Atau lo menginginkan Jeno untuk menerima perasaan lo, Kaela?” Kini deburan ombak itu seperti musik mengalun merdu di telinga Rhea, ia hidup sendiri di dunia ini, tidak ada yang bisa membantu dirinya untuk menjawab teka-teki ini. Hanya dirinya yang ia punya, tidak ada satu orang pun yang paham.
“Jujur, gue capek harus menerka semuanya sendiri, Kaela. Gue bingung dengan cara apa gue harus pulang ? Gue bingung, apa gue harus melanjutkan dengan alur sebelumnya atau apa? Kasih gue petunjuk,” gumam Rhea dengan airmatanya telah jatuh, untuk pertama kalinya ia meneteskan airmatanya di dunia barunya ini. Ia memeluk kedua lututnya dengan wajahnya ia benamkan di kedua lututnya.
“Gue sendiri di dunia ini, Kae.” Isak tangis Rhea kini memenuhi isi kamar kosong ini. Isak tangisnya merupakan rasa keputusasanya terhadap apa yang tengah terjadi padanya. Dirinya selama ini hanya berpura-pura kuat untuk tidak takut dengan apa yang terjadi, dirinya yang tiba-tiba di dunia asing, bahkan ia berharap ini hanya mimpi belaka. Tetapi, rasa sakit yang dirasakan oleh figuran itu begitu nyata, sehingga ia harus memaksa dirinya untuk paham dan terbiasa.
Sebuah pelukan hangat tiba-tiba ia rasakan, Rhea terkejut dan bahkan mengangkat kepalanya untuk melihat siapa memeluknya. “Na-na,” ucap Rhea dengan suaranya yang serak.
Jaemin melepaskan pelukannya lalu memberikan senyuman manisnya kepada sahabatnya ini, ia mengusap airmata gadis itu dengan lembut. “Kenapa, Kaela? Sakitnya kambuh, ya?” tanya Jaemin dengan senyuman menenangkan itu.
Rhea menggelengkan kepalanya pelan, “kamu kok di sini? Bukannya belum pulang sekolah, ya?” tanya Rhea kembali dengan suaranya yang serak, ia kebingungan dengan kedatang Jaemin yang secara tiba-tiba itu.
Jaemin mengambil posisi untuk duduk berhadapan dengan sahabatnya ini, ia mengusap puncak rambut sahabatnya ini dengan sayang. “Kalau aku bilang sekolahnya terbakar, kamu percaya?”
Rhea dengan polosnya menggelengkan kepalanya, Jaemin melihat raut polos sahabatnya ini pun hanya terkekeh kecil. “Guru-guru sedang ada masa pelatihan selama dua minggu ke depan, otomatis hanya ada diberi tugas mencatat. Ya, untuk apa coba lama-lama di sekolah kalau cuma mencatat, mending catatnya di rumah sahabatku tercinta ini,” jelas Jaemin dengan senyumannya.
Airmata Rhea kembali terjatuh, hatinya menghangat saat Jaemin tersenyum kepadanya. Dia seakan-akan memberitahu bahwa dirinya tidak sendiri di dunia asing ini, ada Jaemin yang menemani dirinya untuk sementara. “How lucky i am karena punya kamu di dalam dunia ini,” ucap Rhea dengan tangisannya.
Jaemin membawa gadis itu ke dalam pelukan hangatnya, ia mengusap rambut sahabatnya ini dengan kasih sayangnya,”kamu memang beruntung punya aku, makanya kalau ada apa-apa itu bilang langsung ke aku, jangan nangis sendiri gini.”
Kalimat Jaemin memang obat yang ampuh untuk Rhea, hatinya kini tenang dan nyaman. Pemikirannya yang tadi bingung, kini dapat terarah kembali. Rhea menangis di dalam pelukan Jaemin. “Nana jadi suamiku, yuk,” ucap Rhea dengan isak tangisnya.
Jaemin tertawa mendengar ucapan sahabatnya, “bisa-bisanya disaat kayak gini, kamu malah meminta aku jadi suami kamu,” balas Jaemin dengan tawanya.
Rhea melepaskan pelukannya, lalu tertawa kecil dengan mengusap airmatanya “Tapi aku benar-benar mau kamu jadi pasangan hidup aku, Na. Aku bakalan belajar masak, aku bakalan ngurus anak kita nantinya dengan baik, bahkan aku akan jadi istri yang sexy untuk kamu. Pokoknya nikah sama kamu adalah tujuan aku!” ujar Rhea dengan menggoyangkan kedua bahu Jaemin yang lebar itu.
Jaemin tertawa dengan keras, ia merasa gemas dan sekaligus lucu dengan tingkah sahabatnya ini. “Kamu ini semenjak terbangun dari koma, kayak ajaib banget kelakuannya. Bayi banget kelakuannya sekarang ini! Pusing aku kalau lihat tingkah bayi kamu ini,” ucap Jaemin yang kini mencubit kedua pipi sahabatnya itu.
“Ih, sakit tahu! Kamu coba aku cubit sini pipinya,” rengek Rhea yang mulai mencubit pipi Jaemin. Dan kini mereka saling mencubit pipi dengan tawanya. Tangisan kini diganti dengan tawa bahagia melingkupi ruangan biru laut ini.
Di balik pintu itu, ada Jeno yang menghentikan gerakan tangannya untuk membuka pintu kamar Kaela. Ia mendengar tawa bahagia itu menggelegar di dalam sana, paper bag makanan yang ia genggam itu pun hanya ia eratkan. Tawa Kaela begitu merdu saat didengar bahkan mengalahkan deburan ombak yang setiap hari menjadi penyejuk hatinya.
“Ya, Na.. please, jadi suami aku, ya.”
“Heh! Anak bayi belum boleh suami-suami dulu.”
“Ih, aku kan udah besar.”
“Mana ada besarnya! Kamu itu masih bayi di mata aku.”
“Ish!”
Percakapan itu benar-benar menghentikan langkah kaki lelaki itu. Ia menghela napasnya sembari menatap isi dari paper bag itu, “kenapa gue nggak terima ada orang lain yang bisa bikin lo ketawa, Kae?” Jeno menyandarkan punggung tegapnya itu pada dinding di belakangnya itu, ia mengalihkan atensinya pada pemandangan di luar jendela itu.
**
“Jeno.”
Jeno yang terlihat duduk di sofa ruang keluarga rumah Kaela itu pun seketika berdiri dari duduknya dan memberikan senyuman khas mata bulan sabitnya, ia menghampiri wanita paruh baya itu dengan senyumannya. “Mama sejak kapan sampai?” sahut Jeno sembari memeluk wanita paruh baya itu.
“Baru aja sampai, tapi kamu kok duduk di sini? Nggak di kamar Kaela?” tanya mama Kaela dengan raut lelahnya. Jeno dengan telatennya mengatur barang bawaan wanita itu, ia peka dengan keadaan lelah wanita paruh baya itu. “Ah, itu.. tadi Jeno lagi istirahat sebentar karena beberapa waktu yang lalu baru pulang dari sekolah, tapi ada Jaemin di atas kok, Ma.” Jawab Jeno sembari mengatur bawaan mama Kaela dengan rapi.
Mama Kaela menghela napasnya, “mama kira mama akan kehilangan Kaela lagi, Jen. Ini kedua kalinya mama harus mendengar Kaela koma tanpa ada mama di samping dia. Cuma Kaela penyemangat hidup mama setelah papa udah pergi duluan,” ucap mama Kaela dengan nada lirihnya, ia pun mulai mengistirahatkan tubuhnya di sofa ruang keluarga itu.
Jeno yang mendengar itu pun hanya diam, ia mengatur barang-barang itu dengan keterdiamannya. Papa Kaela telah lama meninggalkan Kaela, akibat penyakit kanker yang menggerogoti otaknya. Ia mengetahui bagaimana Kaela begitu terpukul akan kepergian papanya itu, sehingga membuat Jeno tidak bisa berpaling sedetik pun dari gadis itu.
“Mama untungnya punya kamu, Jeno. Bisa bantu mama untuk jaga Kaela. Makasih ya, sayang,” ucap mama Kaela dengan tatapan sendunya. Jeno mengalihkan atensinya kepada mama Kaela yang tengah duduk di sofa.
“Mama mending istirahat dulu, kelihatan mama capek banget. Apa mama butuh jasa pijat? Jeno ada kenalan,” balas Jeno dengan suara beratnya yang lembut.Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya dengan senyuman teduh itu, ia bahkan berlalu begitu saja meninggalkan Jeno. Jeno paham, wanita itu butuh menenangkan dirinya sendiri setelah kabar-kabar buruk yang ia dapatkan di tempat ia bekerja.
‘Ini benar tanggung jawab yang dilimpahkan kepadaku, tapi entah kenapa tanggung jawab ini tidak ingin aku lepaskan dulu, sekarang, dan selamanya.’
**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments