8

“Itu hal yang wajar untuk pasien dengan kasus seperti Rhea. Akan ada respon-respon seperti seolah-olah sadar dan pergerakan pada jari-jemarinya.”

Chika menghela napasnya dengan sedihnya, ia tadi merasa bahagia sekali saat sahabatnya sadar dan bahkan hampir membuka kedua matanya, tetapi saat dokter datang, Rhea kembali tertidur seperti semula.

“Namun, itu hal yang bagus dikarenakan Rhea memiliki peluang untuk sadar kembali. Kabari dokter ya, kalau terjadi hal seperti tadi.”

Chika hanya menganggukkan kepalanya dengan lesu, lalu mulai mendekati sahabatnya kembali dengan sedihnya. “Makasih, Rhe, lo udah mau respon ucapan gue. Tapi, lebih baik lagi, kalau lo benar-benar buka mata untuk gue.”

**

Rhea menatap sinis ke arah dinding berwarna biru laut itu, seakan-akan itu adalah sosok Kaela yang tiba-tiba mengendalikan dirinya. ‘Kalau ujung-ujungnya lo juga yang ngatur gue, ngapain gue di sini, anjir?! Mana pakai kata-kata ‘aku sayang Jeno’ NAJIS! CUIH!’

Rhea bersedekap dada dengan posisinya duduk di ranjangnya itu, masih menatap sinis ke arah dinding kamar yang bersebrangan dengannya itu. ‘Heh! Pulangin gue! Tugas gue udah beres, nggak perlu lagi gue buat surga-surga untuk ciptaan lo. Dia udah bisa ngatur diri sendiri.’

Rhea mencoba melirik ke atas langit-langit kamar ini, lalu ke arah jendela kamar tidur, dan ke arah Jeno yang berada kembali di sofa itu dengan posisi tertidur karena sehabis menangis tadi. ‘Ini juga, ngapain coba tidur di sana?’ Rhea berdecak kecil, ia hendak mencari suara misterius itu, ia ingin meminta pulang.

‘Woi! Gue mau pulang, cuy! Tugas gue udah selesai. Kalau nggak, gue bunuh diri.’

Tidak ada respon, tidak ada jawaban yang terjadi. Rhea mendengus kesal, ia tidak dapat juga jawaban dari suara misterius itu. Ini mereka maunya apa, sih? Disuruh berpindah dunia, tetapi dirinya tetap pada jalur yang ada untuk dimainkan. Rhea mengacak kesal rambutnya dengan asal.

“Kaela.”

Rhea yang tengah mengacak rambutnya pun terhenti saat mendengar suara lembut yang baru saja ia dengar, ia melihat Karina berdiri di sana dengan semangkuk makanan di dalam kedua tangannya itu. “Kamu mau makan?” tawar Karina dengan senyumannya.

Rhea menggelengkan kepalanya, lalu ia melihat Karina meletakkan mangkuk itu ke nakas di samping tidurnya itu. “Tadi aku dengar-dengar ada suara teriakan gitu di dalam kamar, apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Karina sembari merapikan semangkuk makanan itu dengan telaten.

Rhea tidak menjawab pertanyaan Karina, ia hanya bersedekap dada sembari menatap Karina kembali berdiri dengan sempurna. “Terlalu privasi ya untuk dijawab? Apa karena ini permasalahan antara kamu dengan Jeno?” tanya Karina kini menatap penuh Kaela.

“Bukan suatu hal yang privasi dan bukan suatu hal yang perlu untuk dibahas panjang lebar.” Jawab Rhea dengan atensinya kepada Karina, ia melihat perubahan ekspresi wajah gadis itu.

Karina melirik kekasihnya yang tertidur nyenyak di atas sofa itu, lalu kembali menatap Kaela. “Kamu benar-benar nggak ingat, siapa itu Jeno di dalam hidup kamu?” tanya Karina.

Rhea sedikit mengernyitkan dahinya, ada apa ini?

“Ya, seperti yang lo lihat.” Jawab Rhea dengan nada tenangnya. Karina menghembuskan napasnya dengan pelan, lalu menatap Jeno dengan rasa kasihannya. “Aku boleh minta tolong nggak sama kamu, Kae?” kini Karina mengalihkan atensinya kepada gadis yang tengah duduk itu.

Rhea mengangkat kedua bahunya,”dengan keadaan gue yang sering jatuh koma, mungkin hanya beberapa yang bisa. Apa itu?” balas Rhea sembari bersedekap dada.

“Aku hanya minta tolong, untuk perlakukan Jeno seperti kamu mengenal dia. Aku tahu, kamu masih belum mengingat Jeno itu siapa, tapi setidaknya tolong untuk menganggap dia seperti kamu melihat Jaemin. Boleh?” ucap Karina dengan suaranya yang lembut.

Rhea kembali mengernyitkan dahinya saat mendengar permintaan Karina kepadanya, ‘lah, gimana ceritanye?’

“Maksud lo, gue perlakukan Jeno seperti Jaemin itu gimana? Gue harus peluk dia ketika ketemu di mana pun? Gue harus cium pipi dia waktu lagi berdua sama dia? Dan selalu berdua ke mana pun ketika gue butuh, gitu?” ucap Rhea dengan nada sarkasnya. ‘Bukannya lo adalah orang yang paling cemburu kalau Kaela dan Jeno selalu bersama?’

Terlihat ketidak puasan reaksi Karina saat mendengar ucapan Kaela yang terdengar sarkas “Kamu tahu maksud aku itu bagaimana, Kae. Kamu hanya lupa ingatan, bukan kekurangan IQ.”

‘Wedew, sudah keluar ini taring singanya.’ Batin Rhea kesenangan. Rhea melirik Jeno yang sama sekali tidak bergerak, bahkan terganggu dengan diskusi panas yang sekarang tengah berjalan. “Lo bilang perlakukan Jeno seperti Jaemin, dan gue memperlakukan Jaemin seperti itu. Emang lo rela melihat Jeno seperti itu ke gue?” balas Rhea dengan wajahnya yang seakan-akan polos.

Karina menyugarkan rambutnya dengan rasa kesalnya yang ia tahan, “kamu nggak kasihan lihat Jeno? Dia selama ini rawat kamu, bahkan dia nangisin kamu. Untuk pertama kalinya, aku lihat Jeno mohon-mohon sama kamu agar jangan buat dia khawatir. Apa rasa kemanusiaan kamu juga ikut hilang, Kae?” ujar Karina dengan rasa kesal yang ia pendam itu. Ia begitu kasihan terhadap kekasihnya yang dibentak, ditolak oleh gadis di hadapannya ini.

“Kar, gue nggak ada minta untuk dirawat sama dia. Bukannya hal yang bagus, ya? Kalau gue minta dia untuk menjauh? Kata Nana, gue dulu sebelum koma malah ngikutin kalian terus. Harusnya, itu suatu langkah yang bagus biar hubungan kalian pun tetap baik.” Balas Rhea dengan nada seakan-akan peduli.

Karina terlihat sudah tidak bisa menahan kesalnya, terlihat dari pipinya yang sedikit memerah. “Tapi Jeno yang nggak bisa! Dia akan terus berusaha agar kamu bisa ingat dia kembali. Aku memang lebih senang, kalau Jeno tidak memusingkan tentang kenangan kalian. Tetapi dia nggak bisa!” dan keluarlah rasa kesal Karina.

Rhea memutar kedua bola matanya dengan malas, “berarti bukan salah gue. Lo yang harusnya urus cowok lo, jangan gue yang dimintai bantuan. Udah tahu gue baru bangun dari koma juga, masih aja dituntut ini-itu.” Omel Rhea sembari bersedekap dada.

Karina mengernyitkan dahinya dengan rasa kesalnya semakin meningkat, kenapa berbicara dengan Kaela sama sekali tidak menemukan solusinya?

“Kalau bukan kamu sahabatnya Jeno, aku nggak bakalan mau membangun komunikasi sama kamu, Kae! Aku sayang sama Jeno, aku nggak mau dia sedih hanya karena perempuan yang nggak punya rasa kasihan kepada temannya!” ungkap Karina dengan nada penuh penekanannya.

Rhea menyunggingkan senyuman kecilnya, ia menatap Karina yang menatapnya dengan emosinya itu. “Nice, jadi semuanya jangan dipaksakan. Lo yang harusnya pintar untuk menahan Jeno agar bersikap sewajarnya ke gue. Alihkan dong perhatian Jeno ke lo doang, biar lo nggak usah ribet ngurusin gue dan sebagainya. Simple, kan?” balas Rhea dengan senyuman kecilnya itu.

Kepalan tangan Karina terlihat jelas di sana, gadis itu benar-benar akan melayangkan tinjuannya ke arah Kaela jika tidak mengingat kondisi di sekitarnya. “Memang pantas, lo dijauhi Jeno.” Karina kini menghilangkan panggilan ‘aku-kamu’ itu kepada Kaela. Ia sudah menahan kesopanannya sejak awal ia berkenalan dengan Kaela, kini ia sudah melepaskannya.

Ia pun membalikkan badannya, hendak meninggalkan Kaela tetapi tanpa sengaja, mangkuk makanan itu jatuh ke lantai kamar dan pecah. Makanan yang berada di dalam mangkuk itu pun berceceran begitu saja.

Seketika Jeno terbangun dari tidurnya, ia terkejut mendengar suara pecahan mangkuk itu. “Ada apa?” tanya Jeno yang terlihat sigap.

Karina segera berjongkok untuk mencoba memungut serpihan kaca, “ma-maaf, Jen. Aku bangunin kamu, ya?” sahut Karina sembari mencoba memungut kaca itu.

Jeno dengan segera berlari kecil ke arah Karina, dan segera menahan lengan gadis itu yang hendak memungut serpihan kaca itu, “jangan, nanti kamu terluka. Biar aku saja,” balas Jeno dengan suara beratnya yang lembut.

Karina menganggukkan kepalanya pelan, “maaf, Kae. Aku jadinya rusakin mangkuk kamu,” gumam Karina dengan atensinya masih mengarah kepada Jeno.

Rhea mengangkat satu alis matanya saat mendengar suara Karina yang kembali melembut, ‘ini dinamakan apa, ya? Bermuka dua atau bunglon?’

“Kamu istirahat di sana, aku mau bersihkan ini,”pinta Jeno dengan memberikan senyuman mata bulan sabitnya kepada Karina. Karina pun membalas senyuman itu, ia menuruti pintah kekasihnya itu.

Jeno mulai membersihkan serpihan kaca itu, “Kae, lo nggak apa-apa?” tanya Jeno secara tiba-tiba tetapi atensinya tetap pada serpihan kaca itu.

“Perasaan, gue nggak ada ke mana-mana, deh,” gumam Rhea dengan nada tenangnya. Ia melirik ke arah Jeno yang juga kini melihatnya, tatapan mereka bertemu. Suasana sedikit canggung akibat pelukan dan pernyataan Jeno yang mengkhawatirkan kondisi sahabatnya ini.

“Kenapa lo lihat-lihat gue? Suka lo sama gue?” Rhea bertanya dengan lantangnya. Jeno membolakan kedua matanya, “gue mau coba lihat keadaan lo, doang.” Balas Jeno dengan cepat.

Rhea memutar kedua bola matanya dengan malas, lalu kini atensinya ia alihkan kepada Karina yang juga menyimak pembicaraan dirinya dan Jeno. “Nggak usah sok dekat, kejadian tadi bukan merubah ingatan gue kalau lo adalah sahabat gue.” Lanjut Rhea dengan atensinya masih kepada Karina.

Jeno memungut serpihan kaca itu dengan tatapannya kembali dingin, “gue tahu.” Dan kembali suasana itu berubah dingin saat Rhea membangun dinding tinggi itu antara Jeno dan dirinya.

‘Bukan berarti, lo nggak bisa kembali ingat gue lagi, Kae.’

**

Jeno menghela napasnya pelan saat memeriksa Kaela sudah tertidur dengan nyaman dan nyenyak, bahkan ia pun sempat merapikan selimut gadis itu agar tubuh mungil itu tetap hangat. Ia melirik ke arah jam di pergelangan tangannya, sudah menunjukkan jam tengah malam, Jeno kembali memberantaki rambut belakangnya sembari mengalihkan atensinya kepada Kaela.

“Kalau lagi tidur gini keliatan banget kayak bocah,” gumam Jeno dengan pelan. Ia hendak merapikan anak-anak rambut di dahi gadis itu, tetapi terhenti saat suara Karina terdengar.

“Jen, aku mau bicara sama kamu.” Jeno pun memposisikan tubuhnya ke arah Karina sepenuhnya, ia melihat kekasihnya itu sudah memakai baju tidur dan cantik. Jeno mengulas senyuman manisnya dan menganggukkan kepalanya untuk menyetujui ucapan Karina.

“Kita sambil duduk di sana, yuk,” ajak Jeno sembari menarik lembut Karina untuk duduk di sofa. Karina pun mengikutinya.

“Mau bicara apa, sayang?” tanya Jeno yang kini sudah memposisikan dirinya duduk rapat dengan kekasihnya ini. Karina melingkarkan tangannya di pinggang kekasihnya ini, membenamkan wajahnya di leher Jeno. Jeno pun ikut tersenyum saat kekasihnya menyamankan diri di dalam pelukannya.

“Kamu bisa, nggak? Jaga jarak dengan Kaela?” tanya Karina dengan suaranya yang sedikit terpendam dalam lekuk leher Jeno. Jeno sedikit mengernyitkan dahinya, ia mencoba menarik Karina untuk dapat ia tatap, tetapi gadis itu tetap keukeh dengan posisi seperti ini.

“Karina, kamu tahu kan kenapa aku harus—”

“Ya, tapi kamu makin lama makin kehilangan kendali diri kamu sendiri, sayang. Aku nggak suka,” potong Karina dengan cepat. Ia bahkan sudah merubah posisinya kini menatap mata Jeno.

Jeno menatap Karina dengan tidak paham, “aku kira kamu mengerti dengan semua perilakuan aku ke Kaela. Aku punya tanggung jawab, sayang, aku dipercayai untuk jaga dia. Mama Kaela itu percaya sama aku untuk dapat jaga Kaela. Aku kan udah sering juga jelasin ke kamu, Karina.” Ucap Jeno dengan suara beratnya yang serius.

Karina melepaskan pelukannya, ia bahkan bersedekap dada dengan tatapannya ke arah deburan ombak di luar jendela kamar Kaela. “Aku kurang paham apa lagi sih, Jen? Aku udah ngalah waktu kamu minta sama aku buat rayu Kaela untuk pulang sama kita, aku juga udah ngalah buat duduk di kantin sama Kaela juga. Kamu tahu kan kalau aku itu cemburu dengan semua itu?!” balas Karina dengan raut wajahnya yang sudah kesal. “Kamu juga belum ada kasih penjelasan tentang kamu yang bentak aku waktu di mobil itu! Kamu kira aku nggak sakit hati?”

Jeno mencoba menyentuh bahu kekasihnya itu, tetapi Karina melepaskannya dan mulai memberikan jarak antara dirinya dan gadis itu. Jeno berdecak kecil, “Karina, jangan gini, please. Aku waktu itu panik, karena kondisi Kaela yang nggak sadarkan diri, aku takut dia kenapa-kenapa. Aku juga nggak mungkin berpaling dari kamu, kamu tahu kan perjuangan aku dapatin kamu gimana?”

Karina mulai melunak saat mendengar ucapan Jeno. Jeno melihat gestur tubuh Karina sudah tidak setegang tadi, ia perlahan-lahan mencoba membawa atensi Karina ke arahnya. “Aku minta maaf ya, udah buat kamu sakit hati karena bentakan aku. Aku prioritaskan Kaela, karena dia sudah termasuk tanggung jawab aku, mama Kaela percayain aku. Jangan marah lagi ya, sayang.” Jeno menjelaskannya semua pada Karina, kini wajah kekasihnya itu sepenuhnya sudah menatapnya.

Karina menatap sedih kekasihnya itu, “aku cemburu kamu terlalu memprioritaskan Kaela,” bisik Karina tepat di hadapan Jeno. Jeno menyunggingkan senyuman manisnya, lalu mulai mengecup bibir Karina dengan lembut.

Kini pangutan bibir itu menyatu untuk menyalurkan kesalah pahaman yang terjadi di antara mereka. “I love you, Karina,” bisik Jeno yang sudah melepaskan pangutan bibir mereka.

Karina pun tersenyum sembari memeluk Jeno dengan kasih sayangnya. Rhea tidak benar-benar tidur, ia melihat kelakuan pasangan itu di dalam kamarnya.

‘Noh, surga yang kayak gitu lo mau, Kae? Batu sih lo! Udah gue bilang, gue bakalan buat surga baru lo. Jangan maksain diri,  raga juga yang ngisi gue. Dipeluk dikit, langsung nongol. Cih.’

Rhea kembali melihat kedua pasangan itu ciuman mesra, dan tertawa kecil menikmati mesra malam ini. ‘Ah elah, kalau udah gini aja sakitnya di gue. Bangsat emang.’ Kini dia pun memejamkan kedua matanya dengan paksa, rasa cemburunya

**

Terpopuler

Comments

fransisca brahara

fransisca brahara

SBR ke

2023-05-02

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!