Rhea menghembuskan napasnya kembali, berhubung ia kembali koma 3 hari maka dokter beserta keluarga besarnya entah itu siapa, melarangnya untuk sekolah terlebih dahulu dan mama Kaela masih belum juga sampai ke rumah karena kendala jalur itu belum selesai diperbaiki. Kini, ia dititipkan dengan senang hati kepada Jeno beserta printilannya.
Rhea mengetahui Jeno beberapa menit lalu datang kembali ke rumah Kaela, dan sejak tadi duduk di sofa waktu itu, namun bukan sendirian lagi melainkan bersama printilannya, Karina. Entah apa yang dilakukan mereka di ujung sana, tetapi Rhea tidak ambil pusing, selama ia terdampar di dunia ini, ia belum mencari tahu isi ponsel Kaela.
Rhea membuka ponsel Kaela dengan tema-nya biru laut, ia menyunggingkan senyuman saat kembali menyukai pilihan warna Kaela. Ia membuka galeri Kaela, dan melihat koleksi galeri itu membuatnya tersenyum, banyak foto Kaela bersama Jaemin. Bahkan, ada foto aib Jaemin sejak kecil hingga diumur sekarang. ‘Kenapa Nana-ku lucu banget, sih?’
Ia melihat foto-foto itu dengan begitu iri, seandainya Kaela bisa mengalihkan perasaannya pada Jaemin, dia tidak akan sesakit itu. Dan tanpa sadar, Rhea menggeser sebuah album foto yang tampaknya rahasia.Album ini memiliki kata sandi tersendiri, Rhea menyipitkan matanya untuk memikirkan kata sandi itu.
‘Di novel nggak pernah bahas yang kayak gini. Tapi, biasanya nih, cewek kayak Kaela mah paling-paling tanggal ulang tahunnya.’ Rhea yang hendak mencobanya, tiba-tiba saja teringat bahwa dirinya bahkan tidak tahu tanggal berapa Kaela berulang tahun.
‘Bego banget authornya! Kagak detail ceritain setiap tokohnya. Masa gue harus ngasal gini?’ Rhea berdecak kecil, lalu menggigit kecil bibir bawahnya dan mencoba berpikir.
‘Au ah, ngasal aja.’
Dan dengan cepat, Rhea mencoba angka yang berurutan entah sampai mana batas yang ditampung kata sandi ini. Dan tidak perlu mencoba kedua kali, sekali ia mencoba ternyata berhasil membuka album rahasia itu, Rhea tersenyum bangga dengan dirinya.
‘Nggak sia-sia lo, Rhe, nilep uang Chika.’ Dengan sisa-sisa kebahagiannya, ia dengan semangat membuka album rahasia itu.
My favorit person, Jeno Janurio.
My lovely boy, Jeno Janurio.
My puppy, Jeno Janurio.
My everything, Samoyed.
My energy, J.
Kesedihanku, J.
Rhea membaca setiap album yang dinamai oleh Kaela, ini adalah isi album itu sebenarnya. Foto-foto yang sengaja diambil secara diam-diam oleh Kaela, foto kecil Jeno, foto di mana mereka berenang bersama, foto Jeno tersenyum hingga mata bulan sabitnya terlihat, dan foto Jeno bertautan tangan bersama Karina. Video Jeno bermain gitar pun terlihat di dalam album ini, ia belum membukanya, namun yang sekarang ia rasakan adalah Kaela memang sangat mencintai lelaki itu, Jeno Janurio.
Rhea melirik kecil ke arah si pemeran utaman itu, Jeno sedang asik bermesraan dengan Karina. Senyuman Jeno, jemari tangan Jeno yang tengah merapikan rambut Karina dan kecupan kecil ia beri kepada Karina. Kembali, Rhea melihat album foto yang ada di ponsel Kaela.
‘Sebenarnya, Jeno tahu nggak sih? Kalau Kaela itu secinta itu sama dia?Apa sebegitu sulitnya memberi kesempatan pada Kaela?’
Rhea hendak menghapus album-album itu, tetapi rasa sedih muncul begitu saja. ‘Ayolah, Kae. Kalau lo mau gue buatin surga, jangan beri kesedihan lo lagi. Lo harus ikhlas, Kae. Ini demi lo dan gue juga.’ Rhea mencoba berkomunikasi kepada Kaela entah di mana itu.
Ia tidak peduli lagi, jika memang ia dipaksakan dalam tubuh ini maka, ia pun akan melakukan apapun sesuai kemauannya. Rhea mencoba menghapus album-album foto Jeno di dalam ponsel Kaela. Tetapi yang terjadi adalah nyeri dada tiba-tiba muncul, ia mencoba tahan dan hiraukan rasa sakit itu, ia hendak menghapus satu foto saja tetapi nyeri itu semakin bertambah kuat.
Ponsel Kaela terjatuh begitu saja di atas perutnya, nyeri itu sangat kuat sehingga membuat Rhea tanpa sadar meringis. ‘Kenapa untuk hal yang berhubungan dengan Jeno, selalu lo respon dengan rasa sakit, Kae?’
Jeno yang mendengar rintihan suara sakit membuatnya seketika berdiri dari duduknya, ia menghampiri gadis itu dengan cepat. Ia berlutut di samping ranjang Kaela dengan tatapannya yang tajam.
“Lo kenapa Kaela? Ada yang sakit?” tanya Jeno dengan suara beratnya yang sedikit panik. Ia bahkan mencoba melihat wajah Kaela yang tertunduk sakit. “Nggak bisa, kita harus ke rumah sakit sekarang!” Jeno yang hendak menggendong Kaela, tetapi seketika salah satu tangan mungil itu menghentikan gerakannya.
“Ja-jangan… jangan sentuh gu-gue lagi. Gue nggak apa-apa,” balas Rhea dengan suara seraknya. Jeno yang mendengar itu seketika terdiam, ia melihat sahabatnya bahkan memunggunginya.
“Jen, Kaela jadi kita bawa ke rumah sakit?” suara Karina memecahkan keheningan yang ada di dalam kamar ini. Jeno mengerjapkan kedua matanya, lalu mencoba mengalihkan wajahnya ke arah lain.
Karina melihat kekasihnya itu mengusap pipi itu dengan cepat, lalu tersenyum kepada dirinya. “Katanya, dia nggak apa-apa, sayang. Oh iya, kamu belum makan siang, kan? Mau aku belikan apa?” balas Jeno dengan senyuman itu menghampiri Karina.
Karina membalas senyuman itu dengan lembutnya, “aku masakin aja ya, untuk kamu dan Kaela. Tadi kita kan sudah beli bahan-bahan masakannya. Nggak apa-apa, kan?” ucap Karina yang kini mengusap lembut pipi kekasihnya itu, lembab.
“Aku bantu, ya?”
Karina menggelengkan kepalanya dengan pelan, “kamu jaga Kaela di sini, aku takut dia tiba-tiba sakit lagi.” Karina mengusap lembut pipi kekasihnya itu dengan sayang, dan Jeno menganggukkan kepalanya dengan senyuman bulan sabit itu.
Rhea mendengar langkah kaki Karina keluar dari kamar tidur ini, dadanya sudah tidak sesakit itu sejak ia menghentikan kegiatan menghapus album foto Jeno. Ia merasakan seperti penjara sekarang, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menjauh dari sumber rasa sakit Kaela. Rhea mencoba merubah posisi tidurnya dengan punggung bersandar pada kepala ranjang tidurnya, dan ia melihat Jeno menghampirinya untuk membantu dirinya.
“Jangan bantu gue, gue bisa sendiri.”
“Gue cuma bantu lo biar nyaman duduk,” balas Jeno yang terlihat memberikan bantal pada belakang punggung Kaela.
Rhea berdecak kecil, lalu melemparkan bantal yang menjadi penyanggah punggunya itu. Ia sudah emosi dengan takdirnya yang dipaksa untuk tidak menjauh dari sumber sakit tubuh ini, sekarang sumber sakit itu bahkan memaksa kedekatannya.
“LO BISA PAHAM BAHASA GUE NGGAK, SIH?! KALAU GUE BILANG JANGAN YA JANGAN, BANGSAT!” bentak Rhea dengan emosinya yang sudah memuncak. Kini kedua mata itu menatap benci ke arah Jeno yang terkejut akan bentakan dan lemparan bantal tadi.
“Gue cuma mau bantu lo karena—”
“KARENA APA? KARENA GUE SAKIT? SEKARANG YANG BIKIN GUE SAKIT SIAPA? KEHADIRAN LO DI SINI, ANJING! DENGAN LO ADA DI DEKAT GUE, LO MEMAKSAKAN KEHADIRAN LO DI SINI, BIKIN GUE SAKIT!” Rhea membentak Jeno dengan emosinya yang membabi buta.
Jeno yang sejak ketidaksadaran Kaela lalu hingga saat ini menahan airmatanya, kini airmata itu jatuh dengan tidak bisa ditahan lagi. Hatinya terluka saat mendengar Kaela membentaknya begitu kasar, sejak Kaela tersadar dari komanya, ia ingin sekali memeluk gadis itu, ia ingin menangis di dalam pelukan Kaela, ia ingin mengucapkan rasa syukurnya kepada Tuhan karena telah membuat Kaela sadar.
“Sebegitu bencinya lo sama gue, Kae? Gue cuma mau bantu lo.” Balas Jeno dengan suara beratnya yang mulai serak.
“Mending lo keluar dari sini, gue nggak mau lagi ketemu sama lo.” Setelah mengucapkan perkataan itu, Rhea kembali merasakan kesakitan di dadanya.’Kaela, gue mohon jangan buat gue merasa sakit ini. Gue mau lo jangan lagi naruh harapan besar ke Jeno. Dia bukan untuk lo—anjir, makin sakit.’
Jeno menghapus airmatanya sendiri dengan lengannya, ia melihat Kaela kembali terlihat kesakitan. “Kae, lo harus ke rumah sakit. Lo dari tadi kesakitan terus—”
“JANGAN PEGANG GU—”
“GUE NGGAK BISA LO SAKIT, KAELA! MAU SETIDAK PEDULI APAPUN GUE KE LO, GUE NGGAK BISA LIHAT LO SAKIT! TOLONG JANGAN TOLAK GUE TERUS, KAE. TOLONG!” kini Jeno membalasnya dengan suara isakan tangis lelaki itu ia dengar.
Rhea kini mengalihkan atensinya kepada Jeno kembali, kedua mata Jeno sudah memerah dengan airmata itu jatuh. “Gue sa-sayang sama lo, Kae. Tolong bantu gue, bantu gue biar gue nggak khawatir lagi sama lo, gu-gue mohon,” ucap Jeno dengan suara beratnya yang serak dan tangisan Jeno yang menyakitkan.
Rhea merasakan tangannya bergerak untuk mengusap pipi Jeno dengan lembut, airmata lelaki itu semakin banyak. “Jeno jangan nangis, ya. Kaela di sini,” itu bukan Rhea. Rhea bahkan merasakan Jeno menariknya ke dalam pelukannya. Rhea merasakan usapan lembut di rambutnya itu untuk pertama kali, jantungnya berdegup begitu kencang.
“Gue rindu sama lo, Kaela. Gue rindu,” bisik Jeno dengan isakan tangis itu.
‘Ini surgaku, Rhea. Surga yang kurindukan.’
Dan Rhea memejamkan kedua matanya, ia membalas pelukan Jeno dengan tangisan seorang Kaela. “Aku sayang Jeno.” Bisik Rhea menyampaikan pesan Kaela tanpa ia sadari.
Rhea merasakan pelukan hangat itu semakin mengerat, “jangan sa-sakit lagi, Kaela.”
‘Maaf, Kaela lo bahkan sudah pergi tanpa pamit.’
**
Karina memejamkan kedua matanya dengan rasa cemburu yang ia rasakan, ia melihat kekasihnya memeluk Kaela dengan tangisan lelaki itu. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Jeno sering mengatakan, bahwa ia hanya menyayangi Kaela sebatas sahabat saja. Apa yang membuatnya meragukan Jeno lagi? Jeno sering mengatakan, bahwa dia hanya mencintai dirinya.
Karina mengeremas salah satu kepalan tangannya, ia benar-benar menahan rasa cemburu itu. “Dia hanya lega karena sahabatnya sudah mau menerimanya. Karin, lo nggak boleh cemburu.” Gumam Karina menyemangati dirinya.
Karina menarik napasnya lalu menghembuskannya dengan pelan.”Oke, lo harus sadar itu!”
**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments