Chika menatap kosong ke arah Rhea yang sedang tertidur dengan lelap itu, alat-alat yang dipasangkan ditubuh mungil itu berbunyi seakan-akan langkah kaki malaikat maut yang bersedia untuk menarik nyawa gadis itu.
“Gue janji, Rhe. Lo bangun nanti, gue bakalan baik ke lo, gue bakalan nurutin apapun mau lo. Tapi, tolong kali ini saja, buka mata ya, Rhe.” Gumam Chika dengan suaranya yang mulai bergetar.
Chika mengusap pipi sahabatnya yang kini sudah berwarna pucat, “gara-gara gue, lo tidur.” Dan airmata itu jatuh kembali tidak tertahannya. “Maafin gue, Rhea.. maafin.”
**
Rhea tersenyum kecil saat membaca balasan pesan dari Jaemin mengenai foto kue yang ia kirim tadi, bahkan Jaemin bersiap akan ke rumah untuk menemani malam-malamnya tanpa mama Kaela. Jadi semakin semangat!
“Kita ke toko kopinya jadi kan, Kae?” tanya Karina dengan suara lembutnya.
Rhea yang mendengar suara Karina kembali membuatnya segera tersadar, lalu menerbitkan senyuman manisnya, ia akan membeli minuman juga untuk Jaemin. “Iya, jadi.” Rhea menjawabnya dengan semangat.
Jeno sedari tadi diam, menyetir dengan tatapan dinginnya ke arah jalanan itu. Semenjak kejadian di toko kue tadi, Jeno hanya diam dan tidak bersuara.
“Sayang, kamu sudah lapar, belum? Kita mampir duduk di toko kopi itu dulu aja, ya.” Ucap Karina sembari mengusap lembut bahu lebar kekasihnya itu.
Rhea kembali memfokuskan dirinya pada pesanan yang ia kirim ke Jaemin. Kalau seperti ini terus, bagaimana dirinya bisa rela meninggalkan Jaemin di sini? “Apa kabar Chika sekarang, ya? Dia pasti ketawa banget nih lihat gue kayak gini.” Rhea seketika mengingat sahabatnya di dunianya yang dulu, disaat apapun keadaan Rhea, Chika selalu hadir untuk menemani dirinya.
Rhea dan dunia asalnya adalah surga yang tidak pernah dia sangkal. Keluarganya yang menyayanginya, sahabatnya yang selalu ada untuknya, dan lingkungannya yang selalu mendukung dan membuatnya nyaman. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia seakan-akan dilemparkan ke sini sebagai alat untuk membentuk surga yang selama ini ia rasakan. Apa Tuhan merasa dirinya cukup untuk menikmati surganya itu?
‘Rhea.’
“Iya, kenapa?” Rhea menjawab panggilan namanya itu sembari mengetik pesan ke Jaemin.
“Hm, apanya yang kenapa, Kae?” tanya Karina yang kembali mengalihkan atensinya kepada Kaela yang berada di belakang.
Rhea kini juga mengalihkan atensinya kepada Karina, “tadi kan lo manggil gue.”
Karina mengernyitkan dahinya sedikit sembari menggelengkan kepalannya, “aku dari tadi diam kok.”
‘Rhea.’
Mendengar suara itu kembali, Rhea membolakan kedua matanya, ia baru sadar bahwa tidak ada satu pun manusia di dunia ini mengetahui nama aslinya. Jadi, siapa yang memanggilnya? Rhea melirik ke arah Jeno, tetapi lelaki itu hanya diam saja. Jangan bilang si suara misterius itu lagi.
Apa lagi sekarang? Apa karena dirinya mempunya niatan memancing oleh karena itu si suara misterius itu memanggilnya?
‘Rhea, maafin gue. Gue minta maaf buat lo tidur terus.’
Rhea terpaku, ia mendengar suara itu, ia mengenal suara itu.
‘Please, buka mata lo. Cuma lo sahabat gue yang paling gue sayang, rumah gue yang akan menjadi tempat gue menangis lagi. Gue mohon bangun, Rhea.’
Irama jantung Rhea berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, telinganya berdenging tak karuan, dan kepalanya perlahan-lahan berdenyut sakit. “Sa-sakit,” lirih Rhea dengan terbata-bata.
‘Bangun, Rhea.’
“Kaela! Kamu kenapa, Kae?” pekikan Karina membuat Jeno seketika menghentikan mobilnya. “Jen, Kaela kayak nahan sakit, apa penyakitnya kambuh?” Karina terlihat panik saat melihat Kaela jatuh dari bangku mobil itu, dan memegang kepalanya di lantai mobil itu.
Jeno segera turun dari mobilnya, ia dengan cepat membuka pintu mobil belakangnya, ia mendengar ringisan sakit Kaela. “Kae, lo harus buka mata! Buka mata lo! Kaela!” Jeno membawa Kaela untuk kembali ke atas bangku mobilnya itu, ia membawa Kaela ke dalam pangkuannya.
“Sa-sakit,” ringisan Kaela membuat Jeno semakin khawatir. “Karin, kamu telepon 117, SEKARANG!” ucap Jeno tanpa sadar membentak Karina.
Karian tersentak saat mendengar bentakan Jeno, tapi dengan sedikit tangannya yang bergetar, ia mulai menelpon nomor darurat itu.
Jeno melihat Kaela yang masih menutup mata, Jeno mencoba menepuk lembut pipi Kaela. “Kaela, please! Buka mata lo. Lo nggak boleh tertidur, lo harus buka mata,” ucap Jeno kembali dengan tangannya menepuk pipi pucat itu.
Rhea sudah tidak sanggup lagi menahan sakitnya, ia hanya membuka kedua matanya sedikit dan melihat Jeno dengan airmatanya, dan seketika yang ia tahu hanya dunia menggelap. Tangan mungil terkulai lemah di pangkuan Jeno.
Jeno menggelengkan kepalanya pelan, “gak bisa! Gue harus ke rumah sakit.”
“Tapi, mereka mau ke sini, Jen!”
“KAELA NGGAK SADAR KAN DIRI, RIN!”
Karina kembali terdiam, ia bahkan melihat kedua mata kekasihnya itu memerah. “Kamu pindah ke belakang, jagain Kaela. Aku akan menyetir cepat ke rumah sakit terdekat.” Dan tanpa perlu ia beritahu untuk kedua kalinya, Jeno sudah meletakkan dengan rapi posisi Kaela di bangku mobilnya.
Karina pun segera pindah, ia menjaga Kaela.
‘Lo harus bisa buka mata lagi!’
**
Chika membolakan kedua matanya, ia melihat salah satu jari tangan Rhea bergerak kecil. Ia menghapus airmatanya, bahkan berdiri dari duduknya. “Rhea,” panggil Chika dengan suaranya yang bergetar.
Rhea membuka kedua matanya dengan perlahan, cahaya putih membuat ia kembali menutup matanya sebentar, dan dengungan di telinganya membuatnya kembali mengingat terakhir kali terjadi.
Chika melihat kedua mata Rhea terbuka, membuatnya segera menekan tombol yang tersedia di dalam ruangan itu. Dokter harus tahu ini.
“Rhea, lo dengar gue, kan?” tanya Chika dengan sangat lembut, airmatanya jatuh saat sahabatnya terlihat bergerak dengan jari jemari itu.
‘Tidak, Rhea. Kembali lah lagi. Kamu harus ada di sana.’
Rhea mendengar jelas suara itu, itu suara misterius. Ia ingin menolak, tetapi dirinya tidak bisa apa-apa selain mendengar suara berdengung itu dan matanya yang belum terbiasa melihat cahaya putih itu.
‘Kembali lah. Belum saatnya, Rhea.’
Dan kembali, suatu tarikan kuat mengalihkannya kembali ke alam kegelapan itu. Suatu yang menguntungkannya adalah bahwa suara dengungan itu sudah hilang.
‘Kembali lah.’
Rhea mendengar suara misterius itu, dan seketika merasakan kehangatan menjalar di sekitar tangannya. Membuka kedua matanya secara perlahan-lahan, indera pendengarnya menangkap suara deburan ombak yang belakangan ini mengingatkannya pada Kaela. Ah, dia sudah kembali seperti sebelumnya?
“Kaela, kamu dengar suara aku?”
Rhea mengetahui suara itu, Nana-nya. Rhea akhirnya membuka kedua matanya perlahan-lahan, cahaya lampu kamar Kaela yang remang tidak membuat Rhea susah payah untuk membuka kedua matanya. Ia melihat raut wajah Jaemin yang terlihat khawatir. ‘Aduh, ganteng banget.’
“Na-na..”
“Iya, sayang. Ini aku, Nana kamu. Ada yang sakit, sayang? Atau mau aku ambil minum?”
Rhea menyunggingkan senyuman lemahnya, “Mau pe-peluk Nana,” ucap Rhea dengan suaranya yang serak dan lemah.
“Ah, Kaela! Bisa-bisanya buat aku khawatir!” Dan ia merasakan pelukan hangat Jaemin kepada dirinya. Rhea memejamkan kedua matanya dengan senyuman lemahnya, wangi Jaemin begitu menenangkannya.
“Besok-besok, kamu harus pakai helm ke mana-mana! Suka banget kepalanya dibenturin ke lantai!” omel Jaemin dengan lucunya.
Rhea tertawa kecil dengan suara lemahnya. Ia benar-benar lemah saat ini, memangnya sudah berapa lama ia tertidur? Tidak mungkin seminggu, kan?
Rhea pun membuka kedua matanya kembali, dan sedikit terkejut melihat Jeno sudah berada di ujung tempat tidur dengan posisi duduk di sofa dalam kamar Kaela itu.
Tatapan mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah sadarnya Rhea. Tidak ada suara yang keluar dari lelaki itu, hanya tatapan yang sulit diartikan itu yang ia tangkap. Rhea baru tersadar saat Jaemin melepaskan pelukannya, dan melihat pipi Jaemin yang basah.
‘Nana nangis?’
“Jangan koma lagi pokoknya!” Hatinya tersentuh saat sahabatnya ini menangis, Rhea dengan lemah mencoba menghapus airmata Jaemin, laki-laki ini begitu tulus berteman dengan Kaela. Beruntungnya Kaela.
“Maaf ya, buat kamu khawatir. Jangan nangis lagi,” balas Rhea dengan tatapan harunya ke arah Jaemin. Jaemin hanya menganggukkan kepalanya, “kalau gitu, kamu harus minum dulu. Aku ambilkan minumnya, ya.” Setelah melihat sahabatnya menganggukan kepalanya, Jaemin pun pergi keluar dari kamar sahabatnya itu.
Rhea menghembuskan napasnya pelan, lalu kembali mengalihkan atensinya kepada Jeno yang berada di ujung sana, dengan tatapannya masih mengarah kepadanya. “Di mana Karina?” tanya Rhea dengan suaranya yang datar.
“Pulang.”
“Terus lo ngapain di sini?” tanya Rhea kembali kini dengan atensinya ke arah deburan ombak di luar kamar tidurnya ini. Jika saja Jeno mampu berbuat adil pada perasaan Kaela, maka dirinya kini sudah terbangun di dunianya tadi, dan melihat senyum Chika.
“Ya, menurut lo, gue ngapain di sini?” Jeno melemparkan pertanyaanya lagi dengan suara berat itu begitu dingin.
Rhea berdecak kecil, ia tidak menginginkan kehadiran lelaki itu di sini. “Ya, mana gue tahu.Sepengetahuan gue, lo hadir cuma memaksa keadaan gue harus ingat lo.”
Dan Rhea melihat Jeno bangkit dari duduknya, ia melihat Jeno mengambil jaketnya dan membawanya ke dalam genggaman tangan lelaki itu.
“Nyesal gue nangisin lo.” Rhea tidak mendengar jelas gumaman Jeno yang berlalu begitu saja dari kamarnya.
“Lho, Jen? Lo mau ke mana?” Rhea kembali mendengar suara Jaemin dari luar kamarnya itu, “Pulang. Karina nyariin gue.”
Dan berlalu lah Jeno, Jaemin mengangkat kedua bahunya tidak mengerti dan dengan senyuman manisnya memasuki kamar sahabatnya itu. Segelas air sudah ia ambil untuk Kaela. Rhea pun menyunggingkan senyuman manisnya.
“Berhubung kamu baru sadar, jadi kamu minumnya pakai sedotan dulu, ya.” Ucap Jaemin seperti mengajarin anak balita. Rhea tidak sanggup menahan gemasannya, ia pun melihat Jaemin yang sudah siap memberinya minum.
“Oh iya, Na, aku udah berapa lama nggak bangun?” tanya Rhea yang kini sedikit lebih segar karena minum tadi. Jaemin terlihat sibuk mengatur gelas di nakas samping ranjangnya.
“Kamu tuh koma terhitung sudah 3 hari nggak sadarkan diri, bayangkan! 3 hari kamu tidur mulu. Perasaan betah banget tidurnya,” jawab Jaemin yang masih sibuk menata barang-barang di nakas itu.
Rhea mengernyitkan dahinya, perasaan dia baru semalam pingsan dan kembali ke dunianya, mengapa di sini sudah 3 hari?
“Mama ada di rumah nggak, Na?” tanya Rhea kembali, jika sudah terhitung 3 hari berarti kabar dirinya koma sudah sampai ke telinga Mama Kaela.
“Mama masih di luar kota, belum bisa pulang karena jalur yang biasa di lewatin lagi ada perbaikan. Tapi, Jeno selalu kasih kabar tentang perkembangan kamu kok. Apalagi, dia selama 3 hari ini, nggak tidur-tidur karena jagain kamu, Kae. Dia selalu cek kondisi kamu, infus kamu, bahkan kadang aku dengar suara isakan tangis gitu waktu datang jengukin kamu.” Jaemin masih sibuk menata barang-barang itu, “makanya aku agak lega ada yang jagain kamu di sini.”
“Isak tangis? Maksud kamu, Jeno nangis?” tanya Rhea yang sedikit terkejut mendengar fakta itu dari Jaemin. “Kurang yakin juga, sih. Waktu aku mau masuk ke kamar kamu, Jeno nya malah pergi ke kamar mandi. Malahan, aku kira kamu yang nangis.”
Rhea berdecak kecil, lagi pula kenapa tiba-tiba si pemeran utama itu menunjukkan kepeduliannya? ‘Mau nya apa sih, anjing? Disakitin si Jeno nangis, dipeduliin Jeno malah senang! Kaela! Lo benar-benar, ye! Ini baru omongan Jaemin, ngapain lo bikin gue malah senang anjir!’
Rhea menggelengkan kepalanya pelan, baru bangun sudah disuguhi sifat senangnya Kaela yang menyukai fakta-fakta tadi.
‘Belum saatnya, Rhea.’
Rhea kembali berdecak kecil, ‘ini juga! Belam..belum..belam..belum! Nggak usah lo manggil-manggil gue, deh! Capek gue sama alur kehidupan yang lo ciptain. Nyenangin kagak! Nyusahin iye.’
“Kamu kenapa sih? Dari tadi berdecak mulu, mau makan, ya?” Dan Rhea hanya menghela napas sembari menggelengkan kepalanya pelan.
‘Surga yang gue maksud bukan gini, Kae.’
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
alterna.nas
Rhea lagi bahagia di dimensi lain, sementara Chika kasihan banget
2023-05-07
0