Kedua senyum Rhea terbit dengan bahagianya, “Na, emang ekstrakurikuler aku dulu apa, ya?” tanya Rhea dengan begitu antusiasnya. Pasalnya, ia juga tidak terlalu mengingat mengenai kehidupan sekolah Kaela di dalam novel, ia hanya fokus pada konflik kehidupan Kaela yang sebagai figuran-nya.
Jaemin yang tengah mempersiapkan dirinya untuk keluar dari kelas pun tersenyum melihat ekspresi Rhea yang tersenyum bahagia, “kamu itu ekstrakurikulernya ikut pelajaran ekonomi. Hobi kamu lebih ke bidang akademik.”
Rhea yang mendengar itu seketika menatap datar Jaemin,”antara gue yang bego atau Kaela yang memang anti sosial, ya? Setiap hari belajar, kenapa ekskul juga belajar anying?!”
“Yok, biar aku antar kamu ke kelas ekstrakurikuler kamu. Kamu kan paling nggak bisa ketinggalan mengenai pelajaran ekonomi.” Jaemin mulai menarik lembut tangan sahabatnya ini untuk dapat mengikutinya.
Rhea mengikuti tarikan Jaemin, tetapi mulai kembali tersenyum sembari melompat kecil.”Aku boleh ganti ekstrakurikuler, nggak?” tanya Rhea dengan gembiranya.
Jaemin yang menuntun Kaela untuk keluar dari kelas pun sedikit mengernyitkan dahinya. “Lho, kenapa? Tumben banget, apa semenjak amnesia, kamu juga melupakan ketertarikan kamu sama uang ghoib?” tanya Jaemin sedikit heran. Pasalnya, Kaela ini benar-benar hobi dengan pelajaran yang satu ini.
Rhea melingkarkan tangannya di lengan Jaemin, ia mendusel pipinya di lengan Jaemin seperti anak kucing. “Ya, aku kan mau mencoba yang lain juga. Aku mau ada pembaharuan di dalam diri aku, Na. Boleh,kan?” rayu Rhea dengan lucunya.
Jaemin dengan gemasnya pun melingkarkan tangannya di bahu sempit sahabatnya ini, lucu sekali sahabatnya ini jika seperti ini. “Emang mau diganti jadi apa, sih?
Rhea sudah banyak pilihannya, pilihannya bahkan sudah terputar-putar di dalam pikirannya.”Di sini ada ekstrakurikuler basket, nggak? Atau voli? Ah, atau taekondow? Oke, lupaian pilihannya, aku mau ikut ketiganya. Ada, nggak?” Rhea begitu semangat melontarkan semua pilihannya.
Jaemin memberhentikan langkah kakinya tepat di pintu kelasnya. Ia membalikkan badannya seketika untuk melihat sahabatnya dengan rahangnya seakan-akan jatuh, Kaela memilih ekstrakurikuler olahraga?
“Heh! Kamu itu masih kecil, nggak usah sok-sok untuk ikutin olahraga. Udah, aku daftarin aja senam zumba.”
Rhea seketika menarik kembali Jaemin dengan rengekannya, benar-benar tidak suka pilihan Jaemin. “Aaa… aku maunya yang tadi, Na. Please, ya..ya..” mohon Rhea dengan keseriusannya.
“Sekali nggak, tetap enggak! Ikut atau tidak sama sekali.” Tegas Jaemin, ia juga tidak mungkin melepaskan sahabatnya ini dengan keadaan tubuhnya yang masih lemah dan tidak pernah menyentuh olahraga tersebut.
Rhea kembali menarik Jaemin untuk dapat luluh, apa ia perlu mengeluarkan airmatanya untuk meluluhkan Jaemin?
“Yaudah, oke..oke.. Aku nggak bakalan ikut ketiganya, tapi aku bisa pilih dari salah satunya. Na, aku benar-benar mau mencoba hal yang baru dan yang membuat aku bisa lupa dari rasa sakit semua ini.” Oke, Rhea akan memanfaatkan sisi kerapuhan dan kisah sedih Kaela untuk meluluhkan hati Jaemin.
Jaemin memberhentikan langkah kakinya, ia kembali mengalihkan atensinya kepada Kaela. Sahabatnya terlihat menginginkan itu, ia juga melihat sepercik kebahagiaan di sana. Apa ia terlalu jahat untuk melarang gadis itu?
“Yaudah, kamu mau olahraga apa dari ketiga pilihan tadi?” tanya Jaemin yang mulai luluh.
Rhea kembali bersemangat, senyumnya kembali terbit dengan begitu antusiasnya. “Hm, aku mau basket! Iya, basket aja.” Di dunianya pun, ia juga mengikuti ekstrakurikuler di bidang olahraga. Dari basket, voli, bahkan taekondow. Menjadi siswa aktif dan diikuti sertakan dalam ajang perlombaan membuatnya juga memiliki nama di sekolahnya.
Jaemin menggelengkan kepalanya, “ikut voli saja. Kalau basket, tinggi kamu nggak sampai.”
Rhea yang mendengar itu seketika menyipitkan matanya ke arah Jaemin, lelaki ini bahkan tidak tahu bahwa dirinya bisa melompat tinggi melewati kepala lelaki itu.
“Kalau voli, kamu nggak perlu lompat. Kamu bisa di posisi libero.” Lanjut Jaemin dengan senyuman manisnya.
Rhea berdecak kecil saat mendengar ejekan tidak maksud Jaemin itu. Di dunianya, dia bahkan menjadi wing spike untuk tim inti voli sekolahnya itu. Apa perlu ia melompat di hadapan Jaemin?
“Kaela ikutin Nana, aja. Karena Kaela sayang Nana,” balas Rhea dengan senyumannya yang lucu. Jaemin pun kembali membawa Kaela ke dalam rangkulannya, ia juga bahagia melihat sahabatnya tersenyum seperti ini.
“Oke, kalau gitu kita pergi mendaftar!”
**
Jeno tersenyum sembari melambaikan tangannya kepada Karina setelah mengantarnya ke arah ruangan tarinya itu. Ia pun bersiap untuk memasuki lapangan basketnya, Jeno berjalan menuju ke lapangan dengan pakaian yang telah ia ganti tadi.
Dalam perjalanannya, atensi nya tanpa sengaja mengarah pada lapangan voli itu. Ia melihat gadis mungil yang tadi pagi berkelahi padanya tengah tersenyum bahagia saat memegang bola voli dengan tatapan penuh minat kepada bola voli itu.
Jeno bahkan menghentikan langkah kakinya, entah kenapa ia penasaran melihat Kaela yang berada di lapangan voli itu.
“Setelah sekian lama gue terbelenggu dengan drama pernovelan ini, gue akhirnya bisa megang my baby. Apa kabar, sayang? Kangen pukulan mama, nggak? Ah! Senang banget, anjir!” gumam Rhea sembari melompat kecil, walaupun dia dianggap pemula di dunia ini, itu tidak menuntut kemungkinan dirinya akan menunjukkan kebisaannya.
Rhea dengan senyuman menggemaskannya pun mulai mengalihkan atensinya pada bola voli itu, ia hendak melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum melakukan servis pertamanya di sini. Tetapi, seketika senyumnya ia hilangkan saat melihat Jeno juga menatapnya yang tidak terlalu jauh dari lapangan ini.
‘Mau apa dia lihat-lihat Kaela? Minta di spike kah kepalanya?’
Rhea menatap sinis kepada Jeno, lalu mulai berlari kecil sembari memegang bola itu mengelilingi lapangan voli ini. Ia benci kehadiran musang itu. Kesakitan Kaela yang ia rasakan benar-benar membuat Rhea membenci Jeno.
Jeno yang melihat tatapan sinis Kaela kepadanya tadi pun kembali membuatnya menatap sulit diartikan. Apa amnesia Kaela harus mengubah pribadi Kaela juga?
Rhea melirik kembali ke arah lelaki itu, dan masih setia berdiri menatapnya yang tengah berlari. ‘Wah, benar-benar minta di spike kepala satu ini.’
Jeno menghela napasnya pelan, ia pun melanjutkan perjalanannya menuju lapangan basket. Tidak terlalu jauh dari lapangan voli, karena bersebelahan. Ia menyugar rambutnya sembari mengalihkan atensinya pada lapangan basket yang telah ramai orang bermain.
“Jen.” Namanya terpanggil, Jeno mulai mencari sumber suara itu.
“Jaemin,” sahut Jeno dengan tatapan sedikit tajam.
Jaemin tersenyum sembari melemparkan botol minuman yang baru ia beli itu kepada Jeno. Jeno menangkapnya dengan tatapan bingungnya.
“Selamat, ya.” Ucap Jaemin sembari berjalan mendekati Jeno. Jeno mengernyitkan dahinya,”selamat apaan?” tanya Jeno dengan bingungnya.
“Ya, selamat aja. Kaela udah menjauh dari lo, bukannya itu yang lo mau selama ini? Kaela nggak mengusik kehidupan lo dengan Karina. Benar, kan?” jawab Jaemin dengan tatapan tajamnya kepada Jeno.
Jeno memberikan botol minuman itu tepat di depan dada Jaemin, ia pun memberi senyuman kepada lelaki di hadapannya ini. “Kaela nggak menjauh, dia cuma lupa kalau gue sahabatnya. Ya, gue maklumi,” balas Jeno dengan senyuman tak sampai matanya. Ia hendak pergi menjauh, tetapi Jaemin kembali berbicara.
“Bukannya dari hal seperti ini, lo harusnya bersyukur, ya? Kan dia bisa terlatih untuk nggak ingat-ingat lagi tentang lo dan Karina. Jadi, hubungan lo dan Karina langgeng, deh.” Sahut Jaemin dengan tatapannya ke arah Jeno.
Jeno mengepalkan tangannya, ia menahan gejolak emosinya. “Dia nggak bakalan lupain gue sampai kapan pun. Kata Dokter juga, itu hanya sementara. Jadi besar kemungkinan, Kaela akan ingat gue lagi.”
Jaemin menyunggingkan senyumannya, “jangan terlalu berharap, bos. Nanti sakit,” bisik Jaemin sembari menepuk bahu Jeno sebentar, lalu pergi meninggalkan Jeno yang terdiam di posisinya.
Kini, Jeno melihat Jaemin memeluk tubuh mungil itu dengan antusiasnya, begitu juga dengan Kaela yang dengan riang melihat kedatang Jaemin.
‘Dia pasti ingat itu.’
**
“Pelan-pelan makannya, Kae.” Gumam Jeno sembari mengusap sisa makan di bawah bibir Kaela.
Kaela yang merasakan sentuhan tangan Jeno di sekitaran bibirnya pun sedikit menghentikan kunyahannya. Ia melihat wajah Jeno dari dekat seperti ini membuat detak jantungnya berdetak kencang, gugupnya seketika muncul.
Jeno menyunggingkan senyuman manisnya dengan mata bulan sabit itu, ia menatap Kaela dengan rasa bahagia membuncahnya. “Gue mau cerita sama lo, dan juga mau minta pendapat lo juga, sih. Boleh?” tanya Jeno dengan suara beratnya yang terdengar senang.
Kaela kembali mengunyah makanannya, lalu menganggukkan kepalanya dengan lucu. Jeno pun mengalihkan atensinya ke arah deburan ombak tepat di hadapannya ini. Angin laut menyejukkan hati dan pikirannya saat ini, dan senyumannya tidak pernah hilang begitu saja.
“Gue waktu pertandingan basket minggu lalu, ketemu sama cewek. Gue ketemunya waktu selesai tanding sih. Dia cantik banget, Kae. Cantik banget, sampai gue tanpa sadar natap dia mulu. Dia waktu itu juga nonton pertandingan karena ikut serta sebagai utusan sekolah untuk mengurusi tim basket, dia senyum ke gue,” cerita Jeno dengan senyumannya tidak pernah hilang.
Kaela memberhentikan kunyahannya lagi, dan hari di mana paling ia hindari adalah Jeno menceritakan perempuan lain. Jeno menyukai perempuan itu.
Kaela untuk pertama kali memberikan senyuman tidak sampai matanya, ia meletakkan sendok makannya begitu saja, “terus? Lo udah tahu nama dia?” tanya Kaela yang mencoba ingin tahu sampai mana perkembangannya.
Jeno mengangguk dengan cepat, kini atensinya ia alihkan ke Kaela. “Nama dia, Karina. Cantik, kan? Gue juga udah tukaran nomor hp sama dia. Dan yang bikin gue makin senang adalah dia belum punya pacar! Aaaa… gue senang banget,” lanjut Jeno dengan girangnya.
Kaela semakin tidak bernafsu makan, hatinya tiba-tiba merasa sakit. Cemburu melihat reaksi Jeno yang begitu bahagia saat mendapatkan apa yang dia inginkan. Dari sekian banyak hal yang ingin dia hindari, kenapa untuk hal yang ini membuatnya semakin sakit.
“Menurut lo, gue tembak dia gak, ya? Atau tunggu beberapa bulan lagi? Tapi gue takut, dia bakalan diambil orang. Gimana, Kae? Pendapat lo sebagai seorang perempuan?”
Kaela menatap kedua mata sabit itu dengan penuh rasa sayang yang ia miliki, ia ingin menjawab untuk tidak melakukaknnya, tetapi rasa sayangnya pada sahabatnya ini melarangnya untuk egois. Ia tidak ingin senyuman itu hilang.
“Beri waktu Karina buat mengenal lo dulu, Jen. Biar dia terbiasa dengan perasaan lo ke dia.” Hanya itu yang sekarang dapat ia katakan.
Jeno menganggukkan kepalanya dengan senang, lalu menarik Kaela ke dalam pelukannya. “Makasih, Kae. Lo paling ngerti gue,” bisik Jeno dengan memeluk erat Kaela. Kaela membalas pelukan hangat itu dengan sedihnya, ia tidak mau berbagi pelukan Jeno kepada siapapun.
“Apapun untuk lo, Jen.”
**
Rhea tersenyum senang saat ia bersiap untuk pulang sekolah, hari ini ia begitu bahagia karena dirinya juga melakukan hobinya bermain voli, walaupun masih ada keinginannya untuk bermain basket serta latihan taekondow, tetapi tetap rasa senangnya membuatnya tidak luntur. Mungkin secara diam-diam akan mengikuti itu semua.
Hari ini, ia akan berjalan kaki saja karena udara di dalam dunia ini sangat sejuk, lagi pula ia belum pernah menikmati perjalanan di dalam dunia ini. Apa mungkin ada binatang aneh? Atau mungkin keajaiban secara tiba-tiba ia dipulangkan ke dunianya. Oke, kalau yang terakhir itu dipastikan ditunda dulu.
Rambutnya ia gulung asal, baju olahraganya sudah ia ganti dengan seragam formal sekolahnya. “Berhubung gue tinggal sendiri di rumah, gue jadi pengen kulineran deh. Di sini makanannya sama nggak ya, dengan makanan di dunia gue? Atau gue mancing aja kali ya, kan laut dekat noh dengan rumah gue. Hahaha… pinter lo, Rhe.” Gumam Rhea sembari berjalan menuju gerbang sekolahnya.
“Apa gue perlu beli alat pancing dulu? Eh, tapi di dalam novel si Kaela kagak ada adegan mancing, anjir.” Tiba-tiba Rhea memberhentikan langkah kakinya, ia berpikir sebentar sembari menatap langit cerah di atasnya.
“Alah, bodo amat! Siapa suruh masukin gue ke dalam novel. Dari awal juga cerita ini udah berubah alurnya. Mampus aja lo, Thor. Gue acak-acak alur cerita lo. Wlee…” Kembali Rhea berbicara sendiri sembari menjulurkan lidahnya mengejek langit di atasnya.
Lalu Rhea kembali berjalan dengan senandung kecilnya, ia bahkan melompat kecil karena suasana hatinya tengah bahagia.
“Kaela!”
Rhea mendengar nama Kaela terpanggil, seketika memberhentikan langkah kakinya, ia mencari sumber suara itu.
‘Kenapa orang-orang ini mulu sih yang manggil Kaela?Lagian lo juga sih, Kae. Milih ekstrakurikulernya mata pelajaran ekonomi. Mana ada yang kenal sama lo, Kaela.’
Rhea menghembuskan napasnya, lalu bersedekap dada dengan merubah raut wajahnya menjadi tidak berekspresi lagi.”Kenapa, Karin?” tanya Rhea dengan malas. Ini juga penyebab Kaela sakit hati.
“Kamu mau pulang, kan? Ayo, bareng sama aku dan Jeno. Katanya, kamu juga dititip sama mama kamu kan untuk pulang sama. Bareng, yuk!” ajak Karina dengan senyumannya yang lembut.
Rhea sedikit memiring kan kepalanya untuk melihat sumber informasi yang didapatkan Karina, yaitu Jeno. Dan lelaki itu juga tengah berdiri di sisi mobilnya dengan tatapan ke arah lain.’Ngapain dikasih tahu sih? Ember banget jadi cowo.’
“Lo berdua duluan aja deh, Kar. Gue ada urusan,” tolak Rhea dengan halus. Jujur saja, ia malas untuk bersama dengan circle si paling peran utama ini.
Karina kembali menahan pergelangan tangan Kaela, Rhea ingin melepaskannya dengan kasar tetapi dia ingat, ini bukan Jeno.
“Ayolah, Kae. Aku nggak tega kamu sendirian gitu, kalau pun ada urusan, kita mau kok antar kamu. Please…” Mohon Karina dengan serius.
Baru saja suasana hatinya membaik, kini kembali hilang karena si pemeran utama ini.”Gue bau keringat, gue habis olahraga, nanti mobilnya bau badan gue. Jadi, mending lo duluan aja,” alasan yang bagus muncul di pikiran Rhea. Rhea bangga akan dirinya.
“Nanti nggak usah pakai ac, jendela bakalan dibuka.”
“Gue juga lagi mual, nanti tiba-tiba gue muntah. Gimana?”
“Di mobilnya ada kantong plastik kok, jadi udah aman.”
Rhea menatap datar ke arah Karina, ini manusia satu benar-benar minta di spike kepalanya. Dia kenapa begitu menginginkan dirinya untuk bergabung dengan mereka, sih?
Ia juga melihat Jeno menyunggingkan senyum kecilnya tetapi tatapannya masih ke arah lain. Rhea menyipitkan kedua matanya, ini pasti rencana dia. Oh, apa Karina sengaja memaksanya agar dia menjadi cemburu buta melihat kemesraan mereka? Cih.
“Kalau kamu diam, berarti kamu setuju. Ayo, Jeno! Kita pulang,” dan secara pasrah Rhea mengikuti tarikan lembut Karina. Jeno pun membuka mobilnya, Rhea pun hanya diam sembari masuk ke bangku belakang yang luas.
Rhea bersedekap dada dengan tatapan datarnya ke arah dua pasangan sejoli ini.
“Oh iya, Jen, tadi kata Kaela dia ada urusan. Kita antar dia ke tempat urusannya, mau, nggak?” ucap Karina sembari memasang seatbelt-nya.
Jeno melirik Kaela melalui spion di dalam mobilnya ini, Kaela masih memasang wajah datar itu. “Hm, boleh.”
Rhea jadi sedih rencana bahagianya sedikit melenceng karena dua siluman di depannya ini. Ia kembali menatap tajam ke arah bangku yang ada di depan.
“Jadi, kamu urusannya di mana Kaela?” tanya Karina dengan lembut. Rhea jadi ingin mengerjain mereka. “Gue mau ke toko alat pancing dulu, baru ke toko kue langganan mama, terus gue juga mau ke toko buku juga, dan gue juga mau ke toko kopi langganan mama. Oh, iya lupa, gue juga mau ke toko alat bangunan juga.”
‘Mampus lo semua. Sekalian aja gue bangun kandang ayam di mobil lo.’ Batin Rhea berteriak bahagia. Suasana hatinya kembali bahagia.
Karina terkejut mendengar rentetan arah tujuan Kaela, bahkan Karina menatap Jeno yang berada di sampingnya. Rhea mengulum senyum, bisa-bisanya mereka mengajak beban ini ikut pergi bersama mereka.
“Gimana, kalian bisa? Kalau nggak, gue sendirian aj—”
“Nggak, gue bakal antar lo ke tempat-tempat itu. Jangan turun dari sini,” potong Jeno seketika dengan cepat. Karina menghela napasnya pelan, ia pun akan mengikuti ke mana kekasihnya pergi.
Rhea dengan senang hati mensetujui ucapan Jeno. Bahkan kedua tangannya menjadi bantalan kepalanya, ia layak bos di dalam mobil ini. ‘Huahahaha… aku adalah penguasa bumi ini.’
**
Rhea sedikit menyipitkan kedua matanya untuk memilih alat pancingnya, mulai dari talinya, umpan, dan alatnya.
“Ini keluaran terbaru, limited edition. Kamu bisa memancing tanpa takut alat pancingnya patah atau umpannya hilang begitu saja.”
Rhea sedikit mengernyitkan dahinya, “emang harganya berapa, pak?” tanya Rhea sembari melihat alat pancing yang ditunjuk oleh sang empunya toko.
“Khusus untuk kamu, saya kasih 3,5 juta. Ini bisa mancing ikan besar juga, lho.”
Rhea yang mendengar harga itu membuatnya menatap datar penjualnya, “apa dengan harga segitu, saya bisa dapat paus biru?” sindir Rhea sembari bersedekap dada.
Jeno seketika tertawa kecil mendengar sindiran itu, lalu menahannya kembali saat melihat tatapan terganggunya Kaela karena tawanya.
Rhea pun baru sadar, jika Jeno mengikuti dirinya untuk membeli alat pancing. Ia menatap sinis ke arah Jeno, lalu kembali menatap penjual itu. “Bapak, saya memang mau mancing ikan, bukan menjadikan alat mata pencaharian. Lagian, saya nggak berniat menjadi pemancing profesional.” Omel Rhea dengan cepat.
Jeno menatap Kaela dengan senyuman kecilnya, baru kali ini dia melihat sahabatnya seperti ini. Biasanya, Kaela akan selalu minta pendapatnya bahkan tak segan-segan menitipkan semua keperluannya kepadanya tanpa susah-susah seperti ini.
“Kasih alat pancing yang murah, bagus, dan sekalian ada bonus umpannya. Saya masih sekolah, nggak kasihan lihat saya pulang sekolah langsung mencari alat pancing? Saya lapar, harus mancing dulu, pak.” Lanjut Rhea sembari memberikan kisahnya yang ia buat-buat. Strategi bagus untuk bertahan hidup dengan keuangan yang sebenarnya ada.
Si penjual pun melirik keluar toko nya, “itu tadi saya lihat kamu keluar dari mobil, berarti kamu orang kaya.” Dan penjual itu pun mulai mencari alat pancing yang diminta oleh anak kecil itu.
“Itu bukan mobil saya, saya cuma numpang. Saya dipungut tadi di jalan.” Balas Rhea dengan malasnya.
Jeno berdecak kecil mendengar alasan Kaela yang mengada-ada. Sejak kapan pula dia dipungut?
“Nasi dong kamunya kalau dipungut.” Dibalas kembali dengan candaan oleh si penjual alat pancing. Rhea memutar kedua bola matanya, lalu mengeluarkan uangnya dengan segera. “Berapa ini harganya?” alat pancing itu pun sudah bersedia di hadapannya.
“Rp 67.000,00. Ini gak bisa mancing paus biru.”
“Dih, siapa juga mau mancing paus biru.”
“Ya, mana tahu tiba-tiba lewat.” Dan penjual itu pun mulai memproses bayarannya yang sudah diberi tadi.
Rhea melihat alat pancingnya dengan tatapan puas. Sepertinya, besok ia harus mengundang Jaemin untuk ke rumahnya dan bakar ikan dengan hasil tangkapannya. Ide yang bagus.
“Sayang, sudah selesai beli alat pancingnya?” Suara Karina yang lembut membuat Rhea buyar akan ide bagusnya tadi. ‘Lagian, kenapa semua ikut turun sih?’
Jeno memberikan senyuman manisnya kepada Karina, ia juga menarik gadis itu ke dalam dekapannya, “kamu capek, ya? Atau udah lapar? Kita mau singgah makan dulu?” tanya Jeno dengan suara lembutnya.
Karina tersenyum manis kepada Jeno, lalu melirik Kaela yang masih sibuk dengan alat pancingnya. “Kayaknya, apa aja deh. Soalnya udah lemes.”
Rhea mendengar itu seketika meninggalkan mereka dengan tidak pedulinya, ia muak dengan rasa cemburu Kaela yang masih tertinggal.
Jeno yang melihat Kaela pergi begitu saja membuatnya dengan segera menyusul gadis itu. “Ayo, sayang, kita pergi.” Ajak Jeno dengan menggenggam tangan Karina.
**
Rhea tersenyum bahagia bahkan terpukau dengan kedua matanya yang berbinar. Kue-kue di dalam dunia novel ini begitu cantik dan terlihat asing, ia kira sama saja ternyata berbeda dengan dunianya. Ia jadi ingin memfotonya dan mencetak hasil fotonya lalu ia bawa ke dunianya.
“Lo mau yang mana, Kae? Biar gue traktir.” Jeno menawarkannya dengan suaranya yang lembut. Jeno pun juga memilih kue-kue yang akan dia bawa pulang.
Rhea yang sejak tadi tengah bahagia, tiba-tiba menatap seketika datar ke arah Jeno. “Nggak usah sok kenal sama gue. Urus aja urusan lo,” balas Rhea sembari menjauhkan diri dari Jeno yang berada di dekatnya.
Jeno menatap kepergian Kaela dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia pun meletakkan kembali capitan kue itu, dan meninggalkan nampan kue itu begitu saja.
Rhea menggerutu dengan kesal saat Jeno tadi ada di dekatnya. Sudah jelas ia tidak suka didekatin oleh lelaki itu, masih juga dekat-dekat. Rhea mencoba mencari tempat kue yang terlihat menarik kembali. Ia rasa, ia bisa memperbaiki suasana hatinya dengan memfoto kue-kue ini dan memamerkannya kepada Jaemin besok.
“Ah, lucu sekali bentuknya. Apakah rasanya selucu ini juga?” Rhea bahkan tanpa sadar tersenyum saat ada hiasan bebek kuning di atas kue itu. “Gue beli ini untuk Nana, pasti Nana suka.”
“Mba, mau tanya. Ini versi binatang lainnya ada, nggak?” tanya Rhea dengan senyumannya yang mulai terbit.
Pelayan toko itu pun mulai menghampiri gadis itu dengan senyuman ramahnya. “Mari saya antar ke tempat versi lainnya.” Rhea semakin semangat, ia mengikuti jejak pelayan itu dengan senang.
Jeno melihat Kaela yang mengikuti pelayan toko itu, ia hendak mencoba membuat Kaela dapat mengingatnya dengan cara seperti ini, tetapi Kaela masih saja menghindar bahkan merasakan dirinya hama.
Jeno memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sekolahnya, ia hanya melihat pergerakan sahabatnya itu yang tidak terlalu jauh.
**
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
alterna.nas
entar kena amuk Woo Young-woo kalo mancing paus biru
2023-05-07
0
eLena
wwwkkkkkk,..Paus biru,.
2023-05-04
1