Jaemin menaikkan salah satu alisnya ke atas saat melihat sahabatnya ini menatapnya dengan senyuman manisnya.
“Kae, aku tahu kalau aku ganteng, tapi ini sudah terhitung 2 menit kamu lihat aku. Ada apa, sayang? Merindukan cubitan di pipi kamu? Aku dengan senang hati mencubitnya,” goda Jaemin dengan senyumannya.
Rhea dengan gemasnya memegang kedua pipi Jaemin, ia memegang karakter favoritnya. Bisa kah dirinya membawa karakter ini ke dunianya?
“Kamu itu lucu banget, sih! Jadi pacar aku, yuk?” tawar Rhea dengan semangatnya, bahkan ia menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Jaemin mendengar itu seketika tertawa hingga memukul sedikit keras meja belajarnya, bahkan Rhea yang tepat di hadapannya pun terkena sedikit saliva Jaemin. ‘Gak apa-apa, yang penting ganteng.’ Batin Rhea dengan pasrah.
Akhirnya Jaemin menghentikan tawanya sembari mengusap pipi sahabatnya seperti seorang ibu mengusap ingus anaknya. “Kamu kalau lagi amnesia gini seperti nggak tahu diri, ya. Tapi nggak apa-apa, karena aku sayang Kaela.” Balas Jaemin dengan tawa gelinya.
Rhea menepuk dadanya seakan sakit, ia tertolak. ‘Pantes ditolak, lagian judul novelnya aja Friendzone, anying!’ Batin Rhea.
Jaemin menggelengkan kepalanya dengan senyuman manisnya sembari mengacak puncak rambut Kaela dengan lembut, lalu mulai mengalihkan atensinya ke arah luar kelasnya.
“Tapi, Kae, kamu nggak mau ketemu Jeno?” tanya Jaemin sembari membuka buku pelajaran yang akan di pelajari nanti.
Rhea yang mendengar nama itu disebut membuatnya dengan malas hanya menggelengkan kepalanya, ia pun mulai mengeluarkan buku-bukunya dari tas.
Jaemin sedikit mengernyitkan dahinya, “tumben, lagian yang hilang kan ingatan kamu doang, bukan perasaan kamu,” lanjut Jaemin yang kini kembali menatap ke arah luar kelasnya.
Rhea mengalihkan tatapannya ke arah pintu kelasnya, dan terlihat di sana Jeno bersama Karina tengah berbincang dengan mesranya. ‘Anjing! Kenapa dada gue sakit, bangsat?’ batin Rhea yang merasakan dadanya terasa sakit.
“Apa jangan-jangan Kaela masih ada di sekitar gue, makanya gue bisa ngerasain sakitnya?” ucap Rhea dalam hatinya.
“Kae, kamu nggak apa-apa? Kok nangis, sih? Sakitnya kambuh, ya?” pertanyaan Jaemin menyadarkan Rhea dari rasa sesak yang dialaminya, bahkan dia tidak sadar bahwa airmatanya sudah terjatuh.
“Na, kenapa dada aku sakit, ya?” tanya Rhea yang kini sudah mulai menangis. Jaemin yang melihat itu segera membawanya ke dalam pelukannya, terlihat raut wajah Jaemin yang khawatir kepada sahabatnya ini.
Jaemin mengusap punggung mungil sahabatnya ini dengan lembut, ia mengetahui bahwa Kaela mencintai Jeno sebegitu besarnya, ia tahu penyebab rasa sakit yang dirasakan oleh Kaela. “Aku ada di sini untuk kamu. Kamu jangan lihat lagi yang di luar dulu, ya? Dah.. nggak apa-apa kok,” bisik Jaemin dengan begitu menenangkan.
Rhea sebenarnya tidak mau menangis, tapi entah kenapa kali ini dirinya tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. “Ya ampun, Kae. Lo segitu sakitnya, ya? Sampai-sampai harus se sesak ini?”
Terdengar sandungan lagu dari Jaemin yang mengalun, lagu twinkel little star tapi entah kenapa itu menenangkannya. “Kenapa amnesia nggak hapus perasaan kamu juga ya, Kae?” gumam Jaemin dengan sangat pelan.
**
“Kaela, kamu kenapa, sayang?”
Kaela mengalihkan atensinya dari laut di depannya itu, airmatanya sudah terjatuh begitu saja. Ia melihat Jaemin menatapnya dengan raut wajah khawatirnya. “Nana … Jeno, Na.. Jeno jahat,” adu Kaela dengan tangisannya yang terdengar begitu sesak.
Jaemin dengan cepat membawa Kaela ke dalam pelukannya, tubuh mungil itu begitu rapuh hingga tak bertenaga hanya untuk membalas pelukannya. Begitu mendengar panggilan telepon sahabatnya ini, ia segera berangkat untuk menemui Kaela.
“Apa yang dibuat Jeno? Kamu diapain sama dia? Biar aku hajar nanti dia!” Ucap Jaemin dengan amarahnya.
Kaela menggelengkan kepalanya, terisak dengan begitu kuat. “Jangan, Na… Aku sayang dia, ak-aku yang salah.. harusnya aku sadar diri, karena dia sudah punya pacar.”
Jaemin memejamkan kedua matanya, airmatanya juga ikut terjatuh. Begitu sakitnya hati Jaemin saat mendengar pernyataan sahabatnya ini saat mengatakan bahwa Jeno sudah memiliki pasangan, ia jelas tahu juga bahwa Kaela sempat mengungkapkan perasaannya kepada Jeno, ia juga yang membantu dan mendukung Kaela untuk itu semua. Dan sekarang ia menyesal.
“Dah, nggak apa-apa. Aku di sini untuk kamu.” Bisik Jaemin dengan suara beratnya itu. Ia pun mulai mengusap punggung mungil itu, dengan mulai menyandungkan lagu yang ia tahu.
**
Rhea tersenyum manis saat melihat Jaemin sudah mendatangi meja kantin dengan dua piring makanan yang dipesan tadi. ‘Aduh, pangeranku datang. Dia jalan aja kayak disambut dengan bunga-bunga di sekelilingnya.’
“Ini makanan kesukaan kamu, dan hari ini aku yang traktir kamu. Habisin, ya,” ucap Jaemin sembari memberikan piring makanannya itu ke arah sahabatnya itu. Mata Rhea berbinar senang apalagi mendengar kata ditraktir.
“Terima kasih, Nanaku,” balas Rhea dengan semangatnya. Jaemin tertawa kecil, baru kali ini ia melihat Kaela begitu mengekspresikan kesenangannya, bahkan terlihat menggemaskan.
Jaemin mulai menyuapkan makanannya saat Kaela sudah memulai makannya dengan lahap. Ia juga baru melihat Kaela begitu lahap ketika makan, pipi itu terlihat semakin menggembung. Kesenangan Jaemin untuk mencubit pipi itu, sebelum ia mencubitnya, ia mengurungkannya saat melihat Jeno dan Karina menghampiri meja kantin itu.
“Makanannya enak banget, Na. Aku mau tam—”
“Hai, Kaela … eh, ada Jaemin juga. Boleh gabung, nggak?” ucapan Rhea terpotong saat melihat Karina dan Jeno sudah ada di sekitarnya. Rhea yang tengah mengunyah pun seketika menghentikan kunyahannya.
Jaemin menatap tidak suka ke arah Jeno, ia teringat Kaela menangis karena pria sialan itu.
‘Napa harus dekat-dekat gue, sih?!’ batin Rhea dengan kesalnya.
“Nggak boleh … hehehehe.” Jawab Rhea dengan ketawanya di ujung kalimatnya. Jaemin yang mendengar penolakan itu pun tertawa, bahkan ia hampir tersedak.
Jeno menatap Jaemin yang tertawa puas itu, ia terkejut mendengar ucapan Kaela yang menolak mereka untuk bersama di meja kantin ini. Karina juga ikut terkejut selain karena tawa Jaemin, ia juga terkejut mendengar penolakan Kaela. Biasanya, dengan lembut Kaela berbicara dan menyambut mereka.
“Kenapa? Karena lo ngerasa canggung sama gue?” tanya Jeno dengan tatapan dinginnya ke arah Kaela.
Rhea menganggukkan kepalanya dengan semangat sembari menepuk punggung lebar Jaemin yang sejak tadi terbatuk-batuk, karena ketawanya. “Yoi.” Jawab Rhea dengan santainya.
Jaemin sudah menggelengkan kepalanya, tanda ia menyerah dengan percakapan antar dua manusia itu. Ia sudah tidak sanggup lagi tertawa.
“Sorry, Karin. Lo tahu kan, kalau Kaela lagi ada sedikit larinya. Jadi, harap dimaklumi.” Jaemin secara tidak langsung menyetujui penolakan Kaela.
Rhea mulai dengan berpura-pura menyentuh dahinya seakan-akan menggambarkan dirinya tengah pusing karena penyakit amnesianya. “Iya, nih. Maaf ya, kalian cari tempat lain dulu.” Balas Rhea dengan suaranya yang terdengar seperti mengusir.
Karina pun memberikan senyuman manisnya kepada Jeno, Jeno yang sejak tadi menatap tingkah laku kedua manusia di hadapannya itu pun mengalihkannya ke arah Karina. “Kita cari tempat yang lain ya, sayang?” ajak Karina dengan lembut.
Rhea yang melihat adegan mesra itu pun hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. Ia kembali mengunyah.
“Nana, aku mau bilang, kalau aku mau tambah. Boleh, nggak?” tanya Rhea kunyahannya, ia tidak lagi memperdulikan kedua pasangan neraka itu.
Jaemin menganggukkan kepalanya,”of course, untuk Kaela, kamu hari ini harus makan banyak. Karena jarang sekali kamu makan nambah.” Jawab Jaemin dengan senyuman bahagianya.
Jeno melirik ke arah Kaela yang sama sekali tidak lagi ada sapaan atau lanjutan percakapan ke arah mereka. Jeno menggenggam piring makannya dengan kuat tanpa ia sadari. “Kenapa kita harus cari tempat yang lain? Ini kan tempat sahabat aku, sayang. Kalau dia ngerasa canggung, seharusnya intesitas kita bersama makin diperbanyak biar tidak semakin canggung.”
‘What the hell?! Ini orang kenapa dah? Bukannya dia juga risih ya, kalau Kaela selalu ngikutin dia ke mana-mana? Di novel aja, sempat-sempatnya peringatin Kaela buat jangan dekat-dekat dulu karena Karina cemburu dan dia juga terganggu waktu berduanya.’
Rhea pun melempar tatapan tajamnya kepada Jeno, ia benar-benar kesal dengan laki-laki itu.”Lo kenapa sih, anjing?! Masalah lo sama gue apa? Banyak meja di sekitaran sini, ya, carilah tempat lain!” bentak Rhea yang sudah mulai emosi. Ini benar-benar bukan Kaela, Kaela tidak sebar-bar ini kalau berbicara bahkan emosi.
Jaemin membolakan kedua matanya saat Kaela sudah berdiri dari duduknya, berikut dengan Karin menjatuhkan rahangnya saat mendengar umpatan Kaela yang begitu keras, bahkan murid yang ada di kantin ini pun mulai mengalihkan atensi mereka ke arah Kaela.
Jeno mengernyitkan dahinya, “lo yang kenapa, Kaela?! Kenapa lo jadi kasar gini ngomong sama gue? Seburuk itu amnesia lo, sampai-sampai tata krama lo hilang juga?” balas Jeno dengan rahangnya yang mulai mengeras.
Rhea tertawa kecil dengan sinis, ia mulai memukul meja kantin itu dengan keras. Jaemin terkejut, ia benar-benar terkejut. Kaelanya yang lembut dan rapuh, kenapa jadi seperti preman gini?
“Lo mending pergi dari hadapan gue, sebelum gue lempar piring gue ke arah lo. Dari tadi, nguji kesabaran gue mulu, heran!” ucap Rhea dengan penuh penekanan.
Karina mencoba menarik Jeno agar tidak terpancing emosinya, “Jen, udah dong. Kita ada tempat lain yang bisa kita duduki, ayo.. jangan kelahi gini,” bisik Karina dengan lembut.
Jeno tidak menanggapinya, ia bahkan mendekatkan dirinya kepada Kaela yang menantangnya dengan tubuh mungil itu. “Lempar! Lempar ke gue sekarang!” pancing Jeno dengan emosinya.
Rhea menyugar rambutnya dengan emosinya yang sudah tidak dapat lagi ia kontrol, ia mengambil piring di meja kantin itu, hendak melemparkannya ke arah Jeno tetapi seketika pergerakannya ditahan Jaemin.
“Kaela, tenang.”
Rhea menatap dengan penuh amarah ke arah Jeno, ia menahan pergerakannya karena Jaemin menahannya. “Kalau bukan karena Nana, udah habis gue buat muka lo! Ada untungnya juga gue lupa ingatan, ternyata Tuhan sebaik itu menghapus kenangan buruk gue dan lo! Loser!” desis Rhea diakhiri dengan senyuman sinisnya.
Jaemin menatap Jeno yang terdiam, dan mulai membawa Kaela untuk bersiap untuk pergi. “Kita balik ke kelas, kalian bisa di sini.” Dan Jaemin membawa Kaela untuk pergi.
Jeno mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras dan menatap piring Kaela yang sudah berhamburan makanannya. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya berubah total.
“Jeno, kita perlu bicara!” Dan Karina pun menyadarkan Jeno dari keterdiamannya.
**
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Ayano
Caper keknya dia sama Kaela
2023-05-26
0
Ayano
Malu nih 😏
2023-05-26
0
Ayano
Penolakan berkedok candaan
2023-05-26
0