Chika melihat sahabatnya, Rhea tengah terbaring lemah dengan kepala yang dililit oleh perban putih itu, suara alat-alat penunjang kehidupannya pun bersuara dengan nyaringnya. Chika melihat sahabatnya begitu sangat lemah, tidak ada tatapan tajam yang menatap dirinya lagi.
Airmatanya jatuh, ia menangis di punggung tangan sahabatnya ini, “maafin gue, Rhe. Maafin gue,” isak Chika dengan begitu sedihnya.
“Gue mohon bangun.”
**
Rhea membuka kedua matanya dengan napasnya memburu, ia melihat di sekelilingnya berwarna biru laut itu masih terlihat jelas. Rhea memejamkan kedua matanya dengan lelah, ia bermimpi Chika menangisinya.
Rhea membuka kedua matanya kembali lalu menyandarkan punggungnya di kepala ranjangnya ini, ia melihat keluar jendela kamarnya, malam telah tiba dan angin laut semakin memberikan tiupannya semakin menjadi. Dan ia masih belum mengetahui, kehidupan apa yang harus dijalaninnya ini, tapi yang ia rasakan tadi siang itu adalah rasa sesak yang menjalar di dalam dirinya. Jeno Janurio. Nama itu mengingatkannya pada sebuah novel yang ia baca, yang membuatnya membuang novel itu karena kekesalannya pada tokoh itu yang selalu memberikan kesakitan pada salah satu tokoh novel figuran bernama Kaela Faleesha.
Rhea seketika terpaku, Kaela Faleesha?
“Gak mungkin gue berada di dalam dunia novel itu.” Gumam Rhea sembari menggelengkan kepalanya. Ini gila jika benar-benar berada di dalam novel itu.
Rhea mendengar suara pintu kamarnya terbuka, ia melihat seorang laki-laki tinggi dengan seorang perempuan memasuki kamarnya. Laki-laki itu menggenggam tangan seorang perempuan yang bersama memasuki kamar tidurnya, terlihat serasi.
Rhea menatap seorang laki-laki yang baru saja ia tandai, Jeno Janurio. Tampak tampan dengan kulit putihnya dan kedua mata yang seperti sabit saat tersenyum, rambut hitam legamnya terlihat sedikit berantakan dan bibir tipisnya yang sedikit mengurai senyuman kepadanya.
“Kaela, gimana kabar kamu?” seorang perempuan cantik bersama Jeno terdengar khawatir kepada dirinya.
“Sorry, baru datang jengukin lo. Tadi kita singgah untuk beli lo buah-buahan dan obat-obatan herbal biar lo cepat pulih,” sahut suara berat itu dengan lembut.
Rhea menyunggingkan senyumnya, ia menatap kedua pasangan di hadapannya ini. “Selamat datang Jeno Janurio dan Karina Adisha.” Sambut Rhea dengan tatapannya ke arah pasangan itu.
‘Benar, gue lagi di novelFriendzoneitu. Novel yang menyiksa Kaela karena perasaannya kepada Jeno, sahabatnya sendiri. Karena cinta si pemeran utama, Kaela harus berkorban dengan memendam kembali perasaannya sampai ia mati. Jeno bangsat! Jeno anjing! Lo yang punya hubungan, kenapa Kaela yang kesakitan ?! Ini juga, penulisnya kek tai! Yang begini aja, dikasih ke gue.’
Jeno memberikan senyuman manisnya kepada Rhea, lalu hendak mengusap puncak rambut gadis itu tetapi Rhea seketika menghindar. Jeno sedikit mengernyitkan dahinya.
“Eh, by the way kalian udah makan belum? Mama tadi masak banyak katanya, mama buat syukuran karena anaknya baru sadar. Gih, sana makan.” Balas Rhea dengan senyuman manisnya, ia tidak mau Jeno menyentuh tubuh Kaela. Ada rasa benci yang tumbuh di hati Rhea saat ini.
Jeno pun mengurungkan niatnya untuk menyentuh Kaela, ia pun tersenyum kepada Karina, kekasihnya. “Kamu mau makan, sayang?” tanya Jeno dengan lembut sembari mengusap pipi Karina dengan lembut.
Rhea melihat itu pun seketika menatap sengit kepada dua sejoli se neraka itu, ‘Kaela, dengan senang hati gue terusin hidup lo. Kerasa banget sakitnya lo lihat pasangan ini, mana kaga tahu diri lagi mesra-mesra di kamar sahabatnya sendiri. Najis!’ batin Rhea dengan penuh dendam.
“Hmm.. Aku mau ambil minum aja deh, Jen. Kamu mau minum juga, nggak?” tawar Karina dengan lembut.
Jeno menganggukkan kepalanya, “aku temani, ya?” balas Jeno dengan senyumannya.
Karina menggelengkan kepalanya, “kamu di sini aja, aku bisa kok sendiri.” Jeno pun melihat kepergian kekasihnya keluar dari kamar tidur Kalea.
“Lo masih marah sama gue, Kae?” Suara Jeno yang berat itu mengalihkan atensi Rhea dari jendela kamarnya.
Rhea paham yang dimaksud dengan Jeno, permasalahan mengenai Kaela mengungkapkan perasaannya pada Jeno karena sudah tidak tahan lagi memendamnya, tetapi Jeno hanya diam dan keesokannya, ternyata sudah memiliki kekasih. ******.
‘Ini cowo sejenis Jeno ini enaknya di apain ya, Kaela? Di kebiri boleh, ngga?’
Rhea mulai memasuki dirinya ke dalam peran drama, ia mengernyitkan dahinya sedikit, berpura-pura lupa mengenai permasalahan itu. Padahal dia sudah mengetahui seluk-beluk di novel itu.
“Maksudnya? Sorry Jeno, gue banyak nggak ingatnya. Soalnya kata Mama, gue kena amnesia traumatis, jadi ya, memori gue kebanyakan hilang.” Jawab Rhea dengan suara yang sengaja ia lembut-lembutkan.
Jeno terkejut, ia bahkan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya itu. “L-lo juga lupa tentang persahabatan kita juga?” tanya Jeno dengan tidak percaya.
‘Cuih! Kalau bisa lo dihapus dari dunia per-novelan ini, anjing! Benci banget gue sama lo! Kaela! Lo aneh banget, bisa suka sama cowok kayak gini.’
Rhea pun menundukkan kepalanya, seakan-akan ia merasa bersalah. Padahal, dia ingin menutup matanya agar tidak emosi melihat laki-laki yang tengah menatapnya.
“Maaf, gue lupa. Yang gue ingat hanya nama lo dan Karina, tapi mengenai kenangan dan sebagainya, gue nggak ingat.”
Pintu kamar terbuka kembali, dan Karina datang dengan minuman ada di nampan yang dibawanya. Jeno melihat kehadiran kekasihnya pun seketika merubah ekspresinya menjadi tersenyum.
“Gimana? Udah sampai mana pembicaraan kalian berdua?” tanya Karina yang sudah memberi gelas minumnya kepada Jeno. Jeno menerimanya tetapi tatapannya kepada sahabatnya yang diam sembari tersenyum. Tatapan yang Jeno lihat itu, seperti tatapan benci? Atau dirinya salah.
“Maaf sekali lagi, Jen. Gue nggak bisa ingat masa-masa persahabatan itu.” Rhea mencoba memberikan kemampuan acting-nya. Ia telah mencoret Jeno sebagai manusia yang akan dijauhinya, ia tidak akan membuat Kaela terluka seperti itu lagi. Kaela yang sekarang adalah perempuan yang tidak akan mengemis cinta, bahkan berkorban demi penyatuan dua pasangan se neraka ini.
“JENO! TANGAN KAMU BERDARAH!” teriak Karian terkejut, gelas kaca yang dipegang Jeno tampaknya pecah di genggaman Jeno.
Jeno tersadar seketika, ia melihat tangannya berdarah. Darah menetes ke lantai kamar tidur Kaela, Rhea hanya menatap dingin kepada darah itu.
“Kamu kenapa, sih? Astaga! Ayo, diobatin!” omel Karina dengan khawatirnya. Jeno menatap Kaela yang tampak tidak lagi seperti dahulu, tidak ada tatapan hangat itu di sana.
“Kita sekalian pulang saja. Kae, gue pulang dulu. Cepat sehat ya, biar bisa ketemu di sekolah lagi. Ayo, Karina, kita pulang,” ucap Jeno dengan suara beratnya, ia menatap sebentar ke arah Kaela, lalu pergi meninggalkan kamar tidur dengan darahnya yang berjatuhan.
Rhea bersedekap dada sembari menatap darah itu di lantai. “Kesakitan lo, Kaela, akan gue obatin dengan kebahagiaan yang akan gue kasih ke lo.”
**
Jeno hanya melihat tangannya di bungkus oleh perban putih itu, sedangkan Karina sibuk mengurus biaya pengobatan kekasihnya itu.
“Usahakan jangan terkena air dulu ya, dan 4 hari lagi diganti perbannya.”
Jeno pun menganggukkan kepalanya dengan singkat, ia pun menatap tangannya yang diperban itu dengan pikirannya yang sedikit kusut.
“Maaf sekali lagi, Jen. Gue nggak bisa ingat masa-masa persahabatan itu.”
Ucapan Kaela membuatnya tidak dapat fokus, apa amnesia itu berlangsung lama? Apa Kaela benar-benar melupakan dirinya sebagai sahabat? Dan menjadi orang asing.
“Sayang, hari ini biar aku nyetir mobil kamu, aku takut lukanya makin parah. Oke?” Suara Karina menyadarkan Jeno dari pikirannya yang kusut itu, Jeno menegakkan kepalanya dan tersenyum kepada kekasihnya.
“Makasih, sayang.”
**
“Gila, sekolahnya gede banget.” Rhea terpukau dengan sekolah Kaela, benar-benar megah. Ia berjalan memasuki gerbang sekolahnya yang terlihat lebih besar lagi, ala-ala kerajaan. Tak henti-hentinya ia bergumam kagum.
“Bukan maen sekolah lo, Kae.” Rhea tersenyum melihat dunia novel yang ia baca, kini di visualisasikan dan melebihi ekspetasinya. Sungguh indah.
Ia berjalan menuju kelasnya, sebelum berangkat sekolah, mamanya mengingatkan bahwa dia berada di kelas 11 IPS 2, sesuai dengan kelas di dunia lamanya.
“Kaela.”
Rhea mendengar nama Kaela terpanggil, suara itu, suara yang ia benci. Ia membenci pemilik suara itu, karena dialah Kaela menyerahkan tugasnya ke Rhea. Rhea berpura-pura tidak mendengarkannya, ia tidak mau lagi berurusan dengan si paling pemeran utama.
“Kaela! Tunggu!”
Rhea semakin mempercepat jalannya, tetapi entah kenapa dia dapat menyusulnya dengan cepat bahkan mencekal tangannya. Rhea melihat Jeno yang berada di sampingnya dengan napasnya memburu, Rhea melepaskan genggaman tangan Jeno dengan cepat. Jeno pun kembali terkejut, ia masih belum terbiasa.
“Eh,kenapa, Jen? Ada urusan apa?” tanya Rhea yang memulai aktingnnya menjadi seorang Kaela yang lemah lembut.
“Gue kira lo masih istirahat, kalau tahu gitu, kenapa nggak minta barengan aja perginya? Rumah kita kan satu komplek,” balas Jeno dengan senyuman khas mata bulan sabitnya itu.
‘Ya, terus? Kenapa, njing?! Udah dibikin tanda-tanda menjauh, masih juga sok-sok dekatin. Nyakitin elit, ngobatin sulit! Cuih.’
Rhea menggelengkan kepalanya, sembari menundukkan kepalanya, ia mulai kembali dramanya. “Gue masih belum kenal lo, Jeno. Gue nggak nyaman ada di dekat lo, gue ngerasa canggung kalau dekat lo.” Ucap Rhea memberi alasan dengan gayanya yang seakan-akan takut.
Jeno menatap Kaela dengan tatapan yang sulit dimengerti, entah kenapa hatinya terasa aneh. Sahabatnya menatapnya seperti orang asing.
“Kae—”
“Woi, Kaela! Akhirnya kekasih hatiku datang ke sekolah juga.” Ucapan Jeno terhenti saat melihat seorang laki-laki tinggi dengan wajah berbinar melihat Kaela yang selama ini sakit, sudah bisa masuk ke sekolah.
Rhea membolakan kedua matanya, ‘Ini Na Jaemin? Sahabat kecilnya juga! Ganteng banget ya Tuhan, aish! Dunia fiksi ini tidak pernah mengecewakan diriku. I lope you, Author-nim.’
“NANA… I MISS YOU,” pekik Rhea sembari berlari untuk memeluk Jaemin yang semakin semangat berlari.
“Kaela ku sayang, my bunny, my sweetheart, my lovely pillow, sudah lama tidak melihat lemak pipi kamu yang semakin menjadi. Gimana kabarnya, cinta?” tanya Jaemin yang memeluk gemas Kaela.
Rhea merasakan pelukan hangat Jaemin bagaikan pelukan ibunya, hm.. jadi rindu ibu. “Aku juga kangen Nana. Aku baik, Nana. Nana gimana kabarnya?” tanya Rhea sembari mendongakkan kepalanya untuk melihat Jaemin yang tinggi.
‘Ada salah satu karakter yang gue sukai di novel Friendzone itu, yaitu Na Jaemin. Sahabat Kaela sejak kecil juga, se frekuensi, dan selalu seperti seorang ibu untuk Kaela. Tapi, gue ga kebayang seganteng ini, Cok!’
“Aku selalu baik dong apalagi kalau udah lihat pipi kamu, duh.. cubit jangan, ya?” Tanpa perlu di kasih izin, Jaemin sudah mencubitnya dengan gemas.
Rhea tertawa gembira, dari hal yang ia syukuri memasuki dunia novel ini, ia bersyukur memiliki sahabat seperti Jaemin.
Jeno melihat interaksi Kaela dengan Jaemin membuatnya segera menghampiri kedua sahabat itu. Di dalam novel Friendzone Jeno tidak berteman dekat dengan Jaemin, ia hanya diperkenalkan Kaela bahwa dirinya memiliki sahabat kecil lainnya.
“Kaela, lo ingat Jaemin?” tanya Jeno dengan salah satu tangannya di masukkan ke dalam saku celana sekolahnya.
Rhea menahan untuk tidak memutar kedua bola matanya. Ia pun menganggukkan kepalanya dengan cepat, “ingat dong. Sahabat kecilku yang lucu, dan kiyowo ini. Na Jaemin, Nanaku sayang. “ Jawab Rhea sembari memberikan senyuman manisnya kepada Jaemin, Jaemin menganggukkan kepalanya sembari mengusap puncak rambut gadis mungil itu.
“Kok bisa? Sama gue lupa berikut dengan kenangannya. Kalau sama dia? Lo ingat sedetail mungkin, gitu?”
“Yoi.”
Rhea sudah melingkarkan tangannya kepada Jaemin, lalu tersenyum manis. “Kita se kelas, kan? Yuk barengan masuk kelas,” ajak Rhea dengan senang.
“Let’s go! Duluan ya, Jen. Bye.” Balas Jaemin dengan lucunya.
Jeno mengepalkan tangannya yang diperban itu, darah kembali muncul dibalik perban itu. Menatap kepergian sahabatnya bersama sahabat lainnya.
**
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
alterna.nas
Sebenernya, Jeno udah suka sama Kaela, tapi dia nolak kenyataan itu dan berusaha berpaling ke Karina, karena Kaela yang sebelumnya lembek dan terlalu berperikesahabatan terhadap dia, maka Jeno anggap Kaela tetep sebagai sahabat.
Ketika Kaela berubah, Jeno paniklah. Ini balasan yang paling aku suka.
Yok, Rhea! Bikin Kaela bisa nikmatin kebahagiaannya sendiri tanpa si Jeno.
Btw, aku tahu siapa Jeno, Karina, dan Na Jaemin. Apakah akan ada geng 00L lainnya?
2023-05-06
0
fransisca brahara
ktnya NGK suka tpi kok cmbru
2023-05-02
2