Selesai makan malam, Ara dan Yoga kembali ke kamarnya. Ara membuka jilbabnya di depan meja rias, ia meraih handuk dan membalikkan badannya hendak menuju kamar mandi, namun ia tidak sengaja menabrak Yoga yang hendak ke kamar mandi juga.
" Maaf Mas, Mas duluan saja!" Ucap Ara.
Yoga menatap Ara yang tidak memakai hijab. Baginya wajah Ara cantik luar biasa. Tiba tiba ada gelenyar aneh dalam hatinya.
" Tidak Yoga... Kau tidak boleh mengaguminya." Batin Yoga segera masuk ke kamar mandi.
Ara duduk di tepi ranjang menunggu Yoga. Setelah Yoga selesai, Ara segera masuk ke dalam. Ara mengganti pakaiannya dengan piyama tidur lengan dan celana pendek membuat kulit putih Ara terekspos. Ia mendekati Yoga di atas ranjang yang sedang duduk bersandar sambil memainkan ponselnya. Yoga hanya meliriknya saja, sebenarnya dia mengagumi kecantikan Ara.
" Mas sebelum tidur apa ada yang Mas perlukan?" Tanya Ara membuat Yoga salah paham.
" Apa kamu berpikir aku mau menyentuhmu?"
" Tidak... Dan tidak akan pernah aku lakukan. Kau tidur saja! Kalau kau tidak nyaman tidur denganku kau bisa tidur di sofa." Ucap Yoga dingin.
Sakit... Ucapan Yoga telah menyayat hati Ara.
" Nyaman atau tidak aku tetap harus tidur di sini, di samping suamiku karena itu merupakan ibadah untukku." Sahut Ara berbaring miring membelakangi Yoga.
Yoga menatap punggungnya sekilas lalu ia kembali fokus pada ponselnya. Ara mencoba memejamkan matanya, baru saja terlelap suara tangisan Rere membangunkannya.
Ara segera turun dari ranjang, ia mendekati box bayi lalu menggendong Rere.
" Sayangnya Mama kamu lapar ya." Ucap Ara mencium pipi Rere.
" Mama buatkan susu dulu ya, kamu sama papa bentar." Ara memberikan Rere kepada Yoga. Yoga memangku Rere sambil menciumi pipinya.
Ara membuat susu formula menggunakan dot, setelah selesai ia kembali menggendong Ara lalu memberikan susunya pada Rere. Ia menimang Rere sambil melantunkan sholawat. Lama lama Rere kembali tertidur.
" Tidurlah dengan nyenyak sayang, Mama ada di sini bersamamu." Ucap Ara meletakkan Rere di bahunya supaya Rere bersendawa. Ia mencium pipi Rere dengan lembut. Lalu menidurkannya kembali ke box bayi.
Yoga yang melihat semua itu tersenyum simpul tanpa ia sadari. Ara naik ke atas ranjang, ia kembali memejamkan matanya.
Jam dua belas malam, Yoga meletakkan ponselnya. Ia berbaring menatap langit langit kamar. Ia mulai memejamkan matanya menuju alam mimpi.
Pagi hari Yoga mengerjapkan matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah cantik istrinya. Ia tidak sadar jika ia tidur sambil memeluk Ara semalaman. Yoga merapikan anak rambut Ara membuat tidur Ara terganggu.
" Mas, Mas sudah bangun. Kenapa tidak membangunkan aku, astaga... Aku belum shalat subuh lagi." Ara langsung turun dari ranjang menuju kamar mandi mengambil air wudhu. Ia segera menggelar sajadah nya menghadap kiblat
" Mas maukah Mas sholat berjamaah denganku?" Tanya Ara menatap Yoga.
" Kau sholat duluan saja, aku setelahmu." Sahut Yoga berlalu menuju kamar mandi.
Ara menghela nafasnya pelan, ia sholat subuh sendirian. Selesai sholat Ara menyiapkan pakaian ganti Yoga. Ia yakin Yoga tidak akan mengambil cuti pernikahan ataupun bulan madu. Ia mengganti bajunya dengan gamis panjang lalu memakai jilbab instantnya.
" Mas aku sudah menyiapkan bajumu, aku turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan. Nanti kalau Rere bangun Mas panggil aku aja." Ucap Rere menatap Yoga yang baru keluar dari kamar mandi.
" Hmm." Gumam Yoga.
" Oh ya aku harus membuatkan Mas minuman apa? Kopi, teh, atau susu?" Tanya Ara.
" Minta mama untuk mengirim kopi ke sini." Ucap Yoga.
" Baiklah akan aku buatkan." Sahut Ara.
" Bukan kamu tapi mama." Ucap Yoga dingin.
" Sekarang ada aku istrimu, walaupun Mas tidak menginginkan aku setidaknya Mas tidak membiarkan aku menanggung dosa karena tidak mengurus suami dengan baik. Jangan halangi aku menuju syurgaNya Mas!" Ucap Ara keluar dari kamarnya.
Ara menuruni anak tangga sambil terus menggerutu.
" Ya Tuhan maafkan hambamu ini! Bukan niat hamba untuk melawan ataupun menentang suami hamba, hamba hanya ingin menjalankan kewajiban hamba sebagai istrinya." Gumam Ara.
Sampai di bawah Ara berpapasan dengan Putri yang baru saja keluar dari kamarnya.
" Pagi pengantin baru, jam segini udah bangun aja." Canda Putri.
" Iya lah, aku harus menyiapkan sarapan untuk suamiku kan? Aku tidak mau suamiku pergi bekerja dengan perut kosong." Sahut Ara.
Mereka berdua menuju dapur, di sana sudah ada nyonya Hana yang sedang mencuci beras di dalam wadah.
" Pagi Ma." Sapa keduanya.
" Pagi sayang." Sahut nyonya Hana.
Ara membuatkan kopi untuk Yoga sesuai takarannya. Mau bertanya pada ibu mertuanya ia sedikit malu, takut ibu mertuanya berpikir jika komunikasi antara Ara dan Yoga buruk.
Ara membawa secangkir kopi ke kamarnya.
" Mas ini kopinya." Ara meletakkan kopi di meja. Ia mendekati Yoga yang sedang memakai dasi.
" Biar aku yang pasangin Mas." Ara mengambil dasi di tangan Yoga.
" Aku bisa sendiri." Yoga merebut dasinya kembali.
" Mas aku..
" Pergi!" Ucap Yoga penuh penekanan.
" Mas..
" Aku bilang pergi ya pergi! Apa kau tuli hah?" Ucap Yoga dengan nada tinggi.
" Berhentilah menggangguku! Aku bisa melakukan apapun sendirian tanpa bantuanmu. Aku tidak mau bergantung padamu karena kau tidak akan berada di sampingmu selamanya."
Deg...
Jantung Ara berdetak sangat kencang.
" Apa maksud ucapanmu Mas?" Selidik Ara.
" Setelah Rere besar nanti aku akan menceraikanmu."
Jeduarrr...
Bagai di sambar petir di siang boling. Tubuh Ara kaku tidak bisa di gerakkan. Lidahnya terasa kelu hanya sekedar untuk berkata kata.
" Aku tidak nyaman berada di dekat wanita lain selain mendiang istriku. Semalam berada di dekatmu saja membuatku risih apalagi sampai bertahun tahun. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya aku jika aku berada di dekatmu selamanya." Ucap Yoga menohok hati Ara.
Tak terasa air mata menetes di pipinya, namun Ara segera mengusapnya. Ia menatap Yoga begitupun sebaliknya.
" Bagaimana bisa Mas berpikir seperti itu? Kita baru saja menikah beberapa jam yang lalu Mas. Tapi sekarang kau membicarakan perpisahan. Terbuat dari apa hatimu itu Mas? Jika Mas merencanakan perpisahan, seharusnya Mas tidak menikahiku. Biarkan aku hidup bahagia bersama yang lain. Harusnya Mas mengijinkan aku untuk mengadopsi Rere saja kalau begitu." Ucap Ara mengeluarkan kekecewaannya.
" Tapi tidak masalah, itu sudah keputusan Mas. Aku akan menerimanya dengan ikhlas. Aku akan meninggalkan Rere setelah Rere berumur satu tahun. Umur segitu sudah bisa bermain dan berinteraksi dengan orang lain. Jadi dia tidak akan mencariku. Dengan begitu aku bisa menepati janjiku pada ayahku untuk melanjutkan studyku." Ucap Ara segera berlalu dari sana.
Ara menyandarkan punggungnya pada tembok. Dadanya terasa sesak, ingin sekali ia berteriak mengeluarkan sakit di hatinya.
" Sabar Ara! Kau pasti bisa meluluhkan hatinya." Monolog Ara menyemangati dirinya.
TBC...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 71 Episodes
Comments
Heryta Herman
jangan memaksakan dirimu ara.. siapapun wanita itu,tdk akan bisa menghadapi tajam nya lidah yoga yg mengucapkan kata kesat menyakitkan hati...
2024-11-11
0
Tavia Dewi
aku tak sesabar itu
2023-11-29
1
Alanna Th
stuju, saat yoga sdh bucin, tinggalin utk mmberi pljrn pd lk" tak tau diuntung itu 😱💔😠😜😫😰
2023-06-22
1