awal jalan pembisnis

...____________♧ CHAPTER 6 ♧____________...

"uwaaaah..... ramaii sekali aku baru pertama kali melihat pasar yang ada di dalam novel kerajaan-kerajaan... Kek begini, iiih... seruuu bangeeet woy..."teriak Arasya membuat lili terkekeh, melihat nonanya sesenang begini dia pun ikut senang.

"nonaa jaga sikap nona"pinta Lili mengingati Arasya

"apaa yang jaga sikap? aku tuh sedang cosplay sama kek kamu.. tahu?, bebas..."seru Arsya pun pergi meninggalkan Lili yang heran dengan ucapan nonanya.

"cosplay? eh nonaa tunggu.."Lili berlari mengejar nonanya dengan memegang gaun-gaun Arasya yang berat.

Arasya berhenti ditoko roti jalanan, disitu banyak sekali macam-macam roti dan beda-beda bentuk, tetapi arasya mengerutkan keningnya saat dia merasa roti itu tidak memiliki isian samasekali, tawar seperti roti biasanya, memang ada rasa tetapi itupun cuman dihamburkan gula diatasnya.

"heeii bayaar... Jangan asal makan saja"sentak penjual roti itu seorang Ibu-ibu

"oh iya berapa?"tanya arasya

"2 koin tembaga"jawabnya

"Lili?"panggil arasya

"oh iya nona, ini bu.. Uangnya"ucap Lili sambil memberikan 2 koin tembaga.

mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya. Sambil mengobrol

"hmmm... roti ini padahal enak kalau punya isian.. Contohnya seperti cokelat kek, atau kejuu hmm"ngeluh arasya yang kini sedang makan roti begitu saja.

"apa maksud nona cokelat keju?"tanya lili merasa heran

"apa di sini belum ada cokelat atau keju?"tanya Arasya antusias

"belum ada nona"jawab Lili

"waaaaahhhhhh.... Apa benar begitu.. Ini adalah salah satu jalan bisnisku.. apa mereka belum tahu kalau biji cokelat bisa menghasilkan cokelat yang nikmat dan susu bisa menghasilkan keju!?"ucap arasya yang melihat lili masih menatapnya keheranan.

"ck jangan menatapku seperti itu... Oh ya kamu punya kertas dan pena?"

"pena?"heran Lili

"aah yang untuk menulis dikertas itu..."

"oh tidak ada, mungkin di toko gaun yang kita mau hampiri punya"seru Lili dengan penuh kesabaran

"yasudah ayo kita ke sana saja"ajak Arasya langsung berjalan

'memang dari tadi tujuan awal kita mau kesanaaa'batin Lili menahan emosinya karena tanganya sudah sakit menanggung beban gaun nonanya

"eh tapi Lili... mengapa kamu manggil aku nona? Kan aku sudah bilang panggil saja Arasya"ketusnya tidak terima

"bukan begitu... Ini di luar nona, orang semua dinilai dari tingkatannya jadi aku tidak mau nona dipandang orang sebagai pelayan hanya karena panggilan dariku"jelas lili senduh.

"ck! susah juga memberikan pemahaman untuk orang pribumi kek kamu. Baiklah terserah kamu asal kamu senang"ketus Arasya.

"makasih nona"

"tetapi nanti sampai di rumah panggil aku dengan nama saja! atau nanti kalau aku sudah jadi orang kaya, aku akan menaiki derajatmu"serunya langsung melanjutkan perjalanannya.

Lili tidak kuasa menahan air matanya melihat perubahan nonanya yang sangat meningkat drastis, dia bahagia bisa melayani nona Arasya.

Mereka pun keluar dari pasar dan berjalan kekota, karena kota dan pasar cukuplah dekat, Jadi kalau berjalan saja itu sudah bisa sampai dengan cepat.

Sesampai mereka ditoko gaun tak sengaja arasya melihat sebuah toko jahit tetapi sangat kumuh dan tua.

"toko apa yang diseberang itu"unjuk arasya ke arah toko itu.

"itu toko jahit nona.. cuman tokoh itu kalah saing sama toko gaun di depan kita ini... karena toko gaun ini punya seorang bangsawan dari keluarga baron mereka tidak punya kuasa untuk melawan mereka"ujar Lili

Ada senyum miring yang dikeluarkan oleh Arasya memandangi toko jahit tersebut 'cabang baru... aku akan merancang gaun tercantik ala-ala modern nantinya. setelah kujual gaun busuk ini akan aku investasikan semuanya ke toko itu, jangan mengecewakan diriku ya...'batinya

"ayok masuk.."ajak Arasya

setelah mereka masuk mereka disambut oleh penjaga toko gaun seorang wanita.

"iyaa cari apa?"tanya wanita itu memandangi mereka dengan sedikit malas

"ah aku mau menjual gaunku di sini, apa bisa?"tanya arasya

"ck sejak kapan gaun pelayan memiliki nilai di toko gaun kami yang terbesar dikota ini"ucapnya sombong.

"jaga ucapan_"belum Lili mengeluarkan kata makinya, Arasya sudah memberhetikanya terlebih dahulu.

"dilihat dahulu..."ucap Arasya menyuruh Lili untuk memperlihatkan gaunnya kepada wanita itu.

Wanita itu membelalak matanya saat melihat gaun termahal dengan banyak permata di atasnya, "ck tunggu sebentar akan aku hitung dahulu berapa harga yang harus kukasih"lirihnya mengambil gaun-gaun tersebut.

"gaun-gaun ini kukasih harga 200 koin emas bagaimana?"tanya sipenjaga toko gaun itu

"oke"jawab Arasya singkat

"tetapi nonaa harga 1 gaun kamu punya saja setara dengan 50 koin emas, dan disitu ada sekitar lebih dari 10gaun yang kamu miliki... Ini namanya penjualan yang tidak adil"bisik Lili kepada Arasya.

Jangan ditanya mengapa arasya memiliki gaun-gaun mahal seperti itu dengan uang yang dikasih Duke Baratha saja cuman 5 koin emas sebulan. itu semua karena ibu keduanya... dia memberikan gaun glamor nan norak itu kepada arasya dengan pura-pura baik tetapi tujuan utamanya hanya untuk mempermalukan dia.

"itu sudah cukup"jawab Arasya dengan wajah datarnya, toh gaun itu pemberian dari si pelakor memang dari awal gaun itu tidak ada nilainya dimata Arasya, bahkan gara-gara gaun begitu harga diri arasya jatuh.

Mereka pun keluar dari tokoh gaun itu, dari belakang mereka sipenjaga tokoh sudah senyum-senyum meremehkan mereka berdua. 'belum tahu saja gue akan buat toko yang kalian jatuhkan bangkit dan untuk kecurangan kalian akan dapat karmanya'batin arasya juga ikut senyum-senyum meremehkan.

"ayok antar aku ke toko jahit diseberang sana"ucap Arasya menarik tangan Lili

"eeh? Untuk apa kita ke sana nona?"tanya Lili penasaran

"kan aku mau pinjam kertas sama alat untuk menulis"lirihnya memutarkan mata dengan malas

"oh iya tetapi mengapa tidak pinjam saja di toko gaun itu"tanya Lili

"aku tidak suka sama orangnya"

"pff... Baiklah nona"

Mereka berdua memasuki toko jahit itu, di dalam toko itu cukup terawat berbeda dengan luarnya

"eh ia? kalian mau cari apa?"tanya seorang ibu-ibu dengan senyum ramahnya. Umur bu-ibu terlihat sekita 40an, dan dia juga memiliki seorang suami yang seumuran denganya

"permisi bibi, perkenalkan saya adalah anak seorang Duke Baratha Maharendra. Nama saya adalah Arasya Maharenda. Saya ke sini mau melakukan kerja sama dengan kalian"ucapnya too the poin tanpa embel-embel

kedua paru baya itu terkejut dan menghampiri diriku, "kamu Arasya Maharendra yang dirumorkan adalah gadis gila itu?"tanya bibi itu

"pfft..."Lili yang mendengarnya sedikit terkekeh.

Arasya memandangi Lili dengan tatapan tajamnya membuat Lili memudarkan senyumanya

"apa bibi melihat diriku seperti itu?"tanya Arasya rendah hati.

"tidak... Kamu berbeda dengan apa yang dirumorkan, ternyata rumor hanya tetaplah rumor"ucap bibi itu.

Arasya yang mendengar itupun tersenyum "siapa nama bibi?"tanya Arasya

"namaku Arum dan ini suamiku bernama Bimo"ujar Bi Arum

"nak ara.. Apa maksudmu dengan bekerja sama"tanya Paman Bimo.

"oh iya... Tujuan saya datang ke sini mau bekerja sama dengan Bibi Arum dan Paman Bimo, apa boleh aku memanggil kalian seperti itu?"tanya Arasya takut mereka tidak enak jika dipanggil olehnya seperti itu.

"tidak apa-apa kami senang dipanggil seperti itu"ujar Bi Arum sambil tersenyum

"makasih bibi, oke karena aku memiliki uang 50 koin emas apa cukup untuk membeli perlengakapan bahan untuk membuat gaun yang nanti aku gambarkan?"tanya Arasya

"itu sudal lebih dari cukup nak ara... modal sebanyak itu nak Arasya yakin ingin bekerja sama dengan toko yang hampir jatuh ini"ucap senduh Paman Bimo

"akuu yakin sekali... Dan liat gaun kalian jahit di sana lebih kelihatan wajar daripada gaun di sebelah... semuanya seperti gunung dan rerumputan banyak tanduk dan hiasanya...!"seru Arasya yang membuat dua paru baya ini tertawa dibuatnya.

"baiklah... nakku kamu ingin gaun seperti apa,?"tanya Bi Arum

"tolong bisa pinjamkan aku kertas dan alat untuk menulis dikertas"

mereka pun mengikuti arahan Arasya dengan senang hati, Arasya juga mengambar sebuah gaun dengan telaten, dia memberikan sedikit nuansa modern didalm gaun itu, di dalam gambar gaun itu bentuknya sedikit mengebang tetapi bentuk tubuh masih kelihatan, sederhana tetapi kelihatan elegan dan mewah, dengan perbanduan warna merah muda tetapi masih ada warna goldnya dan lengannya di ganti dengan rantai perhiasan panjang yang mengegelilinga bahu kiri dan kanan.

"ini bi... salah satu contoh gaunku, sebenarya ada banyak bentuk gaun yang akan aku kasih ke bibi, tetapi dengan begini aku mau bibi percaya kepadaku dahulu"ucapnya dengan memberikan sketsa gaun yang sangat rapi dan teliti itu.

"nak... gaun ini terlihat luar biasa..."ucap Bibi Arum dengan mata yang berbinar-binar melihat gaun itu.

"baiklah kalau begitu... Lili berikan uangnya kepada mereka, aku harus kembali bi... nanti akan aku ambilkan gaunya dan akan aku beri beberapa sketsa gaun yang lainya juga"ucap Arasya sudah berdiri dari kursi yang dia duduki tadi dan Lili juga memberikan koin emas kepada Bibi Arum dan Bibi pun menerimanya dengan senang hati

"terima kasih nak ara... Kami akan melakukanya dengan baik"ucap Paman Bimo.

"terima kasih kembali.."jawabnya membalas tersenyum.

"oh iya paman bibi apa kalian tahu pohon cokelat?"tanya Arasya yang baru ingat. Soalnya di otaknya begitu sibuk memikirkan banyak hal.

"pohon cokelat?"tanya balik mereka berdua sambil memandangi satu sama lain

"ah apa boleh saya pinjam kertasnya lagi"dia pun kembali duduk dan diikuti paman dan bibi lagi, lili yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja

Arasya menulis bentuk pohon, buah danbinjinya. Dan tidak lupa mewarnai.

"ini bentuk pohon itu... warna didilamnya putih dan rasanya asam"ujar arasya sambil memberikan gambar buah itu.

"ooh paman tahu... Pohon ini cukup banyak dihutan, paman sering melihatnya saat sedang mau pergi kekebun paman"ujar paman antusias

"benar kah...?"

"iya nak ara... pohon itu banyak buahnya tetapi tidak ada yang mau memakanya karena pertama rasanya asam, kedua buah itu tidak segar kalau dimakan. Orang sini lebih suka memakan buah yang rasanya segar"ujar paman bimo.

'aku harus membudidayakan pohon itu... palagi katanya banyak hehehe aku akan kayaaaa...'batin Arasya berteriak kesenengan.

"apa bisa paman mengatar saya kehutan itu?"pinta Arasya

"tentu nak ara.. tetapi kapan mau ke sana?"tanya paman bimo

"ah nanti saya akan kembali lagi... Dan akan menemani paman berkebun yah.. Waktuku sudah tidak banyak lagi aku permisi.."ucap arasya berdiri dari tempat duduknya dan langsung menarik tangan lili untuk bergegas pergi.

"dia sangat berbeda ya sayang andaikan kita memiliki anak seperti dia, aku akan sangat bahagia"gumam Bibi Arum kepada Paman Bimo

Paman Bimo yang mendengar itu hanya tersenyum dan memeluk Bibi Arum, dan mereka berdua menatap ku dan Lili pergi

***

kini waktu sudah menunjukkan sudah malam sekitar pukul 09.00 lah...

"Lili apa di sini ada kedai makanan aku sangat lapaarr... Kebetulan kita memiliki banyak uang ayo kita berpesta"ucap arasya itu mendapat satu jentikaan jari Lili di jidat Arasya

"aduuh sakit Lili!"sentak Arasya sambil mengusap jidatnya itu.

"habis nona baru ingat makan... ayok aku antarkan nona"lirinya melihat nonanya ini pasti akan lupa makan kalau sudah sangat sibuk

"hehehehe"Arasya hanya cengengesan mengikuti lili.

BABAY... SEE U LETER

Terpopuler

Comments

Dede Mila

Dede Mila

kocak dah....

2023-09-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!