Kami kembali ke rumah Kiyai Muron yang saat itu tertutup rapat kini sudah terbuka sangat lebar dan Pak Kiyai Muron berdiri di depan rumah menatap Kami.
"Assalamualaikum Pak Kiyai."Salam papa pada Pak Kiyai yang tersenyum menatap kami, Tapi tidak dengan kakak Adi yang tampak ketakutan.
"Wallaikum Salam."Balas Pak Kiyai.
Ayah ku pun mulai memperkenalkan diri nya dan menjelaskan tujuan mereka datang kesini.
"Saya sudah tahu tentang kedatangan kalian, pak Suhendra sudah memberitahu saya, mari masuk."Pak Kiyai Pun mempersilakan kami masuk.
Sebentar kami duduk mengobrol tentang kondisi Bang Adi yang sangat lah mendadak. Bang Adi terus memberontak, lalu Pak Kiyai menatap nya dengan tajam, Bang Adi lansung ketakutan dan menggelengkan kepala nya.
"Kamu siapa?." Tanya Pak Kiyai. Namun sosok yang merasuki Bang Adi hanya menggelengkan kepala nya ketakutan.
"Jawab!." Kata pak Kiyai lagi.
"Kula dipun dhawuhi Tuanku (Saya di suruh tuanku."jawab nya dengan suara yang pelan. lalu ia tertawa.
"dheweke wis dadi duwekku, sampeyan ora usah Ganggu Urusan ku. (Dia sudah menjadi milikku, kamu jangan menggangguku)."Ucap bang Adi. kami semua yang mendengar Pun terkejut.
"Dia bukan milik mu, Keluar sendiri atau saya keluarkan?." tanya Pak Kiyai lagi, Bang Adi terus mengelengkan kepala nya tidak mau.
Pak Kiyai lalu mengarahkan Papa ke sebuah ruangan dimana Pak Kiyai akan ruqyah Bang Adi, Kami yang saat itu hanya di suruh membantu dengan doa, proses yang aku rasa sangat lah menyakitkan bagi bang Adi, Dia terus menangis dan merintih kesakitan, membuat aku juga ikut menangis melihat nya.
Hampir 2 jam Kami berada disana. Dan akhir nya sosok itu pun keluar dari tubuh Bang Adi.
Menurut penjelasan Pak Kiyai, Kalau ada orang yang menanam sesuatu di Halaman rumah kakek, Dan kami di suruh untuk menemukan gundukan itu, karena Yang di incar adalah ayah ku, namun karena bang Adi sudah melakukan sesuatu yang membuat mereka menarget kan bang Adi. Bang Adi Kencing di tempat dimana gundukan itu tertanam, untuk menemukan nya dengan cepat, Hanya perlu Info dari bang adi, dimana Ia buang Air kecil di halaman rumah. dan segera Membakar ny di luar halaman rumah setelah menemukan nya.
Karena saat Itu bang Adi Lemas dan kelelahan, Kamu pun memutuskan pulang setelah itu. di perjalanan Aku mengandeng tangan bang Adi.
"Di, dimana kamu kencing sembarangan?." tanya Papa pada Bang Adi.
"Bawah Pohon besar Pa."Balas Bang Adi.
kami semua mengelengkan kepala nya, bagaimana Bang Adi bisa berpikir untuk buang air kecil disana, sementara Itu adalah Pohon beringin yang sudah pasti banyak penunggu nya.
Setelah sampai di rumah dan hari sudah gelap, Ayah ku dan Pak Mamat segera mencari gundukan itu dan benar saja ayah menemukan kain putih berisikan tanah kuburan dan beberapa sejenis barang yang tidak tahu apa isi nya.
"Biar saya saja yang bakar pak?." Ucap Pak Mamat.
"Tidak usah, biar saya saja."Balas Papa.
"Udah lah Pa biar Pak Mamat saja yang bakar."Ucap Mama ku yang khawatir terjadi sesuatu pada Papa karena membakar barang itu.
Namun Papa masih kekeh untuk bakar sendiri. setelah membakar benda itu, malam itu benar benar tenang tidak ada Apa pun lagi yang terdengar, itu juga harapan kami, tapi Bang Adi masih diikat oleh Ayah untuk berjaga jaga jika Bang Adi kembali di ganggu dan bisa menyakiti diri sendiri dan orang lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 37 Episodes
Comments