Takdir Kedua

Takdir Kedua

01

Kini di sebuah rumah megah berlantai dua ada seorang wanita dewasa berusia 33 tahun sedang berada di balkon kamar mendiang suami nya sedang menatap bunga di taman mertua nya.

Nayyara Apriliani Al Ayaan, wanita itu. Wanita dengan tiga orang anak yang menggemaskan. Wanita yang di usia nya semuda itu sudah menyandang status janda mati di tinggal sang suami yang sangat dia cintai.

Sudah seminggu berlalu, kematian suami nya itu sudah seminggu. Tapi relung hati nya masih saja kosong dan bersedih. Apalagi jika harus melihat dan mengingat kenangan mereka di kamar ini. Kamar suami nya. Air mata Nayya pasti jatuh menetes tanpa bisa di tahan sama sekali. Dia mencintai suami nya itu sedalam itu. Suami nya adalah milik nya. Tapi Allah tidak memberi nya banyak waktu untuk bersama suami nya itu. Allah lebih menyayangi suami nya hingga dengan cepat membawa suami nya ke pangkuan nya.

Tok … tok … tok …

Terdengar ada yang mengetuk pintu kamar itu, Nayya tidak menyahut sama sekali. Hingga masuk lah siapa yang mengetuk pintu itu ke kamar karena memang Nayya tidak mengunci pintu kamar itu.

Adiba, yah itu adalah kakak ipar nya yang datang dengan membawa makanan di tangan nya karena dia memang tidak turun untuk sarapan dan hanya mengurung diri di kamar saja. Dia bahkan tidak sempat mengurusi ketiga buah hati nya itu. Tapi untuk saja mereka mandiri dan mengerti bahwa bunda mereka sedang sedih.

“Dek, ayo makan. Lihat lah tubuhmu sudah bertambah kurus. Risam pasti tidak ingin melihat istri nya sedih dan jatuh terpuruk seperti ini. Dia menyayangimu dek. Jangan terlalu larut dalam kesedihanmu. Kasihan anak-anakmu. Mereka rindu pada bunda mereka.” ucap Adiba lembut. Dia seolah memberi kekuatan kepada Nayya tapi sebenar nya dia juga memberikan kekuatan untuk diri nya sendiri. Hati siapa yang tidak akan sedih dan merasa kehilangan saat saudara nya meninggal. Risam adalah satu-satu nya saudara yang dia miliki. Satu-satu nya adik nya. Tapi kini adik nya itu sudah pergi berpulang. Dia hanya mencoba ikhlas menerima semua nya atau mungkin dia hanya mencoba berdamai dengan keadaan saja agar tidak terlalu terlihat bersedih.

Nayya yang mendengar ketiga anak nya di sebut dia pun mendongak dan menatap kakak ipar nya itu dengan air mata yang menetes di pipi nya. Adiba langsung menghapus nya dan menggeleng meminta adik ipar nya itu untuk tidak menangis. Dia mengerti apa yang sedang di rasakan oleh adik ipar nya itu. Seperti dia yang kehilangan adik dan saudara maka Nayya kehilangan suami dan ayah dari anak-anak nya. Mungkin saja rasa sedih, sakit dan kehilangan Nayya lebih dari yang dia rasakan. Nayya dan Risam memang saling mencintai tapi maut memisahkan kedua nya.

“Jangan menangis dek. Ikhlaskan Risam. Dia mencintaimu dan sangat menyayangimu. Jangan begini.” Ucap Adiba menenangkan adik ipar nya itu sekali lagi. Walaupun sebenar nya air mata nya itu hendak jatuh tapi dia tahan agar adik ipar nya itu tidak semakin sedih juga.

“Kak … kenapa ini terjadi padaku? Aku--” ucap Nayya terbata tidak sanggung melanjutkan perkataan nya. Dia terlampau sedih.

Adiba menangkup wajah adik ipar nya itu yang terlihat tidak terurus. Kusam dan ada kantung mata hitam menandakan bahwa dia kurang tidur dan hanya bersedih saja.

“Ayo makan dulu dek! Kamu harus sehat. Tidak boleh begini lagi. Ingat ada anak-anak yang menunggu bunda mereka. Mereka rindu padamu dek. Mereka juga sedih melihatmu begini. Kau harus kuat demi mereka. Mereka butuh dirimu sebagai bunda dan ayah mereka. Jadi kau harus kuat untuk bangkit dan lawan lah rasa sedihmu itu.” ucap Adiba menguatkan lalu dia mulai menyuapi adik ipar nya itu dengan lembut.

Adiba adalah orang yang memilih Nayya jadi adik ipar nya. Nayya adalah menantu dan adik ipar kesayangan orang tua nya dan diri nya. Untuk itu lah menjaga Nayya adalah tanggung jawab mereka. Mengantar Nayya untuk kebahagiaan nya adalah tanggung jawab mereka.

Nayya bukan sekedar adik ipar untuk nya tapi sudah dia anggap sebagai adik juga. Saudari. Dia sudah kehilangan saudara maka dia tidak ingin kehilangan saudari lagi. Nayya harus bangkit dari kesedihan nya itu. Bukan meminta Nayya untuk melupakan adik nya. Tapi hanya agar Nayya tidak bersedih selama nya yang akan membuat nya mati perlahan.

“Kak … apa anak-anak sudah makan?” tanya Nayya saat dia di suapi makan oleh Adiba itu. Nayya berusaha untuk menelan makanan itu yang sebenar nya terasa sangat pahit di lidah nya. Tapi dia harus makan demi anak-anak nya.

Adiba mengangguk lalu kembali menyuapi Nayya, “Mereka sudah makan dek. Tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Karena sebenar nya kau yang perlu di perhatikan. Mereka sudah pergi ke sekolah di jemput oleh papamu.” Ucap Adiba menjelaskan.

“Maaf kak!” ucap Nayya.

“Untuk apa?” tanya Adiba.

“Untuk semua nya. Aku tidak bisa menjaga adikmu dengan baik. Lalu kini merepotkan kalian dengan mengurusi aku dan ketiga anakku.” Ucap Nayya.

“Jangan mengatakan hal seperti itu dek. Kau bukan beban untuk kami. Kau tetap saja adik ipar dan menantu keluarga ini apapun yang akan terjadi di masa depan nanti. Ingat kau memiliki kakak. Jangan memendam sendiri perasaanmu itu. Kau harus ceritakan dan bagi masalahmu dengan orang lain. Memang kami tidak bisa membantumu untuk menyelesaikan masalah itu tapi setidak nya dengan menemanimu bercerita hal itu bisa melegakan.” Ucap Adiba.

“Terima kasih kak. Sudah cukup kak. Aku sudah kenyang.” Tolak Nayya saat Adiba ingin menyuapi nya lagi.

Adiba menggeleng tidak menerima penolakan dari Nayya itu dan tetap memaksa Nayya untuk membuka mulut nya yang pada akhirnya Nayya pun membuka mulut nya itu, “Kau harus menghabiskan makanan ini dek. Sudah cukup kau hanya makan satu sampai tiga sendok dalam seminggu ini. Kau harus sehat. Jangan meracuni lambungmu. Kau lebih mengerti itu bukan. Kau adalah seorang perawat.” Ucap Adiba.

Nayya yang mendengar ucapan Adiba itu pun tertawa menyedihkan, “Perawat? Profesi apa itu kak? Aku sudah mempelajari semua nya dengan tekun tapi apa pada akhirnya aku tidak bisa menolong orang yang ku cintai. Aku kehilangan orang yang ku cintai dan ku sayangi dalam hidup ini. Jadi untuk apa profesi ini.” ucap Nayya.

“Jangan berkata begitu dek. Jangan menyalahkan dirimu. Ini semua sudah takdir. Risam sudah tenang di sana. Dia pasti tidak ingin melihat mu bersedih begini. Ayo sekarang kau harus habiskan makananmu itu.” ucap Adiba kembali menyuapi adik ipar nya itu sampai makanan yang dia bawa itu habis.

Terpopuler

Comments

aminah nizam

aminah nizam

sedih...tapi itulah takdir jika Allah sudah berhendak kita tidak bisa berbuat apa apa

2023-05-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!