Bab. 11
Sedari mengikuti serangkaian pesta pernikahan, Yuan tampak tidak bersemangat. Gadis itu tampak menahan kesal dan senyumannya pun dipaksakan.
Tidak ingin menimbulkan pertanyaan yang janggal, akhirnya Rio mengajak Yuan untuk segera beristirahat di kamar hotel yang sudah dipesankan oleh orang tua Rio. Daripada nanti aku ekspresi Yuan di pertanyakan oleh rekan kerjanya.
"Saya mau pulang," ucap Yuan ketika mereka berjalan melewati lorong hotel dan akan menuju ke kamar mereka yang ada di depan sana.
Rio menoleh. Menghembuskan napasnya pelan.
"Jangan sekarang. Besok, saya antar pulang ke rumah orang tua kamu," sahut Rio.
Terdengar decakan dari Yuan. Gadis itu menghentikan langkah kaki, lalu menghadap ke arah Rio yang juga melakukan hal yang sama.
"Kenapa harus saya? Kenapa Bapak merusak masa depan saya? Saya salah apa memang pada Pak Rio?" cecar Yuan.
Tatapan matanya memancarkan kebencian terhadap Rio. Pria yang sudah merusak hidup dan juga semua cita-citanya di masa mendatang.
Yuan kembali terisak. Tidak peduli dengan riasan di wajah nya akan luntur atau tidak.
Dalam posisinya, Yuan berjongkok seketika. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Ingin menumpahkan semua rasa yang mendesak di dalam dada.
Sedangkan Rio sendiri juga dalam posisi yang bingung, serta rasa bersalah. Tetapi, jika ditanya apakah ia menyesal, tentu saja jawabannya tidak. Sebab Rio sendiri tidak hanya baru bertemu dengan Yuan dan memperhatikan gadis itu.
Ketika pertama kali bertemu dengan Yuan, itu merupakan hal yang tak terlupakan baginya. Bukan di sekolah, melainkan di sebuah taman kota dan pada saat itu dirinya sedang dikejar oleh seseorang.
***
Tanpa sengaja Rio melihat gadis yang tengah duduk di taman dan juga sedang sendirian. Gadis itu tampak sibuk dengan ponselnya. Lalu tanpa ijin terlebih dulu, Rio melepas jaket dan mengacak rambutnya untuk kemudian duduk di samping gadis tersebut.
Tentu, membuat gadis yang sedang menikmati waktu sorenya tersebut tersentak kaget dengan kedatangan Rio. Di tambah lagi pria itu main duduk di sampingnya.
"Apa yang anda lakukan di sini?" tanya gadis itu terjingkat kaget di saat ada seorang pria yang tiba-tiba saja duduk di sampingnya.
"Tolongin gue bentar," ucap Rio mengabaikan cara gadis itu memanggil dirinya.
Kemudian Rio mendekat, lalu merebut ponsel gadis yang tidak lain ialah Yuan. Mengarahkan ponsel ke arah mereka dan bergaya seperti mereka tengah berfoto bersama
"Bergayalah seolah kita sepasang kekasih yang sedang kencan," perintah Rio pada gadis itu. Lalu mengambil beberapa gambar.
Sementara Yuan mengerjap beberapa kali. Masih mencerna keadaan di antara mereka. Namun, pria yang ada di sampingnya ini sudah lebih dulu menarik bahunya hingga tubuh mereka saling menempel.
Ingin melayangkan protes, namun samar-samar Yuan mendengar suara orang yang sedang marah-marah di dekat mereka duduk sekarang ini.
"Sialaan! Cepet banget dia pergi!" ucap salah seorang dengan penampilan yang begitu menyeramkan. Membuat Yuan meremas tangannya yang ada di atas paha Rio.
"Jangan dilihat, jangan di denger. Fokus sama kameranya," bisik Rio memperingati gadis itu yang tampak ketakutan.
Yuan semakin memejamkan matanya, di saat mendengar tiga orang pria berpenampilan menyeramkan tersebut saling mengumpat dengan kata kasar.
"Yaang ... hadep sini dong kalo foto. Mumpung langitnya bagus loh!" ujar Rio dengan sengaja. Semakin menarik bahu Yuan untuk mengalihkan pandangan gadis itu.
Yuan menurut, karena tidak mungkin ia pergi dari sini sedangkan di sekitarnya ada seorang preman.
Sebenarnya Rio bisa menghajar mereka. Namun, jika tiga lawan satu satu, yang jelas dirinya kalah. Tidak munafik sekali. Rio akui itu.
Rio mengambil beberapa jepretan walaupun hasilnya tidak fokus ke arah mereka. Kemudian Rio menyadari gadis yang ada di sampingnya ini sangatlah ketakutan.
"Kamu kenapa, Yaang? Laper ya? Pingin jajan seblak atau cilor?" tawar Rio yang kemudian berdiri dari sana dan mengajak Yuan untuk beranjak dari sana. Beruntung, gadis itu menurut walaupun sebenarnya sedang ketakutan.
Sesekali Rio menatap ke belakang. Terlihat tiga orang preman yang mengejar dirinya tersebut mulai berbalik badan dan berjalan menjauh ke arahnya.
Sementara Rio membawa Yuan menjauh dari titik pertemuan mereka tadi. Lalu setelah di rasa aman, Rio melepas rengkuhan tangannya di bahu Yuan dan mengembalikan ponsel gadis itu.
"Thank's, udah bantu gue," ucap Rio mengacak sebentar puncak kepala Yuan lalu meninggalkan gadis itu yang tengah berdiri mematung di tempatnya.
Baru setelah beberapa menit kepergian Rio, tubuh Yuan merosot ke bawah. Lemas tak bertenaga. Ponselnya pun terjatuh ke paving yang ada di bawahnya.
"Baru juga sampai di ibu kota. Tapi udah sial banget, gue," gumam Yuan.
Rencana dirinya menikmati indahnya sore di taman kota, rupanya justru mendapatkan hal yang tak terduga sama sekali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussabar
2024-03-21
0
rinny
berarti sudah dua kali dong Yuan nolong pak rio
2024-01-30
0
Naura Kamila
Yuan penyelamat Riooo😂😂 kudu Terima kasih tu pak Rio
2023-05-30
5