Bab. 5
"Saya menolak!" tegas Yuan sambil menoleh ke arah Rio. Membuat rahang pria itu mengeras. Sepertinya tengah menahan geram pada Yuan. "Kenapa? Bapak mau marah sama saya? Ini kan bukan di sekolah, apa lagi bukan jam pelajaran saya. Saya hanya seorang warga biasa yang sedang Bapak culik. Saya bisa melaporkan anda loh, Pak!"
"Bagus!" sahut Rio tersenyum miring. Pria itu bahkan sampai mengangguk mantap. "Itu artinya kamu sudah punya KTP, kan?" tanya Rio lagi. Membuat Yuan berdecak kesal.
"Pak! Ini saya nolak anda loh, Pak! Kok malah nanya KTP segala macam." protes Yuan. Gadis itu kemudian meraih handle pintu dan berniat untuk keluar dari dari sana.
Rio tampak begitu santai dengan muka yang kembali datar.
"Saya tidak sedang memberi pilihan pada kamu. Dan saya tidak menerima sebuah penolakan. Siapa nama Bapak kamu ...." Rio tampak mengotak ngatik ponselnya lalu mengarahkan kamera yang ada di ponsel bagian belakang tepat ke arah wajah Yuan. "Yuanita Adisti? Benar bukan?" tanya Rio setelahnya. Membuat Yuan melotot kaget. Ternyata guru killer ini hafal namanya.
"Kok Bapak ta—" ucapan Yuan terhenti seketika di kala Rio menghadapkan layar ponselnya ke arah Yuan.
Rupanya usut punya usut, pria yang ada di sebelahnya itu tengah memindai wajahnya untuk mengetahui siapa dirinya dari data sekolah SMA Dahlia. Bukan hal yang sulit untuk mengetahui identitasnya kalau memang dirinya merupakan murid SMA Dahlia.
"Siapa nama Bapak kamu?" ulang Rio lagi karena tidak mendapat jawaban dari Yuan dan mengabaikan keterkejutan gadis itu.
Yuan yang kesal karena diabaikan begitu saja, dan pria itu memindai datanya dengan sikap yang sesukanya sendiri. Membuat Yuan melengos.
"Saya tidak punya bapak!" jawabnya dengan nada kurang lembut. Tidak lagi sopan seperti sebelumnya. Karena pria itu sendiri yang lebih dulu melakukannya. Pikir Yuan.
"Kamu yatim?" tanya Rio lebih jelas lagi.
Yuan langsung menoleh ke samping dengan tatapan melotot ke arah Rio.
"Bapak nyumpahin Ayah saya meninggaal?" sahut Yuan tidak percaya. Selain kejam, ternyata pria ini juga memiliki mulut yang tidak ramah sekali.
Rio sendiri bingung. Bukannya tadi gadis itu mengatakan kalau dia tidak punya bapak.
"Kan kamu sendiri yang bilang tadi." elak Rio.
"Ya saya memang mengatakan kalimat tersebut. Tetapi bukan berarti saya anak yatim, Pak! Saya tidak punya Bapak karena memang saya manggilnya Ayah!" jelas Yuan dengan nada menggebu.
Rio tampak sedikit terkejut dengan keberanian Yuan. Lalu pria itu melepas sabuk pengaman nya dan segera keluar. Meninggalkan Yuan dalam kebingungan.
"Loh, Pak! Saya kok diting—"
Belum selesai mengucapkan kalimat protes kepada guru kejam itu, Rio sudah lebih dulu membuka pintu yang ada di sebelah Yuan. Lalu mengulurkan tangan ke arah gadis itu.
"Keluar. Saya tidak mempunyai banyak waktu," ujar pria itu. Memerintah orang seenaknya sendiri.
"Saya nggak mau. Saya mau pulang. Ini hak saya!" tolak Yuan sembari keluar dari mobil Rio.
Mumpung ada kesempatan untuk lari dari pria yang menurutnya gilaa, Yuan akan menggunakannya.
Akan tetapi, belum sempat rencana itu terealisasikan, Rio sudah lebih dulu meraih tangan Yuan dan menggenggamnya dengan sangat erat.
"Jangan harap kabur dari saya." tegas Rio bisa membaca pergerakan Yuan. Karena mungkin jika dirinya yang berada di posisi Yuan saat ini, jelas akan melakukan hal yang sama.
Namun, Rio tidak bisa memilih pengganti lain. Hanya dia yang Rio tahu dan kebetulan berada di dalam radar pandangan matanya tadi. Oleh sebab itu Rio menarik Yuan yang ia tahu ialah murid di sekolah dirinya mengajar.
Jika saja kejadian dua jam yang lalu tidak terjadi, mungkin Rio tidak akan bisa memilih calonnya sendiri. Beruntung, ia masih diberi kesempatan untuk memilih. Namun sungguh siaal bagi Yuan karena berada di depan matanya sekarang ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
anfi rucs
dasar guru sableng🤣🤣🤣🤣🤣
2024-03-21
0
Fifid Dwi Ariyani
trussemangat
2024-03-21
0
E Dnisa
Yuan,,,,, i love you ❤️❤️❤️❤️❤️
2024-01-08
0