Bab. 2
Yuan tidak berhentinya tertawa mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Ia tidak habis pikir dengan teman-temannya yang ada di kelas.
Sila yang duduk di sebelahnya, tidak hentinya sedari tadi menyenggol. Mengingatkan Yuan agar menghentikan kelakuannya itu. Ia yang sangat malu.
"Ck, stop, Yuan. Malu tau diliatin anak-anak yang lain," ingat Sila dengan wajah cemberutnya.
Sedangkan Melani yang duduk di depannya, menatap bingung ke arah teman kurang akhlaknya itu.
"Kenapa lagi dengan teman lo, Sil?" tanya Melani penasaran. Karena sampai saat sekarang, Yuan masih saja tetap senyam senyum sendiri.
Sila tampak menghela napas dan melirik sinis ke arah Yuan.
"Biasa, nantangin para fans nya Pak Rio," jawab Sila.
Melani langsung paham ke mana arah pembicaraan selanjutnya. "Dia yang menang? Satu lawan sekelas?" tanya Melani lagi.
Lalu sang ketua osis di SMA Dahlia itu menggeleng kepala, setelah melihat anggukan kepala dari Sila.
"Ck! Kalau lo barbar kayak gitu terus, mana sempat dapat pacar, Yu? Kita kurang dari satu tahun loh, udah lulus. Masa lo nggak pingin pacaran dulu di masa-masa sekolah kayak gini," ingat Melani yang langsung mendapat tatapan sinis dari Yuan. Tidak cukup itu saja, tetapi juga pukulan di lengannya.
"Siapa yang buat gue sibuk terus kerjain tugas kalau osis sibuk? Hmm?" protes Yuan dengan nada sinis.
Melani pun tak kalah sinis menatap ke arah temannya yang satu itu.
"Terus lo pikir gue juga bisa bebas, setelah lo dan Richard make nunjuk gue sebagai ketua osis? Hah!" balas Melani.
Seketika itu juga Yuan meringis. Menyadari kesalahan yang ia buat bersama Richard—wakil ketua osis sekarang ini.
"Hei hei hei ... udah dong, Ayang. Jangan dibahas masalah itu lagi. Oke? Kita kan udah baikan setelah dua bulan cerai," bujuk Yuan sembari meraih tangan Melani dan mengusapnya pelan. Seolah seperti dengan kekasihnya.
Padahal, hidup selama sembilan belas tahun dan sampai di detik ini, Yuan belum pernah merasakan pacaran satu kali saja. Jangankan pacaran, menyukai seorang lawan jenisnya saja belum pernah Yuan rasakan. Kecuali pada FL di Manhwa san juga tokoh di novel romantis yang Yuan baca selama ini.
Melani menatapnya jengah. "Lagian kenapa suka banget bikin gara-gara sama anak lain, sih! Herman deh gue sama lo!"
"Heraaann!" timpal Sila membenarkan kata yang seharusnya diucapkan oleh Melani dengan benar.
"Sama aja kali, Sil."
"Beda banget, keles!"
Yuan menatap mereka sambil terkikik. Entah kenapa suka sekali jika dua temannya itu saling berdebat seperti ini.
"Kalian tuh niatnya ke sini apa sih? Jangan bikin gue makin pusing deh!" ujar Yuan yang mulai kesal juga mendengar perdebatan yang dilakukan oleh Sila dan juga Melani.
Sila dan Melani kompak mendorong kening Yuan dengan jari telunjuk mereka.
"Mau makan sore," jawab Melani asal. Karena terlanjur kesal dengan sikap Yuan.
Sedangkan Sila tampak mendengkus. "Katanya lo mau ketemu sama Ciruz Brook? Jadi apa nggak? Kalau enggak ya udah, mendingan gue pulang aja. Ntar malem gue ngisi acara juga di sini," sahut Sila dengan wajah di tekuk.
Yuan yang baru ingat mengenai tujuan mereka ke sini pun tertawa pelan.
"Nggak usah gitu kali, Beb. Kek lagi PMS aja," balas Yuan sembari mencolek dagu Sila agar tidak jengkel lagi padanya.
"Ini nih! Kualat deh lo kayaknya. Dari tadi ngatain Pak Rio udah tua udah tua. Eh, kagak tau dirinya sendiri udah mulai pikun. Ck!" ucap Sila yang juga masih kesal ketika guru idolanya itu dinistakan oleh Yuan.
Mendengar hal itu, Yuan berdiri. "Cabut nih gue, kalau lo bahas itu guru lagi. Berasa siaal banget gue kalau lagi bicarain itu orang."
Tentu saja, ancaman Yuan tidak pernah main-main selama ini. Gadis itu benar-benar akan pergi kalau sampai Sila masih membahas sang idola.
Dengan sigap, Melani menarik lengan Yuan ketika gadis itu benar-benar melangkah pergi dari tempat mereka.
"Wait, wait! Jangan ngehindar dari tugas lo! Jangan lo pikir gue akan terkena tipu daya lo itu. Lo pasti mau belok ke rumah komik, kan? Oh, tidak bisa dulu, Nona Yuan. Anda harus selesaikan apa yang sudah anda setujui," ujar Melani dengan senyuman penuh arti dan juga tatapan begitu tegas. Sosok ketua osis memang tidak bisa pudar sama sekali dalam diri Melani.
Melani tidak mudah untuk Yuan kelabui. Insting gadis itu cukup kuat dan itulah mengapa tadi Yuan tidak setuju kalau Melani menyusul mereka ke cafe Biru, tempat kerja Sila. Sila bekerja paruh waktu di sini. Akan datang jika dibutuhkan oleh anggotanya saja. Dia termasuk vokalis dari Coconut Pink Band.
"Bentaran aja loh, Ayang. Kan mereka belum dateng. Nanti kalo mereka udah dateng, Sila suruh hubungin gue aja. Ya nggak, Beb?" tanya Yuan kemudian kepada Sila.
"Ogah! Gue banyak kerjaan nanti. Mending gue istirahat," sahut Sila. Menolak keras permintaan Yuan.
Yuan menghela napasnya. Sedangkan Melani masih menatapnya tegas. Menunggu keputusan yang akan di ambil oleh Yuan.
"Masih mau mengelak? Hmm?" tanya Melani sembari tersenyum miring.
Yuan mengusap wajahnya pelan sambil menghentakkan kakinya.
"Huuaaa ... ini tuh edisi terbatas loh, Yaang ... Beebb! Bantuin gue napa! Lagian ke mana sih perginya pangeran dari segala pangeran yang ada itu? Kesel banget gue kalau jadwal tabrakan kayak gini." rengek Yuan mengeluhkan Richard yang tidak kunjung datang. Pria itu memang sangat suka sekali mengikuti jam warga plus dua enam. Selalu ngaret dan molor dari waktu yang sudah ditentukan.
"Udah, mending lo duduk di sini aja. Bentar lagi mereka bakalan dateng, kok!" ujar Sila ikut menekan bahu Yuan agar tidak berdiri lagi dan tetap berada di tempatnya sekarang ini.
Akhirnya Yuan hanya bisa pasrah di kala dua temannya itu benar-benar menekan dirinya untuk tetap berada di sini. Bodoohnya ia, kenapa juga sampai bisa lupa kalau hari ini merupakan hafi terakhir promo edisi terbatas novel favorit nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Agustina Kusuma Dewi
herman
2024-06-13
0
Hera Dita
+enam dua.. keles beb....
2024-05-18
0
Fifid Dwi Ariyani
trussabar
2024-03-21
0